Kerempongan Timbangan

14.31

Kerempongan Timbangan
Oleh Betty Irwanti

Ibu Jesi melonggarkan jarit yang sedari tadi dipakai untuk menggendong anaknya, Jesi. Baru saja ia akan membaringkan Jesi di alat timbangan dekat pintu posyandu, Jesi jejeritan. Balada Ibu Jesi dengan kerempongannya segera dimulai. Kerempongan sesi satu sebab percobaan naik alat timbang sesi satu, gagal.

Ibu ajaklah Jesi masuk ke ruangan posyandu. Ngisi daftar, sambil meletakkan buku pink posyandu penimbangan.

"Ibu, Jesi mau?" Jesi menunjuk-nunjuk baskom besar di sebelahnya.

"Mau, apa sayang? Donat atau telur puyuh?" tanya Ibu kader PKK yang jaga lapak.

"Jesi mau donat!" jawab Jesi.

"Berapa?"

"Dua aja, Mbah!" jawab Ibu Jesi. Ibu yang jaga lapak memang sudah tua, jadi dipanggilnya Mbah.

"Dua, jadi berapa Mbah?"

"Dua ribu aja sama kas."

"Oh, ya. Tapi nanti ya. Duitnya di tas"

"Iya, bawa aja dulu!"

"Nanti dapat jatah makanan tambahan ya, Bu Jes! Tanda tangan dulu, tiga kali!" tanya Ibu kader yang berada di depan Ibu Jesi.

"Oh! Lha cepithir yang kemarin dibagi buat apa ya?"

"Coba, mana! Dikumpulin sini!"

"Itu, di dalam buku pink. Sebentar tak cari dulu."

Ibu Jesi membuka buku pink, lalu mengambil barang yang dimaksud. Jesi, mengambil lembaran yang lain.

"Ini, Bu!" Ibu Jesi menyerahkan cepithir bertuliskan PMT Posyandu Cigebret.

"Ibu, ini apa?" Ibu Jesi pun menoleh. Sedikit kaget, "Lho, Jes. Itu ceklist BKB sayang. Kenapa di sobek?"

Jesi, nangis. Kerempongan kedua, berlangsung.

"Gak, papa sayang! Nanti Ibu minta lagi sama Bunda di sana, jangan nangis ya?"

"Ayuk, pulang! Ayuk, pulang!"

Ibu Jesi keringetan. Berjalanlah dia ke pojok ruangan, dekat anak tangga.

"Jesi, mau nenen?"

Jesi menggeleng.

"Jesi, mau naik tangga?"

Jesi menggeleng.

"Jesi, mau susu!"

Jesi menjawab sambil menunjuk anak kecil yang sedang minum susu coklat dengan wadah bergambar kartun.

"Iya, ayuk beli!"

Digendonglah Jesi kemudian, melintasi alat penimbangan. Sedikit tidak antri, Ibu Jesi mencoba membujuk.

"Jes, naik ayunan yuk!"

"Iya, Jes. Biasanya kamu mau ayunan, nggak mau turun. Enak lho! Goyang-goyang!" bujuk Ibu Kader yang bertugas nimbang. Bujukan gagal. Sesi dua masih dengan kerempongan.

Ibu Jesi membawa anaknya keluar, menuju toko depan.

"Jesi, mau beli apa?" tanya penjaga toko.

"Biasa, tante. Favorit."

"Oh,,,"

Jesi mengambil susu kotak coklat di dalam lemari pendingin. Setelah di dapat apa yang dimau, Jesi minta gendong Ibunya.

"Bayar nanti ya, Te. Uang di tas!"

"Iya, gak papa. Bawa aja!"

Kembalilah Jesi dan Ibu Jesi ke tempat posyanduan. Jesi yang digendong, asyik dengan susu kotaknya sampai belepotan. Sampailah di depan pintu, dekat alat timbangan.

"Pakai alat yang bisa duduk itu aja. Harus jadi ditimbang lho, masa gak ditimbang?" Ibu Jesi memberi usul sama Ibu kader yang bertugas menimbang.

Jesi jejeritan, bikin alat timbangannya eror. Menunjuk angka yang salah.

"Jesi, nanti aja ya. Masa beratnya 5 kg. Eror ini!"

Kayaknya ibu kader dan alat timbangannya grogi ngadepin Jesi. Oh, my God.

Kerempongan ketiga masih berlangsung. Jesi dan Ibunya sudah berada di pojokan dekat tangga. Ibu-ibu sudah terlihat memadati ruangan. Hiruk pikuk pembagian Makanan Tambahan sudah di mulai. Ada dua pack roti mari, jatah dari provinsi, kata ibu kaur kesejahteraan desa. Okelah. Terima saja, toh ini rezeki. Iya, kan!

"Wardan Alviano!" suara terdengar. "Iya, ada. Itu anaknya Bu Mini! Biar saya yang terima!" jawab Ibu Jesi.

"Penerimaan simbolis, ya Bu! Mau di foto! Data mau dilaporkan propinsi."
Jelas ibu kader yang memanggil. Ibu Jesi menangguk. Jesi nangis. Ibu Jesi mundur.

"Yasmin! Kamu yang maju sana! Jesi nangis."

Ibunya Yasmin yang masih sepupu Ibu Jesi menurut.

"Ah, Jesi mah iya kok!"

Jesi tambah nangis. Duduklah Ibu Jesi kemudian, sambil menyodorkan sebuah tawaran pada anaknya.

"Jesi, mau nenen?"

"He,eh. Dua!"

Apakah itu maksudnya, biarkan hanya Ibu Jesi dan Ayah Jesi yang tahu.
Beberapa lama kemudian, Ibu Yasmin menyerahkan dua pack roti mari.

"Terima kasih, ya Min!"

"Iya,!"

Jesi sudah mulai bisa menyesuaikan, mau naik turun tangga.

"Cleverona Bintang Aljazira" suara terdengar keras. Ibu Jesi berlari, "Iya, hadir!" Diterimalah dua pack seperti jatah untuk Wardan tadi. Ibu Jesi teringat sesuatu.

"Jesi, kita ayunan yuk!"

Tanpa perlu menunggu jawaban, Ibu Jesi sudah menggendong anaknya. Menuju alat timbangan di depan sana.

"Ayunan, yuk Jes! Bantu pasang alat ini ya, Bu!"

Jesi nangis.

"Sebentar, sayang! Sebentar!"

"Berapa, Bu?"

"9,5"

"Kok turun ya?"

"Rata-rata memang pada turun"

"O"

Timbangan berhasil. Meski dengan tangisan dan kerempongan Ibu Jesi selanjutnya.

Apakah itu?

***

Sungguh, jika dituliskan semua akan bisa jadi cerita 10 halaman.

Ibu Jesi menggendong Jesi ke luar. Jesi minta ke sekolahan. Kebetulan sekolahannya dekat dengan tempat posyanduan.

Gambar diambil sebelum berangkat posyanduan, saat Ibu Jesi menjemput Jesi. Jesi terlihat sangat senang.

Sehat selalu ya Jesi, jadi anak solehah, cerdas dan ceria selalu. Aamiin.

****

#KelasFiksiODOP6
#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#Desember2018
#Day7

@Rumah Clever, Cilacap, 7 Desember 2018: 14.14.
Ibu Jesi.
Nyi Bejo Pribumiluhur.

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »