(NOT) A BEAUTIFUL MARRIAGE: SEBELUM BAGIAN AKHIR BAB SATU

05.15

(NOT)  A BEAUTIFUL MARRIAGE
Oleh Betty Irwanti

Lanjutan
#Bagian1

Menjelang tengah malam kudengar deru mobil dari luar rumah. Aku penasaran, kuintip dari balik jendela. Terlihat ada dua orang laki-laki turun dari mobil bak terbuka berwarna hitam. Aku melihat Mas Ali dan mungkin yang satu lagi, itu temannya.

Tak lama kemudian, Mbak Sari keluar rumah. Menyambut kepulangan suaminya dengan hangat. Dia mencium tangan Mas Ali tanpa canggung, padahal ada orang lain disana. Sepertinya, orang lain itu juga sudah mengenalnya.

Mbak Sari kembali masuk rumah, sebentar kemudian sudah membawa nampan berisikan minuman dan makanan kecil. Dua orang laki-laki itu duduk santai di teras rumah. Kebetulan kamarku sekarang ini berseberangan dengan teras.

Mas Ali memulai obrolan, "Kin, terima kasih sudah menemaniku untuk muat barang ke Bandung ya! Lain kali kalau ada muatan kemana lagi aku ajak kamu,"

Yang diajak bicara masih diam. Sepertinya menikmati makanan yang disajikan Mbak Sari. Suara kecap mulutnya terdengar sekali, aku saja sampai geli.

"Kamu sopir yang handal. Paham jalan dan aku nyaman ngobrol sama kamu,"

Laki-laki yang dipanggil Kin menjawab, "Iya, Mas Ali. Aku juga cocok sama Mas Ali."

Kudengar Mas Ali tertawa kecil.

"Tempo hari aku pernah muat sama yang lain rasanya perjalanan lama sekali. Ini jauh ya, tapi terasa sebentar. Kita cocok kayaknya. Boleh deh kapan waktu kita barengan lagi,"

Mereka ngobrol banyak sepertinya, aku hanya menguping dari balik jendela. Mencoba mencari daerah Bandung mana yang mereka tuju. Tapi, belum juga tahu jawabannya. Aku pun menuju pembaringan karena sudah mengantuk lagi.

*

Detak jarum jam jelas terdengar, saat aku tengok jam dinding di kamar. Sudah menunjuk pukul 23.00.

Saat kudengar suara mobil kembali menderu, aku hampir tidur tapi belum begitu lelap. Aku tengok lagi jamnya, sudah beranjak menuju jam satu malam. Hampir pagi rupanya. Apa setiap muat Mas Ali harus pulang segini malam ya? Mungkin begini seharusnya laki-laki bekerja keras demi keluarganya?

Tidak seperti suamiku, yang hanya pergi pagi pulang pagi tanpa jelas tujuannya. Lelaki macam apa ya, tidak bertanggung jawab begitu. Lelaki yang hanya bisa menyakiti hati istrinya terus menerus. Bagaimana mungkin istrinya akan mau mencium tangannya dengan rela, perlakuannya juga sering sekali beraroma kekerasan dalam rumah tangga. Aku tidak akan rela menjabat tangannya meski sekejap saja.

Lagi-lagi aku teringat segala perbuatannya padaku.

**

komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#day35

#368kata
#CleverWriting
Rumah Clever, Cilacap, 4 Oktober 2018: 14.10.
Ibu Jesi.

***

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »