Rembulan Membelah Keramik Masjid

00.23


Ramadhan Writing Challenge
#RCO
#Day14
#OneDayOnePost
#Keramik Masjid

Sikapmu itu kayak keramik Masjid. Dingin! Namun membuatku selalu rindu untuk selalu mendekat.

Sikapku itu kayak rembulan. Hangat! Namun kadang hadirku terhalang awan gelap, hitam nan pekat.

Malam ini rembulan sampai di bentuk yang sempurna, bulat indah berwarna jingga menghangat.

Malam ini rembulan serupa purnama yang menandakan bahwa Ramadhan tahun 2019 tinggal separuh lagi masanya.

Malam ini rembulan membelah keramik Masjid dekat rumah dengan sempurna pula. Sebab keramik Masjid tak terhalang oleh bentangan sajadah. Sajadah-sajadah itu mungkin masih terlihat rapi di tumpukan perlengkapan salat sang empunya, di rumah.

Kakak saja kalah, malam ini sepertinya ia lelah. Mbah Uti saja kalah, malam ini sepertinya beliau lungkrah. Beda dengan puteri kecilnya Ibu Jesi yang bernama Cleverona Bintang Aljazira. Gadis kecil berumur 28 bulan itu sangat bersemangat untuk menggelar sajadah di keramik Masjid yang berwarna putih bersih bersama ibunya.

"Jesi, kita di luar saja ya?"
"He eh"

Ada alasan mengapa Ibunya meminta di luar saja, tidak masuk ke dalam ruangan masjid. Pasti sudah kan, kenapa?

"Ibu Jesi nggak salat?"
"Lagi halangan."
"Lagi halangan kok ke masjid?"
"Saya hanya di luar, menjaga Jesi. Ayahnya yang masuk masjid, salat di dalam."

Orang yang bertanya berlalu kemudian. Ibu Jesi bahkan baru saja akan menjelaskan.

Bebi Jesi maunya ke masjid, tidak ada yang bisa mencegah. Lantas apakah halangan ibunya itu menjadi halangan baginya untuk belajar meramaikan masjid?

Ibu Jesi memilih menjaga semangat puteri kecilnya dengan menjaga dari awal sampai akhir waktu salat tarawih di luar masjid. Ia duduk di pojok tiang depan dan duduk di satu keramik bawah dekat sandal jamaah di letakkan. Tidak ada batas suci yang ia langgar.

Atau kadang jika Bebi Jesi sangat tenang, ia duduk di keramik bangunan depan TPQ yang letaknya berdekatan dengan masjid. Ia hanya melihat Bebi Jesi dari jauh.

Biarkan Ayah Jose menyelesaikan salat tarawihnya dengan khusyuk. Sebab konsentrasi bisa saja terbagi saat Salat Tarawih Dua Shift. Dan mungkin sebentar lagi teknis itu segera diberlakukan kembali. Kan halangan tidak selamanya datang, ia hanya datang setiap bulan. Sama seperti jatah gajian yang masuk lewat saja ke rekening. Setelah seminggu yang tersisa hanya angka di setruk pengambilan. Eh. Hehee.

"Ibu, nggak salat?"
"Nggak, sayang."
"Ibu jagain Jesssi?"
"Iya, sayang."
"Jesi mau main jaranan , boleh?"
"Boleh, pakai apa?"
"Sapu, nih..." jawab Bebi Jesi sambil mengulurkan tangan yang menggenggam sapu berwarna hijau.
"Hati-hati mainnya ya!"
"Iya, Ibu. Jesi main sama Mbak Tami."

Oke. Baiklah. Selamat bermain sayang. Izinkan Ibu untuk menyapu pandangan ya.

Sejauh mata memandang yang terlihat banyak anak kecil di luar masjid sedang duduk di teras. Entah apa yang mereka lakukan. Gaduh sekali. Beberapa kali sudah diingatkan tapi tetap saja, ada yang memulai obrolan-obrolan.

Ah, namanya juga anak kecil. Berisik itu sudah biasa. Tergantung dari mana kita melihat. Kalau Ibu Jesi sih, sudah biasa menghadapi anak-anak yang suka berisik saat pembelajaran berlangsung di sekolahan.

Ini di masjid. Sebenarnya banyak sekali pembelajaran yang bisa di ambil jika saja mau mempelajari, apalagi mengalaminya.

Contoh saat Mbah Uti cerita kapan waktu itu, "Mau tes ana bocah sing diomeih maning. Gara-gara berisik nang masjid."
(Tadi habis ada anak yang dimarahin lagi, Gara-gara berisik di masjid)

"Siapa Mbah?"
"Yang berisik ya anak itu-itu saja sebenarnya. Kalau aku si maklum," jawab Mbah Uti.
"Sing ngomeih sapa?"
(Yang marahi siapa?)
"Sing ngomeih ya wong biasa kae."
(Yang marahin ya orang biasa itu.)

Senyap.
"Sebenere kadang suarane sing ngomeih gue lewih seru lho daripada sing brisik. Mbok lewih ngganggu?"
(Sebenarnya kadang suaranya yang marahin itu lebih keras daripada yang berisik. Kan lebih mengganggu?"

Iya memang benar. Kadang yang mengingatkan anak berisik itu jauh lebih keras. Kadang malah suka lebai, pakai ngasih segala.

"Makane aku cokan njawab, lah berisik ya emen. Wong masjid digawe kan ben digawe rame. Ora sepi. Sepi nek lagi pada salat gue ya apik. Tapi nek sing salat kur wong tua thok, emange masjid kur digawe go wong tua thok? Bocah cilik juga kepengin meng masjid,"

(Makanya aku suka menjawab, lah berisik ya biarkan saja. Masjid kan dibangun untuk diramaikan. Tidak dibiarkan sepi begitu saja. Sepi itu sudah biasa kalau salat. Tapi kalau yang salat hanya orang tua saja, memangnya masjid hanya dibuat untuk orang tua? Anak kecil kan juga ingin ke masjid.)

Mbah Uti nih cerdas ya. Hmhmm. Berani tepatnya. Beliau berani menjawab para orang tua kolot yang kalau ada anak berisik di masjid itu suka ribut, bahkan kadang suka ngajak gelut malah.

"Lah aku pernah njawab malah. Nek bocah cilik teka, ya ben. Kudung dewek mbok seneng, ndeleng bocah pada Angeles meng masjid. Daripada nang umah ngapa? Berisik ya ben. Sing penting diawasi. Aja bisane kur diomeih. Emange mengko nek wong tua wis pada langka, masjid arep go sapa? Go rayap?"

(Lah aku juga pernah menjawab. Kalau anak kecil pada adakan ke masjid, ya biarkan. Bukankah seharusnya para orang dewasa itu senang? Anaknya mau datang ke masjid. Berisik ya biarkan. Yang penting diawasi. Jangan bisanya hanya memarahi. Memangnya nanti kalau para orang tua sepuh sudah pada nggak ada, mainnya mau buat siapa? Untuk rayap?")

Asli Ibu Jesi dan Ayah Jose kasih empat jempol untuk Mbah Uti. Pemikirannya sangat moderat sekali. Kenapa? Karena beliau biasa menjaga anak kecil bahkan sejak ada kakak dan sekarang ada Bebi Jesi. Beliau merasa harus membela anak, selama anaknya bisa diserahi amanat.

Amanat? Iya. Amanat untuk tidak sembarangan bertingkah laku saat berada di lingkungan masjid. Apakah ada yang suka sembarangan? Banyak. Dan mereka memang harus diingatkan. Jika bisa dengan suara pelan kenapa harus berteriak dari jauh, dekati saja. Suruh mereka tertib. Insyaallah jika kita bicara dengan hati dan lemah lembut, anak akan menurut.

"Ibu, Jesi mau pulang."
"Sudah selesai tarawihnya nak?"
"He eh"
"Nanti tunggu Ayah ya."
"Ayah, di depan?"
"Iya,"
"Jesi mau ke Ayah."
"Jesi kangen ya sama Ayah?"
"He eh"

Ya sudah. Kita pulang yuk Jes. Kita tinggalkan keramik Masjid yang akan sempurna menampilkan bentuk rembulan purnama malam ini. Sampai jumpa lagi esok hari dengan semangat mengajak Bebi Jesi. Itu pasti.

"Jes, Kakak nggak naruhnya bedug?" tanya Mbah Kakung saat menghampiri Ayah Jose yang menggendongnya.
"Kakak nggak berangkat Mbah, mungkin dia lelah," jawab Ibu Jesi sambil melipat sajadah yang diberikan Ayah Jose padanya.

🌸

@RumahClever, Cilacap, 20 Mei 2019: 00.17.
Betty Irwanti Joko
Ibu Jesi
Nyi Bejo Pribumiluhur

#1028kata

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »