Ya Rabbi Izinkan Kami Memiliki Buah Hati

06.31

Antologi Ya Rabbi Izinkan Kami Memiliki Buah Hati by eL Hidaca

Ini cerita saya. Cerita tentang betapa saya membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menantikan kehadiran buah hati. Sekitar tiga puluh tiga bulan hitungannya. Ya, itu sangatlah benar.

Cerita dimulai sejak saya dan suami menikah, tanggal 20 Agustus 2013. Proses menuju pernikahan kami pun sangatlah berliku, butuh waktu bertahun-tahun sampai di saat yang membahagiakan kala itu.

Saya dan suami sejak kecil hidup bertetangga. Kakek suami adalah imam masjid di tempat saya biasa mengaji. Tetapi, kami mulai menjalani masa perkenalan secara pribadi di tahun 2006 dengan singkat saat ada kegiatan alumni SD.

Mulai awal tahun 2007 kami menjalani masa pendalaman yang unik. Saya di rumah dan suami di tempat kerja yang selalu jauh. Hanya setahun sekali bertemu saat Lebaran. Bahkan, tiga tahun sebelum menikah suami merantau ke luar negeri.

Bertemu kemudian, langsung menikah.

Seperti layaknya pengantin baru lainnya, kami menikmati bulan madu dengan riang gembira. Apalagi kami saling mencintai, tak pernah terlupakan masa indah saat itu. Meski malam pertama harus ditunda pelaksanannya karena saya sedang menstruasi. Beruntung, suami saya orang yang sangat pengertian. Dia sabar menunggu, sampai tertunaikannya kewajiban itu.

Banyak yang bilang, kalau malam pertama pas datang bulan itu. Biasanya langsung tokcer, maknyuss langsung jadi deh. Katanya begitu. Tapi bagi kami menjadi lain lagi ceritanya. Kami butuh waktu untuk mendapatkannya.

Satu bulan berlalu setelah malam pertama, datanglah menstruasi berikutnya yang kami hadapi dengan biasa. Ya, mungkin tidak langsung seketika juga kami mendapatkan buah hati seperti orang lain yang kebanyakan langsung tokcer. Menstruasi di bulan pertama setelah menikah dirasa biasa. Belum ada pikiran apapun yang terlintas. Belum ada kegalauan yang menyerang, masih wajar-wajar saja.

Dua bulan kemudian datang juga menstruasinya, kami tetap tenang. Sampai di bulan ke tujuh saya mulai resah dengan pertanyaan banyak orang. Bertemu orang di jalan ditanya, kapan punya anak?. Bertemu orang di pasar ditanya, kok belum juga hamil? Bertemu saudara yang sedang bertamu ke rumah pun ditanya, kamu menunda kehamilan ya?

Bertemu dengan orang dimanapun, sering ditanya hal-hal yang mengarah ke pertanyaan kapan punya anak. Saya hanya bisa tersenyum dengan menjawab

"Masih harus bersabar, belum dipercaya".

Saat menghadapi kejadian seperti itu sikap saya ya biasa saja. Tapi menjelang tidur malam, rasanya kegundahan bertambah. Saat memandang suami pun perasaan jadi tambah galau sampai kadang air mata menjadi menetes.

Ya Allah, kenapa saya belum juga hamil? Kadang juga saya bertanya sendiri dalam hati. Apa kekurangan saya, apa salah saya ya Allah hingga Engkau menghadirkan ujian semacam ini. Saya ingin seperti yang lain, mudah mendapatkan keturunan.

Apakah dosa dan salah saya di masa lalu terlalu banyak? Ya Allah maafkan segala dosa saya. Maafkan segala dosa suami saya. Apa kekurangan dia. Apapun itu ya Allah, saya berusaha ikhlas.

Yang paling membuat sedih kadang ada yang tidak langsung bertanya kepada saya, tapi mengajukan pertanyaan ke orang lain ketika saya ada di tempat yang sama dan saya mendengarnya.

"Eh, tahu tidak kenapa dia sudah lama ya belum hamil juga. Padahal suaminya di rumah terus, tidak bekerja. Kerjaannya hanya mengasuk anaknya tetangga itu.".

Ya Robbi, saat ini memang suamiku tidak bekerja. Tapi bukan berarti selamanya begitu. Memang saya yang mensyaratkan untuk tidak lagi merantau di tempat yang jauh. Boleh bekerja tetapi kerja disini, di tempat yang bisa selalu dekat dengan istri dan keluarga. Sudah sejak muda suami saya terus bekerja di tempat yang jauh, merantau ke luar negeri. Rasanya sudah cukup.

Sudah saatnya hidup dekat dengan orang-orang terkasih. Apalah artinya menikah jika setelah ijab qobul, istri disini suami di Malaysia. Meski akibat dari tidak kembalinya suamiku ke tempat kerjanya, dia harus kehilangan banyak materi yang dijaminkan sebelum pulang. Uang sekali gaji. Jaminan beberapa juta rupiah yang akan dikembalikan perusahaan jika sudah sampai kembali. Semua sudah dia ikhlaskan, semata-mata demi menikah dengan saya.

...

*

Cerita di atas adalah potongan kisah yang saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi saya yang sebenarnya.

Apakah kemudian saya bisa hamil? Jawaban itu sebagian besar sudah bisa dijawab untuk saat ini. Tapi tidak untuk waktu itu.

Oleh karena itu, saya ingin mengabadikannya ke dalam buku. Agar kelak ketika Bebi Jesi dewasa, dia akan tahu betapa besar perjuangan ayah dan ibunya demi bisa diamanahi-Nya.

Buku antologi ini menjadi buku cetak kelima, yang saya tulis bersama tim eL Hidaca. Ada beberapa kisah lain dengan tema yang sama.

Buku kisah inspirasi based on true story yang memuat tulisan pertama dari event pertama yang saya ikuti saat hamil 9 bulan.

Setelah melalui proses yang begitu panjang, Alhamdulillah buku ini bisa terbit mayor di bawah naungan Tinta Medina, Imprint Creative of Tiga Serangkai.

Buku ini sudah bisa dijumpai di Toko Buku dan Gramedia setempat. Cari buku bercover pink mencolok, bergambar sepatu lucu, khas bayi yang mungil.

Jika ingin segera memiliknya tanpa perlu repot pergi kemana-mana, bisa kontak langsung penulisnya atau bisa juga lho pesan ke saya. Saya tunggu ya di bettyirwanti@gmail.com atau FB, Betty Irwanti Joko.

Terima kasih.

**

#765kata
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#day59
#29Oktober2018

Rewrite by #CleverBook
@Rumah Clever, Cilacap, 24 Oktober 2018: 22.43.
Ibu Jesi.

***

Postingan ini juga disertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community.

#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#Day17

****

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

11 komentar

Write komentar
Erin Herlina
AUTHOR
29 Oktober 2018 15.09 delete

Kehadiran buah hati tidak hanya ditantikan orang tua, keluarga, namun tetangga, orang sekampung juga pada kepo. Anaknya nanti cantik kaya ibunya tidak ya? ganteng kaya bapaknya tidak ya? Hehe...
Sukses ya mba buat bukunya.

Reply
avatar
Nurul Fatikah
AUTHOR
29 Oktober 2018 19.33 delete

Subhanallah.. Salut dengan kesabarannya.. Penasaran dengan kisah selanjutnya mbak, saat pertama kali tahu bahwa beneran hamil :)

Reply
avatar
30 Oktober 2018 00.15 delete

Memang sedih kalau belum hamil juga setelah lama menikah Apalagi setelah diperiksa suami dan isteri nggak ada masalah. Biasanya suka terpikir, jangan-jangan seumur hidup nggak punya anak. Alhamdulillah akhirnya Allah memberi keturunan untuk Ibu Jesi berkat kesabarannya

Reply
avatar
innaistantina
AUTHOR
30 Oktober 2018 12.16 delete

pek ngggoooo alia pek tonggo, dapet jodoh dari tetangga sendiri. kadang memang kita suka gak nyangka, ternyata yang uda di depan mata, itu jodoh kita sendiri.

Reply
avatar
Unknown
AUTHOR
30 Oktober 2018 13.50 delete

Kami tetap menunggu

Reply
avatar
Ratna
AUTHOR
30 Oktober 2018 19.01 delete

jadi teringat masa penantian kami selama 10 tahun bersabar agar diberi kepercayaan, waktu yang terasa sangat panjang dan tidak berujung. Alhamdulillah Allah akhirnya memberikan kami kepercayaan untuk mempunyai putri yang cantik dan pandai. Selamat buat Mbak atas kesabarannya yang berbuah manis.

Reply
avatar
Ncsuryani
AUTHOR
30 Oktober 2018 22.42 delete

Pertanyaan klasik, kapan nikah, kapan punya anak, namun selalu menohok hati.
Semoga siapapun yang belum diberi amanah, segera dimudahkan prosesnya. Aamiin.

Reply
avatar
31 Oktober 2018 06.59 delete

Semoga yang sedang menunggu kehadiran buah hati dapat segera terwujud keinginannya dan senantiasa sabar

Reply
avatar
Mamiprila
AUTHOR
31 Oktober 2018 07.31 delete

Semua memang Tuhan janjikan akan indah pada waktunya

Reply
avatar
Muyassaroh
AUTHOR
31 Oktober 2018 23.01 delete

Masya Allah, tetap semangat mba Betty kesayangan :)

Reply
avatar