Anak Ayah

09.02
Ramadhan Writing Challenge
#RCO
#Day10
#OneDayOnePost
#Rasul

Sholawat yang Ibu Jesi dengar saat terbangun dari tidurnya berasal dari sebuah Sholawat Rasul dalam nyanyian karya ustaz ternama Indonesia yang sudah malang melintang di dunia musik religi bahkan sejak Ibu Jesi masih remaja.

Ada beberapa lagu yang sebenarnya berisi lagu Islami tapi ianya dikemas sedemikian apik sehingga semua yang mendengarkan seperti terlarut oleh magnet cinta pada-Nya dan cinta padanya, sang kekasih yang dipuja.

Ada yang bisa menebak ustaz itu siapa?

Sila tebak dan kirimkan jawaban segera, tapi Ibu Jesi tak menyediakan hadiah apapun untuk jawaban yang benar adanya.

Selesai dengan persiapan air masak, Ibu Jesi pergi mandi agar tidak didahului oleh puteri kecilnya. Tapi belum juga sampai di kamar mandi, Bebi Jesi sudah terbangun. Ia pun harus mendahulukan kepentingan anak di atas kebutuhan pribadinya.

Ibu Jesi mendekati Bebi.
"Jesi sudah bangun, ayuk do'a dulu!"
"Aja..."
Ibu Jesi tetap menjadi membaca do'a bangun tidur.
"Jesi mau nenen?"
"Jesi mau mimik bening,"
"Sebentar ya Ibu ambil dulu."
Ibu Jesi mencari tempat minum berwarna merah muda. Tempat minum berupa botol yang ada sedotannya. Ayah Jose yang membelikannya sebagai pengganti gelas kaca yang takut resiko pecah pada awalnya.

"Jesi, ayah sudah pulang..."
"Ayah sudah pulang?"
"He eh..."
"Dimana?"
"Di kamar Om Ryan."
Bebi Jesi bangun, bangkit dan berdiri kemudian berjalan menuju kamar yang Ibunya maksudkan.

"Ayah... Ayah..."
Ayah Jose kaget, beliau terbangun.
"Ayah sudah pulang?"
"He eh."
"Jesi mau main sama Ayah..."

Ibu Jesi senyum.
"Main sama Ayah, Jes... Ayah besok kan menginap."
"Aja... Ayah sudah pulang."

Ayah dan ibunya saling berpandangan. Kemudian Ibu Jesi beberes, bebersih dan lain-lain.

"Ayah, nanti Jesi mau jalan-jalan."
"Jalan-jalan ke mana sayang?"
"Jalan-jalan sama Kakak."
"Kakak masih ngaji, nanti kalau sudah pulang ya. Sekarang Jesi mandi dulu."
"Jesi mau mandi sama Ayah."
"Oke, ayah Siapin air dulu ya. Jesi duduk sini dulu aja. Jangan ke mana-mana!"
"Iya, Jesi lagi lihat baby shark."

Bebi Jesi dimandikan ayahnya itu sudah biasa. Bahkan kadang dia menunggu Ayah pulang baru dia mau mandi.

Yang paling aneh pernah, dia sama sekali tidak mau makan seharian. Begitu Ayah pulang kerja. Dia langsung minta makan disuapin ayahnya. Ibu dan Mbah hanya bisa geleng-geleng kepala. Sebegitu kuat ikatan antara ayah dan puteri kecilnya yang tercinta.

"Jesi, manut mandi sama Ayah?"
"He eh. Jesi mau pakai baju sama Ayah."
"Sana. Makan juga sama Ayah?"
"He eh."

Selesai memakai baju dan sudah makan, kakak pulang dari mengaji. Bebi Jesi menagih janji kepada ayahnya.

"Ayah, ayuk jalan-jalan!"
Ayah dan ibunya saling berpandangan. Oke baiklah sayang, mari kita jalan-jalan alias ngabuburit. Mau cari apa kita?

Cari gorengan pastinya, untuk camilan berbuka puasa sebelum makan besar sehabis salat tarawih. Yang membuat semua tersenyum adalah saat Bebi Jesi manut diajak tarawih tanpa drama. Bahkan dia dengan senang hati mau berjalan sendiri bahkan sampai ke pinggir jalan desa.

"Ibu, Jesi mau beli."
"Beli apa? Beli permen?"
"He eh."
Ternyata yang dipilih bukan permen, melainkan biskuit cokelat. Oke baiklah. Dia pun duduk manis di teras masjid. Ibu ada di sampingnya.

Ayah Jose datang dengan sepeda motornya, "Ibu, salat Isya nya nanti jamaah di rakaat terakhir. Nanti biar Ayah yang jaga Jesi duluan."

Ibu Jesi tersenyum. Oke, siap komandan! Hehhe.

Jesi masih makan biskuit cokelat yang dibelinya tadi. Ia kemudian bermain dengan kakak yang menghampirinya. Mereka berlarian di halaman masjid. Ibu Jesi melihat mereka sambil persiapan salat kemudian.

Selesai salat Ibu Jesi mencari Bebi Jesi, "Ibu. Mana kunci rumahnya?"
"Ayah mau pulang?"
"Iya, Jesi muntah. Bajunya basah. Mau ganti dulu."
"Muntah? Muntah kenapa?"

Ibu Jesi menatap punggung Ayah Jose dari kejauhan. Dia melanjutkan salat tarawih di dalam masjid sambil harap-harap cemas. Apa Bebi Jesi tidak sehat? Atau dia kekenyangan?

Sekitar sepuluh menit kemudian, Bebi Jesi sudah kembali ke masjid digendong Ayah Jose.
"Bu, Jesi sudah ganti baju."
"Iya, sini main sama Ibu. Ayah mau tarawih."

Sepanjang Ayah tarawih Ibu Jesi menjaga Bebi Jesi dan Kakak yang sedang bermain di halaman masjid. Sampai kemudian terdengar lantunan dzikir, Sholawat Nabi dan Rasul yang menandakan rangkaian salat tarawih dan salat witir sudah selesai. Waktunya bersalaman dan pulang.

Sesampainya di rumah.

"Bu, Jesi ee."
"Ya ayuk wawik. Nanti dibalurin minyak kayu putih ya biar perutnya enakan."
"Tadi sudah sama Ayah,"
"Oh..."
"Wawik sama Ibu?"
"Wawik sama Ayah."

Oke, baiklah. Ibu Jesi bersiap saja makan yang banyak. Sebentar lagi Bebi Jesi pasti minta mimik susu.

"Ayah, Jesi mau nenen."

Tuh kan?

Ibu Jesi menaruh piring yang sedang di pegangnya. Kemudian menuju ke kamar lalu memposisikan diri di atas kasur sambil membelai rambut puteri kecilnya.

Rasanya itu sudah kebiasaan. Saat Bebi Jesi haus dan sudah mengantuk, dia akan meminta nenen kemudian. Sejak kecilnya tidak terbiasa tidur di dalam gendongan. Dia terbiasa tidur dengan nenen dan memeluk ibunya. Lalu, di kemanakah ayahnya? Jika ayahnya ada, dia akan menyuruh ayahnya kipas-kipas kemudian menaruh satu kaki ke kaki ayahnya. Ke mana kakinya yang satu lagi? Dia taruh di atas kaki ibunya.

Dia kunci Ayah ibunya agar tidak bergerak atau pergi saat dia tidur. Dia hanya ingin ditemani kedua orangtuanya sebab seharian keduanya sudah meninggalkannya bekerja.

Eh, kalau ibunya setengah hari ding. Nggak bakalan tega ibunya membiarkan Mbah Uti sendirian menjaga Bebi Jesi. Bahkan saat tambahan pelajaran sewaktu anak muridnya mau ujian pun dibawanya mereka semua ke Rumah Clever, meski dengan konsekuensi tidak semua anak berangkat, setidaknya dia sudah berusaha sebisanya.

Ibu Jesi selalu mengutamakan puteri kecilnya yang masih menjadi anak semata wayangnya. Lantas, kapan dia akan menambah momongan lagi? Mungkin nanti, saat ini The Clever Family masih ingin menjaga Bebi Jesi secara utuh. Untuk kecerdasannya menangkap segala sesuatu.  Untuk segala celoteh jelasnya yang bahkan sejak umurnya satu tahun dia sudah bisa merangkai kata-kata.

Semua sedang menikmati kebersamaan dengan Bebi Jesi. Kami belum tega membagi perhatian kepada yang lain. Kami juga ingin Mbah Uti tak begitu kerepotan mengasuh dan menjaga cucunya yang selanjutnya.

Atau jika begitu, apakah opsi adiknya akan diasuh oleh seorang rewang kemudian? Ah, belum tahu. Biarkan saja waktu yang akan menjawab. Biarkan semua indah pada waktunya.

Siki, urung mangsane.

Biarkan kami bahagia bersamanya.

Biarkan kami bahagia menantikan kehadir sepupu Bebi Jesi juga akan lahir sebentar lagi.

Bersiaplah.


@CleverClass, Cilacap, 16 Mei 2019: 08.54.
Betty Irwanti Joko
Ibu Jesi
Nyi Bejo Pribumiluhur

#1018kata

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »