Tantangan 2 Level 2 Read Challenge Odop

20.35
Biografi Singkat Ki Hajar Dewantara
Oleh Betty Irwanti

Ki Hajar Dewantara atau Raden Mas (R.M.) Suwardi Suryaningrat lahir pada hari Kamis Legi, tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta, bertepatan dengan tanggal 2 Ramadhan 1309 H. Suwardi Suryaningrat adalah keturunan bangsawan. Ayahnya Kanjeng Pangeran Ario (K.P.A.) Suryaningrat dan ibunya bernama Raden Ayu (R.A.) Sandiah. Keduanya adalah bangsawan Puro Pakualaman Yogyakarta. K.P.A. Suryaningrat adalah putera Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario (K.G.P.A.A.) Paku Alam III. Dengan demikian Suwardi Suryaningrat adalah cucu K.G.P.A.A. Paku Alam III.

Lahir dan besar di lingkungan kerajaan tak menjadikannya jumawa, namun ia tetap merakyat dan tidak memberi batas antara dirinya dengan kaum biasa meski jelas ia dari kalangan berada. Sebagai keluarga bangsawan Suwardi Suryaningrat mendapat kesempatan belajar di Europeesche Lagere School (ELS) atau Sekolah Dasar Belanda 7 tahun di kampung Bintaran Yogyakarta, yang tidak jauh dari tempat kediamannya.

Sesudah tamat Sekolah Dasar (1904), Surwardi Suryaningrat masuk Kweekschool (Sekolah Guru) di Yogyakarta. Tidak lama kemudian datang dr. Wahidin Sudiro Husodo di Puro Pakualaman, beliau menanyakan siapa di antara putera-putera yang mau masuk STOVIA (School Fit Opleiding Van Indische Artsen) - Sekolah Dokter Jawa di Jakarta, mendapat bea siswa. Suwardi Suryaningrat menerima tawaran itu dan menjadi mahasiswa STOVIA (1905-1910). Namun karena satu dan lain hal, Suwardi Suryaningrat tidak bisa menyelesaikan studinya di STOVIA.

Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) adalah perintis gerakan non kooperatif dan pelopor sistem pendidikan di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini. Latar belakangnya sebagai jurnalis dan politisi membuatnya semakin bertekad dan berjuang demi tujuan kemerdekaan.

Banyak sekali jasa dan perjuangan Ki Hajar Dewantara sampai-sampai pendapatnya menjadi pendorong bagi Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Ki Hadjar Dewantara wafat pada tanggal 26 April
1959 di Padepokan Ki Hadjar Dewantara dan disemayamkan di Pendapa Agung Tamansiswa Yogyakarta. Jenazah Ki Hadjar Dewantara dimakamkan pada tanggal 29 April 1959 secara militer dengan Inspektur Upacara Kolonel Soeharto di makam Taman Wijaya Brata, Celeban, Yogyakarta.

Ki Hadjar Dewantara meninggalkan seorang isteri R.A. Sutartinah (Nyi Hadjar Dewantara) dan 6 orang anak: Ni Niken Wandansari, Sutapi Asti, Ki Subroto Aryo Mataram (Brigjend. TNI), Nyi Ratih Tarbiyah, Ki Sudiro Ali Murtolo (lahir 9 Agustus 1925), Ki Bambang Sokawati (lahir 9 Maret 1930) dan Ki Syailendra Wijaya (lahir 28 September 1932).

Beliau juga meninggalkan banyak semboyan hidup, diantaranya yang paling paling terkenal adalah Trilogi Kepemimpinan : Ing ngarsa sung tulada, Ing madya mangun karsa, Tutwuri handayani. Trilogi ini  semula hanya diperuntukkan di kalangan pendidikan, dan merupakan perangkat pendidikan dalam melaksanakan tugas pendidikan yang berjiwa kekeluargaan. Namun dalam perkembangannya, Trilogi Kepemimpinan telah menjadi salah satu model kepemimpinan nasional, sebagai sarana mengatur tata kehidupan bersama, baik di kalangan Pemerintah, TNI/Plori, maupun sipil.

*

Tulisan ini sebagai jawaban
#Tugaslevel2
#level2tantangan2
#onedayonepost
#ReadingChallengeOdop

Sumber tulisan: Buku Ki Hajar Dewantara yang ditulis oleh Tim Penulis Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta: tahun 2017.

Sumber gambar: ebook Ki Hajar Dewantara

@RumahCleverCilacap, 12 Februari 2019, 20.27.
Betty Irwanti Joko
Ibu Jesi
Nyi Bejo Pribumiluhur

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

4 komentar

Write komentar
Suden Basayev
AUTHOR
12 Februari 2019 21.14 delete

Rajin kali emak satu ini.

Reply
avatar
12 Februari 2019 21.45 delete

darimana beliau mendapatkan nama Ki Hajar Dewantara mbak?

Reply
avatar
12 Februari 2019 21.49 delete

Paketu, rajin pangkal pandai bukan?

Reply
avatar
12 Februari 2019 21.50 delete

Mbak Sasmita
Ini penjelasannya

Pada 3 Februari 1928 Suwardi Suryaningrat genap
berusia 40 tahun menurut tarikh Jawa (5 windu) dan berganti
nama Ki Hadjar Dewantara. Menurut Ki Utomo Darmadi,
Hadjar : pendidik; Dewan : Utusan; tara : tak tertandingi.
Jadi maknanya: Ki Hadjar Dewantara adalah Bapak Pendidik
utusan rakyat yang tak tertandingi menghadapi kolonialisme.
Pergantian nama tsb. merupakan sublimasi misi hidup dari
“Satriyo Pinandhito” menjadi “Pandhito Sinatriyo” (Satriyo
yang sekaligus bersikap laku Pandhito–Pendidik, kemudian
meningkat menjadi Pandhito-Pendidik yang secara simultan
berjuang untuk menegakkan keadilan dan kebenaran= misi
utama Satriyo).

Reply
avatar