Isa Bela Part 11

08.01

ISA BELA
#Part11

Sebulan kemudian

Ponselku berdering, tanda ada pesan yang masuk. Aku segera membacanya.
"Assalamu'alaikum, Bela. Nanti malam aku mau telepon ya. Terimakasih. Ini Isa. Wassalamu'alaikum."

Aku speechless, dalam lima menit entah sudah berapa kali pesan itu kubaca berulang. Gemetaran jemariku bergerak menekan tombol ke sana kemari, hingga terangkailah sebaris kalimat, singkat.
"Wa'alaikumsalam, Mas Isa. Iya, Mas. Bela tunggu."

Aku meletakkan ponselku kembali ke dalam tas, berusaha mengalihkan fokus ke rutinitas kerja yang baru akan menemui akhir di setiap pukul 14.00 setiap harinya. Iya, akulah Bela. Perempuan berumur 18 tahun yang harus mengakrabkan diri dengan panggilan, 'Bu Guru'.

Sejak SMA aku memang ingin sekali berkuliah, tapi apalah daya orang tuaku tidak berkenan adanya. Mereka takut tidak mampu membiayaiku. Apalah dayaku, aku sempat bersikukuh namun akhirnya harus luluh. Aku mengalihkan keinginanku dengan merantau ke Ibukota Jakarta, tapi takdir mengiringku kembali ke desa.

Di sini, di kampung halaman kucoba menapakkan langkah. Demi cita-cita bisa berkuliah. Aku mendaftar kelas non reguler dengan sistem program bimbingan jarak jauh. Aku tak sendiri, bersama ratusan lain yang dalam satu fakultas dan jurusan yang sama, D-II PGSD. Kelas hanya dilaksanakan dua hari dalam seminggu. Jadwal pertemuan setiap hari Sabtu dan Minggu, hari lainnya adalah hari kerja.

Senin-Jumat adalah hari kerja seperti yang dipersyaratkan dalam saringan masuk, semua diwajibkan sudah punya surat mengabdi di suatu sekolah. Alhamdulillah, aku termasuk diantara mereka semuan yang sudah melengkapi syarat itu.

*

Malam semakin larut, Isa belum juga mengabariku. Sejak makan malam tadi, aku membawa ponselku kemanapun kupergi. Aku sangat menunggu telepon dari Isa. Atau, haruskah aku yang menelepon ke nomornya duluan?

Beberapa saat aku mengingat dan menimbang. Sampai akhirnya kuberanikan diri mengirim pesan.

"Assalamu'alaikum, Mas Isa. Ini Bela. Jadikah menelepon, Mas? Bela masih menunggumu."

Kubaca kalimat itu berulang, lalu aku menekan tombol kirim. Berharap pesan segera dibaca dan dibalas.

Sesaat kemudian, lengang.

Setengah jam kemudian, ponselku masih sepi.

Sejam kemudian, masih juga sepi.

Aku tertidur di sisi pembaringan. Saat terbangun, itu karena ponselku yang berbunyi. Ada panggilan masuk.

"Assalamu'alaikum Bela!" suara yang sangat kukenal menyapaku di ujung telepon.
"Wa'alaikumsalam Mas!" jawabku singkat.
"Maafkan, Mas ya. Semalam mas lupa. Setelah selesai kursus Mas langsung pulang, ponsel di tasku."
"Oh, iya Mas. Tidak apa-apa!"

Setidaknya aku lega, ini pertanda terbukanya jalinan komunikasi antara kami berdua.

Aku jadi tahu. Isa sedang kursus colorist, menemukan formula warna. Jam masuknya dari pukul 08.00 pagi sampai pukul 12.00. Setelah itu, dia akan langsung praktik di bengkel mobil milik bos lamanya.

**

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#day20

#404kata
#CleverStory
Clever Class, Cilacap, 20 September 2018: 07.57
Ibu Jesi.

***

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »