Malam 17 Ramadhan

13.50


Ramadhan Writing Challenge
#RCO 
#Day17
#OneDayOnePost
#NuzululQur'an

Nuzulul Qur'an adalah waktu turunnya (wahyu) Al Qur'an pertama kali kepada Nabi Muhammad saw ketika beliau menyepi di Gua Hira pada tanggal 17 Ramadhan pada usia beliau yang ke 40 tahun.

Nuzulul Qur'an di Ramadhan tahun 1440 H jatuh pada tanggal 22 Mei 2019 malam Rabu pasaran Pahing. Malam yang berlalu seperti biasanya, tidak ada kajian khusus di masjid dekat rumah Ibu Jesi, tempat ia biasa Salat Tarawih Dua Shift bersama Ayah Jose. 

Malam itu Ayah Jose mengutarakan maksudnya tentang sesuatu. 

"Bu, besok Sabtu sore Ayah mulai i'tikaf di Masjid sekolah."
Ibu Jesi bergeming, sibuk dengan Bebi Jesi. 
"Ayah baru pulang Selasa sore. Ayah pasti bakal kangen banget sama Bebi,"
Ibu Jesi dan Bebi Jesi kompak menengok, entah kenapa.
"Malamnya Ayah full kegiatan, paginya juga. Soalnya anak-anak masih berangkat."
"Biasanya kalau nginep begitu, ayah suka mumet-mumet setelahnya. Jangan lupa sedia obat ya," jawab Ibu Jesi kemudian.
"Ngantuk aja sih masalahnya, sama kangen."
"Halah, kangen. Emangnya Ibu nggak."
Ayah Jose mengerucutkan bibirnya kemudian mencium Bebi Jesi.
"Ibu, ndaftar dicium boleh nggak?"
"Halah, Ibu mah sukanya copas deh."
"Copas?"
Ayah Jose melengos.

Ibu Jesi belum terlalu memikirkan apa yang Ayah Jose sampaikan. Ia sedang sibuk merasakan PMS, kebetulan sore tadi sudah muncul tanda-tanda. Setelah buka puasa, tanda itu benar-benar jelas adanya. Itu berarti beberapa hari ke depan Ibu Jesi tidak puasa.

"Yah, Ibu menstruasi."
"Ya, biarin. Emang kenapa? Emang mau berhenti menstruasi?"
"Ayah, Ih... Nyebelin"
Ayah Jose tertawa. Sibuk bersenda gurau dengan puteri kecilnya.

Ibu Jesi meraih kunci sepeda motornya, "Ayuk, Jes. Jalan-jalan!"
"Kemana?"
"Biasanya ke mana?"
"Nyari gorengan?"
"He eh"
Bebi Jesi merangkul ayahnya, "Jesi, mau sama Ayah."
"Ya sudah sana sama Ayah. Ibu yang di depan."
"Lha, emang biasanya juga kayak gitu kan?"
"He eh"

"Kakak nggak ikut?" Jesi spontan bertanya pada ayahnya.
"Nggak, Kakak di rumah Mbak Maya."
"Oh..." bibir Bebi Jesi membulat.

Sepanjang perjalanan Ayah Jose dan Bebi Jesi mengobrol, entah apa topik pembicaraan mereka berdua. Ibu Jesi tidak begitu jelas mendengarkan.

"Yah, kita bablasin ke panjatan sana ya."
"Beli gorengan yang di sana?"
"Iya. Sama kepengen beli es pisang ijo yang di depan balai desa itu."
"Oh, ya ayuk lah. Kita mah nurut aja apa yang Ibu mau. Ya kan, Jes?"
"He eh."

Rupanya Ibu penjual es pisang ijonya sedang hamil, dan Ibu Jesi selalu penasaran kalau melihat ibu-ibu yang sedang hamil.

"Bu, minta izin ngelus perutnya ya."
"Oh, boleh-boleh bu."

Bebi Jesi bereaksi kemudian, "Ibu... Nggak boleh..."
"Apa sayang?"
"Ibu punya Jesssi,"
"Oh, iya. Oke oke. Ibu cuman punya Jesi sama Kakak."

Ibu penjual es mungkin penasaran, "Adek, sini turun."
"Aja..."

Yah, Jesi. Kamu ini hmmmhmm. Bikin gemess. 
"Berapa bu?"
"Satu bungkus lima ribu, bu. Tiga, jadi lima belas ribu."

Ibu Jesi menyodorkan dua lembar uang kertas bergambar pahlawan. Ada kembalian yang diberikan Ibu penjual. 
"Matur nuwun nggih Bu"
"Sami-sami ..."

"Ayuk, Jes. Kita pulang. Hunting sudah selesai."

Ibu Jesi memacu sepeda motor dengan pelan. Menikmati suasana ngabuburit bersama The Clever Family yang selalu bahagia dalam segala keadaan. 

Bahagia? Insyaallah. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi orang yang sedang berpuasa selain saat berbuka kala waktunya tiba.

"Allahummalakasumtu wabikaaamantu...."

"Sudah buka Yah, ini teh manisnya."
"Terima kasih, Bu."
"Ayah nggak coba minum es yang tadi kita beli?"
"Nanti aja kalau sudah salat Maghrib."
"Oke."

"Ibu... Jesi mau salat..."
"Oke... Wudu dulu yukk"

Selesai salat kami sekeluarga berkumpul di ruang keluarga, seperti biasa.

"Ayah, tadi Jesi lihat dedek?"
"Dedek?"
"Iya, di perut Ibu?"

Ibu Jesi dan Ayah Jose saling berpandangan tak mengerti.

"Jesi tadi tanya dedek yang di perut?"
"Ooo,"
"Jesi tadi tanya apa sama dedeknya?"
"Dedek, dedek lagi ngapain?"
"Dedeknya lagi ngapain?" tanya Ayah Jose.
"Lagi tidur."
"Ooo,"
"Orang Jesi tanya malah diem aja"

"Oalah Jesi, Jesi. Kamu berimajinasi kah nak?" ujar Ibu Jesi. Ayah Jose tersenyum. "Namanya juga Cleverona, dia anak yang cerdas. Imajinasi bagus. Khayalannya tinggi."
"Khayalan?" tanya Ibu Jesi spontan. 
"Memangnya kamu pikir ada anak dalam kandungan yang bisa diajak ngobrol?"
"Ya nggak lah."
"Lha makanya itu dia bilang, dedeknya nggak jawab. Dedeknya sedang tidur. Itu kan bisa dibilang meski dia menghayal tapi tetap pakai logika. Kan nggak mungkin tiba-tiba dedek bayi dalam perut bisa ngomong."

Panjang lebar Ayah Jose menjelaskan, Ibu Jesi justru sibuk melayani puteri kecilnya yang minta nyanyi-nyanyi, alias minta setel VCD yang isinya nyanyian semua. Ya sudahlah. Emak sama bapaknya ngalah aja dulu. Mau makan es pisang ijo juga.

Ibu Jesi tiba-tiba saja bertanya, "Ayah. Kamu jangan cuma berhayal kepengen khatam Al Qur'an Ramadhan ini Yah? Aku lihat kamu jarang baca kok!"
"Ibu ini benar-benar sudah berhayal. Kamu sudah jus berapa coba?"
"Ibu kan sedang libur."
"Sekarang malam tanggal berapa?"
"Malam tanggal 17, Nuzulul Qur'an dong"
"Nah, itu jumlah jusku dong. Jus 17."
"Yakin?"
"Yakin dong. Susul aku deh besok kalau Ibu dah sembuh. Ayah paling sudah jus 20 an"
"Keruan..."

Ayah Jose berjalan ke arah dapur kemudian kembali dengan membawa mangkok berisi es yang tadi sore dibeli sambil ngabuburit.
"Bu, es nya encer ya. Nggak kayak yang di dekat pertigaan Gumilir itu. Enak."
"Iya, kok. Yang di perempatan Bandengan itu juga enak."
"Kapan ya Bu, kita ke sana."
"Kapan waktu ayuk ah, udah kangen kepengen jalan juga"

Ayah Jose mencolek pipi istrinya, "Emang THR sudah turun?"
Ibu Jesi mengangkat kedua bahunya, "Entahlah. Hilal THR belum tampak"

Mereka menunggu adzan berkumandang sambil bercengkerama riang. Lelah bekerja seharian bahkan hilang, yang tersisa hanya keceriaan. Bahkan pada suatu hari Ayah Jose pernah menuliskan chat romantis untuk istri tercintanya.

"Jangan berdiri di depanku, sayang. Karena kau bukan ratuku. Jangan berdiri di belakangku, sayang. Karena kau bukan prajuritku. Tapi berdirilah di sampingku, karena kau adalah kekasihku."

Hati perempuan mana yang tak meleleh membaca chat demikian dari pasangan hidupnya. Ibu Jesi tak mau kalah, dia pun membalasnya dengan.

"Terima kasih sayang. I love you. Setiap detik yang kurasakan bersamamu hanyalah hikmah dan kebahagian."

Rasanya pas dua orang ini menjadi pasangan romantis paman now. Bagaimana tidak? Masih ada balasan selanjutnya dan selanjutnya lho. Apakah kamu masih tidak percaya?

"Mencintaimu adalah hal biasa yang luar biasa bagiku"

"Izinkan aku mencintaimu terus dan terus hingga akhir nanti."

Aamiin ya Allah Robbal 'alamiin....

🌸

@RumahClever, Cilacap, 27 Mei 2019: 23.13.38.
Betty Irwanti Joko 
Ibu Jesi 
Nyi Bejo Pribumiluhur

#1027kata

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »