DIARY IBU JESI: POSYANDU BULAN INI

04.30

POSYANDU BULAN INI

"Ibu, Jessi maunya yang dingin. Enggak mau yang panas."
Aku terkejut, heran, lalu tersenyum. Meraba bungkusan bubur kacang hijau yang memang panas.

Ibu petugas posyandu, spontan menjawab, "Jesi, kalau mau yang dingin ya di kulkas."

Jesi pun akhirnya mengambil sendiri bubur kacang hijau yang ada di baskom besar itu, juga roti sandwich kemasan rasa coklat. Dia kugendong dengan tangan kiri, tangan kananku menuliskan identitas di buku, seperti biasanya. Selesai dengan semua itu, dia minta turun lalu jalan kaki, menuju tangga di sebelah belakang. Aku mengikutinya dari belakang, mengawasinya sambil duduk di anak tangga kedua sebelum anak tangga terakhir.

Buku pink sudah kutumpuk, sedang ditulisi oleh ibu kader posyandu yang lainnya, sementara menunggu Bu Bidan datang. 'Ada potongan kertas putih juga bertuliskan nama Jesi, sebagai bukti undangan untuk oembagian jatah obat cacing gratisan.' Biasanya sehabis Jesi ditimbang, aku langsung pulang. Tapi, hari ini tidak. Posyanduan tepat di hari Sabtu, kegiatan sekolah tidak begitu padat.

"Ibu, Jessi mau roti lagi."
"Iya, sayang."
Aku menggendongnya, kembali ke meja dekat pintu depan. Jesi mengambil satu roti.

Tanpa diduga, ibu kader posyandunya berkomentar.
"Ih, ini lho anaknya Bu Betty, jan pintar banget ngomongnya."
"Iya, ben. Kayak ibunya, cerewet."

Aku senyum-senyum. Ibu muda di sebelahku, ikutan penasaran.
"Jesi belum dua tahun kan ya, Bu. Tapi ngomongnya sudah jelas banget ya."
"Jesi, 20 bulan kurang 9 hari lagi." jawabku spontan. Sebenarnya aku masih ingin ngobrol panjang lebar, tapi Jesi sudah merosot duluan dari gendongan, berlari ke alat timbangan yang mirip ayunan.

"Ibu, mau ayunan!"
"Jesi, mau naik?"
Anakku senyum kegirangan. Ini bukan kali pertama, dia minta ditimbang ulang. Bulan kemarin malah sampai tiga kali dia bilang mau ayunan.

Hampir satu jam aku beserta ratusan ibu-ibu yang lain hanyut dalam suasana akrab di acara posyanduan. Mungkin Jesi sudah mulai bosan, dia juga kehausan.

"Ibu, mimi nenen."
"Iya, sayang."

Aku menggendongnya, mencari tempat duduk yang nyaman. Beberapa menit kemudian, bu Bidan datang. Aku memandangnya dari kejauhan.

Jesi turun dari gendongan, minta duduk di kursi yang kududuki sekarang.
"Jesi, ayuk ke sana!"
"Kemana?" jawabnya dengan sangat jelas.
Aku menuntunnya, ke arah kerumunan di dekat Bu Bidan.

"Bu, bawa KK nggak?" tanya Bu Bidan.
"Enggak!" jawabku sambil menggeleng.
"Nanti diambil ya. Atau boleh deh difoto aja kirimin ke WA atau FBku ya!"
Aku mengangguk. Belum juga selesai pembicaraan, Jesi sudah tidak ada di sebelahku. Rupanya dia sudah asyik duduk di kursi yang tadi kududuki. Aku menyusulnya.

"Sayang, Jesi pinter naik kursi sendiri ya. Jesi hati-hati, kan tadi?"
Anakku hanya mengangguk-angguk dengan senang.

"Bu, Betty mana ya Bu Betty." ada suara memanggilku.
Aku menuju ke arah suara. "Ini obat cacingnya, diminum separuh saja. Jesi belum dua tahun, kan?" jelas Bu Bidan. Aku mengangguk.

"Jadi, buku pink sudah boleh diambil nih, Bu?" tanyaku kemudian.
"Iya, boleh."
"Oke. Mau BKB an."

Aku mengambil buku pink. Membuka bagian dalamnya, lalu meraih kertas hardcover dengan sejumlah list centangan.
"Ini punya Jessi." anakku berkata sambil merebut kertas yang kupegang.
"Iya, ini punya Jesi."

Jesi selalu menyebutkan namanya dengan nada yang khas, hurufnya dobel. S nya ada dua. Sama seperti nama ibunya, huruf t nya dobel.

Di meja BKB untuk umur 1-2 tahun, kertas itu kuletakkan. Ada Bu Yono di sana.
"Hallo, Jesi. Kamu lama nggak BKB an ya?"
"Iya, Bu. Biasanya habis ditimbang langsung pulang."
"Iya, Ibunya diburu-buru sama kerjaan, kan? Heheheh."
Aku tersenyum kecut. Memang begi tersenyum lah kenyataannya.

"Jesi sudah pinter jalan ya?"
"Sudah." jawabku.
"Sudah pinter maem sendiri belum?"
"Kadang suka minta makan sendiri, tapi embahnya suka nggak sabar."
"Memang suka begitu ya, Bu. Kita kepengennya baby makannya cepet habis. Suapin aja, gendong, beres."

Aku tersenyum, Jesi sibuk memegang ballpoint punya Bu Yono.
"Sini, sayang. Ibu pinjem, mau nulis." pintaku pada Jesi. Jesi memberikannya, kemudian kuberikan pada Bu Yono.

Kertas hardcover selesai dicengangi listnya, Bu Yono memberikan ke Jesi.
"Ini punya Jesi."
"Iya, ini punya Jesi." jawabku.
"Jesi, tadi berapa kilo sayang?" tanya Bu Yono.
"9,2 Bu. Naik satu ons dari bulan lalu."
"Mau dua tahun memang suka begitu, Bu. Makan banyak tapi aktivitas juga banyak. Banyakin makan buah aja."
"Syukurnya, Jesi makan apa aja mau. Suruh apa aja mau.

"Yuk, Ibu. Pulang."
Aku dan Bu Yono berpandangan.
"Jesi pinter ya, mau ditimbang?" Bu Yono mengalihkan pembicaraan.
Jesi tersenyum.
"Pinter, banget Bu. Malah ini sudah minta dua kali naik timbangan. Bulan lalu malah sampai tiga kali."
"Oh, ya. Senengnya. Padahal waktu kapan itu, Jesi suka nangis ya pas ditimbang, sampai jejeritan."
"Iya, Bu. Tiga bulan ini setiap mau posyanduan sudah tak bilangin dari rumah. Kalau timbangan itu sama dengan main ayunan. Jadi dia nggak nangis. Malah minta lagi kemudian." senyumku mengembang.
Jesi turun dari tempat duduknya, kupegang erat kedua tangannya.

"Ibu, Ayuk pulang."
Kali ini aku tak bisa menolaknya.

"Pulang dulu ya, Bu." pamitku pada Bu Yono. Beliau menjawab dengan anggukan.

***

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#day9

#790kata
#CleverParenting
Rumah Clever, Cilacap, 09 September 2018: 15.20.
Ibu Jesi.

***

Minggu ini Isa Bela break dulu ya. Ibu Jesi kepengin belajar nulis non fiksi nih ceritanya. Oke. Biar nggak bosen juga dengan Cucu sang Kiyai. Jadi, kenalan dulu sama Cicit sang Kiyai (Bebi Jesi). 😄

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »