Kotak Amal Masjid Dekat Rumah Clever

12.13 0



Ramadhan Writing Challenge
#RCO 
#Day19
#OneDayOnePost
#Kotak Amal

Pas dimasukin 500... bunyinya kedengaran banget. Klontang! Haduh... Aku kan jadi malu.

Apalagi kalau salat jamaah terus kotak amalnya muter, pas sampai di depanku aku nggak masukin uang sepeserpun. Terus banyak jamaah lain yang memperhatikanku. Duh... Malunya. Asli. Tapi sungguh, aku benar-benar lupa. Bukan maksud di sengaja.

Sama ketika kapan waktu aku pergi sekolah tapi membawa serta Bebi Jesi karena Mbah Uti sibuk ada acara tertentu. Dia minta mainan naik turun seluncuran. Nah, posisi berdiri dengan gamis panjang dan memakai sandal ternyata sedikit menyulitkan. Karena Bebi Jesi berlarian, begitu sampai dia akan mengejar anak tangga lagi untuk naik kembali.

Saat tidak begitu siap, aku sedikit menundukkan badan. Entah kenapa gamis panjang terlipat kemudian sandalku menginjak salah satu ujungnya. Alhasil aku hampir terjerembab ke belakang. Bersyukur aku tidak limbung, hanya oleng sesaat. Tapi malunya itu lho, ibu-ibu di belakangku kan banyak. Mereka pasti memperhatikan. Ah, pasrah. Malu itu sudah biasa. Yang penting puteri kecilnya posisi aman terkendali.

Aman dan nyaman juga menjadi syarat utama yang menjadi standar saat Bebi Jesi bermain sendiri maupun dengan temannya. 

Saat ia bermain di dalam rumah, sudah pasti pengawasan satu orang harus selalu ada. Dia tidak akan dibiarkan begitu saja sendiri. Apalagi sudah sering naik turun kursi sendiri. Naik turun jendela sendiri. Naik turun ranjang yang lumayan tinggi sendiri. Harus dalam pengawasan penuh. Jangan sampai tiba-tiba ada suara klontang.... Tau-tau anaknya ngruwel kemudian. Na'udzubillahi mindzalik.

Bebi Jesi selalu dalam pengawasan orang-orang dewasa di sekitarnya. Termasuk ketika harus berada di rumah Mbak Maya. Tetangga dekat rumah yang sudah seperti keluarga sendiri. Keluarga yang bisa membuat Bebi Jesi nyaman karena sepenuhnya perhatian. 

Kadang memang ada kejadian istimewa. Dimana orang asing justru lebih memperhatikan dari pada keluarga sendiri. Dimana orang dari luar keluarga besar justru sebegitu akrab dengan kita lebih dari sekedar tetangga sendiri. 

Mungkin itulah yang disebut dengan persaudaraan yang didasarkan atas ketulusan. Tulus ikhlas memberikan perhatian tanpa banyak tendensi dan kepentingan. Murni hanya ingin berbagi kasih sayang tanpa perlu banyak alasan.

Alasan-alasan yang kadang tidak masuk akal dijadikan dasar untuk tidak memperhatikan keluarga. Alasan-alasan yang murni atas nama keegoisan sering membuat kita sombong bahwa kita bisa hidup sendirian. Padahal ada keluarga yang seharusnya jadi sandaran dan tempat untuk belajar, berbagi dan bersama dalam berbagai keadaan.

"Ibu, sudah pilih-pilih belum?"
"Pilih-pilih apa?"
"Ibu maunya milih apa?"
"Milih baju sudah, Kakak, Bebi, Kakung, Uti, Ayah, Ibu, dan Tami. Terus milih apalagi?"
"Emang kita nggak mau bagi-bagi?"
"Bagi-bagi apa?"
"Emang nggak ingat agenda tahunan kita kalau pas bulan puasa begini?"
"Ini sudah mendekati akhir Ramadhan Yah?"
"Lha, makanya itu. Ayah tanya soal milih Pacitan?"
"Oh, Pacitan. Milih lah. Ini ibu nunggu ayah dong. Masa milih sendirian. Nggak asyik."
"Ya sudah, nanti malam saja apa ke Bu Maya."
"Oke..."

Belajar untuk konsisten memberikan perhatian kepada keluarga besar meski setahun sekali rasanya perlu. Itu caraku berbagi atas segala yang didapat tahun ini. 

Sore hari di Toko Bu Maya,

"Bu, mau milih apa sih?"
"Ya situ, ayah yang milih sendiri biar puas."
"Lha sih, kan biasanya Ibu yang milih. Aku terima beres."
"Aku milih juga, buat Biyung. Kangen aku, pengen silaturrahmi. Tahun kemarin kan kita fokus Om Rudi nikahan. Biyung kelewat, kasihan deh."
"Oh, ya sudah. Terus Mbah Uti sudah suruh milih?"
"Sudah semalam, lah emang Ayah nggak lihat ada kardus besar begitu di kamar."
"Oh, apa iya sih..."

Ayah Jose senyum-senyum. Sambil menggendong Bebi Jesi. 

"Ayah, Jesi mau turun."
"Mau ngapain sayang?"
"Mau duduk,"
"Oke..."

Ternyata Bebi Jesi tanggap, dia mau turun sendiri dan minta duduk. Dia tahu Ayah dan ibunya sedang sibuk agenda persiapan lebaran tahun ini.

Beberapa saat kemudian,

"Ayah, Jesi mau es krim?"
"Es krim?"
"Iya, rasa cokelat. Jesi mau ambil sendiri."
"Emang bisa sendiri?"
"Jesi, gendong Ayah..."
"Oke...."

Bebi Jesi memilih es krim dimaui. Kemudian minta turun dan duduk kembali di tempat semula. Bu Maya yang sedang sibuk pun tersenyum dan memperhatikan rupanya.

"Jesi, manut banget ya?"
"He eh"
"Tadi juga manut sama Mbak Maya ya pas sama Mbah Uti."
"He eh"

Aku menoleh, "Iyakah, Bu. Syukurlah. Jadi nggak bikin riweh. Kalau lagi bolong ya emang gitu. Tapi kalau lagi rapet ya tahu sendiri ya Bu..."

Bu Maya tertawa. Tetiba dia sibuk memasukkan selembar uang kertas ke dalam kotak Amal yang ada di lemari depan. Aku jadi penasaran.

"Kenapa sih Bu?"
"Itu tadi ada yang belanja, kembalian nggak diambil. Tak masukin kotak amal aja masjid aja."
"Oh, iya. Siip..."

Entah mengapa Bebi Jesi menyahut obrolanku dengan bu Maya.

"Jesi, tadi malam mainan? Mainan di masjid. Dekat pintu ada kotak,"
"Kotak?" jawab Bu Maya spontan. 
"Iya, kotak amal. Besar. Dekat pintu masjid."
"Jesi tadi malam tarawih?"
"Iya, Jesi kan manut."

Aku dan bu Maya sama-sama tersenyum. Ayah Jose yang kemudian menyahut.

"Iya, Jesi semalam manut. Ayah salat, Jesi duduk anteng. Ikut salat juga."
Bebi Jesi menengok ayahnya, "Jesi duduk di jendela dekat Ayah,"
"He eh..."
"Terus Jesi naik meja dekat pintu, salat..."
"Jangan naik sayang?"
"Nggak papa kok nggak papa..."
"Iya, tapi hati-hati ya..."
"He eh"

Bebi Jesi memang suka naik meja di pojok depan ruang salat perempuan, tapi ada aku di sana yang menjaga. Aku sengaja mengambil shaf paling depan saat tarawih, supaya bisa memantau Bebi Jesi yang duduk dekat jendela di samping ayahnya. Kalau tidak kondusif kan segara bisa ambil tindakan. Biasanya akan langsung geret sajadah lalu pindah ke serambi depan.

Serambi depan pada awal Ramadhan tahun ini, penuh. Sebab ruang dalam masjid tidak bisa menampung semua jamaah. Serambi depan juga dipakai untuk jamaah yang punya tanggungan jaga anak, biar bisa mengawasi sekaligus bisa tetap mengikuti salat tarawih. Selayaknya Salat Tarawih Dua Shift yang kulakukan bersama Ayah Jose. 

Biasanya aku menggelar sajadah dekat pintu, tepat berseberangan dengan kotak amal masjid yang bentuknya besar. Terbuat dari kayu dan diberi cat warna cokelat. Serupa kotak tampung uang kalau pas di hujatan itu. Kan ada juga yang bentuknya lebih kecil, yang dibawa keliling kalau lagi jamaah besar, pas Jumatan, pengajian, salat ied, dan lain-lain. 

Biasanya juga Mbah Kakung yang simpan kotak amal masjid. Kecuali jika sudah akan direkap dan ditulis di papan masjid, Mbah Kakung bakal menghitungnya bersama bendahara ta'mir masjid. Bendahara yang datang ke rumah membawa kunci kotak amal. Karena Mbah Kakung memang tidak memegang kuncinya.

Nah, niatnya aku kepengen nukar receh nanti. Sebab Ayah Jose tidak menukar uang receh yang baru cetak itu. Dia terlewat. Katanya dengan alasan waktu booking harus menyerahkan uang sekalian, tapi gambaran belum ada. Jadi, terima apa adanya saja meskipun bukan uang cetak baru tapi kan yang penting uang toh.

Emang ada yang akan menolak uang hanya karena rupanya yang sudah lecek? Seringnya uang lecek banyak banget di kotak amal masjid kan?

Uangnya kertas, nominal paling sedikit dan dilipat-lipat sampai kecil. Pas kotak amal lewat, plung... Ngruwel deh... Untung aja nggak bunyi. Hehehe

Kalau aku sih bagaimanapun wujudnya yang penting itu uang dan laku. Iya, kan?


🌸

@RumahClever, Cilacap, 31 Mei 2019: 11.53.
Betty Irwanti Joko 
Ibu Jesi 
Nyi Bejo Pribumiluhur

#1145kata


Sajadah Isa Bella

04.30 0

Ramadhan Writing Challenge
#RCO 
#Day18
#OneDayOnePost
#Sajadah

Sajadah adalah alas yang dipakai untuk salat, berupa karpet atau sebagainya berukuran kecil, kurang lebih 18x20 cm.

Sajadah zaman now banyak di jual di pasar-pasar tradisional maupun pasar modern. Bahkan ada Lula yang dijual online via situs belanja maupun aplikasi online. Harganya pun bervariasi, dari puluhan ribu hingga ratusan ribu. 

Apakah ada yang memakai sajadah seharga jutaan? Bisa jadi. Lah wong mukenah juga ada yang harganya nyampe segitu, dan dipakai. Apa nggak sayang ya? 

Kalau Ibu Jesi mendingan uang segitu buat beli yang grosiran. Kan bisa dibagi-bagi. Jadi semuanya merasakan pakai dan pastinya pahala akan terus mengalir selama mukenahnya masih dipakai. 

Dan mungkin itu berlaku juga ya, untuk sajadah. Jika kita punya uang kemudian berniat membelikan sajadah untuk diberikan kepada orang yang tidak punya sajadah atau sajadahnya sudah tidak layak dipakai, kita akan mendapatkan kucuran pahala setelahnya.

Sama juga seperti jamaah haji yang setelah pulang dari tanah suci mereka memberikan kenang-kenangan berupa sajadah dan sepaket air zam-zam dan kurma serta makanan khas negara Arab Saudi sana, niscaya pahala yang akan di dapat jauh berlipat ganda.

Ini bukan soal sajadah dan pahala. Ini hanya cerita sederhana tentang kenang-kenangan yang ingin dibagikan untuk anak muridnya yang sebentar lagi akan lulus dan masuk jenjang sekolah lanjutan tingkat pertama.

Ibu Jesi masih bingung, bahkan hingga ia menuliskan cerita ini. Ide kenang-kenangan itu sebenarnya terinspirasi dari anak murid angkatan kemarin, yang oleh salah satu orangtua dibelikan mug cantik yang diberikan spesial untuk teman-temannya. Ini murni ide orang tua itu.

Kali ini murni ide dari Ibu Jesi, dan ia ingin mendiskusikan hal itu dengan Ayah Jose. Karena apa? Karena ketika dibawa ke rapat kerja di sekolah, jawaban pastinya adalah silakan cari dana atau donatur sendiri untuk keperluan itu. Oleh sebab itu kemudian Ibu Jesi menjadi bimbang dan bingung. Mau apa dan bagaimana agar ide itu tak sekedar menjadi khayalan atau hanya sekedar impian tanpa ada kenyataannya.

Ide pertama yang muncul adalah kalender sekolah, tapi ini harus ada foto untuk mengisi atau jika perlu akan foto baru lagi. Tapi rasanya sangat kurang persiapan, dan ada beberapa anak yang sudah kadung ke luar kota untuk mencari sekolah lanjutan. Ah, biarkan ide ini hangus dengan sendirinya.

Atau ketika kemudian muncul ide untuk membuat album kenangan, ah apakah Ibu Jesi hanya bermimpi? Akan jadi berapa halaman nantinya jika anak murid hanya berjumlah belasan. Apakah ini akan jadi kenangan yang long lasting? 

Entahlah, mungkin butuh berdiskusi dengan yang mempunyai banyak ide seperti Ayah Jose. Tapi sepertinya saat ini beliau belum bisa diajak banyak berdiskusi sebab masih terefek kelelahan setelah beberapa hari iktikaf malam hari dan lanjut kerja malam hari.

Begitu pula seharusnya dengan Ibu Jesi, kelelahan setiap hari itu pasti. Tapi dengan semangat, dia ingin menjalani hari dengan penuh kenangan. Kenangan indah yang ingin diceritakan kelak kepada puteri kecilnya yang kini semakin beranjak besar. 

Puteri kecil yang selalu menjadi semangat dasarnya dalam menjalani aktivitas sepadat apapun. Fokus utamanya hanya sang Bintang. Bintang Kehidupan yang hadir sebagai penerang dalam kehidupan. Sang Bintang yang menjadi penyemangat untuk selalu berbuat baik dalam setiap keadaan. 

Bintang yang akan selalu ikut menggelar sajadah panjang ketika Ayah ibunya terlihat akan menjalankan ibadah salat lima waktu Di Rumah Clever. 

Bintang yang selalu cerdas bereaksi atas segala pertanyaan. Dia yang selalu berucap terima kasih saat diberi sesuatu atau bahkan saat memberi sesuatu. Bintang yang insyaallah akan tumbuh menjadi anak yang baik dan selalu baik. Tidak tergerak oleh zaman yang semakin sulit diprediksi situasinya.

Sebab orang yang baik adalah yang hari ini lebih baik dari hari kemarin. Idealnya demikian. Namun, apakah setiap hari bisa seperti itu? Hanya kita yang bisa menentukan.

Seperti sebuah kutipan yang Ayah Jose pernah tulis di buku harian biru.

Kutipan yang akan ada dalam buku solo perdana istri tercintanya.


What Kind of Day Will I Have?

Tugasku adalah menentukan hari, seperti apa yang akan kujalani.

Hari ini bisa saja aku mengeluh karena cuaca hujan atau bersyukur karena rerumputan tersirami secara gratis.

Hari ini bisa saja aku merengek karena harus pergi kerja atau bisa saja bergembira karena memiliki sesuatu untuk dikerjakan.

Hari ini bisa saja aku menggerutu karena kondisi kesehatanku atau merasa senang karena sampai saat ini aku masih hidup. 
Hari ini aku harus menangis karena bunga mawar memiliki duri atau aku bisa bersyukur bahwa diri ini telah memiliki bunga mawar itu.

Hari ini aku bisa merengek karena temanku sedikit atau bisa bersemangat untuk menemukan teman baru.

Hari ini aku bisa merajuk karena kekasihku mengabaikanku atau kembali menghubungi meski egois kadang menghalangi semua itu terjadi.

Tugasku adalah menentukan hari apa yang akan kujalani.
Bagaiana denganmu?

...

Sayangku,

Akan kuhampakan diriku untuk orang lain, selain Tuhan, orangtuaku, kamu dan saudaraku.

Akan kuikuti langkahmu jika memang engkaulah takdirku. 
Masih selalu tersimpan asa.

Tetaplah senantiasa memanjatkan do’a pada Yang Maha Kuasa.

Yakinlah diri bahwa kita adalah dua manusia sejati yang telah lama menaklukkan keegoisan pribadi. 

Ada begitu banyak hal yang bisa kaubanggakan. 
Semua tantangan yang membuatmu menjadi lebih kuat dan selalu teguh untuk berada di jalanmu dan memberikan yang terbaik untuk hidupmu.

Selamat sayang. 
Kau telah berhasil bertahan dengan mimpi-mimpimu. 
Kau bekerja keras. 
Kau tak pernah menyerah. 
Sekarang kita semua tahu, tak ada satupun hal yang tidak bisa kau lakukan. 

Sayang... 
Apakah benar dirimu terutus sebagai penuntun jiwaku?

Bagai sinar segala resahku bila ragamu menemaniku, apakah benar kamu terutus sebagai pasangan hatiku?

Salahkah jika aku telah menjawab semua pertanyaan itu dengan jawabanku sendiri.

Dan jawabanku adalah telah kujawab dan kaurapatkan sendiri hatimu untukku.

Impian benar-benar punya cara untuk menguji setiap pelakunya.
Dan kau telah membuktikannya.

Inilah momen yang telah kauperjuangkan, maka nikmatlah sayang!

Ikutilah hatimu dan semua peluang emas itu masih ada di depanmu.
Berjuanglah.
Bersabarlah.

Dan...
Maafkan aku
Atas semua salahku
Aku sungguh bahagia bersamamu


Bahagiamu
Adalah bahagiaku
Senyuman indah itu
Akan sempurna jadi milikku

Jangan pernah menjauh dariku
Hidup hampa tanpamu
Sepi merindu
Sembilu

Desir itu serupa debaran
Sulit sekali didefinisikan
Cintakah ini
Sayang

Atau
Hanya ilusi
Hanya sekedar mimpi
Pengisi lamunan siang hari

Sajadah itu basah seketika
Saat sujudku berlinang
Mendoakan sayangku
Dia

Satu
Pinta hati
Hanya setia padaku
Kini besok hingga nanti


🌸

@RumahClever, Cilacap, 29 Mei 2019: 23.10
Betty Irwanti Joko 
Ibu Jesi 
Nyi Bejo Pribumiluhur

#1021kata



Malam 17 Ramadhan

13.50 0


Ramadhan Writing Challenge
#RCO 
#Day17
#OneDayOnePost
#NuzululQur'an

Nuzulul Qur'an adalah waktu turunnya (wahyu) Al Qur'an pertama kali kepada Nabi Muhammad saw ketika beliau menyepi di Gua Hira pada tanggal 17 Ramadhan pada usia beliau yang ke 40 tahun.

Nuzulul Qur'an di Ramadhan tahun 1440 H jatuh pada tanggal 22 Mei 2019 malam Rabu pasaran Pahing. Malam yang berlalu seperti biasanya, tidak ada kajian khusus di masjid dekat rumah Ibu Jesi, tempat ia biasa Salat Tarawih Dua Shift bersama Ayah Jose. 

Malam itu Ayah Jose mengutarakan maksudnya tentang sesuatu. 

"Bu, besok Sabtu sore Ayah mulai i'tikaf di Masjid sekolah."
Ibu Jesi bergeming, sibuk dengan Bebi Jesi. 
"Ayah baru pulang Selasa sore. Ayah pasti bakal kangen banget sama Bebi,"
Ibu Jesi dan Bebi Jesi kompak menengok, entah kenapa.
"Malamnya Ayah full kegiatan, paginya juga. Soalnya anak-anak masih berangkat."
"Biasanya kalau nginep begitu, ayah suka mumet-mumet setelahnya. Jangan lupa sedia obat ya," jawab Ibu Jesi kemudian.
"Ngantuk aja sih masalahnya, sama kangen."
"Halah, kangen. Emangnya Ibu nggak."
Ayah Jose mengerucutkan bibirnya kemudian mencium Bebi Jesi.
"Ibu, ndaftar dicium boleh nggak?"
"Halah, Ibu mah sukanya copas deh."
"Copas?"
Ayah Jose melengos.

Ibu Jesi belum terlalu memikirkan apa yang Ayah Jose sampaikan. Ia sedang sibuk merasakan PMS, kebetulan sore tadi sudah muncul tanda-tanda. Setelah buka puasa, tanda itu benar-benar jelas adanya. Itu berarti beberapa hari ke depan Ibu Jesi tidak puasa.

"Yah, Ibu menstruasi."
"Ya, biarin. Emang kenapa? Emang mau berhenti menstruasi?"
"Ayah, Ih... Nyebelin"
Ayah Jose tertawa. Sibuk bersenda gurau dengan puteri kecilnya.

Ibu Jesi meraih kunci sepeda motornya, "Ayuk, Jes. Jalan-jalan!"
"Kemana?"
"Biasanya ke mana?"
"Nyari gorengan?"
"He eh"
Bebi Jesi merangkul ayahnya, "Jesi, mau sama Ayah."
"Ya sudah sana sama Ayah. Ibu yang di depan."
"Lha, emang biasanya juga kayak gitu kan?"
"He eh"

"Kakak nggak ikut?" Jesi spontan bertanya pada ayahnya.
"Nggak, Kakak di rumah Mbak Maya."
"Oh..." bibir Bebi Jesi membulat.

Sepanjang perjalanan Ayah Jose dan Bebi Jesi mengobrol, entah apa topik pembicaraan mereka berdua. Ibu Jesi tidak begitu jelas mendengarkan.

"Yah, kita bablasin ke panjatan sana ya."
"Beli gorengan yang di sana?"
"Iya. Sama kepengen beli es pisang ijo yang di depan balai desa itu."
"Oh, ya ayuk lah. Kita mah nurut aja apa yang Ibu mau. Ya kan, Jes?"
"He eh."

Rupanya Ibu penjual es pisang ijonya sedang hamil, dan Ibu Jesi selalu penasaran kalau melihat ibu-ibu yang sedang hamil.

"Bu, minta izin ngelus perutnya ya."
"Oh, boleh-boleh bu."

Bebi Jesi bereaksi kemudian, "Ibu... Nggak boleh..."
"Apa sayang?"
"Ibu punya Jesssi,"
"Oh, iya. Oke oke. Ibu cuman punya Jesi sama Kakak."

Ibu penjual es mungkin penasaran, "Adek, sini turun."
"Aja..."

Yah, Jesi. Kamu ini hmmmhmm. Bikin gemess. 
"Berapa bu?"
"Satu bungkus lima ribu, bu. Tiga, jadi lima belas ribu."

Ibu Jesi menyodorkan dua lembar uang kertas bergambar pahlawan. Ada kembalian yang diberikan Ibu penjual. 
"Matur nuwun nggih Bu"
"Sami-sami ..."

"Ayuk, Jes. Kita pulang. Hunting sudah selesai."

Ibu Jesi memacu sepeda motor dengan pelan. Menikmati suasana ngabuburit bersama The Clever Family yang selalu bahagia dalam segala keadaan. 

Bahagia? Insyaallah. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi orang yang sedang berpuasa selain saat berbuka kala waktunya tiba.

"Allahummalakasumtu wabikaaamantu...."

"Sudah buka Yah, ini teh manisnya."
"Terima kasih, Bu."
"Ayah nggak coba minum es yang tadi kita beli?"
"Nanti aja kalau sudah salat Maghrib."
"Oke."

"Ibu... Jesi mau salat..."
"Oke... Wudu dulu yukk"

Selesai salat kami sekeluarga berkumpul di ruang keluarga, seperti biasa.

"Ayah, tadi Jesi lihat dedek?"
"Dedek?"
"Iya, di perut Ibu?"

Ibu Jesi dan Ayah Jose saling berpandangan tak mengerti.

"Jesi tadi tanya dedek yang di perut?"
"Ooo,"
"Jesi tadi tanya apa sama dedeknya?"
"Dedek, dedek lagi ngapain?"
"Dedeknya lagi ngapain?" tanya Ayah Jose.
"Lagi tidur."
"Ooo,"
"Orang Jesi tanya malah diem aja"

"Oalah Jesi, Jesi. Kamu berimajinasi kah nak?" ujar Ibu Jesi. Ayah Jose tersenyum. "Namanya juga Cleverona, dia anak yang cerdas. Imajinasi bagus. Khayalannya tinggi."
"Khayalan?" tanya Ibu Jesi spontan. 
"Memangnya kamu pikir ada anak dalam kandungan yang bisa diajak ngobrol?"
"Ya nggak lah."
"Lha makanya itu dia bilang, dedeknya nggak jawab. Dedeknya sedang tidur. Itu kan bisa dibilang meski dia menghayal tapi tetap pakai logika. Kan nggak mungkin tiba-tiba dedek bayi dalam perut bisa ngomong."

Panjang lebar Ayah Jose menjelaskan, Ibu Jesi justru sibuk melayani puteri kecilnya yang minta nyanyi-nyanyi, alias minta setel VCD yang isinya nyanyian semua. Ya sudahlah. Emak sama bapaknya ngalah aja dulu. Mau makan es pisang ijo juga.

Ibu Jesi tiba-tiba saja bertanya, "Ayah. Kamu jangan cuma berhayal kepengen khatam Al Qur'an Ramadhan ini Yah? Aku lihat kamu jarang baca kok!"
"Ibu ini benar-benar sudah berhayal. Kamu sudah jus berapa coba?"
"Ibu kan sedang libur."
"Sekarang malam tanggal berapa?"
"Malam tanggal 17, Nuzulul Qur'an dong"
"Nah, itu jumlah jusku dong. Jus 17."
"Yakin?"
"Yakin dong. Susul aku deh besok kalau Ibu dah sembuh. Ayah paling sudah jus 20 an"
"Keruan..."

Ayah Jose berjalan ke arah dapur kemudian kembali dengan membawa mangkok berisi es yang tadi sore dibeli sambil ngabuburit.
"Bu, es nya encer ya. Nggak kayak yang di dekat pertigaan Gumilir itu. Enak."
"Iya, kok. Yang di perempatan Bandengan itu juga enak."
"Kapan ya Bu, kita ke sana."
"Kapan waktu ayuk ah, udah kangen kepengen jalan juga"

Ayah Jose mencolek pipi istrinya, "Emang THR sudah turun?"
Ibu Jesi mengangkat kedua bahunya, "Entahlah. Hilal THR belum tampak"

Mereka menunggu adzan berkumandang sambil bercengkerama riang. Lelah bekerja seharian bahkan hilang, yang tersisa hanya keceriaan. Bahkan pada suatu hari Ayah Jose pernah menuliskan chat romantis untuk istri tercintanya.

"Jangan berdiri di depanku, sayang. Karena kau bukan ratuku. Jangan berdiri di belakangku, sayang. Karena kau bukan prajuritku. Tapi berdirilah di sampingku, karena kau adalah kekasihku."

Hati perempuan mana yang tak meleleh membaca chat demikian dari pasangan hidupnya. Ibu Jesi tak mau kalah, dia pun membalasnya dengan.

"Terima kasih sayang. I love you. Setiap detik yang kurasakan bersamamu hanyalah hikmah dan kebahagian."

Rasanya pas dua orang ini menjadi pasangan romantis paman now. Bagaimana tidak? Masih ada balasan selanjutnya dan selanjutnya lho. Apakah kamu masih tidak percaya?

"Mencintaimu adalah hal biasa yang luar biasa bagiku"

"Izinkan aku mencintaimu terus dan terus hingga akhir nanti."

Aamiin ya Allah Robbal 'alamiin....

🌸

@RumahClever, Cilacap, 27 Mei 2019: 23.13.38.
Betty Irwanti Joko 
Ibu Jesi 
Nyi Bejo Pribumiluhur

#1027kata

Kangen Bukber

23.18 0

Ramadhan Writing Challenge
#RCO
#Day16
#OneDayOnePost
#Bukber

Kenapa harus ada bukber? Biar aku dan kamu bisa duduk bersama pada waktu dan tempat yang paling romantis. Kamu enggak tahu kalau aku diam-diam memerhatikanmu, karena di dekat kita ada teman-teman SMP kita.

Kenapa harus ada bukber? Supaya aku dan kamu bisa ketemu setelah berrtahun-tahun lamanya kita terpisahkan oleh jarak san waktu. Setahun yang lalu kita pernah hampir bertemu dalam acara bukber di rumah makan milik teman SMA, tapi atas kuasa-Nya urung jua agenda itu.

Kenapa harus ada bukber? Supaya aku dan kamu bisa saling memperkenalkan pasangan satu sama lain, agar pertemanan senantiasa berada dalam bentangan izin.

Kenapa harus ada bukber? Karena aku rindu padamu. Juga rindu padanya, teman-teman semasa SMA dulu. Pernahkah kamu bermimpi memakai seragam putih abu-abu lagi? Jawabanku jelas pernah. Karena entah mengapa rasanya rindu sekali dengan masa indah remaja masa milenium 2000-an.

Aku rindu saat bukber SMP beberapa tahun lalu, saat aku masih sendiri. Meski sepi karena memang tak banyak yang hadir tapi aku senang. Bahagia karena aku bisa kembali menjalin silaturrahmi kembali.

Kapan ada bukber SMA lagi? Kapan ada reuni lagi? Aku ingin sekali berkunjung ke sekolahku yang sekarang masih beralamat di Jalan Kalimantan Cilacap itu. Ya Rabbi, sungguh aku merindu.

Rindu itu sangat menggelayut, sampai kadang membuatku terhanyut. Andai bisa aku sekolah lagi, aku ingin bersekolah. Tapi apakah itu mungkin? Kalau suamiku bisa jadi mungkin. Sebab mukanya masih cute, memakai seragam putih abu pun sepertinya masih banyak yang mengira kalau beliau masih sekolah. Beliau selalu terlihat lebih muda dari umur yang sesungguhnya. Sedangkan aku?

Seperti waktu itu, saat berada di sebuah rumah sakit bersalin, saat program baby sekitar lima tahunan yang lalu.

"Assalamualaikum, selamat pagi Mas." tanya seorang petugas pendaftaran di loket depan.
"Wa'alaikumsalam, saya mau daftarkan istri saya."
"Ada KTP?"
Suamiku menyerahkan KTP-ku.
"Silakan tulis di formulirnya ya Mas. Ada data Mas juga, disitu."
Aku sibuk menulis formulir itu kemudian, dan ada yang salah sedikit di tahun lahir suami. Aku coret sedikit. Tapi tetap kuserahkan pada petugas tadi.
"Silakan tunggu ya, saya entri dulu. Nanti jika sudah siap kartunya, saya panggil"

Aku dan suami duduk di kursi ruang tunggu. Bersebelahan dengan beberapa pasangan yang memang datang untuk periksa juga. Sepertinya begitu.

Sepuluh menit kemudian namaku dipanggil. Aku menerima kartu periksa milikku, juga suamiku. Saat kubaca data di kartu, rasanya ada yang keliru.

"Mas, mas. Tahun lahirnya kok 1992?" tanyaku pada petugas pendaftaran yang baru saja menyerahkan kartu periksa padaku.
"Saya isi sesuai data yang Mbak isi."
"Iya, tadi saya isi 1982 kok?"
"Sebentar saya lihat lagi" jawabnya sambil mencari formulir yang tadi kuisi.
"Ini Mbak!"
"Ini salah angka Mas, makanya saya coret. Tolong dibetulkan ya!"
"Baik bu, tapi sementara pakai yang sudah jadi dulu."
"Nggak bisa langsung ganti Mas?"
"Prosedurnya begitu, data saya rubah tapi kartunya tetap."
Aku manggut-manggut sambil berjalan ke arah suamiku yang pasti sedari tadi sudah menunggu. Bisa jadi beliau bertanya, ada apa denganku.

Tapi ternyata, beliau tidak sempat bertanya karena namaku keburu dipanggil ke ruang perawat, untuk cek tensi dan lain-lain. Sesekali aku memandangi suamiku. Ah, memang. Tidak ada yang perlu dibetulkan. Data tahun lahirnya salah? Biarkan saja. Memang beliau masih pantas kok ukuran segitu. Lihat saja penampilannya, kaos warna biru terang dan jeans bermerek itu sangat pas. Membuatnya sepuluh tahun lebih muda dari umurnya yang sebenarnya.

"Yang, habis ini kita mau ke mana?" tanyaku spontan pada suamiku tercinta.
"Gimana kalau kita pulang sorean saja. Sambil nunggu buka."
"Tapi ini masih siang, yang,"
"Kita ke Masjid Agung dulu yuk! Ada acara kajian di sana."
"Kajian? Kajian apa? Tahu dari mana ada kajian?"
"Kajian tentang Qur'an. Kan nanti malam malam tujuh belas Ramadhan. Malam Nuzulul Qur'an. Aku tahu dari grup sekolahan dong."
Aku manggut-manggut. Oke baiklah. Cuss otw to Masjid Agung Darussalam Cilacap.

Kami berdua khusyuk menyimak kajian demi kajian. Tidak terasa sudah hampir datang waktunya salat 'ashar. Kami salat sekalian. Kemudian cuss, kami otw pulang ke rumah. Sudah ada Kakak dan Kedua orang tua yang menunggu kepulangan.

"Yang, jalan yang pelan saja ya. Aku kepengen mampir bukber."
"Bukber?"
"Bukber sama siapa?"
"Bukber sama ayang,"
"Lha, tiap hari juga bukber, di rumah."
"Aku kepengen bukber di luar, biar kelihatan spesial begitu."
"Halah, gaya. Kan kasihan Mamah sudah masak di rumah buat kita."
"Oh, jadi nggak mau nih ceritanya?"
Aku diam. Suamiku juga diam.
"Beli bakso aja, Mamah kan suka bakso."

Ya udah deh, bukbernya lain kali saja kalau begitu.

Aku ingin bukber. Tapi bukber yang istimewa. Se istimewa hari itu dan hari-hariku yang lainnya. Apalagi Ramadhan tahun ini begitu istimewa. Istimewanya apa? Ada suami yang tetap terlihat lebih muda sepuluh tahun dari umur aslinya dan ada Bebi Jesi yang semakin hari semakin terlihat luar biasa.

Ah, rasanya nuansa bukber itu setiap hari selalu ada di Rumah Clever. Bagaimana tidak? Suasana riang saat bedug Maghrib menggema dari masjid dekat rumah selalu menjadi pertanda gembira yang menjadikan semua anggota keluarga berkumpul di satu titik, di depan televisi, di dalam ruang keluarga untuk bercengkerama.

Ah, rasanya nuansa bukber itu selalu istimewa sebab ada menu-menu istimewa meski itu sederhana. Seperti hari ini ada sayur bening bayam dan sayur oyong tahu juga ada gorengan. Gorengan itu jadi menu wajib yang dicari tiap sore sambil ngabuburit bersama Bebi Jesi, Kakak Fatih, Ayah Jose dan Ibu Jesi.

Jadi, apa menu bukbermu bersama keluarga hari ini? Jika menurutmu menunya biasa saja, coba saja menu-menu di bawah ini. Lengkap untuk sajian sebulan penuh sejak hari pertama. Rekomendasi menu ini Ibu Jesi dapat dari WAG Grup TNB 22. Silakan di simak ya.

Rekomendasi Menu Ramadhan Tahun 2019, berikut ini:

*MENU BUKA PUASA 1 BULAN*

*HARI KE 1*

1. Jus Buah
2. Sup bakso sayuran
3. Perkedel kentang
4. Ayam goreng tepung
5. Sambal kecap
6. Kerupuk Udang

*HARI KE 2*

1. Es Teler
2. Sayur lodeh
3. Ayam Panggang Bumbu Kecap
4. Rempeyek teri atau ikan asin
5. Tempe/tahu goreng
6. Sambal bajak

*HARI KE 3*

1. Es Kelapa Muda
2. Rawong daging
3. Perkedel Kentang
4. Tempe Goreng
5. Sambal terasi
6. Kerupuk udang

*HARI KE 4*

1. Es Dawet sagu
2. Sayur asam Jakarta
3. Pepes ikan
4. Ikan goreng
5. Dadar jagung
6. Sambal terasi

*HARI KE 5*

1. Es Cincau
2. Capcay kuah
3. Ayam tepung saus lemon
4. Mie Goreng sayuran
5. Bola-bola tahu

*HARI KE 6*

1. Kolak pisang dan labu kuning
2. Soto ayam lengkap
3. Balado ceker pedas
4. Kerupuk udang
5. Sambal kemiri

*HARI KE 7*

1. Es Teh manis
2. Sayur kunci bayem dan jagung manis
3. Ikan goreng
4. Dadar jagung
5. Sambal goreng udang/kerang
6. Sambal terasi

*HARI KE 8*

1. Es Garbis serut
2. Sayur Lodeh nangka muda
3. Empal Gepuk
4. Rempeyek udang
5. Kerupuk

*HARI KE 9*

1. Es mutiara
2. Sup Makaroni
3. Krengseng Daging
4. Tempe Goreng Tepung
5. Kerupuk

*HARI KE 10*

1. Es Kopyor
2. Rendang Daging
3. Oseng Daun Singkong + teri
4. Tempe goreng
5. Sambal cabai Ijo

*HARI KE 11*

1. Setup Tape manis (Es Tape)
2. Cah Baso sayuran
3. Mie kuah baso
4. Udang Goreng Tepung
5. Tempe Goreng Tepung
6. Sambal bajak

*HARI KE 12*

1. Es timun suri
2. Sayur asem kangkung
3. Sate ampela pedas
4. Perkedel Jagung
5. Sambal terasi
6. Ikan asin goreng tepung

*HARI KE 13*

1. Es Cao gula gendheng
2. Bali ayam
3. Pecel sayuran
4. Perkedel Kentang
5. Telur dadar

*HARI KE 14*

1. Es jeruk manis
2. Ikan bakar pedas
3. Cap Cay Goreng
4. Tahu telur isi bihun
5. Cah Kacang panjang

*HARI KE 15*

1. Bubur kacang hijau
2. Sup ayam
3. Fillet ikan kakap
4. Perkedel kentang
5. Sambal kecap
6. Kerupuk udang

*HARI KE 16*

1. Kolak Pisang kolang-kaling
2. Sayur bobor bayam dan jagung sisir
3. Ayam Bumbu Rujak
4. Tempe Goreng Tepung
5. Sambal

*HARI KE 17*

1. Sop buah
2. Kare ayam + tahu
3. Orek tempe
4. Sambal bajak
5. Kerupuk

*HARI KE 18*

1. Es Buah rumput laut
2. Sambal goreng labu siam + tempe + udang, dan cecek
3. Bihun goreng sayuran
4. Rempeyek Kacang
5. Sambal terasi
6. Kerupuk

*HARI KE 19*

1. Es Pisang ijo
2. Paru Goreng
3. Sup oyong bakso
4. Rempeyek teri
5. Tahu telur
6. Sambal bawang

*HARI KE 20*

1. Es kelapa muda
2. Soto daging
3. Capjay goreng
4. Fillet ayam tepung
5. Sambal kemiri
6. Kerupuk udang

*HARI KE 21*

1. Es Dawet beras
2. Opor ayam
3. Sambal goreng ati kentang
4. Kerupuk udang
5. Perkedel kentang
6. Sambal bajak

*HARI KE 22*

1. Kolak pisang ubi
2. Cah kangkung udang
3. Ikan goreng
4. Tempe goreng tepung
5. Dadar sayuran
6. Sambal bawang

*HARI KE 23*

1. Es timun suri
2. Rawon tulang
3. Tempe goreng tepung
4. Dadar telur
5. Sambal terasi
6. Kerupuk udang

*HARI KE 24*

1. Bubur Sumsum campur
2. Sayur asem Jakarta
3. Empal daging
4. Empel-empel tempe
5. Kerupuk Udang
6. Sambal terasi

*HARI KE 25*

1. Kolak Pisang
2. Sayur bobor
3. Ayam goreng lengkuas
4. Perkedel Jagung
5. Tahu bacem
6. Sambal tomat

*HARI KE 26*

1. Es Cincau
2. Ayam kecap pedas
3. Tumis sawi
4. Sambal Goreng Kentang + Udang
5. Kerupuk Kulit

*HARI KE 27*

1. Es teller
2. Krengsengan daging telur puyuh
3. Oseng sayuran
4. Tahu goreng
5. Sambal bawang
6. Kerupuk

*HARI KE 28*

1. Es Campur
2. Sayur kunci bayam dan oyong
3. Ayam bumbu bali
4. Perkedel Jagung
5. Tempe goreng
6. Sambal bawang
7. Kerupuk

*HARI KE 29*

1. Dawet campur
2. Tumis brokoli udang
3. Ayam Bakar
4. Sambal pencit
5. Tempe goreng
6. Lalapan

*HARI KE 30*

1. Es Pisang Ijo
2. Mie goreng sayuran
3. Ayam kecap
4. Sambal goreng buncis dan telur puyuh
5. Telur dadar
6. Sambal bajak

Semoga bukbermu menyenangkan ya. Selamat mencoba.

Salam untuk semua. Selamat malam. Selamat istirahat.


🌸

@RumahClever, Cilacap, 21 Mei 2019: 23.13.
Mulai menulis pukul 22.22.
Betty Irwanti Joko
Ibu Jesi
Nyi Bejo Pribumiluhur

#1656kata

Kupat Kecemplung Santen

10.52 0


Ramadhan Writing Challenge
#RCO 
#Day15
#OneDayOnePost
#Ketupat

Ketupat adalah makanan, yang terbuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman pucuk daun kelapa, berbentuk kantong segi empat dan sebagainya, kemudian direbus, dimakan sebagai pengganti nasi. Itu ketupat dalam arti yang sebenarnya.

Ketupat dalam bahasa Jawa biasa disebut Kupat. Kata itu sering dipakai untuk penutup kalimat. “Kupat kecemplung santan, menawi lepat nyuwun pangapunten.” (Ketupat berkuah santan, banyak salah kata mohon dimaafkan.)

“Maafkan Ibu ya Yah, kemarin waktu ayah mau menginap ibu malah nggak bangun waktu sahur.”
“Lha, kan Ibu memang lagi nggak sahur. Jadi nggak aku bangunin?”
‘Iya, maksudnya kan kepengin mengantar begitu.”
“Lah, paling kamu mau nyium. Cium aja sekarang, pakai minta maaf segala.”
Ayah Jose sepertinya ke-GR-an.
Heheheh.

Segala kesalahan mohon dimaafkan. Jika saja setiap ada suatu masalah semua rebutan salah dan minta maaf tidak akan ada rame-rame viral yang tak tentu, semacam banyak kasus di Tv itu. Bikin pusing pala barbie, kan? Mendingan bikin flyer persiapa VCT saja biar ada gambaran apa yang mau disampaikan saat tugas jadi presenter nantinya.

Kemarin di sekolah sempat bikin satu flyer dan harus bikin satu lagi. Oke baiklah, mumpung BJ sedang tidur pula, semoga dia lelap jadi ibunya bisa semedi dengan sempurna.

Dan jreng... jreng... flyer kedua jauh lebih bagus dibanding yang pertama. Entahlah kenapa begitu. Mungkin karena yang pertama masih coba-coba. Yang kedua sudah lebih ke taraf belajar dari yang pertama.

Bebi Jesi saja banyak belajar lho di bulan Ramadhan tahun ini. Dia belajar bersosialisasi dan mengenal teman sebayanya. Ia jadi betah berlama-lama di masjid sambil menunggui ayahnya salat tarawih.

Sampai-sampai saking betahnya, ia sampai pup saat masih berada di masjid.
“Ibu, Jesi ee!”
Ibunya mendekat, mencium bau tida sedap kemudian.
“Ibu, Jesi minta maaf ya?”
“Nggak papa sayang,”
“Jesi mau wawik. Jesi manut...”
Ibunya menggendong Bebi kemudian lalu membawanya ke kamar mandi dekat tempat wudu. Iya, beneran. Bebi Jesi manut. Dia tidak menangis. Justru ia ceria, main air dan sibuk bercerita tentang sesuatu.
“Ibu, Jesi anak pinter ya?”
Ibunya bergeming, sibuk membersihkan kotoran yang menempel di tubuh puteri kecilnya.
“Jesi tadi lari-lari sama Mbak Tami. Terus main sapu. Terus Jesi nyapu. Terus main jaranan.”
Ibunya sudah selesai, “Jesi pakai celananya dulu ya?”
“He eh”
“Ih, Jesi memang anak pinter ih. Anaknya siapa sih?”
“Anak Ibu Betty... Irwanto”
“Hei...” jawab Ibu Jesi sambil mencium anak semata wayangnya.
“Ibu, Jesi gendong...”

Ibu Jesi menggendong Bebi kemudian, sambil sedikit kebingungan mau berbuat apa dengan popok instan yang bau ini.
“Jesi, main lagi sama Mbak Tami ya...”
Bebi Jesi turun dari gendongan. Ia melihat ada sesuatu yang bisa dijadikan pembungkus lalu ia berlari membuangnya ke tempat sampah yang terlihat sejauh mata memandang.

‘Maafkan aku harus membuangnya di situ, sebab aku tak mungkin membuangnya ke tempat biasa aku membuang sampah.’ gumam ibu Jesi sambil berlalu dan kembali menghampiri Bebi Jesi yang sedang berlarian dengan Tami dan teman-temannya.

“Ibu, Jesi mau cari ayah,”
“Boleh... itu ayah ada di depan”
“Yang kayak kemarin, Ibu?”
“Iya...”

Bebi Jesi berlarian. Dan ternyata dia sampai di pintu depan sebelah kanan masjid, mungkin Ayah Jose ada di sebelah sana. Sepanjang penglihatan mata Ibu Jesi, anaknya itu sedang mempraktikkan gerakan salat serupa jamaah salat tarawih yang bapak-bapaknya tinggal dua shaf saja. Eh, tunggu. Ibu-ibunya tinggal berapa? Satu-sua-tiga, alhamdulillah massih tiga shaf.

Ibu Jesi jadi rindu salat tarawih. Dan rindu tadarus lagi. Ketika nanti sudah sembuh dari menstruasi ia harus mengejar ketertinggalannya agar bisa tetap khatam sesuai target. Aamiin...

“Ibu, ayah sudah selesai salatnya?”
“Belum, sebentar lagi.”
“Jesi mau nungguin.”
“Iya, nanti nungguin Mbah Kakung juga.”
“Mbah Kakung sama Kakak?”
“Nggak, Kakak nggak tarawih?”
Bebi Jesi bergeming, sibuk memperhatikan anak-anak yang berlarian menuju tempat bedhug berada.

“Jesi mau nabuh bedug?”
“He eh”
Dia ikut berlarian, ibunya mengikuti dari belakang kemudian ia menengok ke dalam masjid.

“Jesi, itu Mbah Uti...”
“Mana?”
“Itu...” tunjuk Ibu Jesi sambil memeluk Bebi. BJ pun berlari menghampiri Mbah Uti kemudian kembali lagi.

“Ibu, bedhug suaranya keras. Jesi takut.”
“Kan belum ditabuh sayang, nanti suaranya terdengar keras kalau sudah ditabuh.”
“Jesi mau cari ayah...”
Bebi berdiri lalu berlari. Bebi oh Bebi... apa sih maumu yang sebenarnya?

“Jangan lari-lari Jesiii...”
“Iya, Ibu... Maaf... Jesi nggak lari-lari. Jesi jalan aja ya...”
“He eh.”

Tuh, kan. Bebi Jesi saja sering minta maaf. Apalagi Ibu Jesi dan Ayah Jose. Masalah sehari iu harus selesai hari itu, dan akan berakhir dengan minta maaf dan saling memaafkan. Insyaallah.

Minta maaf itu adalah kata-kata sakral. Lebih sakral lagi saat lebaran nanti. Semua berebut minta dimaafkan. Dan insyaallah semua juga berebut ingin memaafkan. Setelah minta maaf apakah kita akan membuat salah lagi?

Kan masih ada lebaran tahun depan, kita bisa minta maaf lagi kan?

Tuman...
Janganlah pernah berpikir demikian.

Memangnya kita yakin hidup kita akan sampai lebaran tahun depan?

Semoga saja ya...

Semoga lebaran tahun ini dan tahun depan serta depannya lagi kita akan temui dengan senang hati. Semoga lebaran tahun ini kita akan menemui sesuatu yang istimewa seperti malam Nuzulul Quran dan malam Lailatul Qadar. Malam yang lebih baik dari malam seribu bulan.

Semoga lebaran tahun ini kita juga akan menemui sesuatu hal yang penuh keberkahan dan kebaikan. Aamiin...

Eh, BTW ada yang istimewa lho kemarin. Saat sepulang sekolah, ayah sumringah sambil menunjukkan amplop putih.
“Ini buat nyaur Ibu Maya dulu apa Bu? Ayah kepikiran terus. Kan kita bakal ngambil lagi pacitan buat lebaran. Rikuh kalau kebanyakan.”
“Boleh-boleh...”
“Tapi Ayah belum ambil, je”
“Ya besok. Sekalian beliin kartu internet buat Ibu. VCT sudah mau on kayaknya. Riweh banget urusan sama signal.”
Ayah Jose mencium Bebi, jadinya BJ terbangun deh. Untung laptop sudah dimatikan. Aman... amaan.
Dan pagi ini, Ibu Jesi senyum-senyum sendiri saat membaca WA Grup Arisan Pejabat Terass, (ih ini yang menamai Bapak Harijono, S.Pd. MM. Hehehe, calon haji mabrur. Aamiin)
[20/5 13.23] Aa ayah Jose: Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh....
[20/5 13.23] Aa ayah Jose: Selamat siang semua.
[20/5 13.24] Aa ayah Jose: Monggo arisan.... Arisan.... Arisan....
[20/5 13.25] Aa ayah Jose: 😁😁😁😁
[20/5 13.26] Harijono Alaz: Walaikumsalam...Pa ws gajian pak
[20/5 13.26] Harijono Alaz: ??
[20/5 13.27] Pak Eka Alaz: Ngenteni gajian
[20/5 13.31] Harijono Alaz: πŸ˜†
[20/5 13.31] Harijono Alaz: Ya iya nungguin gaji paling ora akhir bulan
[20/5 13.31] Harijono Alaz: Gitu mbok
[20/5 13.31] Harijono Alaz: Ya lurr
[20/5 13.33] Pak Eka Alaz: Akhir bulan Juni
[20/5 13.33] Harijono Alaz: Awal bln juli
[20/5 13.34] Aa ayah Jose: 🀦🏻‍♂🀦🏻‍♂🀦🏻‍♂🀦🏻‍♂
[20/5 13.34] Harijono Alaz: Sabar rezeki ga kemana
[20/5 13.34] Harijono Alaz: Kok
[20/5 13.35] Aa ayah Jose: Arep go tuku klambi
[20/5 13.35] Aa ayah Jose: Go badan
[20/5 13.35] Aa ayah Jose: πŸ‘œπŸ‘ πŸ‘žπŸ‘—πŸ‘–πŸ‘•πŸ§₯πŸ’πŸ•Ά
[20/5 13.35] Pak Eka Alaz: Ngarep
[20/5 13.35] Harijono Alaz: Tuku klambi duite mamke disit
[20/5 13.36] Gani Aab Alaz: Putaran terakhir pas THR bsk aja gmana pak
[20/5 13.36] Harijono Alaz: Arisan ditunda sampe dengan waktu yang blm jelas
[20/5 13.36] Gani Aab Alaz: 🀭🀭 yg bner nih
[20/5 13.37] Harijono Alaz: Tahun depan pak ghani
[20/5 13.37] Aa ayah Jose: Thr udah sekarang bukan besok pak
[20/5 13.37] Gani Aab Alaz: THR sekarang pak? Yg bner?
[20/5 13.38] Bang Jarwo Alaz: Iya saya sudah dpt THR
[20/5 13.38] Harijono Alaz: Jangan mudah terpengaruh pak
[20/5 13.38] Harijono Alaz: Gosipp
[20/5 13.38] Harijono Alaz: Gosip
[20/5 13.38] Bang Jarwo Alaz: Asli john
[20/5 13.38] Bang Jarwo Alaz: Nek gelem ijolan THR pa
[20/5 13.38] Gani Aab Alaz: Asli kan ini? Bukan tahun lalu?🀭
[20/5 13.38] Harijono Alaz: Ini amplop gajian kemrn
[20/5 13.39] Harijono Alaz: Yuhh
[20/5 13.39] Bang Jarwo Alaz: Temenan luh ya saksine sing nang group luh
[20/5 13.40] Aa ayah Jose: Asli bukan quik count
[20/5 13.40] Harijono Alaz: Prettt
[20/5 13.40] Gani Aab Alaz: 😁.. tapi rekening ku blum ada pergerakan, masih bertahan diangka 40K πŸ˜„πŸ˜„
[20/5 13.40] Pak Eka Alaz: Slip THR satpam neng pos satpam mau sing nampani anhar
[20/5 13.41] Harijono Alaz: πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…
[20/5 13.41] Harijono Alaz: Jujur bgt
[20/5 13.41] Harijono Alaz: Q tembe krungguu
[20/5 13.41] Gani Aab Alaz: Ya dong harus jujur, nanti kan mengundang para dermawan seperti pak @⁨Harijono Alaz⁩
[20/5 13.41] Pak Eka Alaz: Ora percaya wa Anhar baen Nek ora yudhi
[20/5 13.41] Harijono Alaz: πŸ˜œπŸ˜œπŸ‘
[20/5 13.42] Harijono Alaz: Ya
Q rep mkt sore
[20/5 13.42] Pak Eka Alaz: Sing wis njiot gasik Edi
[20/5 13.43] Aa ayah Jose: Komandan tetep no. 01
[20/5 13.43] Aa ayah Jose: Ups... 🀭🀭🀭
[20/5 13.44] Aa ayah Jose: Situng itu pak....perlu di awasi
[20/5 13.45] Gani Aab Alaz: Harus merekrut relawan dlu pak klo mau mengawasi
[20/5 13.53] Harijono Alaz: πŸ˜†πŸ˜†
[20/5 14.41] Harijono Alaz: Siapp
[20/5 14.41] Harijono Alaz: Nunggu anda
[20/5 14.42] +62 857-9996-3164: Alhamdulillah....
[20/5 15.41] Gani Aab Alaz: Eh iya, rekening sdah berubah🀭
Gmana nih, arisannya diselesaikan skalian aja pa nda? Kasihan pak Joko dah nungguin😁 atau pak joko dah mengikhlaskan?🀭
[20/5 15.55] Harijono Alaz: Kayaknya....udah ikhlas pak
[20/5 15.55] Harijono Alaz: πŸ˜†
[20/5 16.00] Harijono Alaz: Ya ..monggo dirembug pd setuju mboten
[20/5 16.02] Harijono Alaz: Pribadi saya sih...??
[21/5 06.11] Aa ayah Jose: Iklas menunggu
[21/5 06.35] Harijono Alaz: Lg nunggu
[21/5 07.05] Betty Irwanti Joko: πŸ™„
[21/5 07.25] Aa ayah Jose: Hoak itu photo lama...
[21/5 07.32] Betty Irwanti Joko: Aku paham
[21/5 07.47] Harijono Alaz: Baruu
[21/5 07.47] Harijono Alaz: Tau

Bapak-bapak ternyata pada rumpi juga ya. Kirain emak-emak aja. Dan ternyata hilal THR sudah mulai nampak. Aasyiikkk....
Di grup Kelas Buku Solo Free Pejuang Literasi juga rame dengan topik yang sama, hehehe...
21/5 09.22] Rina Yuliani Pj PL: THR sudah cairrrrr. Yang mau ambil saja
[21/5 09.26] Betty Irwanti Joko: 
J
[21/5 09.28] Meilan Buku Solo PL: 
J
[21/5 09.33] Rina Yuliani Pj PL: Yang cair THR buat karyawan dulu, aku mah belakangggaannn
[21/5 09.33] Betty Irwanti Joko: Ayah sudah laporan kemarin sore 
J
[21/5 09.33] Betty Irwanti Joko: Aku kapan ya? 
J
[21/5 09.34] Rina Yuliani Pj PL: Segera. Nanti sore! . Aamiin 
JJ
[21/5 09.35] Betty Irwanti Joko: Amankan 
J

Alhamdulillah. Rezeki dari Allah.
Segala puji hanya bagi Allah.

@CleverClass, Cilacap, 21 Mei 2019: 10.46
Mulai menulis pukul 09.46.
Betty Irwanti Joko 
Ibu Jesi
Nyi Bejo Pribumiluhur
#1661kata