CUCU SANG KIYAI PART 4

04.38

CUCU SANG KIYAI
Betty Irwanti
#part4

Isa Muhammad, itu nama lengkapnya. Dia biasa disapa dengan panggilan, Isa. Aku dan dia bertetangga. Rumah kami sebenarnya hanya terpisah jalan besar. Rumahku ada di gang masuk sebelah kiri, sedangkan rumahnya ada di depan masjid persis. Kakeknya adalah imam masjid yang berada di depan rumahnya. Dahulu, sewaktu aku masih kecil, setiap hari mengaji di masjid dibawah bimbingan kakeknya, eyang Baedi. Lingkungan biasa menyebut kakeknya Isa dengan panggilan itu.

Hingga di akhir bulan Agustus 2006, kami dipertemukan dalam sebuah susunan panitia temu alumni dan sunatan masal. Aku sebagai sekretarisnya, sedangkan Isa sebagai humasnya. Kami berdua sering membahas agenda bersama Mbak Naya, teman SD Isa sendiri. Rumah Mbak Naya juga tak jauh dari rumah Isa, sekitar 100 meter, kami menjadikan rumah itu sebagai markas. Tempat melaporkan semua kemajuan dari kegiatan yang sedang kami upayakan.

Suatu hari aku dan Isa sudah membuat janji akan bertemu dengan salah satu anggota DPRD kabupaten yang tempat tinggalnya dekat, hanya di desa sebelah. Kami berdua akan mengajukan proposal demi tersokongnya dana kegiatan. Aku pun bersiap, menuju rumah Pak Maulana. Sebelum itu, aku menghampiri Isa dulu di rumahnya.

Kuparkirkan sepeda motorku di depan rumahnya, persis di sebelah gerbang masjid. Aku menunggunya di serambi masjid. Isa sudah tahu kalau aku menunggunya. Aku asyik menekuri gawaiku sambil memeriksa beberapa pesan dari Mbak Naya. Saat Isa menyapa, aku pun menghampirinya.

"Sudah, siapkah?"
"Sudah."

Aku membonceng, Isa yang membawa sepeda motorku. Kami menuju ke rumah Pak Maulana.

***

"Jari, begini Pak Maulana. Kami berdua berkunjung kemari, pertama berniat silaturahmi. Perkenalkan, saya Isa dan teman di sebelah saya ini, Bela. Kami dari panitia temu alumni dan sunatan masal sekolah kami ingin mengajukan proposal ke Bapak. Sekiranya bapak berkenan mempelajarinya."

Isa menyodorkan map proposal kepada Pak Maulana.

"Nanti, saya pelajari dulu ya, Mas Isa." jawab Pak Isa.
"Nggih, Pak." Isa mengangguk. Aku pun mengikutinya dengan senyum.

"Eh, tunggu. Ini bukannya Mbak Bela yang putranya Pak Bondan itu, ya?"
Aku mengangguk sambil menjawab, "Nggih, Pak. Beliau Ayah saya."

"Salam ya, untuk ayahmu. Ayahmu teman lama saya jaman sekolah."

Kami pun hanyut dalam topik pembicaraan yang sudah beralih. Sekitar seperempat jam berlalu, istri Pak Maulana keluar membawa tiga cangkir teh dan cemilan.

"Monggo, Mbak, Mas, unjukane."

Aku dan Isa kompak menjawab, "Nggih, Bu." kemudian kami langsung meminum teh yang disajikan.

"Sebenarnya dari tadi saya perhatikan, Mbak dan Mas ini kayaknya cocok banget ya."

Aku hampir tersedak, sontak menghentikan minum.

"Iya, lho. Muka kalian berdua mirip."

Kali ini giliran Isa yang tersedak. Aku tersenyum, entah bagaiman ekspresiku waktu itu.

Kami undur diri setelah Pak Maulana menyepakati akan memberikan donasi dengan jumlah yang lumayan, hanya dengan syarat beliau harus hadir dan menyambut di acaranya nanti, meminta laporan dokumentasi dan kegiatan sebagai bahan pertanggungjawaban masa reses ke pimpinan dewan.

Aku dan Isa pun pamit undur diri.

Sepanjang perjalanan pulang aku menatap Isa dari belakang. Entah, mengapa rasanya jadi ingin memperhatikan. Apa yang disampaikan istri Pak Maulana tadi menggelayut di pikiran. Ah, iyakah kami memiliki kemiripan wajah? Mungkin hanya satu kebetulan.

Saat turun dari sepeda motorku di depan masjid di depan rumahnya pun, Isa terus kuperhatikan. Kali ini dia memang cukup style dengan rambut ala tentara, cepak tapi benar-benar menonjolkan bentuk rahangnya yang menawan. Tunggu, aku berhenti pada benda berkilau itu. Apa, itu? Rantai dompet yang dia kaitkan ke ikat pinggang. Ya, Tuhan. Gayanya khas anak muda jaman sekarang.

Aku menggeleng pelan, senyum-senyum sendiri lalu segera berpamitan. Adzan Maghrib sudah berkumandang, aku harus mengambil peralatan salatku di rumah. Tak ingin ketinggalan jamaah dengan Eyang Baedi, kakeknya Isa.

***

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#day4

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar