REVIEW NOVEL KOMET TERE LIYE

03.25

Bismillah

Memulai hari pertama posting dengan mereview buku Novel Karya Tere Liye. Maafkan jika masih belum sempurna.

__________

KOMET
Oleh Tere Liye
Co-author: Diena Yashinta

Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama, Mei 2018
384 halaman
ISBN 9786020385938

HEI, jangan!
Jangan bertanya padaku
Aku juga tidak tahu
Ayahku tidak tahu
Leluhurku juga tidak tahu

Hanya terbetik sebuah kabar
Di sebuah pulau di Klan Matahari
Di tengah lautan biru
Sebuah pohon aneh telah tumbuh

Tunggulah di sana saat ranum buahnya
Maka akan datang sesuatu
Pintu menuju tempat itu akan terbuka
Menuju dunia yang terus bergerak dan bergerak
Tempat berada pusaka paripurna

Hei, jangan!
Jangan bertanya padaku

(halaman 29)

Novel Komet adalah buku ke-5 dari serial "Bumi". Serial pertamanya adalah "Bumi", keduanya "Bulan", ketiganya "Matahari", keempatnya "Bintang". Dan ternyata ada juga seri ke-4,5nya yaitu "Ceroz dan Batozar".

Masih bercerita tentang petualangan tiga sahabat, Raib bisa menghilang. Seli bisa mengeluarkan petir. Dan Ali bisa melakukan apa saja. Buku ini berkisah tentang persahabatan yang mengharukan, pengorbanan yang tulus, keberanian dan selalu berbuat baik.

Raib, Seli dan Ali masih dengan misi mereka yaitu menyelamatkan dunia paralel. Petualangan mereka kali ini menuju Klan Komet yang akan dimulai dari Klan Matahari. Sedang ada penutupan Festival Bunga Matahari yang mendebarkan. Tiba-tiba muncullah si Tanpa Mahkota bersamaan dengan munculnya cahaya matahari pertama. Dia berhasil memetik kuncup bunga yang mekar.

Ali menyusul si Tanpa Mahkota masuk ke portal yang terbuka menuju Klan Komet. Mereka bertiga tiba di pulau Hari Senin. Entah dimana si Tanpa Mahkota berada. Di pulau ini mereka bertemu dengan Nenek dan Paman Kay dan Bibi Kay, si nelayan. Raib, Seli dan Ali tidak bisa menggunakan alat secanggih apapun sebab Klan Komet ini sangat berbeda dengan berbagai Klan sebelumnya. Mereka tidak menemukan petunjuk apapun. Atas saran dari Kakek Kay, mereka pun melanjutkan perjalanan. Meski tidak mudah untuk bisa sampai ke tujuan berikutnya.

"Namaku Max, kalian bisa memanggilku begitu. Aku kapten kapal." (halaman 135)

Max merasa berhutang budi pada Raib, Seli dan Ali. Dia berjanji akan menemani sepanjang perjalanan mereka.

Pulau Hari Selasa mempertemukan mereka berempat dengan Kakek Kay dan Cindanita, seorang anak kecil yang sudah lama kehilangan bonekanya. Kakek Kay juga ternyata kembaran Paman Kay.

Demi menghadirkan senyum di wajah Cindanita kembali, mereka pun harus berhadapan dengan bintang laut raksasa demi mengambil boneka itu kembali. Di pulau ini mereka belum juga menemukan petunjuk. Atas bantuan dari Kakek Kay mereka menuju Pulau Hari Rabu.

Saat tiba di Pulau Hari Rabu, burung-burung ini laksana menutupi langit, menghalangi cahaya matahari, membuat pulau jadi temaram. (halaman 213)

Tuan dokter memeriksa kondisi Dorokdok-dok sekali lagi, memastikan semua baik-baik saja. Dia kemudian membawa kami ke sebuah rumah, tak jauh dari kastil. (halaman 278)

Dorokdok-dok menghindar. "Kau tidak akan menang, Kay! Saatnya kau menyadari kau akan kalah. Aku akan membiarkan kalian pergi dengan selamat meninggalkan Pulau Hari Jumat. (halaman 318)

Gurita raksasa marah, mengeluarkan suara bergemuruh. Suaranya mirip gunung meletus. (halaman 345).

Setelah memecahkan semua misteri yang ada, mereka berhasil sampai di Pulau Hari Sabtu. Mereka kembali bertemu dengan Bibi Nay dan Paman Kay (sang Pemilik Kunci Lautan).

Sejatinya, dibanding raja-raja, kesatria, petarung, ilmuwan, orang-orang hebat lainnya yang datang, rombongan kalian yang paling polos,naif, dan sama sekali tidak meyakinkan. Tapi lihatlah, pagi ini kalian tiba disini. Melewati ujian kejujuran. Menolak mencuri makanan di perahu. Melewati ujian kepedulian, dengan membantu Cindanita mencari bonekanya. Ujian kesabaran dengan mendengarkan celoteh sepanjang malam. Ujian kecerdasan dengan mengalahkan kawanan burung hitam. Ujian ketulusan dengan menolong perompak yang kesakitan. Ujian ketangguhan dengan terus mengayuh bilah papan menuju pulau ini. Pagi ini, kalian telah tiba di ujian paling penting. Ujian terakhir. (halaman 360)

Betapa senangnya mereka hingga akhirnya mereka berhasil membuka portal menuju Pulau Hari Minggu. Tempat dimana semua jawaban atas segala misteri tentang tumbuhan aneh dan ajaib akan terjawab.

Tapi petualangan Raib, Seli dan Ali tidak berakhir sampai di sini karena ternyata Max yang selama ini menemani perjalanan mereka di Klan Komet adalah wujud penyamaran si Tanpa Mahkota.

Serial berikutnya pasti akan semakin seru dan menegangkan. Sebab buku ini ditulis oleh penulis yang sudah sangat ahli menuliskan cerita petualangan. Buku ini menyajikan cerita dengan cara yang luar biasa. Meski sebenarnya sedikit monoton sebab ada tokoh yang ternyata kembar enam dengan nama yang hampir sama. Tapi, semua bisa tertutupi dengan hidupnya masing-masing karakter yang memang sama sekali berbeda.

Buku ini berkisah tentang persahabatan yang mengharukan, pengorbanan yang tulus, keberanian dan selalu berbuat baik. Karena sejatinya, itulah kekuatan terbesar di dunia paralel.

Rumah Clever, Cilacap. 10 Agustus 2018
Ibu Jesi, Pukul 14.33 WIB

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

4 komentar

Write komentar
MS Wijaya
AUTHOR
29 Agustus 2018 04.04 delete

Wahbjadi penasaran nih sama buku komet

Reply
avatar
innaistantina
AUTHOR
29 Agustus 2018 17.27 delete

Duhh uda lama banget saya gak baca novel, terakhir ituu masa kuliah, belasan tahun lalu, haiyaaaaa! 😅

Reply
avatar