(NOT) A BEAUTIFUL MARRIAGE: MASIH LANJUTAN BAGIAN SATU

05.51

(NOT)  A BEAUTIFUL MARRIAGE
Oleh Betty Irwanti

Lanjutan
#Bagian1

"Rin, mana baju Rudi?" seru Mbak Sari padaku sambil menggendong Rudi yang baru dimandikan. "Disini kebetulan lagi ndak ada anak kecil jadi aku nggak ada baju buat Rudi. Masa mau pake bajunya Ira. Kan Ira juga anak perempuan,"

Aku ambil Rudi dari gendongan Mbak Sari. Kubawa dia ke kamarku, memakaikannya baju dan merapikan rambutnya. Ira juga sedang persiapan berangkat sekolah.

"Ra, sini Rudi tak ajak lagi. Sekalian mau antar Ira sekolah. Sapa tahu kamu mau beberes baju dan lain-lain. Jadi kamu ada waktu banyak. Nanti Rudi tak ajak beli jajan dulu, biar dia anteng," pinta mbak Sari tiba-tiba.

Aku hanya menurut atas apa yang disarankan mbak Sari, dia seperti memahami sekali kalau adik iparnya ini kelelahan. Butuh banyak waktu sendiri dan bebenah diri. Aku pun membereskan baju-bajuku dan baju-baju milik Rudi. Memisahkan yang kotor kemudian aku cuci. Ketika aku menjemurnya, Rudi pulang. Dia menangis.

"Rin, Rudi nangis nih. Kayaknya dia kepengin nenen. Sana disusuin dulu. Aku mau nyuci baju. Habis itu mau pergi arisan sebentar ya." kata Mbak Sari begitu turun dari sepeda motornya. Kugendong Rudi kemudian.

"Kamu kalau mau istirahat, istirahat aja ya. Anggap saja di rumah sendiri. Kan kamu dulu pernah tinggal disini. Ya, kan?"

Aku hanya mengangguk, tersenyum. Betapa mulianya hatimu Mbak. Beruntung mas Ali punya pasangan hidup seperti mMbak Sari. Tidak seperti aku.

Beberapa saat aku bersama Rudi, ada tamu mengetuk pintu. Aku tidak paham suara siapa itu. Kudengar mbak Sari berlari dari dapur, menemui tamu itu.

"Wa'alaikumsalam. Eh, Ibu. Mari masuk Bu!"

"Iya, matur suwun. Mampir ini sekalian mau berangkat arisan. Kamu arisan juga, kan?” jawab Ibu itu.

"Sar, aku dengar dari tetangga kemarin sore Karin pulang. Dia ke rumah Ibu, tapi Ibu dan Bapak lagi tidak di rumah. Apa dia disini?" lanjut Ibu.

"Iya, Bu. Karin disini," jawab mbak Sari.

"Aku kepengin ketemu Karin, Sar. Ada?" pinta Ibu.

"Ada, Bu. Tapi Karin lagi nyusuin anaknya. Mungkin dia ikut tidur juga. Kayaknya dia ngantuk berat. Semalam kurang tidur."

"Karin sudah punya anak, Sar?" tanya Ibu terdengar seperti kurang percaya.

"Iya, Bu. Tapi mohon tolong ya Bu. Jangan tanya macam-macam dulu sama Karin." jawab Mbak Sari.

Beberapa saat kalimatnya terhenti, lalu kembali melanjutkan kalimatnya.

"Dia lagi ada masalah berat sepertinya. Aku juga belum berani tanya apapun. Pesan Mas Ali, biarkan Karin yang cerita. Kita jangan tanya duluan. Takut dia tersinggung,"

Baru saja Mbak Sari menyelesaikan kalimat terakhirnya, aku muncul. Aku mencium tangan Ibu, lalu memeluknya. Mereka menangis juga, sama sepertiku.

"Karin, mohon maaf sama Ibu sama Mbak Sari. Karin udah jadi anak dan adik yang tidak berbakti." aku sesenggukan di dalam pelukan Ibu.

Mbak Sari menepuk-nepuk bahuku sambil menasehatiku" Tidak, Rin. Tidak. Kamu tidak boleh bilang begitu, kamu adik yang baik kok."

"Tidak mbak, aku punya banyak salah sekali pada kalian," kujawab itu sembari menahan tangisku.

"Salah apa, Rin? Kamu tidak ada salah sama Ibu," tanya Ibu kemudian.

"Aku sudah menikah tanpa sepengetahuan kalian. Bahkan sekarang Karin sudah punya anak Bu," jelasku pada Ibu dan Mbak Sari. "Rudi nama anakku, Bu."

Aku atur napasku, lalu mencoba menjelaskan apa yang bisa kujelaskan pada mereka berdua.

"Awal menikah suamiku sangat sayang padaku Bu, tapi setelah kelahiran Rudi dia berubah,"

"Ya sudah, yang sabar ya," Ibu menenangkanku.

"Yang penting sekarang kamu sudah di rumah, sudah bersama keluarga. Ada cerita apapun, kamu bisa ceritakan," Ibu memelukku lagi, aku kembali menangis.

Rudi juga menangis dari dalam kamar, sepertinya dia kaget karena suara tangisanku. Aku berlari menuju kamar, menenangkan Rudi. Mbak Sari menyusul kemudian.

"Sudah itu Rudi diurusin dulu. Aku sama Ibu juga mau arisan dulu ya. Nanti habis arisan aku mau langsung sekalian jemput Ira terus belanja,"

Aku mengangguk tanda mengerti.

"Kamu nanti bantuin aku masak ya. Biar Rudi nanti Ira yang jaga”

"Iya, mbak hati-hati," jawabku pada Mbak Sari. Lalu dia pergi.

*

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#day32

#632kata
#CleverWriting
Rumah Clever, Cilacap, 3 Oktober 2018: 05.49.
Ibu Jesi.

**

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar