CHSGK6V2: 2in1

04.26

CATATAN HARIAN SEORANG GURU KELAS 6 VOLUME 2

#CHSGK6V2
#cleverteacherforcleverstudents
#2in1

Menjadi seorang guru zaman now, tidak mudah. Latar belakang pendidikan perkuliahan harus sinkron dengan kenyataan. Tidak bisa seorang berijazah sarjana ekonomi mengajar sekolah dasar, atau seorang sarjana matematika mengajar sekolah menengah pertama, mereka masing-masing harus punya Akta IV jika ingin mengajarkan ilmunya kepada anak muridnya. Jika ingin mengajar di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) mereka juga harus bergelar sarjana anak usia dini. Ini berlaku sejak pemerintah memberlakukan sistem linear dan tidak liner untuk para guru.

Alhamdulillah, latar belakang saya adalah sarjana PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) jadi sudah jelas sinkron dengan kenyataannya. Namun demikian, saya hanyalah lulusan pribumi yang tidak mempunyai pengalaman kuliah di luar kota. Sama sekali kuper dengan dunia perkuliahan yang sesungguhnya.

Is no problem for me. The show must go on. Dengan kenyataan bahwa kemudian segala perjuangan bersambut dengan keberuntungan, dari situlah kemudian cerita saya baru saja dimulai. Mengawali karir dengan mengarungi perjalanan yang luar biasa hingga sampai 25 bulan lamanya. Sampai sekitar akhir tahun 2011 saya dimutasikan ke sekolah yang terdekat dengan rumah, syukur saya pada Yang Maha Kuasa tak pernah bisa diukur sebesar apa membuncahnya.

*

Sebagai guru dengan latar belakang PGSD tersebut saya harus siap ditugaskan sekolah untuk membimbing siswa di tingkatan kelas berapa pun. Karena ketika menjalani masa kuliah semua dipelajari, termasuk pembelajaran kelas rangkap. Bahkan tahun ini saya mau tidak mau harus sering melakukan pembelajaran kelas rangkap, sebab guru pengampu kelas dua sudah purna tugas per 1 Mei 2018. Saya memang tidak sepenuhnya mengampu, tapi sebagai guru dengan posisi kelas bersebelahan dengan kelas tersebut, apakah akan tega tetap membiarkan anak murid tidak terdampingi sepenuhnya? Jawabannya pasti tidak. Itulah kekuatan rasa seorang guru SD. Mungkin akan sedikit berbeda pada tingkatan sekolah yang lebih tinggi.

Saat anak murid kelas 6 melakukan pembiasaan pagi, terlebih dahulu saya masuk ke kelas 2. Memimpin mereka berdo'a, menjelaskan pengantar materi hari ini, kemudian memberikan tugas untuk mengisi kegiatan pagi. Setelah itu saya kembali ke kelas 6 lagi. Atau jika saya dalam posisi yang sedang tidak fit, atau kelas bisa digabung, akhirnya saya memilih option kelas 2in1. Kelas dua dan kelas enam saya gabung dalam satu ruangan. Atau ketika hari Jumat, saya buat kelas 2in1. Kelas enam tadarus Al Quran, kelas dua menyimak. Bukankah mendengarkan saja sudah bisa dikategorikan membaca jika mendengarkannya dengan penuh seksama.

Cerita menjadi berbeda ketika saat pembiasaan pagi, sudah ada yang masuk ke kelas dua. Pagi saya bisa fokus untuk kelas 6 tercinta. Meskipun tetap saja jam siang tetap harus ada perhatian di kelas dua. Bersyukur karena sejak ada kepala sekolah baru, tugas ini semakin ringan karena beliau bisa mengisi kelas dua dengan senang hati. Benar-benar figur yang jempolan. Sangat berbeda dengan saat beliau belum datang, saya sangat kerepotan dan menjadikan konsentrasi terbelah tidak karuan. Allah mengirimkan jawaban atas semua do'a-do'a dengan menghadirkan tauladan.

**

Apakah kelas 2in1 hanya dilakukan dengan kelas dua? Jawabannya tidak. Ketika kelas sebelah kosong, saya juga pernah menjadikannya satu kelas dengan kelas enam. Kelas empat dan kelas enam saya jadikan satu, tidak masalah bukan? Tapi jika guru pengampunya menitipkan, saya lebih sering membiarkan mereka berada di ruangannya sendiri-sendiri atau jika terpaksa duduk di pintu tengah, perbatasan dua kelas. Supaya bisa memantau dua kelas dari tempat yang sama, tidak perlu mondar-mandir.

Berjalan ke sana-kemari itu melelahkan. Apalagi jika sejak pagi saya belum sarapan? Iya, kan?

***

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#day26

#555kata
#CleverStory
Rumah Clever, Cilacap, 25 September 2018: 14.32
Ibu Jesi.

****

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »