Resolusi Menulis 2020

14.52 0

Tantangan Pekan Keempat
Resolusi Menulis 2020
Oleh Ibu Jesi

Bismillah
Alhamdulillah

Sampai juga di penghujung tahun 2019 dan pekan terakhir Kelas Non Fiksi Odop 7. Puji syukur hari demi hari bisa terlewati dengan baik, meski ada beberapa kali harus bayar utang, tapi tantangan itu akhirnya bisa diselesaikan.

Pernahkah, Yahnda Bunda dan teman-teman semua sehari menulis empat postingan sekaligus? Ah, rasanya pengalaman adalah guru yang terbaik. Manfaatkanlah masa longgarmu sebelum datang masa sempitmu. Masa-masa di mana untuk menulis saja, kamu akan benar-benar seperti berburu dengan waktu.

Percayalah, hidup itu ujian. Alhamdulillah, ujian demi ujian sepanjang tahun ini bisa terlewati dengan baik. Ujian demi ujian dalam dunia kerja, rumah tangga, sahabat, teman, kerabat atau siapapun, itu sudah biasa. Kuncinya hanya satu, sabar, sabar dan sabar.

Kan, katanya ada yang bilang, orang sabar itu titik-titiknya lebar. Silakan jawab sendiri ya, titik-titik itu isinya apa.

Percayalah, hidup itu ujian. Ujian demi ujian dalam dunia menulis aku menyebutnya sebagai tantangan demi tantangan.

Apa saja tantangan menulisku tahun ini?


Tiga buku solo berhasil kuselesaikan. Buku perdana berjudul Isa Bella. Sebuah novel berisi kisah dua kota dua negara. Buku kedua berjudul Staring. Sebuah kumcer berisi kumpulan tulisanku di blog pribadi  selama bulan Ramadhan tahun 2019 ini. Buku ketiga berjudul Iam Prana. Sebuah komik berlatar belakang sejarah daerah Cilacap Bercahaya.

Masing-masing buku mempunyai ceritanya sendiri. Isa Bella yang kutulis selama satu bulan setengah terbit di bawah naungan penerbit Sanggar Caraka. Adalah buah kerja kerasku mengikuti kelas Nulis Aja Academy Batch 3. Yang kemudian membawaku menjadi dosen pembimbing di batch 4.



Isa Bella juga membawaku bisa live on air untuk pertama kali di Yes Radio, Kebanggan Cilacap pada bulan Agustus 2019 lalu. Bersama Ayah Jose, aku benar-benar merasa luar biasa. Inilah momen awal terbukanya pintu untuk menjalin hubungan baik dengan sesama pegiat literasi di daerah Cilacap Bercahaya. Setelah sebelumnya sempat menjadi bagian penting dari acara Grand Opening Gramedia Cilacap atas usulan dari Mbak Gita Fetty Utami. (Terimakasih ya Mbak.)



Staring atau akronim dari Selesaikan Tantangan Raih Kemenangan, adalah buku keduaku yang judulnya sendiri terinspirasi dari sebuah truk yang melintas di depanku, saat aku mengendarai sepada motor satu hari. Sebenarnya ide ini murni aku ajukan sebagai judul antologi event RWC (Ramadhan Writing Challenge) Grup Halimah bulan Ramadhan kemarin. (Mbak Renitasari Oktaviastuti mungkin masih ingat semuanya?)

Staring terbit di bawah naungan penerbit Embrio yang dalam hal ini aku mendapat rezeki berupa voucher penerbitan 50% free oleh Cak Heru, ketua Odop Angkatan Pertama. Puji syukur, hubungan baik dengan sebuah penerbit pun mulai terbuka jalannya.

Lalu, bagaimana dengan buku ketiga? Komik Iam Prana adalah hasil karya yang kubuat hanya dalam 10 hari setelah tiga hari sebelumnya aku dan 20 teman-teman Cilacap Heritage Fellowship Program belajar sejarah daerah Cilacap Bercahaya di tiga tempat yang berbeda.



Iam Prana dicetak langsung oleh Sangkanparan yang telah bekerja sama dengan Direktorat Sejarah Kementerian Pendidikan dan dibagikan gratis untuk kalangan umum.

Tiga buku membawa ceritanya sendiri. Bahkan tahun ini akan kututup manis dengan live on air keduaku di Yes Radio untuk Bedah Bukuku yang kedua. Yahnda Bunda masih ingat tidak apa judulnya?

Selain tiga buku solo, tahun ini ada 8 buku antologi yang bisa kuselesaikan juga. Total ada 25 buku antologi yang sudah cetak dengan namaku ada diantara penulis-penulis yang luar biasa. Yang paling membuatku masih tak percaya juga hingga ini, belum lama buku antologi dengan namaku terpampang tunggal di dalam cover, ada nama Ayah Jose mengiringi. 

Iya. Buku antologi keduapuluhlimaku menjadi antologi pertama untuk suamiku tercinta. Selamat sayang, engkau memang selalu indah untuk kubanggakan.

Apa saja tantangan menulisku tahun depan?


PJ kelas non fiksi menyebutnya resolusi menulis 2020. Re itu kembali, sedangkan solusi adalah jalan keluar. Jadi, resolusi adalah jalan keluar terbaik yang akan membawaku terus menulis di tahun 2020 yang tinggal setengah bulan lagi sudah datang.

Jalan keluar terbaik mungkin bisa disederhanakan maksudnya menjadi, tantangan menulisku tahun depan. Oke. Aku akan menantang diriku sendiri untuk terus menulis dan berkarya. Setahun kemarin aku berniat untuk bisa membuat PTK (Penelitian Tindakan Kelas) sebagai salah satu syarat untuk kenaikan pangkat. So, Apakah 2020 menjadi tahun untukku merealisasikannya?

Bismillah saja. Kuniatkan dengan kesungguhan hati yang sebenar-benarnya. Selain itu aku akan tetap menulis dalam proyek antologi dan solo yang sebenarnya sudah ada banyak draft, tapi masih juga terkendala waktu eksekusinya. Percayalah hidup itu ujian. Saat harus membagi konsentrasi dengan tugas negara yang benar-benar menguras tenaga pikiran, aku harus benar-benar memaksimalkan kesempatan.

Apakah masih ada yang bisa kutambahkan? Sebenarnya banyak. Kapan waktu deh boleh disambung kemudian.

Apakah Lingkungan yang Ramah Akan Membuat Anak Cerdas dan Memiliki Mental Sehat?

22.19 1


Masih selamat malam, masih salam semangat. Masih semangat menulis. Masih semangat menyelesaikan tugas. Masih dalam upaya menyelesaikan konsekuensi yang harus dijalani oleh seorang ibu bekerja yang juga seorang ibu rumah tangga. 

Meski banyak tugas dan deadline tapi tetap berusaha menyelesaikan dengan ramah. Lho, kok ramah? Iya, ramah. Ramah pada diri sendiri, supaya hati dan pikiran bisa sinkron. So, tugas segera bisa diselesaikan tanpa harus mengejar mood yang kadang bisa saja pergi. 

Ramah pada suami, si kecil dan keluarga, jelas perlu. Sebab apa jadinya jika aku egois memilih menulis dan tidak ramah pada mereka. Pasang muka serius? Ah, rasanya tidak tega. Mereka tetap prioritas utama.

Masih dengan opening yang sama, aku ingin menjelaskan sedikit tentang lingkungan ramah yang akan membuat anak cerdas dan bermental sehat.

Sri Rumani pernah menulis di laman web kompasiana.com, tentang Anak-anak sebagai generasi milenial menghadapi tantangan yang lebih berat, dibanding generasi sebelumnya. Ruang gerak untuk bermain semakin terbatas seiring dengan berkurangnya fasilitas publik yang ramah anak. Khususnya di kota-kota besar, ruang publik terbuka telah disulap menjadi perumahan, mall, hutan beton yang menjulang tinggi. 

Sekolah pun berdiri diantara gang sempit, gedung tinggi, tanpa halaman sekolah untuk berolah raga, yang sering dikorbankan untuk lahan bisnis. Kondisi lingkungan yang sudah tidak mempunyai daya dukung dapat berakibat pada perkembangan secara fisik, psikologis anak. Apalagi ditambah "banjir"nya informasi yang menyesatkan (hoax), dan tidak sehat dari dunia maya.  

Anak sebagai generasi penerus bangsa, perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental, maupun sosial. Keluarga sebagai pemberi lingkungan yang pertama dan utama, sebelum anak keluar dalam lingkungan yang lebih besar yaitu sekolah dan masyarakat. Oleh karena itu orang tua (ibu dan ayah) menjadi orang yang paling bertanggung jawab untuk membentuk fondasi yang kokoh dalam pemahaman masalah keagaamaan, etika pergaulan, sopan santun, kejujuran, kepekaan sosial, solidaritas. Bibit radikalisme dapat dicegah dimulai dari keluarga. 

Masalahnya masih ada orang tua yang mengabaikan hal-hal kecil ini, akibatnya ketika anak dalam lingkungan sosial terkecil (keluarga) tidak mendapatkan informasi yang benar dari orang tua, anak mencari pemahaman dari orang lain yang justru "menyesatkan".  

Lingkungan yang baik adalah hak asasi anak yang semestinya dapat dinikmati oleh anak-anak agar dapat tumbuh kembang secara sehat fisik dan psikisnya. Anak-anak yang terbiasa dengan lingkungan keluarga yang baik (mempunyai rasa tenggang rasa, saling menyayangi, menghormati, toleransi), akan terbawa dalam pergaulan ketika di sekolah dan masyarakat. Sebaliknya lingkungan keluarga yang biasa tidak jujur, egois, kasar dalam bertindak, keras ketika bersuara dapat berpengaruh pada sikap dan perilaku anak-anaknya. 

Dalam bahasa Jawa ada peribahasa:"Kacang ora ninggal lanjaran (Kacang tidak meninggalkan lanjaran/alat penopang dan tempat menjalarkan tanaman menjalar). Artinya perilaku anak itu menurun dari orang tuanya. Akhlak anak tidak jauh beda dengan akhlak orang tuanya, maka berhati-hatilah orang tua dalam bertindak dan bersikap, karena semua itu masuk dalam memorinya dan akan ditiru oleh anak.

Memberikan lingkungan yang baik untuk anak bukan hanya lingkungan fisik, tetapi juga lingkungan psikis dan sosialnya. Kenapa ada tawuran antar sekolah, gang, kelompok "klitih" yang meresahkan masyarakat karena membacok orang tanpa sebab di jalan raya pada dini hari. Dimana orang tuanya, dan mengapa ketika "ayam" peliharaan tidak pulang ke rumah saat hari sudah senja (menjelang Magrib),  dicari ke tetangga, di kebun belakang rumah, di pepohonan. Namun aneh, ketika anaknya tidak pulang sampai menjelang dini hari tidak pernah dicari, di telepon, di WA, dibiarkan, diabaikan, pergi kemana dengan siapa untuk acara apa.

Ini masalah komunikasi antara orang tua dengan anak-anaknya. Herannya lagi, orang tua piawi memberi nasehat, petuah, membimbing, mendidik anak orang lain, justru anaknya sendiri dilupakan dan diabaikan. Padahal menjadi orang tua itu tidak dapat di"wakilkan" kepada orang lain siapapun dia (guru kelas/guru agama, kakek nenek, saudara).  

Munculnya anak-anak bermasalah karena jiwanya kosong, tidak mendapatkan teladan dari lingkungannya yang positif. Anak-anak merasa "kesepian" disaat membutuhkan pengarahan, bimbingan tetapi orang tua sibuk bekerja di luar rumah dengan alasan "demi memenuhi kebutuhan anak". 

Bahwa asupan gizi seimbang bagi anak sangat penting agar tidak menjadi generasi "stunting", yang berpengaruh dengan tumbuh kembang secara fisik. Selain itu yang tidak kalah penting adalah asupan gizi rohani, sehingga jiwanya pun dapat tumbuh kembang untuk menjadi generasi yang kuat, berkarakter, berbudi pekerti, berkepribadian mulia.

Hak anak untuk mendapatkan lingkungan yang ramah anak itu diberikan sejak dari dalam kandungan, sampai anak berusia 18 tahun (sebutan anak menurut UU No.35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak). Masalahnya tidak semua orang tua memahami kewajibannya sebagai orang tua yang merupakan hak anak-anaknya. 

Aku sendiri di laman blog ini pada postingan hari Senin, tanggal 9 Desember lalu, telah menulis tentang lingkungan yang ramah anak adalah lingkungan yang memungkinkan si kecil nyaman dalam menghadapi proses tumbuh kembang secada optimal. Lingkungan yang nyaman adalah lingkungan yang selalu mendukung anak, seperti apapun dan dalam keadaan bagaimanapun. 

Lingkungan yang nyaman adalah lingkungan yang tidak pernah ada bully-ing sedikitpun, tidak pernah ada sikap membandingkan anak satu dengan anak yang lain. Karena setiap anak tentu diciptakan berbeda, bahkan untuk kembar identik sekalipun. 

Aku dan suami sendiri berusaha untuk bisa memaksimalkan peran menjadi orangtua yang ramah agar puteri kecil tak pernah merasa kekurangan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Karena lingkungan yang penuh akan kasih sayang akan membuat ia nyaman dan aman.


Apa yang kami lakukan agar lingkungan ramah anak itu tercipta?


  • Stop bullying

Tidak membully anak ketika dia melakukan aktivitas yang menurut kita itu aneh, lucu atau pantas untuk ditertawakan. Stop membandingkan anak dengan anak lain. Pahamilah Yahnda Bunda, si kecil juga punya hati dan pikiran yang bisa saja merekam setiap kejadian. Bisa jadi ia akan terus mengingat sepanjang hidupnya sebagai kejadian negatif yang akan berdampak negatif suatu saat.

Apakah kita menginginkan hal yang demikian? Kalau aku jelas tidak menginginkanya. Aku berusaha untuk ramah dan tersenyum setiap saat, apapun yang si kecil lakukan. Meski itu bukanlah hal yang mudah, tapi teladan dari Ayah Jose-lah sumber segala keramahan itu menjadi membahana kemudian.

So, bagaimana dengan Yahnda Bunda sendiri? Sudahkah memberikan sikap ramah pada si kecil hari ini?

Sila jawab sendiri ya, aku mau selonjoran dulu sejenak. Hehehe....

Apakah Lingkungan yang Disiplin Akan Membuat Anak Cerdas Memiliki Karakter yang Baik?

22.06 1


Selamat malam, salam semangat. Semangat menulis. Semangat menyelesaikan tugas. Beginilah konsekuensi yang harus dijalani oleh seorang ibu bekerja yang juga seorang ibu rumah tangga. Meski banyak tugas dan deadline tapi tetap berusaha menyelesaikan dengan disiplin. Lho, kok disiplin? Iya, disiplin. Disiplin pada diri sendiri, supaya tugas segera bisa diselesaikan tanpa harus mengejar mood yang kadang bisa saja pergi. Sesekali diri ini perlu dipaksa, agar mood itu lekas menghampiri.

Disiplin pada diri sendiri jelas perlu. Tapi, apakah bersikap disiplin terhadap suami dan kecil serta keluarga, itu juga perlu?

Apa jadinya jika aku tidak disiplin mengatur wakru. Mungkin aku tidak akan berani mengambil semua konsekuensi menjadi ibu bekerja dengan satu anak dan punya passion besar dalam dunia menulis. Ah, rasanya disiplin memang sebuah arah yang harus dijalankan? 

Meski begitu disiplinku tetap luwes, bukan disiplin yang otoriter. Bagaimana juga aku tetap seorang istri yang harus mendahulukan suami, anak dan keluarga bukan? Ketika aku memutuskan kapan waktu yang untuk menulis, pasti sudah aku komunikasikan sebelumnya pada mereka. 

Pasang disiplin serius? Ah, rasanya tidak tega. Mereka tetap prioritas utama. Alhamdulillah, Allah SWT meridhoi setiap upaya baik dari hamba-Nya yang berusaha melakukan hal yang baik. Malam ini mereka sudah terlelap dalam tidur, bukankah ini atas kuasa-Nya juga?

Kami memang terbiasa persiapan tidur pada jam-jam segini. Jarang sekali kami begadang sampai tengah malam atau tidak tidur sama sekali, kecuali jika ada yang harus diselesaikan. Seperti aku, malam ini, yang mungkin saja baru akan tidur tengah malam.

Kami juga biasa bangun pagi, memulai aktivitas sejak adzan Subuh bahkan belum terdengar sama sekali. Jangan tanya bagaimana Ayah Jose mengatur waktunya. Sebab sebelum pukul lima pagi saja, beliau sudah harus berangkat menuju tempat kerja.

Bagaimana kabar Yahnda Bunda semua? Bagaimana juga kabar si kecil, anak cerdas di seluruh penjuru tanah air dan di seluruh dunia? Apakah biasa melakukan hal yang sama dengan kami, member The Clever Family? Kami menyebutnya sebagai kedisiplinan dalam keluarga. Agar semua berjalan lancar, baik dan sukses tanpa ekses.

Henny Nurhendrayani dalam situs online pkbmdaring.kemdikbud.go.id menulis bahwa, disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan ketertiban.

Ciri-ciri orang disiplin antara lain: selalu mentaati peraturan, selalu tepat waktu, selalu hidup terjadwal dengan teratur, selalu melaksanakan tugas dengan baik dengan membiasakan hidup disiplin.

Perilaku disiplin dapat diterapkan di mana saja?


Perilaku disiplin di rumah, contohnya: membantu orang tua, merangkat sekolah tepat waktu, belajar setiap hari, tidur dan bangun tepat waktu, merapikan tempat tidur dan kamar, makan dengan teratur, merapikan mainan setelah bermain, menjaga kebersihan rumah, menjalankan ibadah tepat waktu, mandi pagi dan sore hari, menjaga keamanan di rumah, penggunaan listrik dan peralatan elektronik.

Disiplin yang diterapkan di sekolah, misalnya: masuk sekolah tepat waktu, berbaris dengan tertib, berseragam sesuai ketentuan sekolah, menaati tata tertib sekolah, mendengarkan pelajaran dengan tekun, beribadah tepat waktu, tidak terlambat masuk sekolah, bila keluar kelas minta izin, melaksanakan tugas piket, membuang sampah pada tembatnya, tidak boleh  berbuat gaduh di kelas, duduk dengan rapi, dan berlaku sopan santun.

Sikap disiplin di masyarakat, antara lain: jangan membunyikan radio atau tv keras keras pada malam hari, membuang sampah pada tempatnya, berjalan di sebelah kiri, mematuhi rambulalu lintas di jalan umum, jangan bermain layang layang di jalan, menjaga kebersihan lingkungan, menjaga keamanan lingkungan, tidak mengganggu tetangga, menjaga kesopanan dalam bertamu, hati-hati dan menggunakan barang milik orang lain. 

Bayangkan jika Yahnda Bunda dan si kecil melakukan sikap disiplin di manapun berada. Bukan suatu hal yang mustahil Yahnda Bunda akan sukses membuat si kecil tumbuh menjadi anak cerdas dan memiliki karakter yang baik.

Dari perilaku mana saja si kecil akan tumbuh menjadi anak yang cerdas? Dari perilaku disiplin yang mana si kecil akan memiliki karakter yang baik kemudian? Silakan Yahnda Bunda sendiri yang mencari jawabannya ya. 

Selamat mencari ya....

Apa Saja yang Harus Diperhatikan Agar Anak Cerdas Bisa Menjadi Anak Sehat?

12.45 1






Selamat siang, salam semangat. Bagaimana kabar Yahnda Bunda semua? Bagaimana juga kabar anak cerdas di seluruh penjuru tanah air dan di seluruh dunia? Semoga Bunda semua selalu sehat ya. Karena sehat itu penting, maka teruslah berupaya menjaga kesehatan. Juga kesehatan si kecil yang selalu harus kita perhatikan. Apa saja yang harus diperhatikan agar anak cerdas bisa menjadi anak sehat? 

Seperti kata pepatah, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula. So, apa saja yang harus diperhatikan oleh Yahnda Bunda agar Ananda bisa menjadi anak sehat kemudian?

Hal yang urgen untuk mendukung anak tumbuh sehat tentu saja lingkungan sehat. Lingkungan sehat identik dengan lingkungan bersih dan kebiasaan menjaga kebersihan.

Lingkungan bersih, bisa diwujudkan dari lingkup yang paling kecil yaitu lingkungan rumah. Ruang tamu yang bersih, ruang keluarga yang bersih, kamar tidur yang bersih, kamar utama, kamar anak, kamar mandi dan dapur juga harus bersih tentunya.

Memisahkan sampah rumah tangga menjadi bagian-bagian sampah yang nantinya bisa diolah kembali atau dimusnahkan kembali juga jangan dianggap sepele. Pisahkan sampah organik dan anorganik menjadi solusinya.

Apa jadinya jika di rumah kita, tumpukan sampah ada di mana-mana. Lingkungan seperti ini tentu tidak akan baik untuk tumbuh kembang si kecil. Bahkan untuk efek yang lebih besar, kesehatan keluarga yang tinggal dalam satu rumah juga akan terganggu. Rugi sekali bukan?

Memperhatikan pengolahan sampah agar lingkungan di dalam rumah bersih itu mutlak diperlukan. Demi tumbuh kembang anak  tercinta, masa iya kita masih juga bermalas-malasan?

Menjaga kebersihan lingkungan juga harus sampai ke luar rumah. Beranda rumah. Pekarangan rumah yang rimbun oleh rumput misalnya, seperti di sebelah timur Rumah Cleverley, seyogyanya harus segera dibersihkan agar ketika musim hujan datang, nyamuk-nyamuk tidak akan betah bersarang.

Apa jadinya jika rumput di pekarangan tumbuh subur bak ilalang di tengah hutan? Apakah lingkungan rumah akan menyehatkan anak cerdas yang sudah kita kawal?

Mari mulai jaga kebersihan dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil dan mulai saat ini. Mari ajarkan si kecil cara menjaga kebersihan diri sejak dini agar ia tumbuh menjadi anak sehat kemudian.

Dilansir dari laman web SehatQ.com, mandi merupakan salah satu cara menjaga kebersihan diri.

Menjaga kebersihan terdengar seperti hal yang sepele karena kerap dilakukan sebagai rutinitas tanpa arti. Padahal, memiliki tubuh yang bersih bukan hanya sedap dipandang mata, namun juga dapat menghindarkan Yahnda Bunda dan si kecil dari berbagai penyakit.

Menjaga kebersihan diri pun tidak sulit. Yahnda Bunda dan si kecil cukup melakukan langkah-langkah sederhana, seperti mandi, mencuci tangan dengan sabun, menggosok gigi, dan lain-lain. Tujuan besarnya adalah menyingkirkan kuman, bakteri, dan virus yang menempel di tubuh setelah beraktivitas. 

Mengapa menjaga kebersihan itu penting? Bagaimana seharusnya kita menjaga kebersihan setiap hari? Berikut penjelasannya untuk Yahnda Bunda dan si Kecil?

Pentingnya menjaga kebersihan

Menjaga kebersihan adalah salah satu cara paling efektif dalam melindungi diri kita dan orang lain dari berbagai kuman yang menyebabkan penyakit.

Pusat Perlindungan dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyatakan ada beberapa penyakit yang mengintai kita ketika tidak menjaga kebersihan. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

Kutu air: penyakit pada kulit, khususnya sela-sela jari kaki yang disebabkan oleh infeksi jamur. Jamur tumbuh ketika kaki Anda lembap dan kotor.

Kutu rambut: parasit yang menghisap darah ini bisa terdapat pada rambut di bagian tubuh manapun, seperti kepala, tubuh, ketiak, bahkan alis dan rambut kemaluan. Untuk menghindari kutu menyerang rambut Anda, sangat penting untuk menjaga kebersihan.

Diare: penyakit buang air ini bisa menjadi kronis sehingga mengancam nyawa, terutama jika kita memiliki sistem imun lemah dan masih anak-anak.

Karies gigi: terjadi saat Anda tidak rutin menggosok gigi sehingga bakteri jahat mengeluarkan zat asam untuk menghancurkan sisa makanan sekaligus dapat merusak enamel gigi yang akhirnya menyebabkan karies atau gigi berlubang.

Scabies: adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi tungau dan biasa ditandai dengan gatal dan biang keringat yang mirip dengan jerawat.

CDC juga mencatat bahwa menjaga kebersihan lewat mencuci tangan dengan sabun dapat mencegah diare hingga 50 persen. Jika Anda tidak dapat menemukan air mengalir untuk mencuci tangan, gunakan hand sanitizer yang mengandung alkohol untuk membunuh kuman di tangan kita.

So, menjaga kebersihan sebetulnya tidak sulit. Berikut beberapa hal yang dapat Yahnda Bunda ajarkan pada si kecil:

1. Mandi setiap hari

Basuh setiap jengkal tubuh si kecil, terutama area lipatan, di bagian ketiak, dan sekitar kemaluan serta anus. Badan yang bersih dapat menghindarkan si kecil dari iritasi serta menghilangkan bakteri yang menyebabkan badan bau.

2. Cuci tangan dengan sabun

Sabun apa pun dapat digunakan untuk mencuci tangan, tidak harus sabun antiseptik. Yang penting, pastikan si kecil membersihkan hingga ke sela-sela jari dan punggung tangan, serta bilas dengan air bersih (lebih baik dengan air mengalir), kemudian keringkan tangan dengan handuk bersih.

Cucilah tangan si kecil ataupun Yahnda Bunda dalam kondisi, sebelum dan setelah makan atau mempersiapkan makanan, setelah mengganti popok bayi, sebelum dan setelah merawat orang sakit atau setelah membersihkan muntahannya, setelah bersin, setelah membuang sampah, sebelum dan setelah merawat luka, setelah menyentuh permukaan yang kotor, dan setelah menyentuh binatang.

3. Gosok gigi

Menjaga kebersihan dengan menggosok gigi minimal dua kali sehari dapat mencegah sakit gigi dan karies. Bila perlu, gunakan juga benang gigi untuk memastikan tidak ada sisa makanan di sela-sela gigi. Jika Yahnda Bunda dan si Kecil memiliki masalah gigi, periksakan kondisi Anda di dokter gigi.

Pepatah mengatakan mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Untuk mencegah berbagai penyakit, lebih baik melakukan pencegahan dengan selalu menjaga kebersihan dimulai dari diri sendiri.

Begitu ya Yahnda Bunda. Mari dampingi anak untuk selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan!

Apakah Anak Cerdas Pasti Sehat? Klik Saja SehatQ.com

10.30 1



Anak yang cerdas berawal dari pernikahan dan kehamilan yang cerdas. 1000 hari pertama kelahiran anak cerdas itu adalah momen golden age yang sangat luar biasa bagi perkembangan jasmani dan rohaninya. Apabila ia tumbuh di lingkungan yang cerdas, bukan suatu hal yang mustahil kelak ia akan tumbuh menjadi anak yang cerdas pula. Lantas apakah ini berarti ketika anak cerdas tumbuh di lingkungan yang sehat ia akan menjadi anak yang sehat? Klik saja SehatQ.com.

Ada banyak kemudahan mencari informasi kesehatan di SehatQ.com, termasuk ketika saya membutuhkan informasi tentang apakah anak cerdas sudah pasti sehat? Saya seluncuran kemudian ke Artikel Kesehatan yang ada di SehatQ.com.  Saya search dengan kata kunci anak sehat. Hanya dalam waktu beberapa detik, muncullah puluhan artikel terkait yang bisa jadi referensi kemudian.

Saya tertarik dengan artikel yang muncul di posisi paling atas. Apakah itu? Apakah Anak gemuk itu pasti sehat? Menurut saya tidak. Kadar sehat atau tidak sehatnya anak tidak tergantung dari gemuk atau kurusnya bentuk badan. Tapi dari saya tahan yang dipunyai si anak, apakah dia mudah sakit atau dia akan baik-baik saja meski cuaca sedang tidak menentu atau orang-orang di sekitarnya banyak yang sakit tapi dia tidak tertular.

Lantas? Kemudian saya menjadi berpikir, sesuai dengan tema tulisan-tulisan saya sebelum ini, yaitu tentang anak cerdas.  Pertanyaan besar ada dalam benak saya, yaitu tentang Apakah Anak Cerdas Pasti Sehat? Simak penjelasannya berikut:

Anak Cerdas Belum Tentu Sehat


Lingkungan menjadi hal yang mendorong anak untuk menjadi cerdas kemudian. Lantas, seperti apa lingkungan cerdas yang dapat mewujudkan terciptanya anak yang cerdas?

Anak yang cerdas berasal dari lingkungan yang cerdas, 5 lingkungan cerdas yang dapat mewujudkan terciptanya anak yang cerdas pula, diantaranya lingkungan sehat, lingkungan yang bersih, lingkungan yang ramah, lingkungan yang disiplin dan lingkungan agamis. Bisa simak informasi lengkapnya di postingan saya sebelum ini.

Pada postingan kali ini saya hanya ingin menggaris bawahi poin penting tentang lingkungan sehat. Karena lingkungan sehat akan membuat anak menjadi sehat pula.  Lingkungan yang paling utama dan pertama adalah lingkungan keluarga. Keluarga yang sehat dan memperhatikan kesehatan itu mutlak penting bagi tumbuh kembang anak agar menjadi cerdas sesuai dengan apa yang jadi harapan Bunda Yahnda sekalian.

Keluarga atau dalam hal ini kusebut, lingkungan, yang sehat bisa dimulai dengan memberikan imunisasi dasar lengkap sesuai dengan usia anak dan tepat waktu. Terlepas dari ada beberapa Yahnda Bunda yang tidak melakukannya, tapi menurutku imunisasi itu perlu. Karena yang  saya tahu, imunisasi dan pemberian vaksin sangat berguna bagi imunitas si kecil.

Anak cerdas yang tidak mendapat imunisasi dasar lengkap  (vaksinasi) kemudian bisa saja tumbuh menjadi anak yang sehat atau anak yang gampang terserang penyakit. Klik saja artikel Vaksin: Cara Melindungi Kesehatan Anak yang Paling Ampuh.

Lalu, Bagaimana Cara Agar Anak Cerdas juga Menjadi Anak Sehat?


1. Lengkapi Imunasi Dasar Lengkapnya
Imunisasi dasar lengkap akan membuat kekebalan anak terhadap suatu penyakit menjadi meningkat. Hal ini akan membuat si kecil, anak cerdas akan tumbuh semakin sehat. Imunisasi sendiri biasa disebut dengan istilah vaksinasi. Vaksinasi disebut juga imunisasi adalah pemberian vaksin ke dalam tubuh seseorang untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit.

2. Makan makanan sehat
Makanan sehat mengandung zat gizi 4 sehat 5 sempurna wajib dikonsumsi oleh anak cerdas dengan pengaturan pola makanan dari Yahnda dan Bundanya. Makan makanan sehat tetap perlu dijaga keseimbangannya agar tidak menjadikan anak gemuk atau bahkan mengalami obesitas kemudian.

3. Perbanyak aktivitas fisik
Apakah si kecil butuh aktivitas fisik agar menjadi anak cerdas yang sehat? Itu jelas sangat perlu. Dampingi anak jalan-jalan ringan atau bersepeda satu jam setiap harinya atau aktivitas apapun untuk melatih jantung, pernafasan, kekuatan otot dan tulangnya. Ajak saja anak bermain-main di rumah atau taman dekat rumah juga bisa kan?

Demikian Yahnda Bunda, semoga bermanfaat ya.


Disclaimer: Postingan ini saya ikutkan dalam SehatQ Blog Competition 2019, 10 Oct 2019 - 31 Dec 2019.


Anak Cerdas Berasal dari Lingkungan yang Cerdas.

23.25 1



Anak yang cerdas berawal dari pernikahan dan kehamilan yang cerdas. 1000 hari pertama kelahiran anak cerdas itu adalah momen golden age yang sangat luar biasa bagi perkembangan jasmani dan rohaninya. Apabila ia tumbuh di lingkungan yang cerdas, bukan suatu hal yang mustahil kelak ia akan tumbuh menjadi anak yang cerdas pula.

Lingkungan menjadi hal yang mendorong anak untuk menjadi cerdas kemudian. Lantas, seperti apa lingkungan cerdas yang dapat mewujudkan terciptanya anak yang cerdas?

Anak yang cerdas berasal dari lingkungan yang cerdas, inilah 5 lingkungan cerdas yang dapat mewujudkan terciptanya anak yang cerdas pula:

1. Lingkungan sehat

Lingkungan yang paling utama dan pertama adalah lingkungan keluarga. Keluarga yang sehat dan memperhatikan kesehatan itu mutlak penting bagi tumbuh kembang anak agar menjadi cerdas sesuai dengan apa yang jadi harapan Bunda Yahnda sekalian. 

Keluarga atau dalam hal ini kusebut, lingkungan, yang sehat bisa dimulai dengan memberikan imunisasi dasar lengkap sesuai dengan usia anak dan tepat waktu. Terlepas dari ada beberapa Yahnda Bunda yang tidak melakukannya, tapi menurutku imunisasi itu perlu. Karena yang kutahu, imunisasi sangat berguna bagi imunitas si kecil. 

Lingkungan yang sehat perlu diupayakan bersama lingkungan sekitar rumah, tetangga misalnya, afau untuk area yang lebih luas adalah lingkungan masyarakat sekitar.

2. Lingkungan bersih

Untuk bisa menjadi lingkungan yang sehat, syarat utama yang harus dipenuhi adalah rumah harus selalu bersih. Barang-barang di runah harus bersih. Agar ketika si kecil bermain dan memegang benda-benda itu, tidak ada kuman, virus, dan bakteri yang dimungkinkan bisa masuk ke tubuhnya lewat jalan manapun. 

Apakah hanya di dalam rumah yang bersih? Tidak. Lagi-lagi lingkungan sekitar rumah, lingkungan sekolah (jika si kecil shdah sekolah) dan lingkungan sekitar harus membudidayakan hidup bersih. 

Biasakan tidak membuang sampah sembarangan, karena jika itu yang dilakukan oleh Ayah Bunda dan orang-orang di sekitar, bisa saja akan mengakibatkan banjir. Bahkan sangat bisa juga menimbulkan bau busuk, yang akan mencemari lingkungan.

3. Lingkungan ramah

Lingkungan yang ramah adalah lingkungan yang memungkinkan si kecil nyaman dalam menghadapi proses tumbuh kembang secada optimal. Lingkungan yang nyaman adalah lingkungan yang selalu mendukung anak, seperti apapun dan dalam keadaan bagaimanapun. 

Lingkungan yang nyaman adalah lingkungan yang tidak pernah ada bully-ing sedikitpun, tidak pernah ada sikap membandingkan anak satu dengan anak yang lain. Karena setiap anak tentu diciptakan berbeda, bahkan untuk kembar identik sekalipun. 

Aku dan suami sendiri berusaha untuk bisa memaksimalkan peran menjadi orangtua yang ramah agar puteri kecil tak pernah merasa kekurangan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Karena lingkungan yang penuh akan kasih sayang akan membuat ia nyaman dan aman. 

4. Lingkungan disiplin 

Disiplin? Apakah disiplin perlu diajarkan sejak kecil? Saat bangun tidur di pagi hari apa yang Yahnda Bunda lakukan terhadapnya. Saat siang, sore dan malam apa juga yang dilakukan terhadapnya? 

Anak yang terbiasa disiplin, biasa bangun pagi jam sekian, biasa mandi jam sekian, biasa makan pagi jam sekian, biasa tidur siang jam sekian, pernahkah Yahnda Bunda mengontrol setiap jam berapa kegiatan itu dilakukan? 

Jujur, aku sendiri belum bisa melakukan ini secara maksimal, karena sejak pukul 07.00 pagi aku sudah meninggalkan puteri kecil di rumah bersama Mbah Utinya. Sekarang dia sering juga ikut ke sekolah dengan catatan dia sudah mulai suka main di PAUD, tapi aku selalu membiasakan, jam sekian harus pulang, jam sekian harus mandi dan lain-lain melalui pengertian yang sudah aku sampaikan ke Mbah Uti sebelumnya. 

5. Lingkungan agamis

Jelas ini sangat perlu, diantara hal yang paling penting inilah hal pertama yang harus dilakukan Yahnda Bunda. Bahkan sejak pertama kali si kecil lahir ke dunia, dia dibacakan adzan bukan? Lantas relakah kemudian dia tidak diperdengarkan bacaan-bacaan lain yang akan membuat rohaninya menjadi cerdas? 

Aku tidak bisa secara langsung melakukan ini semua, jelas aku butuh bantuan semua, terutama Ayah Jose. Kenapa? Karena beliau adalah idola puteri kecilku? Sebab apa? Siap beliau yang selalu rutin mengaji setiap selesai salat maghrib, dan beliau mengajak kami, istri dan anaknya. 

Kadang puteri kecil sering minta ikut Mbah Uti Kakung-nya ke masjid dekat Rumah Clever. Apa hanya sampai di situ? Tidak. Saat puteri kecil minta ikut ke sekolah, dia ikut masuk kelas dan ikut berdo'a sebelum kelas dimulai. Anak-anak di kelas membaca bacaan surat-surat pendek juga do'a-do'a harian. Puteri kecil menyimak tanpa kusadari. 

Saat dia mengaji, tanpa sengaja ia menggumam sendiri. Setiap bacaan yang kudengar, alhamdulillah benar. Alhamdulillah. 

Apakah yang sudah Bundha Yahnda lakukan untuk si kecil tercinta? Semoga yang kecil ini bisa bermanfaat ya.

Salam dari All Member The Clever Family From W House Nitikan Yogyakarta


Yahnda Bunda Wajib Tahu, Kehamilan Siap Siaga Itu Sangat Diperlukan

11.03 4



Menutup tulisanku minggu ini tentang kehamilan, ada bahasan menarik tentang Kehamilan Siap Siaga. Apa itu kehamilan siap siaga? Kenapa Yahnda Bunda wajib tahu kehamilan siap siaga itu sangat diperlukan? 

Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA) memberikan informasi banyak tentang apa itu kehamilan siap siaga. Buku KIA yang bercover warna pink ini berisi catatan kesehatan ibu (hamil, bersalin dan nifas) dan anak (bayi baru lahir sampai anak usia 6 tahun) serta berbagai informasi cara memelihara dan merawat kesehatan ibu dan anak.

Buku KIA atau buku pinky,  biasa aku menyebutnya, wajib dibaca dan dimengerti oleh ibu, suami, dan anggota keluarga yang lain. Di sana ada himbauan untuk jangan malu bertanya kepada dokter, bidan, perawat, petugas kesehatan lain dan kader jika ada hal yang tidak dimengerti.

Buku KIA harus selalu dibawa pada saat ibu hamil, bersalin,  dan nifas berkunjung ke fasilitas pelayanan kesehatan (rumah sakit, puskesmas, praktik dokter spesialis, praktik dokter dan praktik bidan). Juga pada saat berkunjung ke Posyandu, Kelas Ibu Hamil, Kelas Ibu dan Balita, Pos PAUD dan BKB (Bina Keluarga Balita). 

Buku pinky juga sangat wajib untuk dijaga, jangan samlai rusak atau bahkan hilang. Kenapa? Karena buku ini berisi informasi catatan penting kesehatan ibu dan anak. Selain itu juga digunakan pada jaminan kesehatan dan pihak lain di luar sektor kesehatan. 

Kenapa juga buku pinky tidak boleh hilang? Karena melalui buku ini, Yahnda Bunda bisa memperoleh informasi tentang kehamilan sejak awal sampai melahirkan, bahkan sampai mendampingi anak hingga usia 6 tahun. Di buku ini juga ada informasi lengkap tentang Kehamilan Cerdas. Apa saja? 

Segera ke dokter atau bidan jika terlambat datang bulan. Periksa kehamilan paling sedikit 4 kali selama kehamilan. Yaitu satu kali saat usia kandungan belum 3 bulan, satu kali saat usia kandungan 4-6 bulan, dan dua kali pada usia kandungan 7-9 bulan. (halaman 1)

Ikuti Kelas Ibu Hamil. Di kelas ibu hamil, Bunda mendapatkan informasi dan saling bertukar informasi mengenai kehamilan, persalinan, nifas serta perawatan bayi baru lahir. Ikuti kelas ibu hamil paling sedikit 4 kali pertemuan, sebaiknya 1 kali pertemuan dihadiri bersama suami atau keluarga.

Di kelas Ibu dan Balita, ibu akan mendapatkan informasi dan saling bertukar informasi mengenai tumbuh kembang, imunisasi, gizi, perawatan bayi dan balita serta penyakit yang sering pada bayi dan balita. (halaman 3)

Dari sinilah kehamilan siap siaga dimulai, saat suami atau keluarga harus menemani ibu hamil mengikuti kelas untuknya. Juga saat ibu hamil harus melakukan perawatan sehari-hari di rumah. 

Ibu hamil harus makan beragam makanan secara proporsional dengan pola gizi seimbang dan lebih banyak daripada sebelum hamil.

Istirahat yang cukup

Ibu hamil harus istirahat yang cukup. Tidur malam paling sedikit 6-7 jam dan usahakan siangnya tidur / berbaring 1-2 jam. Posisi tidur sebaiknya miring ke kiri. Pada daerah endemis malaria gunakan kelambu berinsektisida. 

Bersama suami lakukan rangsangan atau stimulasi pada janin dengan sering mengelus-elus perut Bunda dan ajak janin bicara sejak usia kandungan 4 bulan.

Menjaga Kebersihan Diri

Ibu hamil diharuskan cuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir sebelum makan, setelah buang air besar dan buang air kecil. Menyikat gigi secara benar dan teratur minimal setelah sarapan dan sebelum tidur. 

Mandi 2 kali sehari. Bersihkan payudara dan daerah kemaluan. Ganti pakaian dan pakaian dalam setiap hari. Periksa gigi ke fasilitas kesehatan pada saat periksa kehamilan. Ibu hamil juga wajib mencuci rambut minimal 2-3 kali dalam seminggu. Boleh melakukan hubungan suami istri selama hamil. Tanyakan ke petugas kesehatan cara yang aman.

Yang harus dihindari ibu hamil

Yang harus dihindari ibu hamil adalah kerja berat, merokok atau terpapar asap rokok, minum minuman bersoda, beralkohol dan jamu, tidur terlentang lebih dari 10 menit pada masa hamil tua. Ibu hamil tidak boleh minum obat tanpa resep dokter. Ibu hamil juga tidak boleh stress berlebihan.

Tanyakan kepada petugas kesehatan tentang makanan yang bergizi

Makanlah dengan pola gizi seimbang dan bervariasi, lebih banyak dari sebelum hamil. Tidak ada pantangan makanan selama hamil. Cukupi kebutuhan air minum pada saat hamil. Kebutuhan air minum ibu hamil 10 gelas perhari.

Jika mual, muntah dan tidak napsu makan, pilihlah makanan yang tidak berlemak dalam porsi kecil tapi sering. Contohnya: buah, roti, ubi, singkong, biskuit. Jangan minum minuman keras, dan merokok. Jika minum obat tanyakan kepada petugas kesehatan.

Kehamilan Siap Siaga?

Bisa dimulai sejak awal masa kehamilan hingga persiapan proses persalinan bahkan setelahnya. Persiapan melahirkan (bersalin) dapat dijabarkan dalam beberapa langkah.

Tanyakan kepada bidan dan dokter tanggal perkiraan persalinan. Suami atau keluarga mendampingi ibu saat periksa kehamilan. Siapkan lebih dari satu orang yang memiliki golongan darah yang sama darah yang sama dan bersedia menjadi pendonor jika diperlukan.

Persiapkan tabungan atau dana cadangan untuk biaya persalinan dan biaya lainnya. Rencanakan melahirkan ditolong oleh dokter atau bidan di fasilitas kesehatan. Siapkan KTP, Kartu Keluarga (KK), Kartu Jaminan Kesehatan Nasional dan keperluan lain untuk ibu dan bayi yang akan dilahirkan. Untuk memperoleh Kartu JKN, daftarkan diri anda ke kantor BPJS Kesehatan setempat, atau tanyakan ke petugas Puskesmas.

Suami, keluarga dan masyarakat menyiapkan kendaraan jika sewaktu-waktu diperlukan. Pastikan ibu hamil dan keluarga menyepakati amanat persalinan dalam stiker P4K dan sudah ditempelkan di depan rumah ibu hamil.

Rencanakan ikut Keluarga Berencana (KB) setelah bersalin. Tanyakan ke petugas kesehatan cara ber-KB.

Kira-kira seperti itu ya Yahnda Bunda dan calon Yahnda Bunda semuanya. Informasi yang kubagikan di atas ada semua di buku KIA, atau buku pinky.



Buku KIA yang aku punya seperti gambar yang terlampir. Sedikit sudah lecek ya? Sebab sudah berumur lebih dari 3 tahun ternyata, setiap saat buku itu aku buka, kadang Kakak Jesi juga penasaran ikut buka juga. Buku KIA Yahnda Bunda dan Nanda sendiri bagaimana? Apakah sudah lecek juga?

Bumil Cerdas, Juga Harus Tahu Apa Saja Ciri-ciri Kehamilan yang Sehat Sejak Awal

19.49 1



Selamat malam Yahnda dan Bunda, setelah nutrisi cerdas sudah terpenuhi dan kehamilan yang membesar dari hari ke hari, maka bersyukurlah kepada Sang Pemberi. Rezeki itu datang serupa kehamilanmu yang sudah lama kamu nantikan. Percayalah, banyak yang belum diberi amanah oleh Tuhan serupa nikmat kehamilan.

Sebagai bumil yang cerdas, Bunda juga harus tahu apa saja ciri-ciri kehamilan yang sehat sejak awal dinyatakan hamil oleh tespack ataupun dokter. Apa saja ciri-cirinya?

Laman Alodokter.com menulis bahwa ibu hamil acapkali bingung dengan perubahan yang terjadi selama kehamilan, sehingga ragu apakah kehamilan yang dijalani sehat atau tidak. Kehamilan sehat bisa dipastikan melalui pemeriksaan kehamilan oleh dokter. Namun, ada pula tanda-tanda hamil sehat yang dapat dirasakan oleh diri sendiri. Apa saja tanda-tandanya?

Terlambat datang bulan merupakan hal pertama yang menandakan kehamilan. Meski demikian, tanda ini bisa salah jika Bunda memang memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur. Untuk mengecek kepastian hamil, gunakan testpack seminggu setelah terlambat datang bulan. Usia kehamilan sendiri dihitung sejak hari pertama haid terakhir, meskipun saat itu belum terjadi pembuahan.

Jika testpack maupun dokter kandungan menyatakan positif hamil, tanda-tanda berikut mungkin akan dialami seiring bertambahnya usia kehamilan.

Morning sickness alias mual dan muntah saat hamil, biasanya dirasakan pada trimester pertama kehamilan.  Mual dan muntah tidak hanya dirasakan pada pagi hari, tapi bisa juga saat siang atau malam hari. Gejala ini berangsur-angsur hilang saat memasuki usia kehamilan 12 minggu.

Mual dan muntah di awal kehamilan kemungkinan disebabkan oleh perubahan hormon. Namun tidak perlu khawatir jika Bunda tidak mengalami mual dan muntah. Banyak ibu hamil yang tidak mengalami gejala ini, tapi kehamilannya tetap sehat.

Kondisi yang justru harus diwaspadai adalah ketika muntah tidak hilang setelah usia kehamilan 12 minggu atau muntah yang sangat sering. Kondisi ini disebut hiperemesis gravidarium, dan bisa menyebabkan dehidrasi akibat kesulitan makan. Jika mengalami ini, Bunda mungkin memerlukan perawatan di rumah sakit.

Banyak ibu hamil yang merasakan indera penciumannya menjadi semakin sensitif di awal kehamilan. Sensitivitas terhadap bau dapat memicu mual, muntah, dan menurunkan nafsu makan. Penyebab kondisi ini masih belum jelas, namun kemungkinan karena perubahan hormon dan berkaitan dengan morning sickness. Salah satu cara untuk mengatasi mual dan muntah selama kehamilan, adalah dengan menghindari bau-bauan kuat atau menyengat.

Saat hamil, frekuensi buang air kecil akan semakin sering. Kondisi ini disebabkan oleh meningkatnya volume darah semasa kehamilan, sehingga ginjal harus bekerja ekstra dan menghasilkan urine lebih banyak. Saat hamil, jumlah urine yang mengisi kandung kemih akan lebih cepat meningkat sehingga ibu hamil akan merasa sering ingin buang air kecil. Perubahan hormon kehamilan dan bertambahnya ukuran rahim juga berperan dalam menyebabkan ibu hamil sering buang air kecil.

Perubahan payudara merupakan tanda kehamilan sehat, dan mulai terjadi sejak trimester pertama kehamilan. Biasanya diawali dengan payudara terasa lebih membesar, sensitif, disertai sedikit nyeri. Kondisi ini disebabkan oleh naiknya hormon estrogen dan progesteron, dan biasanya akan hilang saat tubuh sudah beradaptasi dengan hormon kehamilan.

Efek dari lonjakan hormon juga membuat kelenjar susu tumbuh lebih banyak dan aliran darah di area ini meningkat. Kemudian pada minggu ke-11, areola (area di sekitar puting) berubah menjadi Perubahan ini bertujuan untuk mempersiapkan payudara dalam menyusui bayi.

Kelelahan menjadi hal yang paling sering dikeluhkan oleh ibu hamil. Di awal kehamilan, kadar hormon progesteron meningkat, sehingga menyebabkan kantuk. Kondisi ini bisa diatasi dengan istirahat dan tidur yang cukup. Namun waspadai jika mudah lelah diikuti gejala lain, seperti pucat, sering sakit kepala, nyeri dada, jantung berdebar, dan kaki tangan teraba dingin. Tanda-tanda tersebut menandakan anemia pada ibu hamil.

Untuk meningkatkan energi, Bunda juga bisa melakukan olahraga untuk ibu hamil, seperti senam hamil. Namun konsultasikan dulu pada dokter sebelum memulainya, apalagi jika sebelum hamil Bunda tidak terbiasa olahraga.

Merasakan tendangan janin merupakan tanda bahwa bayi tumbuh dan berkembang sehat. Pergerakan janin sebenarnya bisa dirasakan mulai di awal kehamilan. Tetapi mendekati akhir trimester kedua kehamilan, pergerakan janin semakin kuat dan sering. Umumnya, janin paling aktif bergerak pada jam 9 malam sampai jam 1 pagi. Selain itu, gerakan janin juga merupakan respons janin terhadap suara dan sentuhan.

Pergerakan janin akan tampak dalam pemeriksaan USG kehamilan. Jika intensitas pergerakan janin berkurang, Bunda dapat melakukan trik untuk memancing janin bergerak atau memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui penyebabnya.

Emosi yang mudah berubah (mood swing) yang dirasakan ibu hamil, dipicu oleh berbagai faktor termasuk perubahan hormon, kelelahan, dan stres. Faktor tersebut kemudian memengaruhi zat kimia (neurotransmiter) di otak. Hasilnya ibu hamil mungkin merasakan pergantian emosi dari bahagia, gugup, bahkan sampai depresi.

Jika mood swing yang dialami sampai mengganggu aktivitas sehari-hari atau bertahan lebih dari dua minggu, konsultasikan pada dokter atau psikolog. Penelitian menunjukkan bahwa gangguan emosional yang tidak ditangani dapat memengaruhi kesehatan janin, meningkatkan risiko persalinan prematur dan depresi pascamelahirkan. Oleh karenanya, sangat penting untuk mendapatkan bantuan dan pengobatan profesional jika mengalami hal ini.

Saat dinyatakan hamil, wanita harus siap dengan perubahan yang terjadi pada tubuh, emosi, maupun gaya hidup yang dijalani. Selama kehamilan, tubuh akan menyesuaikan diri dengan kehadiran janin di dalam rahim. Perubahan tersebut bertujuan untuk mendukung tumbuh kembang janin dan kelancaran proses persalinan.

Tanda-tanda kehamilan sehat yang dialami tiap ibu hamil berbeda-beda. Jika Bunda tidak mengalami salah satu tanda di atas, bukan berarti kehamilan yang dijalani tidak sehat. Untuk memastikan apakah hamil sehat atau tidak, periksakan diri ke dokter kandungan dan lakukan konsultasi kehamilan rutin sesuai jadwal.


Bumil Cerdas, Harus Tahu Bagaimana Cara Mewujudkan Kehamilan Penuh Nutrisi?

11.42 4




Bumil Cerdas, Harus Tahu Bagaimana Cara Mewujudkan Kehamilan Penuh Nutrisi?

Bunda, Minggu ini topik yang aku bahas masih tentang kehamilan. Kenapa kehamilan? Karena berawal dari kehamilan cerdas-lah anak yang cerdas akan dilahirkan kemudian. Bagi Bunda yang baru saja menikah, atau sudah lama menikah, sudahkah berpikir untuk merencanakan kehamilan kemudian? Atau begitu menikah langsung cuss plenthung, hamil tanpa jarak terlalu lama? Selamat dan sebagail bumil cerdas, Bunda harus tahu bagaimana mewujudkan kehamilan penuh nutrisi.

Setelah kehamilan cerdas itu terjadi, Yahnda Bunda sudah harus bersiap diri. Ketika dokter kandungan sudah menjadi teman yang nyaman dalam konsultasi dan program kehamilan kemudian langkah selanjutnya adalah periksa kehamilan rutin minimal setiap bulan.

Jangan pernah ragu untuk curhat apapun tentang kehamilan Bunda jika ada kendala, dokter kandungan pasti akan menyarankan langkah terbaiknya. Setelah dirasa cukup dengan semua itu, dokter akan menyarankan juga untuk mulai mengkonsumsi makanan yang penuh nutrisi, untuk Bunda dan calon bayi. Karena kehamilan yang cerdas berawal dari nutrisi yang cerdas pula.

Mengutip informasi dari laman web aladokter.com bahwa nutrisi ibu hamil merupakan salah satu faktor utama penentu kesehatan ibu dan janin. Kurangnya asupan nutrisi selama kehamilan dan gaya hidup yang kurang baik, membuat janin berisiko lebih tinggi mengalami gangguan, seperti berat badan lahir kurang, hambatan tumbuh kembang, hingga cacat bawaan lahir.

Setelah Bunda dinyatakan hamil, saat itulah Bunda harus mulai berhati-hati dalam memilih asupan makanan yang akan dikonsumsi. Hal ini dikarenakan setiap makanan yang Bunda konsumsi akan diserap oleh janin sebagai nutrisi untuk tumbuh kembangnya. Jika perlu, asupan nutrisi tambahan bisa didapatkan dari suplemen prenatal yang diresepkan oleh dokter.

Para ahli merekomendasikan ibu hamil dengan berat badan normal untuk mengonsumsi 1800 kalori pada trimester pertama, 2200 kalori pada trimester kedua, dan 2400 kalori pada trimester ketiga. Agar bayi di dalam kandungan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, Bunda disarankan mengonsumsi asupan makanan berikut sebagai sumber nutrisi ibu hamil.

Karbohidrat yang disarankan untuk ibu hamil adalah yang mengandung zat tepung, misalnya nasi, pasta, dan roti. Anda dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat sebanyak 8 hingga 10 porsi setiap harinya. Karbohidrat akan diubah menjadi energi sebagai nutrisi ibu hamil dan pertumbuhan bayi di dalam kandungan. Penelitian menunjukkan bahwa diet rendah karbohidrat saat hamil berisiko menyebabkan bayi terlahir cacat.

Saat hamil, Bunda memerlukan setidaknya 40 hingga 70 gram protein setiap harinya. Bunda a pun bisa memenuhi asupan protein harian dengan mengonsumsi,  daging, telur, tahu, susu, makanan laut termasuk ikan, kepiting, atau kerang, dan kacang-kacangan. Kebutuhan akan protein ini dapat terpenuhi saat Bunda mengonsumsi tiga hingga empat porsi protein setiap harinya. Misalnya, untuk memenuhi kebutuhan protein harian ibu hamil, Bunda dapat mengonsumsi dua gelas susu, dan 200 gram daging tanpa lemak.

Fungsi zat besi adalah membentuk hemoglobin yang berperan sebagai pembawa oksigen ke seluruh tubuh ibu dan janin melalui sel darah merah. Ketika hamil, kebutuhan zat besi Bunda meningkat hingga 50 persen. Peningkatan kebutuhan ini terutama pada trimester kedua dan ketiga. Setiap harinya, ibu hamil memerlukan setidaknya 27 mg asupan zat besi. Bunda bisa memenuhi asupan zat besi harian dengan mengonsumsi daging tanpa lemak, ikan, tahu, sayuran berwarna hijau, telur, dan kacang-kacangan. Jangan sampai Bunda mengalami kekurangan zat besi, karena dapat meningkatkan risiko bayi terlahir prematur.

Sejak awal hingga usia kehamilan 12 minggu, Bunda dianjurkan untuk mangonsumsi suplemen asam folat sebanyak 400 mcg per hari. Selain itu, Bunda juga membutuhkan asam folat alami yang disebut folat. Sumber folat adalah sayuran berwarna hijau seperti brokoli dan bayam, kacang-kacangan, alpukat, dan pepaya. Sebagian margarin dan sereal juga telah diperkaya dengan asam folat. Fungsi asam folat pada ibu hamil adalah mencegah bayi mengalami cacat tabung saraf.

Pada saat hamil, Bunda membutuhkan 200-450 gram sayur dan 350 gram buah setiap harinya. Kandungan serat pada sayur dan buah berguna untuk membantu sistem pencernaan selama kehamilan dan mencegah sembelit saat hamil. Selain itu, bahan makanan ini juga mengandung berbagai nutrisi yang dibutuhkan saat hamil, seperti vitamin dan mineral.

Bunda pun membutuhkan lemak sebagai nutrisi ibu hamil. Tidak ada batas minimal lemak yang harus Bunda konsumsi setiap harinya. Meski begitu, tentu saja tidak disarankan untuk mengonsumsi lemak secara berlebihan. Selain itu, pilihlah sumber lemak nabati yang sehat, seperti biji-bijian, kacang-kacangan, dan alpukat.

Mengonsumsi tiga gelas susu atau susu kedelai setiap harinya, dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan kalsium ibu hamil. Pilihan lain yang bisa dikonsumsi untuk mencukupi asupan kalsium harian Bunda adalah sarden atau jus jeruk yang telah diperkaya kalsium. Apabila Bunda menyukai keju sebagai pengganti makanan-makanan yang telah disebutkan, utamakan yang rendah lemak. Yoghurt rendah lemak juga dapat menjadi pilihan yang baik, sebab satu cangkir yoghurt memiliki kadar kalsium lebih banyak daripada segelas susu.

Nutrisi ibu hamil dapat berbeda takarannya, tergantung kepada usia, berat badan, usia kehamilan, dan aktivitas fisik masing-masing ibu hamil. Karenanya, dianjurkan untuk berkonsultasi kepada dokter kandungan tentang porsi makanan yang perlu Bunda konsumsi, juga jenis serta dosis suplemen, jika diperlukan.

Kalau aku dulu karena pada saat trimester pertama mengalami ngidam berat. Aku tidak bisa makan minum apa-apa, susu hamil pun tidak. Saat itu aku disarankan untuk minum multivitamin khusus ibu hamil dan menyusui oleh bidan pada trimester kedua. Namanya Folamil Genio.

Apakah Yahnda Bunda sudah pernah mendengar multivitamin tersebut? Silakan bisa baca informasinya di situs popmama.com

Demikian ya Yahnda Bunda dan calon Yahnda Bunda semua, semoga bermanfaat....


Ingin Merencanakan Kehamilan Cerdas? Ikuti Kisah Ibu Jesi Berikut Seperti yang Ada Dalam Buku Pinky

12.50 3


Percayalah, hidup itu ujian. Bagi seorang perempuan yang sudah menikah, ujian selanjutnya mungkin saja ketika harus kembali bersabar menanti kehadiran buah hati. Percayalah, aku, Ibu Jesi harus menunggu 33 bulan sampai akhirnya dinyatakan hamil Kakak Jesi. Apa yang aku lakukan selama 33 bulan sebelum akhirnya dinyatakan hamil? 

Anak yang cerdas berasal dari orangtua yang cerdas. Anak yang cerdas berawal dari pernikahan dan kehamilan yang cerdas pula. Kehamilan yang direncanakan adalah salah satu poin dalam mewujudkan kehamilan yang cerdas. Apakah kehamilan yang cerdas itu perlu?

Apakah Yahnda Bunda ingin merencanakan kehamilan cerdas? Ikuti kisah dari Ibu Jesi berikut.

Sebenarnya kisah ini ada di buku pinky, buku antologi tembus mayor pertama di Tinta Medina (Imprint Tiga Serangkai) yang kutulis bersama komunitas eL Hidaca. Buku berjudul Ya Allah Izinkan Kami Memiliki Buah Hati.




Berikut kutipan tulisanku dalam buku pinkyku, (Ini draft awal seawal-awalnya yang kutulis via aplikasi Colornote di gawaiku yang lama). Kutipan cerita ini sekarang sudah ada di buku Ya Allah Izinkan Kami Memiliki Buah Hati yang tentu saja sudah melalui proses edit kemudian.

(Tulisan saat aku hamil 9 bulan dan masih sangat baru sekali dalam memasuki dunia menulis. Mohon tidak ditertawakan ya, disenyumin saja boleh deh. Heheh)

Buku Pinky, berjudul Ya Allah Izinkan Kami Memiliki Buah Hati bisa didapatkan di Toko Buku dan Gramedia seluruh Indonesia.



Ini cerita saya. Cerita tentang betapa saya membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menantikan kehadiran buah hati. Sekitar tiga puluh tiga bulan hitungannya. Ya, itu sangatlah benar.

Cerita dimulai sejak saya dan suami menikah, tanggal 20 Agustus 2013. Proses menuju pernikahan kami pun sangatlah berliku, butuh waktu bertahun-tahun sampai di saat yang membahagiakan kala itu. Saya dan suami sejak kecil hidup bertetangga. Kakek suami adalah imam masjid di tempat saya biasa mengaji. Tetapi, kami mulai menjalani masa perkenalan secara pribadi di tahun 2006 dengan singkat saat ada kegiatan alumni SD. Mulai awal tahun 2007 kami menjalani masa pendalaman yang unik. Saya di rumah dan suami di tempat kerja yang selalu jauh. Hanya setahun sekali bertemu saat Lebaran. Bahkan, tiga tahun sebelum menikah suami merantau ke luar negeri. Bertemu kemudian, langsung menikah.

Seperti layaknya pengantin baru lainnya, kami menikmati bulan madu dengan riang gembira. Apalagi kami saling mencintai, tak pernah terlupakan masa indah saat itu. Meski malam pertama harus ditunda pelaksanannya karena saya sedang menstruasi. Beruntung, suami saya orang yang sangat pengertian. Dia sabar menunggu, sampai tertunaikannya kewajiban itu.

Banyak yang bilang, kalau malam pertama pas datang bulan itu. Biasanya langsung tokcer, maknyuss langsung jadi deh. Katanya begitu. Tapi bagi kami menjadi lain lagi ceritanya. Kami butuh waktu untuk mendapatkannya. Satu bulan berlalu setelah malam pertama, datanglah menstruasi berikutnya yang kami hadapi dengan biasa. Ya, mungkin tidak langsung seketika juga kami mendapatkan buah hati seperti orang lain yang kebanyakan langsung tokcer. Menstruasi di bulan pertama setelah menikah dirasa biasa. Belum ada pikiran apapun yang terlintas. Belum ada kegalauan yang menyerang, masih wajar-wajar saja. Dua bulan kemudian datang juga menstruasinya, kami tetap tenang. Sampai di bulan ke tujuh saya mulai resah dengan pertanyaan banyak orang. Bertemu orang di jalan ditanya, kapan punya anak?. Bertemu orang di pasar ditanya, kok belum juga hamil?. Bertemu saudara yang sedang bertamu ke rumah pun ditanya, kamu menunda kehamilan ya?. Bertemu dengan orang dimanapun, sering ditanya hal-hal yang mengarah ke pertanyaan kapan punya anak. Saya hanya bisa tersenyum dengan menjawab "Masih harus bersabar, belum dipercaya". Saat menghadapi kejadian seperti itu sikapku ya biasa saja. Tapi menjelang tidur malam, rasanya kegundahan bertambah. Saat memandang suami pun perasaan jadi tambah galau sampai kadang air mata menjadi menetes. Ya Allah, kenapa saya belum juga hamil? Kadang juga saya bertanya sendiri dalam hati. Apa kekurangan saya, apa salah saya ya Allah hingga Engkau menghadirkan ujian semacam ini. Saya ingin seperti yang lain, mudah mendapatkan keturunan. Apakah dosa dan salah saya di masa lalu terlalu banyak? Ya Allah maafkan segala dosa saya. Maafkan segala dosa suami saya. Apa kekurangan dia. Apapun itu ya Allah, saya berusaha ikhlas.

Yang paling membuat sedih kadang ada yang tidak langsung bertanya kepada saya, tapi mengajukan pertanyaan ke orang lain ketika saya ada di tempat yang sama dan saya mendengarnya. "Eh, tahu tidak kenapa dia sudah lama ya belum hamil juga. Padahal suaminya di rumah terus, tidak bekerja. Kerjaannya hanya mengasuk anaknya tetangga itu.". Ya Robbi, saat ini memang suamiku tidak bekerja. Tapi bukan berarti selamanya begitu. Memang saya yang mensyaratkan untuk tidak lagi merantau di tempat yang jauh. Boleh bekerja tetapi kerja disini, di tempat yang bisa selalu dekat dengan istri dan keluarga. Sudah sejak muda suami saya terus bekerja di tempat yang jauh, merantau ke luar negeri. Rasanya sudah cukup. Sudah saatnya hidup dekat dengan orang-orang terkasih. Apalah artinya menikah jika setelah ijab qobul, istri disini suami di Malaysia. Meski akibat dari tidak kembalinya suamiku ke tempat kerjanya, dia harus kehilangan banyak materi yang dijaminkan sebelum pulang. Uang sekali gaji. Jaminan beberapa juta rupiah yang akan dikembalikan perusahaan jika sudah sampai kembali. Semua sudah dia ikhlaskan, semata-mata demi menikah dengan saya.

Dua bulan setelah menikah mungkin suami mulai merasa bosan dengan hanya tinggal di rumah, tidak bekerja. Apalagi dia sudah biasa bekerja sebelumnya. Saya merasakan gelagat dia sedang ingin berangkat kerja lagi. Tapi saya masih diam saja, bingung harus bereaksi seperti apa atas keinginannya ini. Saya ingin suami tetap di rumah dengan harapan menstruasi segera terhenti. Kalau dia jauh, bagaimana selanjutnya. Kapan akan ada waktu untuk bertemu. Waktu itu ada saudara yang mengajaknya ke Jakarta. Di tengah kebingunganku suami tetap berangkat, saya pun mengantarnya ke terminal. Sehari dua hari seminggu rasanya terlalu berat, dan saya menyerah. Saya sakit. Bapak saya menelpon suami supaya segera pulang sebab beliau tahu kalau saya tidak mengizinkan spenuhnya suami bekerja jauh. Dan benar saja, beberapa hari setelah suami pulang. Saya sembuh. Suami saya seperti dokter sekaligus obat sakit yang saya rasakan. Alhamdulillah ya Allah. Terima kasih.

Di bulan November 2013 ada saudara yang pulang dari merantau jauh, dia tante saya adiknya bapak. Saya dan suami menjemputnya di Bandara Adisucipto Yogyakarta sekalian bulan madu, niatnya. Sebab sejak menikah belum merasakan seperti apa rasanya bulan madu. Masa cuti saya hanya seminggu dari sebelum hari pernikahan sampai setelahnya. Jadi, kami benar-benar memanfaatkan waktu ke Yogyakarta ini dengan baik. Kami menginap di rumah saudara, adik bungsunya bapak di daerah Sleman. Rumahnya terletak di daerah pegunungan yang dirasa begitu asing, karena ini memang pertama kali kami berkunjung. Benar-benar mendukung sekali suasananya untuk berbulan madu. Kami pun menikmatinya meski hanya beberapa hari saja. Sesampainya di rumah, tante melepaskan kerinduannya kepada seluruh keluarga. Melihat foto-foto pernikahan kami sebab saat kami menikah, dia tidak bisa hadir. Kami pun bertukar cerita. Pada suatu waktu, saya dan tante sampai di topik tentang belum adanya tanda-tanda kehamilan. 

Pesan dari tante saya, "Ya, sabar mba. Pasti punya momongan kalau sudah diberi kepercayaan sama Allah. Tenang saja."
Saya:  "Apa periksa ke dokter ya te?"
Tante: "Ya boleh periksa ke dokter, tapi kalau sudah periksa seperti apapun kondisimu kondisi suamimu ya disyukuri saja. Jangan berubah hanya karena satu sama lain punya kekurangan. Turuti saja apa kata dokter. Dokter pasti akan bantu."
Mendengar nasehat dari tante rasanya ada sedikit kelegaan tentang belum adanya tanda-tanda kehamilan. Tapi, memunculkan rencana baru untuk segera periksa ke dokter. Baiklah, saya akan mencoba cerita kepada suami. Tapi belum saat ini, ada tante di rumah. Biarkan kami menikmati kebersamaan tanpa memikirkan apapun.

Satu bulan setelah obrolan dengan tante, dia berangkat lagi ke luar negeri. Sebab kepulangannya kali ini memang sebatas cuti untuk beberapa waktu. Bukan saya dan suami yang mengantarnya, tapi bapak, mamah dan Mungkas. Anak momongan saya. Mungkas adalah anak tetangga yang masih satu kampung dengan saya. Dia diasuh keluarga saya sejak berumur dua bulan. Sehingga banyak yang mengira kalau Mungkas ialah anak saya. Ya, memang benar. Dia adalah anak momongan saya yang sangat saya sayangi, sangat keluarga kami sayangi. Bahkan suami saya yang baru mengenalnya beberapa bulan, sudah mengaggap Mungkas sebagai anak sendiri. Kehadirannya membawa keberkahan sendiri bagi kami. Seperti sudah digariskan oleh Allah untuk mengisi hari-hari saya dan suami yang masih belum mempunyai anak kandung sendiri.

Hari-hari saya bersama suami memang tidak kekurangan apapun. Pagi hari, saya berangkat kerja. Suami membantu mengasuh Mungkas yang baru berumur tiga tahun. Saya juga sangat menikmati kebersamaan dengannya. Tapi, tetap saja. Saat menjelang tidur malam semua terasa sepi. Pada suatu malam saya mencoba membuka pembicaraan dengan suami di kamar kami.
" Yang, sudah akan setengah tahun. Bintang belum ada juga. Rumah masih sepi. Gimana ini ya?"
( Kami memang saling menyapa dengan sebutan "Yang" atau panjangnya sih "Sayang" biar ada ciri khas. Lebih mesra dan lebih dekat kata suami sih. Hmmm. Tadinya, apa ayah ibu. Tapi dirasa belum pas. Abi umi, rasanya tidak pede. Ya sudahlah, yang saja cukup.)
Suami menjawab: " Ya, belum diberi sama Allah. Sabar saja. Baru setengah tahun. Yang lebih lama dari kita banyak.".
Jawabannya sangat melegakan hati. Katanya lagi "Ya sabar saja sayang. Tuhan pasti akan memberi kepercayaan pada kita di waktu yang tepat". Rasanya klasik ya kata-kata itu, tapi cukuplah ampuh mendinginkan gundah yang saya rasakan.
Saya: "Yang, gimana ya kalau kita periksa ke dokter yuk. Biar tahu kondisi kita sebenarnya bagainana?"
Suami: " Ya boleh, tapi dana gimana? Periksa kan juga butuh biaya."
Saya: "Ya nanti pelan-pelan kita ngumpulin dulu ya yang."

Setelah pembicaraan itu, mulai terpikirkan untuk mencarikan suami pekerjaan. Mungkin sudah saatnya dia mencari nafkah di tempat yang dekat. Ada ide untuk memasukkannya menjadi tenaga perpustakaan ke beberapa sekolah, kebetulan kenalan saya ada beberapa yang belum memiliki tenaga pustakawan. Kami kunjungi satu persatu dengan pengajuan diri bahwa suami siap menempuh kuliah demi memperoleh pengetahuan tentang perpustakaan sebab sebelumnya belum pernah sama sekali mengenalnya. Saya juga mengajarkan pengetahuan tentang komputer, bagaimana caranya mengetik, ini itu dan kawan-kawan. Jadilah kami sibuk kesana kemari mencari lowongan. Kami dapatkan dua tempat yang bisa dijadikan harapan. Kami terus melakukan pendekatan. Sampai di suatu siang saat ada kegiatan Try Out Ujian sekolah. Ada pembicaraan yang tanpa disengaja tapi membawa berkah sampai sekarang.

Saya mengawasi pelaksanaan Try Out Ujian Kelas Enam waktu itu. Duduk bersama dengan teman satu sekolah du bangku pengawas. Teman itu bernama Ipin. Ipin mengajak ngobrol ini itu supaya tidak terlalu mengantuk. Banyak topik yang dibicarakan. Keluarga, kuliah, asmara dan masih banyak lagi. Ipin cerita kalau dia punya teman kuliah, namanya Arif. Guru di salah satu sekolah islam di Cilacap. Menurut info dari Arif, di sekolahan itu sedang butuh satpam. Ipin ingin mendaftarkan kakaknya, tapi ternyata kakakknya tidak tamat SMA. Memang katanya harus tamatan SMA. Terjadilah pembicaraan selanjutnya dengan Ipin:
Ipin: "Ada lowongan satpam bu, di Cilacap. Aku mau ndaftarin mas ku. Malah sekolahnya tidak sampai SMA. Ya tidak jadi."
Saya: " Memangnya kakakmu cuma tamatan SMP?"
Ipin: "Iya."
(Tiba-tiba saya teringat sesuatu)
Saya: " Mas, suami saya tamatan SMA lho. STM sih tepatnya. Dulu di SMKN2 Cilacap. Berarti bisa ya kalau ndaftar saja."
Ipin: "Ya bisa bu. Ndaftar saja coba."
Saya: "Punya nomor telp Arif tidak mas. Coba tanya syarat ndaftarnya bagaimana?"
Ipin pun sms ke arif, tanya syaratnya. Beberapa waktu kemudian, di balas. Lalu saya catat. Saya juga minta nomor telp Arif biar lebih mudah mencari informasinya. Sejurus kemudian saya sudah smsan dengan Arif. Tentu saja dengan tahap perkenalan di awalnya, supaya tidak bingung. Oke.

Rasanya jadi tidak sabar menunggu waktu untuk pulang dan memberitahu suami untuk menyiapkan berkas-berkas. Segera setelah sudah saatnya oulang saya bergegas. Saya beritahukan informasi itu, suami pun antusias. Kami menyiapkan berkas pelamaran kerja segera. Sebab besok pagi akan di titipkan ke Ipin. Dia ada jadwal kuliah dan akan bertemu dengan Arif. Arif nanti yang akan memasukkan lamaran suami ke sekolahannya yang sedang membutuhkan satpam. Malam hari pun jadi berkas sudah jadi, siap dimasukkan lewat Ipin terus ke Arif. Saya pun menelpon Arif memastikan hal tersebut, dan Arif menjawab. Iya. Baiklah. Saya dan suami berharap besar bisa lolos surat lamarannya. Beberapa hari kemudian ada telp dari sekolahannya Arif. Memberitahu kalau suami harus datang ke sekolahannya untuk tes tertulis tentang satpam pada hari yang sudah ditetapkan. Suami pun meminta saya untuk mencarikan bahan belajar karena dunia satpam itu begitu asing baginya. Saya pun mencarikan di google dan materinya saya cetak. Dua hari suami belajar, memahami materi kesatpaman. Saat harus berangkat tes tertulis suami saya berangkat pagi-pagi sekali. Saya pun menunggu hari itu dengan penuh kegundahan. Sore haru suami baru pulang. Ternyata, hari itu dia tidak hanya tes tertulis. Tetapi ada tes tertulis tentang pengetahuan agama, tes tilawatil Al Qur'an, tes tertulis tentang Al Qur'an juga. Sangat padat acaranya. Dua hari lagi harus datang untuk tes wawancara. Dan memang alhamdulillah segala proses untuk masuk kerja itu dimudahkan. Memang rezeki suami saya bagus, saya akui. Satu hari setelah wawancara suami mendapat telp lagi bahwa harus mulai kerja dua hari kemudian. Jadi, itu artinya suami sudah punya pekerjaan sekarang. Meski awalnya mendaftar di lowongan satpam tetapi oleh pemimpin sekolahnya suami ditawari pekerjaan yang lain. Suami pun menerima dengan senang hati. Syukur pada Allah atas semua ini, rasa di hati saya sulit untuk digambarkan waktu itu. Suami sudah diterima kerja tapi harus bangun sangat pagi dan menempuh perjalanan jauh.

Jalan untuk mendapatkan dana periksa ke dokter mulai terbuka. Suami sudah bekerja, meski jauh tidak menjadi masalah. Yang penting tidak di luar negeri, pikirku. Sehari dua hari di jalani, sebulan dua bulan berlalu suami mulai merasakan kelelahan. Timbulah ide untuk mencari kontrakan rumah bersama dua temannya. Ada jadwal pulang yang diatur agar rencana memiliki anak bisa tetap lancar terlaksana. Beberapa kali saya pun sering berkunjung ke rumah kontrakan suami jika ada kegiatan di kota. Jadilah sebagai tempat transit jika ingin menginap.

Tepat di genapnya satu tahun pernikahan lewat dua hari, saya dan suami sudah merasa siap cukup dana untuk memeriksakan diri ke dokter. Kami pun berangkat ke salah satu rumah sakit islam di kota. Kami mendapat informasi dari anaknya dukun beranak yang sedang memijat saya untuk program memiliki anak. Saya pergi ke dukun beranak itu diberitahu oleh kakak ipar, kakak suami bahwa dia pijat ke dukun itu kemudian manjur. Jadi dia menyarankan ke saya untuk mencoba pijat. Saya pun menurut. Suatu saat setelah dipijat, anaknya dukun beranak itu memberi informasi tentang dokter kandungan di kota. Dia beri caranya dan nomor telpnya. Kebetulan dia juga agak lama menunggu hadirnya momongan tapi setelah periksa ke dokter itu, langsung jadi. Waktu itu dia sedang hamil lima bulan. Baiklah. Itu asal ceritanya kenapa saya dan suami kemudian periksa juga ke dokter yang sama dengan anaknya dukun itu. Saat periksa, saya diberi obat penyubur dengan harga tebusan yang lumayan. Saya belum tahu kalau periksa di rumah sakit itu bisa memakai jaminan kesehatan yang saya punya. Jadi masih jaminan umum. Periksa pertama ini membuat menstruasi saya di bulan berikutnya agak sedikit mundur jadwal menstruasi yang biasanya, dan ini jadi pengharapan lebih bagi kami. Tapi, Tuhan masih belum membuatnya menjadi indah bagi kami. Gugur juga apa yang kami tunggu, meski keyakinan itu belumlah genap. Yang saya rasakan berbeda dari menstruasi yang biasanya, sebelum mens keluar saya merasakan nyeri hebat di seluruh badan. Badan pegal dari ujung kaki sampai ujung rambut. Rasa yang lebih hebat saya rasakan saat menstruasi keluar, rasanya sakit dan wujud yang dikeluarkan itu mirip pita-pita cacing yang menggembung. Merah segar. Ini membuat saya drop secara lahir dan batin. Saya sempat putus asa, beruntung ada suami yang mendampingi meski saat menstruasi keluar dia tidak ada di rumah. Jadwalnya sedang di rumah kontrakan. Untung ada bapak ada mamah yang berhasil menenangkanku. Mereka meyakinkan bahwa mungkin memang belum rezeki untuk kali ini. Tenang saja.

Sejak saat menstruasi yang tidak biasa itu, saya mencoba menenangkan diri dengan tidak berfikir macam-macam. Rasanya takut untuk periksa lagi. Takut kecewa, tapi harapan memiliki buah hati semakin hari semakin kuat. Seiring bertambahnya kegundahan akibat terlalu sering ditanya orang. Ya, namanya juga orang-orang desa. Ada juga yang penasaran pada, urusan orang lain. Menurut saya, apa kata orang, sudah tidak perlu dipikirkan. Biasa saja lah, kata suami saya begitu. Ya sudahlah. Sebulan setelah kejadian itu, kami periksa lagi ke dokter yang sama. Kali ini saya sudah memakai jaminan kesehatan yang saya punya, sehingga membayar obatnya benar-benar gratis. Tapi hasilnya saya tetap menstruasi. Saya pun tambah takut untuk periksa lagi. Takut kecewa. Saya pun menenangkan diri dengan menikmati kebersamaan di rumah bersama Mungkas. Dia sudah menjadi anak pertama bagi saya. Cukuplah dulu merawatnya, berusaha ikhlas sambil terus berusaha. Kata suami begitu. Saya pun menurut.

Akhir tahun 2014 keberanian saya mulai terkumpul lagi. Kami periksa lagi ke dokter yang sama. Untuk ketiga kalinya. Hasilnya kami mendapatkan kejutan luar biasa. Saya hanya bisa menangis, ternyata saya ada halangannya. Ada sesuatu di ovarium saya. Ya Alloh, tolong saya. Tolonglah kami. Saya benar-benar patah semangat. Saya berada di titik terbawah dalam hidup. Apalagi saya harus menyembunyikannya di depan keluarga besar saya. Tepat di hari periksa kali ini keluarga satu rumah berkunjung dan menginap di rumah kontrakan suami untuk ikut menikmati suasana tahun baru. Mereka bergembira, tetapi tidak dengan saya. Saya menangis seharian tapi tertahan, jadilah mata sembab. Hanya suami yang mengetahui ini. Ya, Robbi kuatkan saya.

Secara diam-diam kami pindah ke dokter lain. Dokter yang berbeda di rumah sakit berbeda. Jawaban dokter kali ini sangat to the point, tidak ada toleransi sama sekali. Sesuatu di saluran telur saya harus diambil sebelum merusak daerah sekitarnya. Ya sudahlah. Kami sangat bingung untuk memutuskan yang terbaik. Kami berpikir keras. Sampai akhirnya kami tidak kuat untuk menyembunyikannya. Kami ceritakan semuanya ke orang tua dengan mendapatkan beragam respon. Yang paling mengejutkan adalah tentang komentar saudara yang membuat kami cukup heran. Meski kami tidak mendengarnya secara langsung. Menurut cerita dari saudara dekat saya, ada yang menyalahkan kondisi saya. Sayalah penyebab suami belum juga bisa punya anak. Apalagi kalau sesuatu itu diambil, pasti semakin ada yang menyalahkan. Belum tahu kondisi sebenarnya saja sudah menyalahkan, begitu kata saudara dekat saya. Tapi, kami hadapi dengan kesabaran. Semua hal berusaha kami komunikasikan secara jujur, pada orang tua inti kami tidak pada yang lain. Tidak juga pada orang yang berprasangka buruk kepada saya. Do'a dan saran dari orang tua kami dan orang tua suami adalah hal yang sangat kami harapkan.

Ketika saya dan suami membuka pembicaraan tentang hasil periksa ke orang tua saya, orang tua saya menyarankan pindah dokter. Bapak mengatakan semua manusia kadang punya pandangan yang beda terhadap satu masalah. Coba pindah ke dokter lain. Bisa saja beda dokter beda diagnosa. Dan bismilah. Saya dan suami mencari informasi kesana kemari, juga ke tetangga juga yang pernah mengalami hal serupa. Sampai akhirnya kami melangkahkan kaki menuju tempat praktik dokter yang direkomendasikan.

Atas keyakinan pada orang tua dan keyakinan sesungguhnya pada do'a yang dipanjatkan. Demi Tuhan, kami mendapatkan karunia yang luar biasa. Dokter kali ini menyatakan, diagnosa dari dokter sebelumnya tidak usah dipikirkan. Fokuskan dulu ke program hamil yang akan dijalani. Bismilah. Kami seperti mendapatkan rezeki yang tak terkira. Kelegaan hati yang sangat luar biasa. Ketika itu juga ada anaknya om melahirkan. Om menyarankan untuk mengakui anak yang lahir itu sebagai anak saya dan suami, sebagai pancingan katanya. Ya sudahlah, saya mengurusi kelahirannya. Membantu saat cucunya diberi nama. Membelikan segala keperluannya. Tami nama anak yang diakukan ke saya dan suami itu. Oke. Jadi tambah anak momonganku. Tapi, Tami ini tetap diasuh oleh kedua orang tuanya. Jadi, jarang juga bertemu sebab rumahnya agak lumayan jauh. Tami, menjadi anak momongan kedua bagi saya dan suami.

Kami memulai program, proses demi proses. Kami pasrahkan pada Yang Maha Kuasa. Awal periksa rahim saya di usg, ternyata ada penyumbatan disana. Mungkin sisa dari menstruasi yang tidak biasa waktu itu. Menstruasi kala itu belum benar-benar keluar secara bersih. Saya ditodong untuk pembersihan rahim saat itu juga, tetapi suami saya yang tidak setuju. Niat awal mau periksa jadi mau pulang dulu membicarakannya dengan orang tua. Dokter memberikan gambaran waktunya. Kami pun pulang dulu untuk membicarakannya dengan kedua orang tua.

Di hari yang disarankan dokter, saya periksa lagi untuk pembersihan ditemani mamah saya. Bapak dan Mungkas menyusul nanti ketika sudah selesai supaya Mungkas tidak mengganggu. Saat menunggu antrian, bapak dan mama mertua datang ke rumah sakit. Ini sangat kejutan sekali bagi saya. Saya memang meminta do'a restu sebelum berangkat. Tapi, saya tidak bilang apapun lagi selain itu. Ternyata prosesnya sangat sebentar, menurut informasi suami penyumbatnya pun hanya secuil saja. Saya diperlihatkan foto dan videonya setelah sadar dari pengaruh obat bius. Syukur alhamdulillah, sudah bersih rahim saya. Dua jam setelah saya siuman, kami bersiap pulang. Seminggu lagi kontrol dokter.

Seminggu kemudian kami kontrol, kali ini suami yang disarankan periksa sperma. Kami pun menuju laboratorium di lantai dua. Suami agak grogi, jadi spermanya tidak keluar kala itu. Suami minta hari besok saja dia akan datang sendiri sepulang kerja. Kebetulan memang jadwalnya sedang menginap di kontrakan. Baiklah, saya menurut saja. Besok harinya suami berhasil melakukan tes yang tertunda. Dua hari kemudian dia pilang dan meninjukkan hasil tes kepada saya. Saya bingung bagaimana cara membacanya, suami memberitahu. Saya menerima apapun hasilnya. Meski dokter menyarankan suami untuk rutim mengomsumsi telur selama empat sampai lima bulan. Suami pun memulai makan telur, dua di pagi hari dan dua telur di sore hari. Belum tepat satu bulan setelahnya, mamah saya menyuruh berhenti makan telur. Sebab makan terus menerus juga takut berefek ke timbulnya gangguan kolesteril. Ya sudahlah. Suami jadi menjarangkan, hanya makan satu saat pafi dan satu saat sore. Tepat satu bulan setelah rutin konsumsi telur, saya meminta suami periksa sperma lagi. Kaget saya melihat hasilnya karena masih sama dengan hasil periksa waktu itu. Akhirnya saya yang meminta suami berhenti mengkonsumsi telur.

Beberapa minggu setelah berhenti mengkonsumsi telur saya dan suami periksa lagi untuk menanyakan labgkah selanjutnya. Dokter menyarankan saya untuk HSG. Syaratnya harus setelah menstruasi dan beberapa hari tidak berhubungan untuk memastikan kondisi tidak hamil karena rahim akan di masuki alat secara manual, tidak ada bius sama sekali. Saya disuruh ke.ruang radiologi untuk membuat janji dengan petugasnya. Oh my God, apa ini maksudnya ya. Perlu dicari infonya lebih lanjut. Saat keluar ruangan radiologi saya disapa teman saya yang di kota. Ternyata dia mau HSG. Jadilah saya menungguinya, menanyakan bagaimana nanti prosesnya. Memang saya sudah ada gambaran tadi, diberitahu petugas radiologi. Tapi saya pun ada keinginan untuk sedikit tahu gambaran dari teman yang akan mengalami HSG sebentar lagi. Saya pun menunggu teman saya HSG. Saat dia sudah keluar ruangan radiologi, saya tanya-tanya dia. Teman saya itu diberi obat yang wow, besar-besar sekali menurut saya. Dan itu harus dihabiskan semua, baik secara diminum maupun di masukkan ke alat kelamin. Terbayanglah bagaimana rasanya.

Dua minggu kemudian saya sudah membulatkan tekad untuk HSG. Prosesnya memang sedikit mirip dengan sewaktu pembersihan rahim, tapi HSG itu tidak dibius sedikitpun. Alat kelamin dimasukki alat untuk USG rahim secara detail. Diberi obat jika diketahui ada yang perlu diobati, langsung dimasukkan obatnya. Rasanya sedikit mules perut saya waktu diberi obat. Semua selesai dalam waktu kurang dari setengah jam. Saya memakai pembalut setelah HSG karena memang banyak darah yang dimungkinkan keluar. Beberapa saat menunggu, hasil HSG keluar. Kemudian saya masuk ruangan dokter, saya tidak diberi resep obat apapaun karena memang rahim saya sehat. Alhamdulillah. Berarti teman saya yang HSG kemarin itu mungkin ada sesuatu jadi harus ada obatnya.

Setelah HSG itu saya dan suami agak lama tidak periksa lagi. Saya kembali menenangkan diri sebab sudah dua kali harus ditindak secara medis di daerah yang sangat pribadi. Butuh waktu untuk melupakan dua proses yang baru terjadi. Kami merencanakan hal lain untuk melipur hati dan jiwa. Kami.niatkan mendaftar beribadah ke tanah suci di akhir tahun 2015. Semua proses pendaftaran berjalan lancar, alhamdulillah.

Malah kemudian, saya dan suami mendengar kalau kakak ipar (kakaknya suami) hamil anak kedua dan sudah mengandung selama 4 bulan. Hmmmm. Tidak berapa lama setelah itu, Mamah saya juga sakit dan harus berobat ke dokter spesialis. Bayangkan bagaimana perasaan saya.ya Tuhan, tabahkan dan kuatkan saya. Suami memutuskan untuk fokus kepada saya dan mamah saya. Dia tidak lagi mengontrak rumah. Dilaju dari rumah. Berangkatnya. Meski memang juga ada alasan lain kenapa suami tidak betah di rumah kontrakan. Dua teman satu rumahnya yang agak eror mungkin.

Suami mulai dilaju bulan awal tahun 2016. Dari setiap harinya suami pulang ke rumah jadi tahu bahwa teman kerjanya di sekolah islam itu juga banyak tang memberikan saran agar bisa mendapatkan momongan. Ada yang bilang suruh banyak bersedekah, menyantuni anak yatim, beribadah secara benar. Ada yang menyarankan untuk tidak mendewakan maskawin yang diberikan suami saat menikah dulu. Mendengar semua saran itu, saya menjual cincin kawin saya dan semua yang jadi emas seserahan saat menikah. Saya berikan ke mamah untuk biaya berobat. Saya ikhlas melepaskan semua demi ringannya langkah tanpa pendewaan terhadap apapun. Insyaallah.

Saya juga ikhlas membantu kakak ipar saat dia butuh kesana kemari karena kehamilannya mulai membesar dan sedang tidak bisa pergi kemana-mana. Karena itu jadi sering silaturahmi ke rumah kakak ipar yang notabene bapak dan mertua juga tinggal disitu. Saat kehamilan kakak ipar sudah memasuki bulan akhir sebelum perkiraan melahirkan, bapak mertua menyampaikan ide kalau saya suruh ikut pijat ke dukun bayi yang akan mengurus proses melahirkan kakak ipar. Pijatnya setelah kakak ipar dipijat, si satu tempat yang sama. Dukun bayi kali ini berbeda dengan dukun bayi yang anaknya dulu memberitahu ke dokter pertama saya periksa. Yang kali ini dukun bayinya sedikit masih ada hubungan keluarga jauh. Sebut saja Mbah Karsi.

Saya masih ingat, saat hari Minggu tanggal 10 April 2016 kakak ipar minta diantar ke rumah bidan. Sudah ada tanda-tanda akan melahirkan. Kebetulan mamah mertua tidak di rumah, sedang ada acara keluarga. Sebab memang maju tiga hari dari HPL nya. Jadi dikira belum akan lahir, ternyata sudah ada tanda-tanda. Secepat kilat saya bereaksi dengan mengantar kakak ipar ke bidan. Menungguinya dengan suami saya saat persalinan. Mama mertua di telp supaya pulang. Sejam kemudian sudah sampai dan mama mertua yang mendampingi di ruang bersalin kemudian. Pukul 16.35 dedek bayi keluar. Menangis keras. Bayinya perempuan. Saya ikut menggendongnya untuk pertama kali. Suami saya mengumandangkan adzan di telinga dedek bayi. Benar-benar pengalaman pertama menunggui orang lahiran dan melihat bayi baru lahir. It's amazing.

Setelah sholat maghrib saya dan suami pamit pulang, gantian dengan bapak mertua yang akan menunggui cucunya yang baru lahir. Kami pun pulang. Sampai di rumah kami beberes, membersihkan badan, beribadah dan lain-lain. Selesai itu semua, kami bersantai di kamar. Suami cerita tentang pengalaman mengumandangkan adzan untuk keponakannya yang tadi baru saja lahir. Kata suami itu pengalaman pertama yang tidak akan terlupakan. Entah kenapa saya sangat sedih dan merajuk di depan suami.
" Kenapa bukan saya yang istrimu yang. Yang menberikan pengalaman pertama buatmu..."
Saya menangis sejadi-jadinya mengutarakan perasaan bahwa sudah sangat ingin memiliki anak. Suami hanya memeluk dan mengelus rambutku. Saya sendiri tidak tahu kenapa rasanya nelangsa sekali. Saya,menangis sesenggukan. Ya Allah Ya Karim, ada apa denganku...

Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, saat kakak ipar melahirkan saya ikut meminum jamunya, saya ikut pijat ke dukun bayinya dan diberi wejangan ini itu. Kebetulan saat pijat saya baru saja selesai menstruasi, jadi dalam masa subur. Saat proses itu saya dan suami berhubungan badan dua kali. Ada juga anaknya mbah yang juga melahirkan, saya ikut meminum jamunya. Tapi tidak ikut pijat karena dukun bayinya sama dengan dukun bayinya kakak ipar. Semua itu saya lakukan dengan pasrah. Berani berharap berani kecewa, sudah seperti itu yang ada dipikirkan saya dan suami.

Tanggal 28 April 2016 saya merasa tidak enak badan, sampai harus periksa ke dokter terdekat. Kebetulan dokternya perempuan, teman SMP suami saya. Kami ngobrol akrab, dan ternyata bu dokter itu sedang hamil. Saya sempat mengucapkan selamat. Bu dokterpun bertanya, " Njenengan sedang tidak hamil mbok, mba?"
Saya menjawab, "Kayaknya sih belum hamil bu, soalnya tadi agak keluar coklat-coklat. Mungkin sebentar lagi mens."
Dua hari minum obat, panas dingin di badan berkurang. Tapi pusing di kepala dan rasa ingin meludah itu belum berkurang. Suami mulai menduga sesuatu kemudian jadi takut, dan selanjutnya menyuruhku untuk tidak minum obat di hari ketiga. Beberapa hari kemudian gejala masih sama, perkiraan menstruasi semakin dekat tapi tidak datang juga. Sehari sebelum tanggal menstruasi bulan berikutnya saya menyuruh suami membeli testpeck. Suami ternyata membeli dua. Rasanya tak sabar menunggu suami pulang kerja, sampai akhirnya di malam hari saya cek urin. Alhamdulillah puji syukur atas segalannya ya Allah, testpeck menunjukkan strip dua. Suami saya memeluk sangat erat, menciumku, mengucapkan selamat sambil terus menerus memandang demgan sangat mesra. Saya pun rasanya sangat terkejut dengan ini semua, ini adalah anugerah terindah dari Tuhan menjelang genapnya usia pernikahan di hitungan ketiga tahun.

Puji syukur, tepat di tahun kedua bulan ke sembilan saya merasakan gejala tanda-tanda kehamilan. Tepat di usia keduapuluh sembilan, Allah genapkan waktu untuk saya, suami dan keluarga besar berbahagia menantikan hadirnya anak pertama dan cucu pertama. Kami selalu menyebutnya bintang. Karena kami akan menamainya kelak dengan sebutan itu. Bintang yang sangat kami nantikan kehadirannya.

Bintang yang semoga bisa jadi obat untuk kakek dan neneknya. Bisa jadi teman untuk momonganku tercinta, Mungkas. Bintang di hadirkan Tuhan di waktu Mungkas sekarang sudah berumur enam tahun dan sudah kelas satu SD. Sungguh. Mungkas ikut berbahagia menyambut adiknya yang akan lahir. Dia sering ikut mengelus dan mencium perut saya. Bahkan sering ikut mendo'akan sewaktu selesai sholat. Mungkas berkata: " Ibu, aku berdo'a biar adik di perut ibu cepat keluar. Kan nanti aku jadi ada temen ya bu di rumah.". Bahagianya mendengar hal itu dari dia.

Kami juga masih terus mengharapkan do'a dan dukungan dari semua orang. Bintang yang kami harapkan masih ada dalam kandungan saya dan masih berumur empat bulan. Masih ada lima bulan yang harus dilewati. Semoga, di saat kelahirannya nanti benar-benar membawa kebahagiaan bagi kami semua. Aamiin aamiin ya robbal 'alamiin. Terimakasih ya Alloh atas segala karuniaMu. Semoga kita semua selalu diberi kesabaran, ketenangan dan kedamaian. Aamiin. []

Bagaimana kisah Yahnda Bunda semua? Sudahkah Bunda abadikan?