Babad Alas Mentaok: Danang Sutawijaya VS Arya Penangsang Bagian dua

08.33

Babad Alas Mentaok
Bab 1

(Danang Sutawijaya VS Arya Penangsang)
Bagian Dua

Oleh Betty Irwanti

Demak, 1546 Masehi

Sultan Trenggana wafat dalam agenda penaklukan daerah Panarukan. Tahta Demak otomatis akan turun kepada puteranya, Sunan Prawata.

Mendengar berita itu, Arya Penangsang geram, semakin menyimpan dendam.

Ia pun menyusun siasat licik.

*

Seorang pria mengendap-endap menaiki gerbang nan tinggi. Sepertinya dia sudah terbiasa melakukan penyusupan.

Pelan namun pasti, dia berhasil masuk ke salah satu kamar di mana seseorang tengah duduk bersila, sepertinya dia sedang bermunajat pada Yang Kuasa.

"Sunan Prawoto, bersiaplah menghadapi mautmu!"

Suara keras itu membangunkan seorang perempuan yang sedang terlelap di ranjang. Perempuan itu berlari, bersembunyi di balik punggung lelaki yang berdzikir itu.

Sunan Prawoto, membuka matanya.

"Siapakah, kau? Duhai tamu tak diundang! Kedatanganmu sangat tidak sopan!"

Lelaki penyusup sama sekali tidak menjawab, ia justru menghunuskan pedangnya.

"Tunggu!" perempuan di balik punggung berusaha mencegahnya.

"Apa salah suamiku sehingga kau ingin menghabisinya?"

"Tanyakan sendiri padanya, apa yang dia lakukan pada Sekar Seda Lepen?"

Lelaki bersorban bangkit berdiri, "Baiklah jika itu maumu. Aku tahu, kamu pasti utusan dari anaknya yang menginginkan kematianku!"

Lelaki penyusup tertawa terbahak-bahak.

"Aku akan menyerahkan diri pada Yang Kuasa dan padamu, jika memang umurku harus berakhir malam ini. Dengan satu syarat!"

"Apa syarat, itu?"

"Ampuni seluruh keluargaku. Pembunuh ayah Arya Penangsang itu aku, keluargaku tidak bersalah,"

"Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu. Akan kuteruskan wasiatmu pada Tuanku, Arya Penangsang!"

Lelaki bersorban bangkit berdiri, lalu memejamkan matanya.

Lelaki penyusup langsung menghunuskan pedangnya, betapa kagetnya saat perempuan yang berlindung di balik punggung juga ikut terluka dan meninggal seketika.

"Kamu tahu dia itu istriku, dia tidak bersalah? Tapi mengapa kau melukainya?"

Dengan tubuh sempoyongan lelaki bersorban berusaha membalas kematian istrinya yang tidak bersalah. Lelaki penyusup itu pun, kalah. Keduanya bersimbah darah.

*

Kadipaten Jipan Panolan, 1549 Masehi

Arya Penangsang sudah mendengar kabar kematian Sunan Prawoto. Dia tersenyum sumringah.

"Rangkud sudah berhasil melenyapkan Sunan Prawata. Aku harus bersiap untuk merebut tahta Kerajaan Demak. Itu hakku!"

"Apalagi, guruku sudah mendukung niatku sepenuhnya!"

Dia tertawa, tanpa menyadari ada seorang telik sandi datang menghadap, menghampirinya.

"Ampun, Tuanku! Ada kabar penting yang harus saya sampaikan,"

"Kabar apa itu?"

"Sepeninggal Sunan Prawoto, Demak akan dipimpin oleh Jaka Tingkir. Karena Sunan Prawoto tidak memiliki keturunan,"

Telik sandi menjelaskan dengan singkat. Arya Penangsang semakin geram. Tangannya mengepal, mukanya semakin terlihat menyeramkan.

"Awasi terus Mas Karebet! Jangan biarkan ia lolos dari pengintaian!"

"Sendiko dawuh, Tuanku!"

**

Rumah Sunan Kudus, tahun yang sama.

Arya Penangsang dan Sunan Kudus sedang menunggu tamu istimewa. Percakapan layaknya guru dan murid sudah sejak tadi menghangat. Mereka menyepakati satu hal penting.

"Apakah kamu mengerti apa yang kumaksud, muridku?"

Arya Penangsang mengangguk.

Beberapa saat menunggu, tamu istimewa akhirnya datang juga. Mereka berdiri bersamaan, menyambut dengan riang.

"Selamat datang, saudaraku! Selamat datang di rumahku,"

Mereka saling berjabat tangan.

"Silakan duduk tamu istimewaku! Sudah kupersiapkan kursi khusus untukmu. Kursi keberuntungan. Duduklah di dekatku!"

Tamu istimewa itu mendekatinya, "Tidak, Tuanku, Sultan Hadiwijaya! Tuanku datang bersamaku. Jadi harus duduk di dekatku!"

"Oh, tidak Ki Ageng Pemanahan. Sebagai tamu istimewaku, sudah selayaknyalah beliau duduk berdampingan denganku!"

Arya Penangsang berusaha membujuk, merayu Sultan Hadiwijaya agar duduk di kursi yang dikehendakiknya.

"Mohon maaf, Arya Penangsang. Aku akan duduk di dekat Ki Ageng. Tidak sopan rasanya jika tidak mematuhi perintahnya,"

Jaka Tingkir pun duduk dekat Ki Ageng Pemanahan. Arya Penangsang mendengus, kesal. Dia tidak menyadari tatapan Sunan Kudus atas apa yang dilakukannya kini.

"Jadi, begini Sunan Kudus yang sangat kami hormati. Maksud kedatangan kami kemari adalah untuk memenuhi undanganmu," Ki Ageng Pemanahan mengawali pembicaraan.

Sunan Kudus mengangguk-angguk.

"Satu dari hal lain yang tidak kalah penting adalah tujuan Tuanku Sultan yang ingin mengembalikan pusaka miliki Arya! Pusaka yang dipinjam dari seseorang yang berusaha membunuhnya!"

Sultan Hadiwijaya mengeluarkan pusaka yang dibawanya.

"Pusaka ini kukembalikan kepada pemiliknya! Keris ini kekuatannya sungguh luar biasa! Sayang sekali kalau digunakan untuk hal sia-sia,"

Arya Penangsang mendekat, tahu akan maksud perkataan Jaka Tingkir. Dia mengambil Keris Ki Setan Kober kemudian membuka dari wrangkanya (tempatnya), cahaya merah silau keluar dari keris itu. Sepersekian detik semua di ruangan terpana. Dia kembali memasukkan ke dalam wrangkanya.

"Tidak usah pamer, Arya! Aku juga punya pusaka yang tak kalah hebat dengan kerismu itu!"

Sang Sultan mengeluarkan Keris Cerubuk Kyai Conthe dari wrangkanya, muncullah cahaya hijau berkilauan, tak kalah menyilaukan.

"Pusaka macam apa itu? Hanya begitu saja kemampuannya! Tidak akan mungkin bisa mengalahkanku," ujar Arya Penangsang dengan sombongnya.

Jaka Tingkir merah padam, "Nyatanya, pusakamu tidak bisa membunuhku kemarin!"

"Itu hanya karena utusanku itu yang bodoh!"

Jaka Tingkir terpancing, "Apakah kau menantangku?" kemudian bangkit berdiri dan mengeluarkan kembali kerisnya.

Arya Penangsang pun melakukan hal yang sama. Sepersekian detik kemudian, duel terjadi. Sunan Kudus dan Ki Ageng Pemanahan saling pandang. Keduanya berlari, berusaha melerai keduanya.

"Sudah, sudah Sultan. Kita sedang bertamu, jangan buat keributan!"

Sultan Hadiwijaya mewrangkakan kembali keris pusakanya. Arya Penangsang masih menahan amarahnya. Sunan Kudus berada di antara dua manusia yang duel penuh emosi itu.

"Wrangka-kan kembali kerismu, Nak!" perintahnya kepada Arya Penangsang dengan mengedipkan matanya. Arya gagal memahami apa sebenarnya maksud gurunya itu.

"Mundur, Tuanku Sultan! Kembalilah duduk!"

Sultan Hadiwijaya duduk kembali, di dekat Ki Ageng Pemanahan.

***

Bersambung....

#838kata
#HistoricalFiction
#BabadAlasMentaok
#DanangSutawijaya
#AryaPenangsang
#SultanHadiwijaya
#Sunankudus
#KiAgengPemanahan
#KelasFiksiODOP6

#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day18

@Clever Class, Cilacap, 18 November 2018: 08.20.
Ibu Jesi.

Sumber gambar: ceritaanaknusantara.com

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

6 komentar

Write komentar
makopako
AUTHOR
20 November 2018 12.21 delete

Aha! dari sini rupanya Nyi berasal. Sebagai non penggemar sejarah nusantara tahun xxx masehi, saya jadi tahu banyak. Wagelaseeeeh

Reply
avatar
21 November 2018 13.14 delete

Saya qo langsung menerawang ke adegan drama kolosal ya hehe

Reply
avatar
Sang Mahadewa
AUTHOR
22 November 2018 07.31 delete

Kata Om Kasino,"Gile lu, Ndro!"
Kompor gas deh, Mbk Betty.

Teruskan hingga menjadi bakal novelet atau bahkan bakal novel.

Reply
avatar
Betty Clever
AUTHOR
23 November 2018 11.01 delete

Mau komen di reply kok suseh ya

Jadi semnangat nih nulis ini

Reply
avatar