(NOT) A BEAUTIFUL MARRIAGE: PROLOG DAN BAGIAN SATU UNTUK MENJAWAB TANTANGAN ODOP BATCH 6 MINGGU KE-4

04.01

(NOT)  A BEAUTIFUL MARRIAGE
Oleh Betty Irwanti

#Prolog

Menikah adalah hal yang ingin dilakukan sekali seumur hidup. Satu kali menikah dan berpisah hanya ketika maut memisahkan. Menikah yang didasari atas nama cinta bisa jadi membuahkan niat itu menjadi kenyataan. Namun, jika yang terjadi sebaliknya dan itu terjadi padaku berulang kali? Salahkah aku dengan semua langkahku? Apa yang salah dengan kehidupanku?

Mengapa kehidupanku tidak seperti kakakku? Dia punya rumah tangga yang sempurna, istri dan anak yang sangat membuatnya bahagia. Rasanya ingin sekali sepertinya. Karena itu kuitipkan anakku padanya, aku ingin memperbaiki nasib. Aku menitipkan anakku karena kuyakin pada kakakku dan istrinya. Ini juga sebagai suatu bukti keyakinan bahwa kelak anakku akan bisa membahagiakanku suatu saat. Aku ingin anakku menjadi anak kakakku. Aku ingin anakku belajar kehidupan penuh cinta dari orang-orang yang penuh cinta kasih dalam hidupnya.

*

#Bagian 1

Kugendong anakku yang masih bayi, dia menangis sepanjang perjalanan. Aku sudah bertekad kuat untuk pulang ke kampung halaman. Rasanya ini jalan terbaik bagiku dan dia. Ayahnya tak lagi menyayangi ibunya dengan sepenuh hati. Bahkan dengan sengaja dia telah menyakiti. Apa salahku, hingga dia begitu tega?

Saat bayiku menangis, aku hanya bisa berbisik lirih di telinganya, "Nak, sabar ya sayang. Sebentar lagi kita akan kembali ke pelukan orang-orang yang menyayangi kita dengan sepenuh hati, tidak seperti ayahmu yang sudah tak lagi menyayangi kita."

Butuh waktu setengah hari perjalanan untuk bisa sampai ke tempat tujuan. Aku turun dari bus yang membawaku kembali ke tempat kelahiran yang beberapa tahun telah kutinggalkan. Aku memanggil tukang ojek untuk melanjutkan perjalanan yang masih 4 kilometer lagi. Rasanya semakin tidak sabar untuk bertemu orang-orang di rumah.

Tukang ojek menurunkanku di depan gang, rumahku masuk beberapa meter ke dalam. Kususuri setapak demi setapak jalan tanah yang becek, masih sama seperti saat kutinggalkan waktu itu. Aku menggendong bayiku di sebelah kiri. Membawa tas ransel di punggung, juga membawa tas di tangan kanan. Beratnya tak lagi terasa dibandingkan sakit hatiku akibat penghinaan yang kuterima dari suamiku. Bukan, dia bukan lagi suamiku. Karena dia telah mentalakku tanpa kutahu salahku apa.

Pelan kuucapkan salam, ke ketuk pintu rumahku. Beberapa lama belum ada jawaban, aku menunggu dengan sabar. Duduk di teras, sambil meluruskan kaki yang teramat sangat pegal. Tetangga depan rumah menyapaku, memberikan informasi jika ayah dan ibuku sedang tidak di rumah. Ada hajatan di rumah saudara yang letaknya jauh. Jadi mungkin pulangnya masih lama.

"Terima kasih informasinya ya Mbak. Mungkin aku mau ke tempat yang lain dulu. Aku mau istirahat. Capek sekali," jawabku lesu.

"Mau kemana Mbak? silakan istirahat di rumah saya. Nanti gampang kalau pak Mar dan bu Mar sudah pulang bisa masuk ke rumah"

"Tidak Mbak, terimakasih. Mungkin lebih baik saya istirahat di rumah kakak saja."

**

Aku melanjutkan langkahku, masih satu kilometer lagi dari sini. Aku keluar gang, menuju jalan besar. Tidak banyak yang menyapaku, karena mungkin mereka sudah tidak mengenalku lagi. Tepat setelah pertigaan sebelum masjid dekat pasar aku membelok arah ke kanan menuju rumah mas Ali. Semoga dia ada di rumah.

Sampai di pelataran rumahnya yang luas, ku lihat mbak Sari sedang duduk di teras rumah. Dia kaget melihatku, tergopoh-gopoh dia meminta tasku. Meletakkannya di teras depan. Dia meminta bayiku, tapi bayiku justru menangis keras dalam gendonganku. Aku memeluk Mbak Sari erat.

"Sudah, sudah. Ayuk masuk dulu. Ceritanya nanti saja, kalau sudah istriahat. Bayimu mungkin ngantuk,"

Mbak Sari mengantarku masuk rumah, menunjukkan kamar dan mempersilakan aku untuk istirahat. Aku langsung menidurkan bayiku, benar saja dia langsung lelap. Aku pun sebenarnya sangat mengantuk, tapi belum bisa memejamkan mataku.

Sayup-sayup kudengar mas Ali pulang. Mungkin dia baru pulang kerja. Ada suara keponakanku juga, dulu waktu aku berangkat ke Bandung dia baru lahir. Sekarang perawakannya pasti sudah besar. Aku ingin ke luar kamar, tapi badanku sangat lelah. Tapi, aku juga lapar. Mau langsung makan, rasanya tidak enak. Masa, baru sampai rumah sudah langsung minta makan.

Dalam kebingunganku ini, ingatanku jadi kembali ke ayah bayiku. Aku sangat membencinya. Sungguh sangat membencinya.

***

#TantanganODOP4
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#day30

#648kata
#CleverWriting
Rumah Clever, Cilacap, 1 Oktober 2018: 03.44.
Ibu Jesi.

****

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
1 Oktober 2018 16.43 delete

Aku suka judulnya..

Dan penasaran lanjutannya

Reply
avatar