Isa Bela Part 13

05.40

ISA BELA
Part 13

“Mas Isa, ada undangan dari temanmu, tanggal 07 Juli 2007 dia mau menikah. Mau nitip sesuatu kah?,” aku memberanikan diri mengirimkan pesan penting itu, karena kemarin aku di amanahi sepucuk undangan untuknya. Dia menjawab di telepon disuatu pagi, dengan nada yang sumringah. Isa bilang, ia mau nitip pesan. Carikan saja kado yang indah, nanti uangnya dia yang akan mengirimkan. Kado dari Isa dan aku, katanya. Aku pun terkejut.

“Bela, kirimkan fotomu via MMS ya, aku ingin melihat wajahmu,” ujarnya padaku di telepon pada suatu malam. Apakah dia serius? Atau ini hanya candaan? Aku hampir terdiam beberapa menit, hanya mendengarkan ia bercerita ke sana kemari. Saat kami mengakhiri perbincangan malam itu, dia terlebih dulu mengirimkan MMS padaku. Ada yang berubah darinya. Aku semakin tertarik.

Isa terlihat berbeda di foto yang dikirimkannya. Lelaki yang kukagumi kini terlihat wow, dengan setelan baju kerja yang super. Sudah begitu dia sedang memegang alat untuk membuat formula warna, mencampur warna satu dengan yang lain agar menjadi satu warna baru sesuai pesanan client. Sungguh pekerjaan yang unik dan menarik. Aku juga ingin belajar tentang ini, darinya. Sebagai penunjang pengetahuanku juga dalam memperdalam percampuran warna.

Aku pun bersiap mengirimkan fotoku, via MMS padanya.

*

Keesokan harinya, kuterima pesan dari Isa.

“Kamu cantik, Bela. Aku mencetak fotomu kemudian memajangnya di meja kerja” bisikmu di telepon di suatu malam. Mendadak aku gugup. Mendengar Isa mengucapkan kalimat itu rasanya mengerucutkan harapanku, bahwa gayungku bersambut. Cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Apalagi kemudian dia juga mengirim pesan dengan kalimat yang sama.

"Kamu cantik dan menarik. Kamu cantik. Kamu menarik."

Aku sebenarnya berharap lebih. Andai saja kalimat itu dikirimnya dengan isi, "Kamu cantik, Bela. Maukah kau menjadi orang yang istimewa bagiku?" ah, rasanya kekagumanku padanya belum menemukan balasannya.

**

Sampai suatu siang saat pulang kerja, aku menemukan sebuah amplop berwarna kalem bergambarkan bunga matahari, ada di meja riasku. Kubuka dan kubaca surat di dalam amlop itu.

--Dear Honeyku, Bela Triani.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Gimana kabar, adekku yang manis? Semoga dalam keadaan baik-baik dan sehat. Senantiasa dalam lindungan Allah Yang Maha Kuasa. Aamiin aamiin.

Saat menulis surat ini hatiku gerimis, tiada henti berdoa semoga Allah SWT menyejukkan hatimu, menerangi pikiran, membersihkan jiwamu dan mengangkat kita dari segala penderitaan dan kepiluan.

Dek, terimakasih. Mas mulai membaca semuanya. Kalau Mas merasa harus setia pada cintamu, belahan jiwaku. Aku berharap demikian atas dirimu, dek. Setialah juga pada cintaku. Mas berharap cinta kita akan terus ada, akan selalu meningkat dalam hati. Seperti jalannya rasa iman ini pada Illahi Rabbi, yang tak akan pernah surut. Aamiin aamiin.

Udah dulu ya dek, sambung smsan.

From Your Love, Isa Muhammad—

Aku tidak menyadari ada seseorang yang masuk ke kamarku, kemudian mendekatiku.

"Bel, itu tadi ada tukang pos antar surat. Setelah Ibu baca ternyata itu untuk kamu."

Aku mengangguk kemudian menutup lembaran surat itu.

Sejak saat ini aku dan Isa sudah resmi menjalin hubungan.

***

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#day22

#476kata
#CleverStory
Clever Class, Cilacap,  21September 2018: 08.54.
Ibu Jesi.

****

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »