Tantangan 3 Level 2 Reading Challenge ODOP

21.31
Mengabdi Pada Negeri
Oleh Betty Irwanti


Siang hari yang begitu cerah, suasana gerah menyergap seluruh raga. Meski begitu, relung jiwaku rasa bahagia sebab agenda dapat terlaksana sukses dan sesuai rencana.

Aku memang bukan siapa-siapa, tapi di kegiatan ini aku ditunjuk sebagai ketua tim pelaksana. Aku memang bukan siapa-siapa, tapi di kegiatan ini 75% persiapan kuupayakan disela beragam tugas yang tak kalah pentingnya. Juga disela waktu membersamai baby serta tugas domestic keluarga.

Maafkan jika aku kurang optimal ya, sebab fokusku terbelah. Apa mau dikata. Perjuangan tetap terus dilakukan. Masa pengabdianku masih panjang. Masih akan banyak sekali momen-momen sejenis yang akan diselenggarakan. Siapkah aku untuk itu? Jawabannya siap tidak siap, harus dipersiapkan.

*

Tak terasa hampir empat belas tahun, aku membersamai dunia yang sama sekali tak kusangka akan membawaku pada pencapaian detik ini. Iya, mungkin karena cita-citaku. Atau bisa jadi sebab usaha dan kerja kerasku. Atau sebab idolaku pada sosok yang cerdas penuh semangat itu.

Saat aku belum genap dua puluh satu, namaku terpampang di koran nasional sebagai salah satu dari dua ratus dua belas yang lolos ujian seleksi. Bukan tanpa rintangan, sebab hujan deras menemani sepanjang perjalanan. Pakaianku basah. Bahkan ketika menulis di LJK baju harus kusingsingkan, khawatir air menetes dan membuat LJK menjadi tak terbaca.

Apakah hanya segitu usahaku? Jawabannya tentu tidak. Jauh sebelum ujian dilaksanakan aku sudah belajar mati-matian. Bahkan UUD 1945 aku hafal per pasal, sampai amandemen yang keempat. Itu bukan hal main-main. Meski saat ujian, hanya beberapa yang keluar.

Sampai saat pembagian SK itu tiba dan harus kudapati tempat tugas yang luar biasa jauh, melewati dua desa di dua kecamatan berbeda. Bahkan tempatnya saja belum kuketahui. Apakah aku akan menyerah begitu saja? Jawabannya jelas tidak. Sebab aku sudah menandatangani surat pernyataan untuk siap ditempatkan di manapun dalam wilayah kesatuan NKRI.

Tidak semua orang bernasib sepertiku, aku hanya merasa lebih beruntung dibanding yang lain. Beruntung karena nasib membawaku untuk mengabdi pada negeri. Mengabdi pada dunia pendidikan yang dirintis jauh hari oleh sosok cerdas penuh semangat itu. Sosok yang gambarnya kupasang di dalam pigura foto, kupajang di dinding kamarku.

Gambarnya juga ada di setiap sudut kelas sekolahku. Iya, sekolahku. Aku memang seorang guru. Guru di daerah pinggiran dekat perbatasan kecamatan juga daerah kawasan pengembangan hutan. Seberang hutan sana sudah beda kabupaten.

Bayangkan aku harus naik sepeda motor setiap hari di awal pagi demi tepatnya waktu membersamai anak murid. Tak lagi kupikirkan kehidupan pribadiku sendiri. Totalitas aku ingin mengabdi pada negeri.

**

"Anak-anak coba tuliskan apa cita-citamu! Kelak ketika kalian besar kalian ingin jadi apa, apakah mau jadi presiden? Atau mau jadi pilot? Atau mau jadi apapun? Tuliskan dalam beberapa kata ya? Ibu ingin tahu."

Suasana kelas mendadak riuh. Ada beberapa anak yang terlihat antusias menulis. Ada beberapa anak yang kebingungan.

"Jika ada yang belum jelas, bisa tanyakan pada Ibu. Ibu siap menjawabnya," belum berhenti perkataanku sudah ada yang mengangkat tangannya.

"Bu, jika aku ingin menjadi seperti Ibu. Apa Ibu tidak keberatan?"
Aku tersenyum.
"Tentu tidak, Nak! Itu artinya kamu ingin menjadi guru. Iya, kan?"

Anak itu mengangguk.

"Kenapa, Amel ingin jadi guru?" tanyaku pada anak Amel, nama anak yang bertanya itu.

"Karena jadi guru itu tugas yang mulia, Bu. Membuat anak yang tadinya tidak tahu apa-apa menjadi tahu banyak hal. Kayak mbah Google itu lho, serba tahu."

Aku menjadi antusias mendengarkan Amel berbicara. Amel memang anak yang paling pandai dan aktif di kelas. Persis seperti aku semasa sekolah dulu.

"Bu Guru sangat berjasa untuk kami, Bu. Jadi aku ingin sekali menjadi seperti ibu. Bu Guru orangnya sangat semangat dan cerdas. Persis seperti tokoh pendidikan nasional yang terkenal itu lho, Bu. Yang kemarin Bu Guru terangkan pas pelajaran IPS."

Aku mengeryitkan dahi, lalu menunjuk arah poster pahlawan nasional di dekat pintu kelas.

"Itu, kah?"

"Iya, Bu. Ki Hajar Dewantara. Ibu mirip dia. Cerdas dan penuh semangat."

***

Tulisan ini sebagai jawaban
#Cerpen
#Tugaslevel2
#level2tantangan3
#onedayonepost
#ReadingChallengeOdop

@RumahCleverCilacap, 15 Februari 2019, 21.14.
Betty Irwanti Joko
Ibu Jesi
Nyi Bejo Pribumiluhur

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

6 komentar

Write komentar
16 Februari 2019 07.46 delete

semangat ya bu guru...😊

Reply
avatar
Nurul Hidayah
AUTHOR
19 Februari 2019 09.37 delete

Met pagi, Bu Guru ...

Reply
avatar
Unknown
AUTHOR
19 Februari 2019 11.37 delete

Cerdas dan penuh semangat... Selamat siang, Bu Guru. Selamat mengajar :)

Reply
avatar