Kotak Amal Masjid Dekat Rumah Clever

12.13



Ramadhan Writing Challenge
#RCO 
#Day19
#OneDayOnePost
#Kotak Amal

Pas dimasukin 500... bunyinya kedengaran banget. Klontang! Haduh... Aku kan jadi malu.

Apalagi kalau salat jamaah terus kotak amalnya muter, pas sampai di depanku aku nggak masukin uang sepeserpun. Terus banyak jamaah lain yang memperhatikanku. Duh... Malunya. Asli. Tapi sungguh, aku benar-benar lupa. Bukan maksud di sengaja.

Sama ketika kapan waktu aku pergi sekolah tapi membawa serta Bebi Jesi karena Mbah Uti sibuk ada acara tertentu. Dia minta mainan naik turun seluncuran. Nah, posisi berdiri dengan gamis panjang dan memakai sandal ternyata sedikit menyulitkan. Karena Bebi Jesi berlarian, begitu sampai dia akan mengejar anak tangga lagi untuk naik kembali.

Saat tidak begitu siap, aku sedikit menundukkan badan. Entah kenapa gamis panjang terlipat kemudian sandalku menginjak salah satu ujungnya. Alhasil aku hampir terjerembab ke belakang. Bersyukur aku tidak limbung, hanya oleng sesaat. Tapi malunya itu lho, ibu-ibu di belakangku kan banyak. Mereka pasti memperhatikan. Ah, pasrah. Malu itu sudah biasa. Yang penting puteri kecilnya posisi aman terkendali.

Aman dan nyaman juga menjadi syarat utama yang menjadi standar saat Bebi Jesi bermain sendiri maupun dengan temannya. 

Saat ia bermain di dalam rumah, sudah pasti pengawasan satu orang harus selalu ada. Dia tidak akan dibiarkan begitu saja sendiri. Apalagi sudah sering naik turun kursi sendiri. Naik turun jendela sendiri. Naik turun ranjang yang lumayan tinggi sendiri. Harus dalam pengawasan penuh. Jangan sampai tiba-tiba ada suara klontang.... Tau-tau anaknya ngruwel kemudian. Na'udzubillahi mindzalik.

Bebi Jesi selalu dalam pengawasan orang-orang dewasa di sekitarnya. Termasuk ketika harus berada di rumah Mbak Maya. Tetangga dekat rumah yang sudah seperti keluarga sendiri. Keluarga yang bisa membuat Bebi Jesi nyaman karena sepenuhnya perhatian. 

Kadang memang ada kejadian istimewa. Dimana orang asing justru lebih memperhatikan dari pada keluarga sendiri. Dimana orang dari luar keluarga besar justru sebegitu akrab dengan kita lebih dari sekedar tetangga sendiri. 

Mungkin itulah yang disebut dengan persaudaraan yang didasarkan atas ketulusan. Tulus ikhlas memberikan perhatian tanpa banyak tendensi dan kepentingan. Murni hanya ingin berbagi kasih sayang tanpa perlu banyak alasan.

Alasan-alasan yang kadang tidak masuk akal dijadikan dasar untuk tidak memperhatikan keluarga. Alasan-alasan yang murni atas nama keegoisan sering membuat kita sombong bahwa kita bisa hidup sendirian. Padahal ada keluarga yang seharusnya jadi sandaran dan tempat untuk belajar, berbagi dan bersama dalam berbagai keadaan.

"Ibu, sudah pilih-pilih belum?"
"Pilih-pilih apa?"
"Ibu maunya milih apa?"
"Milih baju sudah, Kakak, Bebi, Kakung, Uti, Ayah, Ibu, dan Tami. Terus milih apalagi?"
"Emang kita nggak mau bagi-bagi?"
"Bagi-bagi apa?"
"Emang nggak ingat agenda tahunan kita kalau pas bulan puasa begini?"
"Ini sudah mendekati akhir Ramadhan Yah?"
"Lha, makanya itu. Ayah tanya soal milih Pacitan?"
"Oh, Pacitan. Milih lah. Ini ibu nunggu ayah dong. Masa milih sendirian. Nggak asyik."
"Ya sudah, nanti malam saja apa ke Bu Maya."
"Oke..."

Belajar untuk konsisten memberikan perhatian kepada keluarga besar meski setahun sekali rasanya perlu. Itu caraku berbagi atas segala yang didapat tahun ini. 

Sore hari di Toko Bu Maya,

"Bu, mau milih apa sih?"
"Ya situ, ayah yang milih sendiri biar puas."
"Lha sih, kan biasanya Ibu yang milih. Aku terima beres."
"Aku milih juga, buat Biyung. Kangen aku, pengen silaturrahmi. Tahun kemarin kan kita fokus Om Rudi nikahan. Biyung kelewat, kasihan deh."
"Oh, ya sudah. Terus Mbah Uti sudah suruh milih?"
"Sudah semalam, lah emang Ayah nggak lihat ada kardus besar begitu di kamar."
"Oh, apa iya sih..."

Ayah Jose senyum-senyum. Sambil menggendong Bebi Jesi. 

"Ayah, Jesi mau turun."
"Mau ngapain sayang?"
"Mau duduk,"
"Oke..."

Ternyata Bebi Jesi tanggap, dia mau turun sendiri dan minta duduk. Dia tahu Ayah dan ibunya sedang sibuk agenda persiapan lebaran tahun ini.

Beberapa saat kemudian,

"Ayah, Jesi mau es krim?"
"Es krim?"
"Iya, rasa cokelat. Jesi mau ambil sendiri."
"Emang bisa sendiri?"
"Jesi, gendong Ayah..."
"Oke...."

Bebi Jesi memilih es krim dimaui. Kemudian minta turun dan duduk kembali di tempat semula. Bu Maya yang sedang sibuk pun tersenyum dan memperhatikan rupanya.

"Jesi, manut banget ya?"
"He eh"
"Tadi juga manut sama Mbak Maya ya pas sama Mbah Uti."
"He eh"

Aku menoleh, "Iyakah, Bu. Syukurlah. Jadi nggak bikin riweh. Kalau lagi bolong ya emang gitu. Tapi kalau lagi rapet ya tahu sendiri ya Bu..."

Bu Maya tertawa. Tetiba dia sibuk memasukkan selembar uang kertas ke dalam kotak Amal yang ada di lemari depan. Aku jadi penasaran.

"Kenapa sih Bu?"
"Itu tadi ada yang belanja, kembalian nggak diambil. Tak masukin kotak amal aja masjid aja."
"Oh, iya. Siip..."

Entah mengapa Bebi Jesi menyahut obrolanku dengan bu Maya.

"Jesi, tadi malam mainan? Mainan di masjid. Dekat pintu ada kotak,"
"Kotak?" jawab Bu Maya spontan. 
"Iya, kotak amal. Besar. Dekat pintu masjid."
"Jesi tadi malam tarawih?"
"Iya, Jesi kan manut."

Aku dan bu Maya sama-sama tersenyum. Ayah Jose yang kemudian menyahut.

"Iya, Jesi semalam manut. Ayah salat, Jesi duduk anteng. Ikut salat juga."
Bebi Jesi menengok ayahnya, "Jesi duduk di jendela dekat Ayah,"
"He eh..."
"Terus Jesi naik meja dekat pintu, salat..."
"Jangan naik sayang?"
"Nggak papa kok nggak papa..."
"Iya, tapi hati-hati ya..."
"He eh"

Bebi Jesi memang suka naik meja di pojok depan ruang salat perempuan, tapi ada aku di sana yang menjaga. Aku sengaja mengambil shaf paling depan saat tarawih, supaya bisa memantau Bebi Jesi yang duduk dekat jendela di samping ayahnya. Kalau tidak kondusif kan segara bisa ambil tindakan. Biasanya akan langsung geret sajadah lalu pindah ke serambi depan.

Serambi depan pada awal Ramadhan tahun ini, penuh. Sebab ruang dalam masjid tidak bisa menampung semua jamaah. Serambi depan juga dipakai untuk jamaah yang punya tanggungan jaga anak, biar bisa mengawasi sekaligus bisa tetap mengikuti salat tarawih. Selayaknya Salat Tarawih Dua Shift yang kulakukan bersama Ayah Jose. 

Biasanya aku menggelar sajadah dekat pintu, tepat berseberangan dengan kotak amal masjid yang bentuknya besar. Terbuat dari kayu dan diberi cat warna cokelat. Serupa kotak tampung uang kalau pas di hujatan itu. Kan ada juga yang bentuknya lebih kecil, yang dibawa keliling kalau lagi jamaah besar, pas Jumatan, pengajian, salat ied, dan lain-lain. 

Biasanya juga Mbah Kakung yang simpan kotak amal masjid. Kecuali jika sudah akan direkap dan ditulis di papan masjid, Mbah Kakung bakal menghitungnya bersama bendahara ta'mir masjid. Bendahara yang datang ke rumah membawa kunci kotak amal. Karena Mbah Kakung memang tidak memegang kuncinya.

Nah, niatnya aku kepengen nukar receh nanti. Sebab Ayah Jose tidak menukar uang receh yang baru cetak itu. Dia terlewat. Katanya dengan alasan waktu booking harus menyerahkan uang sekalian, tapi gambaran belum ada. Jadi, terima apa adanya saja meskipun bukan uang cetak baru tapi kan yang penting uang toh.

Emang ada yang akan menolak uang hanya karena rupanya yang sudah lecek? Seringnya uang lecek banyak banget di kotak amal masjid kan?

Uangnya kertas, nominal paling sedikit dan dilipat-lipat sampai kecil. Pas kotak amal lewat, plung... Ngruwel deh... Untung aja nggak bunyi. Hehehe

Kalau aku sih bagaimanapun wujudnya yang penting itu uang dan laku. Iya, kan?


🌸

@RumahClever, Cilacap, 31 Mei 2019: 11.53.
Betty Irwanti Joko 
Ibu Jesi 
Nyi Bejo Pribumiluhur

#1145kata


Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »