Tantangan 2 Level 5 Reading Challenge ODOP

11.57

ALASAN MEMILIH BUKU MY NAME IS RED DAN BERBAGAI SEBAB MENGAPA ORHAN PAMUK MERAIH BERBAGAI PENGHARGAAN


Percayalah, hidup itu ujian.

Ujian di Read Challenge ODOP dimulai sejak pertama ada info dari PJ tentang buku apa yang harus dibaca. Aku langsung googling dan hunting buku ke sana kemari. Online maupun offline. Online via eLHidaca team. Online, Mulai dari memasang aplikasi Perpusnas di ponsel suami. Offline, via member Clever Shop by Clever Family.

Jika kemudian ada pertanyaan kenapa aku memilih buku My Name is Red untuk kubaca? Jawabanku  tak lain dan tak bukan adalah tidak ada alasan khusus kenapa aku memilih buku My Name is Red sebagai buku yang kubaca.

Aku hanya meng-copypaste hasil googlingku ke adikku kemudian dia cari ke penjuru kota Jakarta. Hasilnya, didapatkanlah buku My Name is Red dan buku Biografi seorang tokoh muda yang luar biasa. Buku Biografi itu sudah aku selesaikan di level RCO sebelumnya, dan kini giliran buku fiksi peraih nobel sastra ini yang sedang aku baca. Targetku, tidak sampai weekend ini sudah harus selesai kubaca. Jadi mohon maaf jika malam hari aku lebih sering off karena fokus membaca.

Kenapa? Karena fokus utamaku sekarang adalah mempersiapkan anak murid yang kurang lebih sebulan lagi sudah akan menempuh ujian. Juga fokus pada naskah di kelas lain yang masih berada dalam naungan ODOP dibawah bimbingan para dosbing yang amazing.

Mohon do’anya ya teman-teman, semoga anak-anakku bisa menempuh ujian sekolah dengan baik, lancar dan sukses. Aamiin. Teriring do’a yang sama juga untuk teman-teman semua. Semoga kita semua bisa melalui ujian kehidupan dengan baik, lancar dan sukses. Aamiin.

Percayalah, hidup itu ujian.

Sama seperti yang disajikan dalam buku My Name is Red karya Orhan Pamuk ini. Semua kisah berisi ujian-ujian bagi para tokohnya. Bahkan ujian hidup sudah dimulai sejak kisah pertama dalam buku ini. Kisah pembunuhan misterius seorang seniman yang sedang mengerjakan ilustrasi buku tak biasa atas perintah Sultan. Buku yang berisi kisah abad kejayaan Islam di akhir abad keenam belas.

Ujian kedua adalah ketika seorang lelaki muram dengan masa lalu sekelam namanya ditugasi untuk mengungkap misteri pembunuan yang pada akhirnya menguak jejak benturan peradaban Timur (Turki-Islam) dan Barat (Eropa-Kristen). Tentang dua cara pandang dunia berbeda yang pada akhirnya memicu konflik tak berkesudahan, bahkan hingga saat ini.


Orang yang buta dan orang yang melihat tidaklah sama. (Fatir:19)
Dan kepunyaan Allahlah Timur dan Barat. (Al-Baqarah: 115)
(Halaman 5)


Percayalah, hidup itu ujian.

Buku ini adalah ujian bagi penulisnya, Orhan Pamuk. Sebab buku ini butuh proses yang sangat lama untuk bisa ia selesaikan. Buku ini ditulisnya selama enam tahun. Ia menegaskan pandangan tentang betapa perbedaan hendaknya tidak dijadikan alasan untuk bertikai dan saling membunuh.

“Dua cara yang berbeda dalam melihat dunia dan bercerita ini tentu saja berkaitan dengan kebudayaan kita, sejarah kita, dan apa yang kini secara luas disebut sebagai identitas. Dalam novel saya, mereka bahkan saling membunuh karena pertentangan Timur dan Barat ini. Namun, tentu saja, saya harap para pembaca menyadari bahwa saya tidak percaya pada konflik ini. Karya seni yang baik muncul dari beragam hal yang berasal dari aneka akar dan budaya, dan semoga novel ini mampu menggambarkannya.” (Orham Pamuk)

Buku ini berjudul asli Benim Adim Kirmizi yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai My Name is Red yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Atta Verin, seorang wartawati dan penulis dengan judul Namaku Merah Kirmizi.
My Name is Red sudah diterjemahkan paling tidak ke dalam 25 bahasa dan memenangkan sejumlah hadiah sastra internasional terkemuka, antara lain Prix du Meilleur Livre Etranger 2002 (Prancis), Premio Grnzane Cavour 2002 (Italia) dan International IMPAC Dublin Literary Award 2003 (Irlandia).

Percayalah, hidup itu ujian.

Buku Benim Adim Kirmizi ia persembahkan untuk Ruya, anak perempuannya. Orham Pamuk pernah menikah dengan Aylin Turegen pada 1982 tetapi mereka bercerai sembilas tahun kemudian.

Karya-karya Pamuk umumnya bercirikan kegamangan atau hilangnya identitas yang sebagian ditimbulkan oleh benturan nilai-nilai Eropa dan Islam. Karya-karyanya kerap mengganggu dan menggelisahkan, dengan alur yang rumit dan memikat, serta penokohan yang kuat.

Terlepas dari segala kontroversi yang melingkupi penulisnya, bagi khalayak pembaca di Indonesia, novel My Name is Red tentu merupakan sebuah bacaan bermutu yang layak disimak. Melalui karya cemerlang yang diramu dengan intrik politik, dongeng klasik, dan kisah cinta bercabang yang getir ini, Orhan Pamuk membuktikan diri sebagai salah satu sastrawan terkemuka dunia masa kini.

“Yang puitik, yang ‘aneh’, yang tak harus seratus persen dipahami, memang hadir dalam prosa Pamuk yang bisa halus, bisa kocak, bisa cemerlang, dan bisa mengejutkan itu. Dalam My Name is Red, pelbagai karakter bicara dalam sebuah cerita pembunuhan. Pada abad ke- 16 termasuk si korban ‘Aku sebuah mayat’, si pembunuh tak bernama, dan seekor anjing. Dan dari gaya yang semula realistis kita langsung masuk ke kisah si Hitam yang melakukan apa saja dalam waktu sepekan: menyeberangi Bosphorus, cerai lewat pengadilan, kawin secara meriah, memandikan mayat, dan potong rambut ....” (Goenawan Muhammad)


***


Clever Class, 14 Maret 2019: 11.19
Betty Irwanti Joko
Ibu Jesi
Nyi Bejo Pribumiluhur


Diolah dari My Name is Red
Orhan Pamuk, 2001
725 halaman
ISBN 979-1112-40-1
Penerbit Serambi Ilmu Semesta, 2006



Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
14 Maret 2019 13.05 delete

Jadi tahu tentang Orhan Pamuk

Reply
avatar
Isnania
AUTHOR
14 Maret 2019 13.19 delete

Semoga suatu saat bisa baca bukunya.
keren banget...

Reply
avatar