(NOT) A BEAUTIFUL MARRIAGE: LANJUTAN BAGIAN SATU

06.40
(NOT)  A BEAUTIFUL MARRIAGE
Oleh Betty Irwanti
Lanjutan
#Bagian1
Di sudut lain rumah mbak Sari, mas Ali ternyata menanyakan keberadaan tas besar di depan pintu kamarku. Memang aku belum sempat memasukannya ke dalam kamar.
"Tas siapa itu, Mah?" tanya Mas Ali pada Mbak Sari.
"Nanti saja bertanyanya, sekarang lebih baik istrahat dulu. Papah capek seharian udah angkat-angkat padi. Ayuk makan dulu, nanti setelah makan aku cerita. Papah, sudah mandi belum?" jawab Mbak Sari pada Mas Ali.
"Ini aku baru mau mandi," jawab Mas Ali.
"Ya sudah sana mandi dulu, terus makan. Aku mau nemenin Ira belajar dulu. Katanya PR nya susah."

*
Di dalam kamar, menjelang tidur. Mas Ali mendengarkan dengan seksama cerita yang disampaikan mbak Sari.
Mas Ali yang memulai pembicaraan. "Karin kenapa ya, Mah? Pasti ada apa-apa nih. Nggak mungkin dia begitu kalau nggak ada masalah. Iya kan?"
Mbak Sari menggeleng, lalu menjawab. "Aku sendiri nggak paham Pah, besok kita tunggu dia cerita. Kasihan dia kalau dipaksa cerita. Dia bawa bayinya juga. Tadi nangis, nggak mau ikut aku."
Mas Ali kaget, "Apa, Mah! Dia sudah punya anak?"
"Iya, kasihan Pah. Dia keponakanmu juga."
Mas Ali beranjak, "Aku mau lihat kayak apa rupa keponakanku Mah!"
Mas Ali berjalan menuju kamarku, aku mendengar derap langkahnya. Dia membuka pintu kamar, aku pura-pura tidur. Kulihat dia menatap lekat Rudi, bayiku. Beberapa saat kemudian, mbak Sari menariknya keluar.
**

Pagi benar aku sudah bangun, Rudi terjaga menjelang Subuh. Dia merengek minta menyusu, tapi air susuku tidak keluar. Mungkin karena aku lapar, juga banyak beban pikiran. Aku beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar menuju dapur. Rumah ini masih sama seperti waktu itu. Tidak banyak perubahan.
Di dapur, sudah ada mbak Sari. Dia menyiapkan sarapan sepertinya. Aku menyapanya.
"Mbak, bayiku minta nenen tapi air susuku nggak keluar. Dia gigit-gigit terus."
"Ya, Allah kasihan. Sini tak pegang dulu bayimu. Siapa ya namanya?"

"Rudi, Mbak."

"Iya, kesiniin Rudi. Sana kamu mandi dulu terus sarapan. Itu nasi sudah matang, telor dadar juga sudah tak siapin. Tadi, Mas Ali berangkat sebelum Subuh. Katanya mau muat ke Bandung."

Aku mengangguk, menyerahkan Rudi pada Mbak Sari. Entah kenapa sekarang Rudi mau diajak.
Mbak Sari sudah menyiapkan teh manis hangat buatnya. Rudi langsung meminum habis teh itu.
Aku mandi dengan segera, memulai makan dengan lahap seperti Rudi. Mungkin dia memang sangat lapar seperti aku, selama perjalanan aku tidak membeli makanan atau minuman apapun. Aku tidak punya cukup uang, hanya punya untuk ongkos bisa sampai rumah.

Ketika makan, aku melihat Rudi dimadikan oleh mbak Sari. Ada anaknya mbak Sari juga disana, kelihatannya dia sangat senang dengan kehadiran Rudi. Mataku berkaca, sekian lama aku tak mengabari mereka. Sekarang, kenapa tiba-tiba aku pulang dengan membawa banyak penderitaanku.
Rasanya tidak adil bagi mereka. Aku tak ingin menyusahkan mereka. Aku ingin membahagiakan mereka.

***

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#day31

#458kata
#CleverWriting
Rumah Clever, Cilacap, 2 Oktober 2018: 06.34.
Ibu Jesi.

****

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »