Berkah Kemarau Panjang: Tantangan Odop-6

00.09

Tulisan ini untuk menjawab tantangan ke-6 One Day One Post Batch 6, berupa tantangan nonfiksi untuk menulis berita yang didukung hasil wawancara.

*

Berkah Kemarau Panjang Bagi Para Pengrajin Batu Bata
Oleh Betty Irwanti

**

Cilacap - Kemarau sudah hampir tujuh bulan berlalu, tanda-tanda hujan belum juga muncul. Baru sekedar rintik atau pun hembusan angin basah yang sepertinya baru lewat saja. Kemarau yang terhitung panjang ini membuat sebagian besar penduduk mengalami kesulitan air, terutama di daerah yang sumber air bersihnya hanya mengandalkan air hujan.

Sebuah desa bernama Binangun yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Bantarsari Kabupaten Cilacap, juga terkena imbas dari kemarau yang sudah berlangsung sejak Maret-April ini. Menurut salah seorang warga bernama Dariyem (52 tahun) mengungkapkan, "Saya sudah mulai menyaring air sumurnya yang sudah terlihat keruh dan kuning. Padahal biasanya air sumur saya selalu bening,"

Kesulitan mendapatkan air bersih sudah mulai dirasakan sebagian penduduk. Diantara mereka banyak yang harus mengambil air milik warga yang lain, demi bisa menjalankan rutinitas masak, mandi dan mencuci dengan menggunakan air bersih.

Namun, dibalik semua kisah tersembunyi hikmah. Kemarau kali ini juga membuat para petani beralih profesi menjadi pengrajin batu bata. Bagaimana tidak? Musim tanam saat kemarau sudah lama berlalu. Panen kacang hijau dan kedelai sudah terlewati, hujan belum juga datang. Akhirnya banyak yang banting setir memulai usaha di bidang lain. Diantaranya menjadi pengrajin batu bata.

Salah satu pengrajin batu bata bernama Wagino (39 tahun), yang pada hari Senin, tanggal 15 Oktober 2018 membakar batu bata yang dibuatnya mengungkapkan bahwa kemarau kali ini memang jauh lebih panjang dari musim kemarau yang kemarin. Berkah tersendiri, karena yang sangat dibutuhkan dalam proses pembuatan batu bata adalah panas yang cukup agar batu bata mentah bisa cepat kering dan segera dibakar.

Ia sendiri dalam rentang waktu tujuh bulan di musim kemarau ini sudah tiga kali melakukan pembakaran batu bata. Setiap hari paling tidak dia mampu memproduksi batu bata mentah sekitar 50-100 buah. Jika dihitung rata-rata per bulan berarti, ada sekitar 1500-3000 batu bata mentah kering yang siap bakar.

Dalam satu kali pembakaran ada sekitar 2000-3000 batu bata mentah yang siap dijadikan batu bata matang. Batu bata yang sudah matang akan siap dijual dengan kisaran harga Rp 550, 00 sampai dengan Rp 600, 00 per satuannya. Bayangkan omset yang akan ia terima jika semua batu bata yang ia buat terbeli semuanya?

Omset yang di dapat bisa sangat dimaksimalkan jika bahan bakar yang digunakan untuk proses pembakaran tidak membeli. Artinya, si pengrajin sendiri yang telaten mencari bahan bakar dari alam. Misalnya, ranting kering, kayu kering, dan lain sebagainya. Tentu, mencari bahan bakar ini sangat memerlukan waktu. Untuk satu kali pembakaran bisa jadi, bahan bakar yang dikumpulkan selama semingguan akan habis. Ini demi memaksimalkan hasil batu bata dengan matang yang sempurna.

Ternyata kemarau yang panjang selain membawa dampak kekurangan air bersih juga mendatangkan berkah bagi para pengrajin batu bata rumahan yang mulai bertebaran, bak jamur di musim hujan.

***

#TantanganODOP6
#onedayonepost
#odopbatch6
#nonfiksi
#berita
#476kata

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#day46

#CleverNews
Rumah Clever, Cilacap, 15 Oktober 2018: 23.03.
Ibu Jesi.

****

Postingan ini juga disertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community.

#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#Day4

*****

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

1 komentar:

Write komentar
FathinFar
AUTHOR
16 Oktober 2018 23.37 delete

Jadi cepet kering gtu yaa. Sama kyak pengrajin keramik dkk.

Reply
avatar