Grand Opening Toko Gramedia Cilacap

16.00 3




Temukan Inspirasi Baru Bersama Gramedia Cilacap

Bismillah

Alhamdulillah

Senang sekali rasanya menjadi bagian dari acara besar serupa Grand Opening Toko Gramedia Cilacap ini. Acara pertama yang sama sekali tak pernah kubayangkan sebelumnya bakal mengisi hari di akhir bulan Juni.

Pra acara di isi beberapa penampilan yang sungguh sangat menawan hati. Ada siswi sebuah SMP di kota Cilacap membawakan sebuah lagu dengan jangkauan oktaf yang lumayan. Berikutnya ada siswa SD Negeri Kubangkangkung 03 yang bernama Elisa membawakan lagu Anoman Obong dengan sangat luar biasa. Sajian penutup ada musikalisasi puisi yang tak kalah menginspirasi.

Acara resmi dimulai sekitar pukul 09.05 yang diawali dengan penyerahan parcel buku oleh Bapak Guntoro selaku General Manager. Dalam sambutannya, Bapak Guntoro menyampaikan Selamat atas dibukanya Toko Gramedia Cilacap yang merupakan ke Store ke 118. Semoga bisa menjadi khazanah dunia Literasi, Cilacap punya banyak potensi. Mengakses dunia pustaka dengan cepat dan mudah semoga semakin bertumbuh dan semakin meningkat.

Sambutan berikutnya di sampaikan oleh Bapak Maryanto, Perwakilan PT Gentara Mulia Karya Media Cilacap. Beliau mengucapkan terima kasih atas kehadiran para perwakilan Gramedia Store Yogyakarta, Solo, Tegal dan Purwokerto yang sudah berkenan datang memenuhi undangan Gramedia Cilacap.

Beliau punya keyakinan untuk ikut serta mencerdaskan bangsa melalui Toko Gramedia yang segera akan dibuka. Kenapa Cilacap? Ada banyak alasan kenapa harus di kota Cilacap Bercahaya.

Mencoba melihat dari Google, dari sejarah diadopsi dari bahasa Sunda. Cilacap: tanah dan lancip yang menjorok ke laut. Letaknya spesifik, kekayaan ada laut juga berhubungan dengan berbagai budaya, etnis yang saling berhubungan. Cilacap kaya akan bahasa, dari bahasa Ngapak di bagian timur sampai Sunda di wilayah bagian barat. Wilayah keseluruhan mencakup 6,2% dari luas Pulau Jawa.

Cilacap satu-satunya Kabupaten yang punya dua kode nomor telepon, yaitu 0280 dan 0282. Sekolah-sekolah sudah banyak dari SD sampai perguruan tinggi. Dari ekonomi, sudah ada Rita, pasar modern, di samping pasar tradisional (Pasar Wage, Pasar Legi, dengan nama hari pasaran). Sarana transportasi mudah dari terminal, kereta, dan bandara. Ini menjadikan acara Grand Opening tak hanya dapat dihadiri oleh orang Cilacap pribumi, tapi juga dihadiri oleh orang Cilacap yang sudah merantau dan sukses di luar daerah. Yang paling spesial dari Cilacap ada Nusakambangan, Alcatrasnya Indonesia seperti yang ada Di California.

Palugada , apa lu mau gua ada. Menyediakan kebutuhan yang berhubungan dengan kertas, bisa juga untuk tempat mencari informasi. Semoga kita semua bisa menjadi bagian Dari Literasi dan bagi komunitas yang ada. Kepada ruko tetangga

Acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng dan pembacaan do'a. Di sesi akhir sebelum pemotongan pita Bapak Supriyanto, SH, M.SI. selaku Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Cilacap memberikan sambutannya.

Selamat atas dibukanya Toko Gramedia Cilacap, Store yang ke-118. Angka 118 kalau digabung jadi 10, perfect. Menilik hasil survei kemampuan baca 0,005, semoga dengan kehadiran Gramedia akan menjadikan peningkatan minat baca masyarakat Cilacap pada umumnya.

Sejatinya ada dua transformasi dalam dunia perpustakaan masa kini. Perpustakaan berbasis kegiatan dan perpustakaan berbasis inflasi sosial. Mari bertumbuh bersama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia.

Terima kasih telah memilih Cilacap. Cilacap ekonominya luar biasa. Cilacap pertamina The biggest. PLTU ada tiga. Pabrik semen yang sudah ganti nama juga ada.

Hadirnya Toko Gramedia Cilacap membawa angin segar bagi para pegiat literasi yang akhir-akhir ini tumbuh bagai jamur di musim kemarau. Semoga bisa membesarkan minat baca di Cilacap, dan bisa membawa peningkatan minat baca bagi bangsa Indonesia. Dari 62 negara, Indonesia ada di peringkat 61. Sungguh-sungguh perlu dibenahi bersama bukan?

Mari bersama-sama mengapresiasi Gramedia sebagai upaya peningkatan mencerdaskan kehidupan bangsa. Sesuai dengan program Cerdas Indonesia 2024 yang dicanangkan Bapak Jokowi.

Bapak Supriyanto menutup sambutannya dengan memberikan dua jempol untuk sajian pra acara yang serupa acara Indonesia Got Talent Di TV, sesuatu yang sangat unik.

Beliau kemudian memotong pita yang dipasang di depan pintu Toko Gramedia Cilacap. Sepersekian detik kemudian resmilah Store dibuka dan melayani 150 pengunjung yang beruntung mendapatkan voucher gratis Rp. 100.000 dan Rp. 50.000.

Ada kesempatan flash sale juga yang dibagikan pada para pengunjung yang tertib antre sejak awal acara. Semua terlihat riuh seiring datangnya kereta pawai customer Gramedia yang berjalan dari Alun-alun Cilacap Kota.

Selamat atas dibukanya Toko Gramedia di Ngapak City Kota Cilacap Bercahaya. Mari temukan inspirasi baru Bersama Gramedia Cilacap.

Menurut siaran persyaratan, Gramedia Cilacap masih memberikan Promo bagi pengunjungnya.

Pengunjung masih bisa mendapatkan hadiah langsung berupa flashdisk, speaker, mouse, merchandise, buku maupun printer dengan berbelanja minimal Rp. 250.000 di tanggal 29 Juni – 7 Juli 2019. Untuk produk buku terbitan Gramedia, selama periode 29 Juni – 7 Juli, terdapat diskon 30%  yang berlaku khusus untuk member My Value dan New Member My Value dan akan ditambah diskon 10% lagi untuk pengunjung yang membawa brosur opening Gramedia Cilacap.

Dengan konsep New Identity, Gramedia kembali hadir untuk memperkaya ide serta kreativitas masyarakat di Cilacap. Gramedia berharap dapat berperan aktif dalam mencerahkan kehidupan masyarakat. Jadi tunggu apalagi, datang dan temukan inspirasi baru bersama Gramedia Cilacap. (Alchia Amanda Putri/Public Relations Gramedia)

๐ŸŒธ

@RumahClever, Cilacap, 29 Juni 2019: 15.39
Betty Irwanti Joko
Ibu Jesi
Nyi Bejo Pribumiluhur

Petasan Atau Jeblugan?

09.54 1


Ramadhan Writing Challenge
#RCO
#Day28
#OneDayOnePost
#Petasan

Dilansir dari Wikipedia dapat diketahui bahwa petasan (juga dikenal sebagai mercon) adalah peledak berupa bubuk yang dikemas dalam beberapa lapis kertas, biasanya bersumbu, digunakan untuk memeriahkan berbagai peristiwa, seperti perayaan tahun baru, perkawinan, dan sebagainya. Benda ini berdaya ledak rendah atau low explosive. Bubuk yang digunakan sebagai isi petasan merupakan bahan peledak kimia yang membuatnya dapat meledak pada kondisi tertentu.

Di Indonesia, petasan sudah menjadi salah satu hal yang biasa ditemui, terutama pada saat bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Kebanyakan anak-anak sesudah sahur bermain petasan dan kembang api. Mereka dengan seenaknya melempar petasan–petasan yang mereka bawa pada teman-temannya atau mobil yang sedang lewat, tanpa memikirkan akibatnya.

Petasan dan sebangsanya memang barang gelap, yang berarti benda larangan. Sejak zaman Belanda sudah ada aturannya dalam Lembaran Negara (LN) tahun 1940 Nomor 41 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Bunga Api 1939, di mana di antara lain adanya ancaman pidana kurungan tiga bulan dan denda Rp 7.500 apabila melanggar ketentuan "membuat, menjual, menyimpan, mengangkut bunga api dan petasan yang tidak sesuai standar pembuatan".

Mungkin karena peraturan tersebut dianggap sudah kuno dan "terlalu antik", maka pemerintah telah mengeluarkan berbagai macam peraturan, diantaranya UU Darurat 1951 yang ancamannya bisa mencapai 18 tahun penjara.

Andai semua bisa memahami betapa besar dampak negatif ketimbang dampak positifnya mungkin lebih banyak orang memilih untuk tidak memainkannya.

Dalam beberapa berita di media online maupun fakta di dunia offline, tersiar banyak kabar celaka baik anak-anak atau orang dewasa yang main petasan karena kurangnya kewaspadaan atau kehati-hatian. Akibatnya ada yang tangannya terluka, bagian tubuhnya lain juga terluka, yang paling bahaya adalah matanya terluka. Dunia menjadi gelap karena terkena letupan mercon yang ia sengaja.

Ah, mainlah sedikit. Kelas-kelas mercon banting yang bunyinya nggak seberapa. Itu sedang marak di kalangan anak-anak kecil sebaya Kakak Fatih dan teman sepermainannya. Tapi tetap saja bagiku itu sama sekali bukan tanpa bahaya.

Yang paling membuat gemes bagi para orangtua adalah ketika anak bermain mercon tanpa tahu waktu, tempat dan suasana. Kapan dan di mana saja mereka berada mereka asyik dengan mercon yang sudah mereka punya. Di masjid, sedang waktunya salat ada yang menyalakan mercon. Di jalan, siang hari bolong nyaman mercon. Di sekolah sedang jam istirahat ada saja yang iseng membunyikan petasan. Sungguh, derajat kegemesan para guru jelas meningkat menjelang hari raya.

Beruntung Kakak Fatih tidak begitu tertarik dengan mercon yang bersuara keras nan membahana. Tahun ini justru ia tertarik dengan jeblugan. Apa itu jeblugan?

Jeblugan adalah semacam mainan anak-anak pada era 1970-1980 an. Bisa jadi booming sampai masa 1990-an. Dibuat dari bambu panjang yang bagian dalamnya sudah dibersihkan. Diberi satu lubang di bagian atas sebagai pemantik nyala api. Lubang bagian depan dan belakang ditutup dengan banyak sumpalan. Biasanya disumpal kain atau bahan yang lain. Khusus bagian depan ketika akan dimainkan, sumpalan dibuka supaya suara lebih menggelegar.

Aku sendiri hanya memperhatikan Kakak Fatih yang sangat umrek memainkan jeblugan ini. Beberapa hari dia sangat asyik dengan mainan barunya ini. Sepanjang mata memandang aku melihat dia meniup-niup asap yang begitu pekat menyembul dari dalam batang bambu jeblugan itu. Mamak mertuaku juga sibuk sibuk mengingatkan agar dia tak begitu saja menghirup udara penuh kadar karbon dioksida itu.

"Mbah, Kakak Kemana?"
"Lagi ke rumah temannya, mau beli jeblugan!"
"Beli jeblugan?"
"Iya,"
"Bukannya dia sudah punya?"
"Iya, tapi punya dia nggak jadi. Kukuse ubrung!"
"Lha, sih..."
"Kemarin katanya ada teman nawarin mau jual jeblugannya yang sudah jadi."
"What?? Jualan jeblugan?"
"Nggak jualan sih. Cuma mungkin dia sudah bosan main. Makanya dia jual?"
"Berapa harga satu jeblugan Mbah?"
"Kata Kakak, lima ribu."

Aku manggut-manggut tanda mengerti. Betapa kreatif anak zaman sekarang ini. Sudah bosan punya mainan, mainannya ia jual dengan harga yang pantas dan bisa untuk membeli apa yang dia sukai. Lima ribu itu di sini masih bisa untuk beli jajan yang bervariasi. Mulai dari Cilung, Cimol atau sejenisnya dengan nama depan yang seragam yaitu ci.

Bukan karena di sini daerah Cilacap City, tapi karena jajajan dengan bahan aci (tepung tapioka) juga sedang laris manis seperti larisnya penjual mercon menjelang hari Raya Idul Fitri.

Untung saja Bebi Jesi tidak tertarik dengan mercon sama sekali. Bukan karena dia anak perempuan sedang Kakak Fatih itu laki-laki. Bebi Jesi justru takut dan memilih menjauhi. Aku sangat-sangat bersyukur untuk hal ini. Kenapa? Karena jujur aku tidak suka mercon sama sekali. Ini berarti puteri kecilku nuruni aku.

Bicara turun menurun, secara ilmu biologi jelas anak adalah perpaduan dua gen orang tuanya. Buktinya ya lihat saja Bebi Jesi. Secara fisik puteri kecilku mirip sekali denganku. Kulit, rambut, muka sampai pada proporsional tubuh dia bagai kembaranku, itu kata ibunya.

Tapi coba lihat dari sisi yang lain, dia menyukai jenis makanan apapun, seperti ibunya. Berbeda denganku yang tidak menyukai daging ini dan itu. Bebi Jesi penyuka segala, dia mau makan segalanya tanpa picky. Tidak juga seperti Kakak Fatih yang maunya tiap hari makan pakai telor tanpa mau memilih yang lainnya.

Dari segi sifat dia perpaduan kedua orang tua. Dia pendiam tapi jika sudah mengenal dia akan beramah tamah dengan sungguh-sungguh. Bebi Jesi memiliki karakter ekstrovert juga introvert. Kenapa keduanya? Menurutku percaya dirinya luar biasa tapi dia juga butuh waktu penyesuaian diri ketika masuk lingkungan baru. Bertamu ke rumah orang saja jika baru masuk sudah banyak ditanya ini itu, dia akan langsung mengkeret. Lebih-lebih kalau dicolek sana dicolek sini, tidak perlu lama baginya untuk segera pamit undur diri.

Dia laksana bintang yang menerangi kehidupan keluarga kami, The Clever Family. Keluarga yang selalu merindukan kebersamaan bersama Bebi Jesi tercinta. Bahkan di satu waktu pernah ada yang tiba-tiba datang sebab teleponan tanpa disengaja.

"Om, kembaliin mobilnya Jessi!"
"Mobil?"
"Iya..."

Tanpa dia sadari dia sudah menyulut rindu yang berasap sejak lama. Dia sudah berhasil membuat dua orang manusia berkemas untuk segera menempuh jarak tiga kota. Kebumen, Banyumas dan Cilacap akhirnya.

Dialah Bebi Jesi dengan segala pesona. Dia seperti kembang yang semerbak dan dicari keberadaannya. Tapi dia juga bisa jadi api yang membakar semangat siapapun yang melihat senyumannya.

Semangat untuk selalu sehat dan bahagia. Semangat untuk senantiasa selalu berada di dekatnya. Semangat untuk selalu berkarya.



Sumber informasi tentang deskripsi mercon diambil dari laman web https://id.m.wikipedia.org/wiki/Petasan yang diakses pada pukul 13.21 WIB)

๐ŸŒธ

@RumahClever, Cilacap, 22 Juni 2019: 20.37
Betty Irwanti Joko
Ibu Jesi
Nyi Bejo Pribumiluhur

#1026kata

Amplop Uang Kertas

00.19 1




Ramadhan Writing Challenge
#RCO
#Day27
#OneDayOnePost
#Amplop

Luarnya kertas. Dalamnya kertas. Luarnya tulisan selamat lebaran. Dalamnya gambar pahlawan. Duh, bahagianya.

Ada uang kertas Rp. 1.000 yang memiliki gambar utama tokoh Pahlawan Nasional Kapitan Pattimura dengan bagian belakang Pulau Maitara dan Tidore dengan dominasi warna hijau dan biru. Uang pecahan ini memiliki beberapa unsur pengamanan berupa tanda air bergambar pahlawan nasional, benang pengaman, dan visible ink yang akan memendar dengan bantuan alat. Tahun Emisi 2000 dengan ukuran 141 mm x 65 mm.

Kalau dimasukkan lima lembar saja, lumayanlah bisa buat diberikan anak-anak yang belum begitu paham nominal uang.

Ada uang kertas pecahan Rp. 2.000 Tahun Emisi 2009 ukuran 141 mm x 65 mm memiliki gambar utama tokoh Pahlawan Nasional Pangeran Antasari dengan bagian belakang tarian adat dayak. Dengan dominasi warna abu-abu, uang pecahan ini memiliki beberapa unsur pengamanan berupa tanda air bergambar pahlawan nasional, benang pengaman, dan visible ink yang akan memendar dengan bantuan alat.

Kalau dimasukkan dua lebar kiranya belum patut, dimasukkan tiga lembar masih kurang sreg di hati. Akhirnya lima lembar akan sungguh mantap di hati. Karena jumlah nominal segini saja sudah pas dan menjadi primadona banyak pribadi. Termasuk aku.

Uang kertas dengan Tahun Emisi 2001 berukuran143 mm x 65 Mm adalah uang kertas pecahan Rp. 5.000 yang memiliki dominasi warna hijau dan coklat dengan gambar utama tokoh pahlawan nasional asal Provinsi Aceh Tuanku Imam Bondjol sedangkan pada bagian belakang terdapat gambar pengrajin tenun. Unsur pengamanan yang terdapat pada pecahan ini yaitu: tanda air bergambar Cut Nyak Meuthia yang akan terlihat apabila diterawang, tulisan mikro bertulisakan “Bank Indonesia” yang akan terlihat hanya dengan alat bantu dan benang pengaman yang tertanam di dalam kertas yang akan memendar dibawah sinar UV.

Ini kalau dimasukkan dua lembar saja, sudah cukuplah. Kalau untuk anak-anak yang sekiranya masih saudara empat lembar saja itu sudah bisa jadi pilihan. Atau jika mau, bisa tambahkan satu lembar lagi. Biar dan ambil jika digabungkan bisa untuk beli paket kuota satu bulan penuh. Kalau dua amplop itu dibagi buat aku, bisa buat beli paketan dua bulan, ditambahi sedikit. Hemat pangkal kaya, kan?

Untuk Uang Kertas Pecahan Rp. 10.000, Tahun Emisi 2005 ukuran145 mm x 65 mm memiliki dominasi warna ungu kebiruan dengan desain gambar utama tokoh pahlawan nasional Sultan Mahmud Badaruddin II sedangkan pada bagian belakang rumah adat limas berasal dari daerah Palembang. Unsur pengaman yang terdapat pada uang pecahan ini salah satunya yaitu Rainbow Printing dimana dalam satu bidang tertentu dapat berubah warna apabila dilihat dengan sudut tertentu.

Ini sangat mantap diberikan dalam jumlah berapa saja. Bisa satu, dua, tiga atau empat atau bahkan lima. Mungkin ini khususnya untuk keponakan atau sepupu-sepupu yang masih jomlo ya, eh. Maksudnya untuk mereka yang masih belum punya penghasilan sendiri alias masih sekolah. Begitu. Itu sama dengan jomblo atau bukan? Kalau dalam hari raya imlek kan kayaknya ada ya, acara nyanguni (memberikan angpau pada yang masih sendiri.) Nah, amplop berisi lima lembar uang sepuluh ribuan bisa jadi pilihan yang tepat. Agar si jomlo bisa mengumpulkan amplop sebanyak-banyaknya kemudian bisa buat beli kuota lalu berselancarlah di dunia maya. Siapa tahu di sana kamu akan menemukan jodoh yang selama ini tak pernah kauduga.

Nah, tiga nominal selanjutnya pasti sudah bisa kamu tebak kan? Yap, benar banget.

Uang kertas Pecahan  Rp. 20.000, Rp. 50.000 dan Rp. 100.000 memiliki fitur sekuriti yang lebih tinggi dibandingkan uang kertas pecahan lainnya. Pencetakan dua pecahan ini memerlukan ketelitian khusus dan menggunakan mesin off-set simultan yang mampu mencetak gambar depan dan belakang secara bersamaan dengan tingkat presisi yang tinggi. Dengan teknik ini dapat dihasilkan unsur pengamanan rectoverso, yakni dua gambar yang berbeda di dua sisi berlawanan tetapi apabila diterawang membentuk suatu kesatuan gambar yang utuh. Proses pencetakan dua pecahan ini juga menggunakan teknik cetak intaglio yang akan memberikan hasil cetak timbul pada permukaan kertas uang.

Ada uang Kertas Pecahan Rp. 20.000 dengan tahun Emisi 2004 Ukuran 147 mm x 65 mm memiliki dominasi warna hijau dengan gambar utama tokoh pahlawan nasional Oto Iskandar Muda sedangkan pada bagian belakang bergambar pemetik teh di perkebunan. Uang kertas ini memiliki beberapa fitur pengaman, yaitu : Gambar berupa logo BI yang dapat berubah warna apabila dilihat dari sudut tertentu, latent image tulisan BI dan benang pengaman yang berbentuk seperti anyaman yang akan memendar di bawah sinar ultraviolet

Uang Kertas Pecahan Rp. 50.000 Tahun Emisi 2005 Ukuran 149 mm x 65 mm memiliki dominasi warna biru dengan gambar utama bagian muka adalah tokoh pahlawan Indonesia yang berasal dari Bali I Gusti Ngurah Rai. Pada bagian belakang uang terdapat gambar salah satu destinasi wisata di Pulau Bali yaitu Danau Beratan dengan Pura Ulundanu. Pada uang kertas ini terdapat tanda air/watermark bergambar sama dengan bagian muka dan blind code yang diperuntukkan bagi orang berkebutuhan khusus.

Yang terakhir Uang Kertas Pecahan Rp. 100.000 dengan Tahun Emisi 2004 Ukuran 151 mm x 65 mm memiliki desain gambar utama tokoh proklamasi  Indonesia Ir. Soekarno dan H. Mohammad Hatta di bagian muka dan Gedung DPR/MPR RI di bagian belakang dengan dominasi warna merah. Dalam pencetakan pecahan ini menggunakan teknik cetak intaglio dimana hasil cetakannya akan memunculkan elemen halus sampai tebal yang memberikan kesan kasar apabila diraba. Pecahan ini memiliki unsur pengamanan yang paling tinggi dibanding pecahan lainnya.

Uang kertas berwarna biru bergambar pahlawan dengan nominal Rp. 50.000 bisa jadi jurus andalan. Kadang tanpa perlu dimasukkan ke dalam amplop bisa juga lho buat merayu keponakan yang masih imut kalau susah diajak salaman atau berpelukan. Kasih aja salam tempel dengan syarat, "Salim dulu dong sayang!" pasti anak itu akan mendekatkan tanpa perlu baca-baca terlalu banyak.

Daaannn , taraaa. Yang paling jadi idola adalah uang kertas berwarna merah dengan gambar bapak proklamator Indonesia. Yess, Bapak Soekarno yang super melegenda. Sungguh beliau patut berada di pucuk pimpinan tertinggi dalam segala segi. Termasuk untuk nominal uang kertas tertinggi di negeri ini. Seratus ribu rupiah adalah nominal primadona. Ia selalu tampil dalam setiap gesekan ATM yang diambil oleh customer yang membutuhkan dana untuk apa saja.

Kalau menurutku sih, dua nominal terakhir nggak perlu deh ditaruh di dalam amplop. Sebab sayang kan, kalau hanya aku dan yang diberi amplop yang tahu. Eh, ada Allah juga ya, Yang Maha Tahu. Hehee. Kalau ngasih seratus ribuan gitu langsung cung, tanpa tedeng aling-aling kan waoww, super mantap di hati. Hahaa, pamer dikit boleh kan?

Tapi sungguh, uraian di atas hanya pemanis. Karena seperti tulisan yang pernah digambarkan oleh istriku. Lebaran ini aku tidak nukar uang. Semata-mata ini karena kebingunganku yang tak beralasan.

Waktu itu kulihat istriku sedang tidak ada persediaan. Aku, apalagi. THR belum ada gambaran. Meski pegawai TU di sekolah sudah memberikan banyak kelonggaran tapi ada uang ada barang itu sungguh-sungguh sangat membuat kegalauan.

Tapi namanya rezeki ya, tetap saja aku bisa membagikan uang kertas baru dengan seri yang masih urut. Ah, bahagianya itu hanya ada di dada ini. Dan di dada istriku. Soalnya dia yang pegang kendali urusan sangu menyangu. Meski urusan nominal penukaran dia serahkan sepenuhnya padaku.

"Yah, bilang sama Tante Cantik. Besok kita dibagi tukaran uangnya ya?"
"Lha, itu di grup keluarga Om Rudi juga nawarin..."
"Asyikk, mereka memang terbaik!"
"Emang mau dianggarkan berapa?"
"Ya dua kali separo sama dengan satu dong ya?"
"Ya, satu kali anggaran tahun lalu aja. Gimana?"
"Oke, deh. Besok kita ke Kawunganten ya! Sambil mau cari sesuatu,"
"Apaan?"
"Itu, yang kayak lagi in di statusnya Mbah Cantik?"
"Apaan emang?"
"Lihat aja dulu, lagi pegang gadget kan?"

Aku berselancar kemudian, beberapa saat istriku juga sibuk dengan chattingnya.

"Ah, enggak lah. Aku nggak mau kayak gitu?"
"Lha emang kenapa?"
"Nggak pengen aja!"
"Ya udah, besok hari Minggu kita cari di swalayan Indo aja ya!"

Aku manggut-manggut. Tanda menyetujui usulan istriku tercinta.

Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Pagi-pagi buta sejak Om Rudi nongol di depan rumah dengan Si Merah dan Tante Baik yang sedang hamil, Bebi Jesi terlihat begitu gembira. Tak henti-hentinya dia memandangi si Merah yang lama ia rindukan.

"Hallo, Jesssi."
Yang disapa diam seribu bahasa. Dia tidak melihat orangnya tapi melihat apa yang ada di belakangnya.

Tante Hayyu gemess melihat Bebi Jesi, dia pun mengambur tanpa bisa menahan diri. Memeluk dan menciumi dengan sungguh hati. Mungkin begitu rasanya rindu yang menggunung dan baru bisa pecah saat bertemu.

"Jesssiiii"
Yang disapa masih diam, malah berlari menuju si Merah.
"Ayah, Jesi mau naik!"
"Naik?"
"He eh..."
"Nanti, omnya masih capek. Jesi kan mau jalan-jalan sama Ayah sama Ibu."
"Nggak, Jessi mau naik!"

Om Rudi mendekat, dibukalah pintu Honda Brio berwarna merah yang diklaim oleh Bebi Jesi menjadi miliknya sejak pernah menghuni garasi Rumah Clever.

"Orang mobilnya Jesi malah dipinjam sama Om?"
"Hahaaahaa..."
Semua tertawa tanpa terkecuali, termasuk Mbah Uti dan Mbah Kakung yang sedari tadi juga masih dalam posisi berdiri.

Istriku tersenyum, "Iya ya Jes... Dari kemarin Jesi sudah nanyain. Ibu, mobil Jesi kok belum dikembaliin! Gitu terus tiap hari"

"He eh..." jawab Bebi Jesi spontan sambil anjrutan (lompat-lompat) di dalam mobil mini dengan empat kursi.

"Ihhh, lucu banget si Jesssiii" Tante Hayyu Buru-buru menghampiri meski sebelumnya ia sudah duduk di ruang tamu. Mungkin dia penasaran dengan apa yang terjadi.

Ah, memang begitulah Bebi Jesi. Puteri kecil yang selalu amazing hari demi hari.

"Ayah, ayuk jalan Ayah!"
"Ke mana sayang?"
"Kawunganten Ayah!"
"Ngapain?"
"Beli amplop"
"Amplop?"
"Buat apa sayang?"
"Buat kondangan"

Kami yang mendengar tertawa secara kompak tanpa sengaja

(Sumber informasi tentang deskripsi uang diambil dari laman web yang dimaksud pada pukul 23.09 dan 23.10 WIB)

๐Ÿ”https://www.peruri.co.id/banknotes-money-coins/47/uang-rupiah-pecahan-1-000---10-000
๐Ÿ”https://www.peruri.co.id/banknotes-money-coins/48/uang-rupiah-pecahan-20-000---100-000

๐ŸŒธ
@RumahClever, Cilacap, 21 Juni 2019: 23.58.
Betty Irwanti Joko
Ibu Jesi
Nyi Bejo Pribumiluhur

#1558kata

Reuni Atau Kondangan

00.13 1




Ramadhan Writing Challenge
#RCO
#Day26
#OneDayOnePost
#Reuni

Reuni adalah pertemuan kembali setelah sekian lama tidak berjumpa.

Reuni menjadi ajang temu kangen, baik antara teman semasa sekolah maupun teman sejak kapan lalu tapi lama sekali tidak bertemu.

Reuni marak diadakan sejak bulan puasa dengan tajuk bukber (buka bersama) sampai setelah lebaran Idul Fitri, bahkan rencana reuni sudah ramai dibahas sejak setahun terdahulu.

Tidak ada yang istimewa dengan reuni tahun ini. Tidak ada pertemuan pembahasan khusus kecuali diskusi kecil dalam grup WA yang setiap hari selalu ramai. Selalu ada topik untuk dibicarakan.

"Yah, kapan kamu reuni?"
"Besok katanya pas teman nikah, habis lebaran."
"Wah, itu mah bukan reuni tapi kondangan?"
"Lah, ya ngiras ngirus deh begitu..."
"Emang di mana tempatnya?"
"Di Kubangkangkung, aku juga nggak paham daerahnya sebelah mana?"
"Lah, sih?"
"Lah iya, pas sekolah dulu aku gak begitu akrab. Jadi ya sekedar tahu saja."
"O"
"Bunder"

Temanku yang mau nikah itu masih stay di luar negeri. Pulang juga menjelang hari H. Jadi meski dia masih nun jauh di sana tapi kabar sudah ke mana-mana. Begitulah persahabatan zaman sekarang, ikut terefek derasanya globalisasi. Seakan jarak tak lagi berarti.

Sampai suatu saat ada kabar mengejutkan juga datang dari temanku itu. Ibunya mendadak sakit dan harus dilarikan ke rumah sakit terdekat. Dua hari dalam perawatan entah kenapa takdir berkata lain. Di hari ketiga, ibunya berpulang. Innalilahi wainnailaihi roji'un: betapa jodoh, rezeki dan mati itu adalah misteri. Dan temanku mengalaminya. Sungguh.

Andai dia ada di dalam negeri saat ini, mungkin dia akan dinikahkan saat itu juga. Sebab masih ada keyakinan jika akan ada menikah dan keluarga ada yang meninggal maka boleh ijab qabul di depan jasad sebelum dikebumikan. Apalagi calon mempelai laki-laki sudah siap dengan segala syarat dan administrasi resmi. Tapi mereka menentukan nasibnya sendiri.

Rencana menikah tetap berjalan seperti biasa, hanya tempat yang dipindahkan ke tempat tinggal mempelai laki-laki. Qadarullah, semua tetap berjalan sesuai rencana dengan campur tangan-Nya. Sungguh Allah-lah Maha Segalanya. Manusia boleh berencana sedangkan ada Tuhan yang Maha Mengabulkan.

Aku boleh berencana untuk hadir dalam acara reuni angkatan sekolah istri tercinta. Nyatanya tepat di hari itu juga, ada sepupu yang stay worked di Jepang akan dilamar kekasihnya. Apa boleh buat. Dua rencana dalam satu hari, tetap diniatkan sambil terus berdo'a semoga semua bisa terlaksana.

Malam sebelumnya istriku menyempatkan diri untuk rewang (bantu-bantu) masak di tempat sepupu. Bahkan dia izin padaku malam harinya mau fokus di sana. Tapi tidak kuizinkan sepenuhnya, sebab ada Bebi Jesi yang tetap harus jadi prioritas utama. Selepas salat Maghrib ia rajang-rajang (potong-potong) bahan masakan, saat Bebi Jesi mengantuk aku susul dia karena harus menidurkan segera.

Pagi hari selepas salat Subuh istriku juga pamit ke rumah sepupu. Silakan saja. Jika jam segitu Bebi Jesi memang sedang lelap-lelapnya. Biarkan aku yang menjaga sambil memandangi dan memeluk puteri kecil tercinta. Bisa dipastikan Bebi Jesi akan bangun siang jika aku yang menjaga. Seperti ketika hari Minggu saat aku libur dari bekerja.

"Lho, Yang? Kok cepet. Memangnya nggak ada kerjaan?"
"Ya, ada sih. Cuman kata Mbah Uti aku suruh beresin rumah saja."
"Oh, ya sudah."
"Katanya mau tidur bareng Bebi Jesi?"
"Udah nggak ngantuk kok, jadi tadarus aja,"
"Oh, ya sudah. Ibu ke dapur dulu ya Yah!"
"Oke..."

Aku melihat istriku itu beberes di dapur. Sambil terus menjaga Bebi Jesi aku lanjutkan tadarusku. Kuposisikan diri bersandar dekat jendela kamar. Sambil merasakan udara sejuk pagi seperti biasanya.

Kudengar suara gaduh dari dapur, aku pun melangkah ke luar dari kamar. Oh, rupanya ada saudara yang disuruh pinjam peralatan buat acara hari ini. Dia sedang rewang di tempat sepupu. Mungkin atas utusan Mbah Uti juga. Hanya mungkin dia kesulitan cari barangnya, sebab Mbah Uti itu saking primpen (susah dicari) kalau nyimpen barang-barang.

"Ada apa yang?"
"Ini, Mama Tami pinjam piring sama gelas buat acara sepupu."
"Iya, Ayah Jesi. Disuruh Mbah Utinya. Katanya di lemari depan di posisi paling bawah."
"Coba saja cari sendiri!"
"Tolong bukakan lemarinya, saya tidak tahu di mana?"

Istriku berjalan ke arah depan menuju ruang televisi. Dia membuka lemari yang dimaksud.

"Nanti kalau cari peralatan lagi, buka aja lemari ini ya. Kayaknya ada di sini semua. Yang penting jelas berapa jumlahnya biar gampang balikin ke sini!"
"Iya Bu Jesss..."

Istriku itu kalau sudah memberikan instruksi kayak pejabat eselon lho, panjang kali lebar kali tinggi. Benar-benar bakat jadi pengarah gaya kayaknya dia. Hahhaa. Aku jadi teringat akan sesuatu.

Singkat cerita persiapan lamaran sepupu sudah beres. Tinggal seluruh keluarga The Dafam Family beberes diri. Istriku mandi, disusul Bebi Jesi kemudian aku. Tak ketinggalan juga Mbah Kakung juga Mbah Uti. Kami siap dengan seragam keluarga yang dipakai saat adik menikah setahun yang lalu. Masih bagus dan layak dipakai. Seragam akan segera berganti jika adik bungsu menikah tahun depan nanti, insya allah.

Acara demi acara selesai pada waktunya. Seiring dengan niat yang sudah dibulatkan istriku mengajakku menghadiri acara reuni bersama teman-temannya di sebuah cafe kota kecamatan sana. Butuh sekitar lima belas sampai dua puluh menit naik kendaraan roda dua. Ah, aku menurut saja. Toh ini sudah ada dalam kesepakatan kami sebelumnya.

Kami pun menyusuri sepanjang jalan dari rumah menuju Cafe D'sanny dengan gembira. Terutama Bebi Jesi tercinta. Dia terlihat sangat ceria. Sungguh ini sangat membahagiakan bagiku dan bagi istriku sepertinya. Sampai-sampai sambil nyetir sempat-sempatnya dia bolak-balik ikut menjawab obrolanku dan anaknya.

"Ayah, ayah, ayah..."
"Iya, sayang?"
"Jesi mau ke mana?"
"Ke Kawunganten sayang?"
"Kenapa?"
"Oh, Jesi mau naik odong-odong?"
Aku tertawa, "Oh, Jesi mau naik?"
"He eh..."
"Ya, nanti kalau sudah sampai Kawunganten ya," jawab istriku sambil terus melaju Supra X 125 warna hitam dalam perkiraan kecepatan 40 km/jam. (Kenapa aku segitu pahamnya dengan kecepatan? Ada nggak yang bisa jawab?)

"Lihat itu Jesss, ada kereta lewat!"
"Iya, Ayah. Keretanya panjang ya,"
"He eh"
"Kapan kita mau naik kereta lagi ya Yah?" tanya istriku.
"Nggak tahu deh, hehehe..."
"Huhuhu... Lha rencana Kopdar Malang gimana ini?"
"Tiketnya mahal. Belum ada budget je."

Istriku merengut, mulutnya mengerucut. Ah, biarkan saja dia begitu. Toh pemegang kendali tetap aku. Dia sih memang inginnya ke sini ke situ tapi apalah dayaku melihat saldo ATM yang sudah teralokasi untuk ini dan itu. Paringono rezeki ingkang kathah ya Gusti Allah... Aamiin...

๐ŸŒธ

@RumahClever, Cilacap, 21 Juni 2019: 14.32.
Betty Irwanti Joko
Ibu Jesi
Nyi Bejo Pribumiluhur

#1022kata

Tanpamu Hidupku Radueroso

08.17 1




Ramadhan Writing Challenge
#RCO
#Day25
#OneDayOnePost
#THR

Pendapatan non upah yang wajib dibayarkan pengusaha kepada pekerja / keluarganya menjelang hari raya keagamaan di Indonesia.

Pendapatan yang dimaksud bisa sejumlah gaji pokok atau gaji yang diterimakan pada bulan terakhir seperti yang ditandatangani pegawai dalam slip gaji yang terakhir.

Dulu, THR dibagikan tunai kala gaji belum sepenuhnya masuk rekening pribadi pegawai. Kini, tinggal cek ke ATM terdekat saat ada notifikasi dari teman yang sudah dapat SMS-banking atau M-banking insyaallah kebutuhan lebaran akan terbeli kemudian.

Tidak ada rencana apapun kaitannya dengan THR tahun ini. Selain ada agenda pacitan yang dibagikan untuk keluarga besar dari Mbah Uti. Ini sudah biasa. Untuk keluarga besar dari Mbah Kakung tahun lalu ada buka bersama, tapi tahun ini tidak. Biarkan waktu menentukan rencana dan kuasa-Nya.

Aku hanya makhluk Tuhan yang hanya bisa berencana, tetap ada campur tangan Yang Maha atas segalanya.

"Yah, sudah cek ATM-mu apa belum?"
"Belum, emang kenapa?"
"Kata temanmu di grup arisan, THR 'dah turun,"
"Tadi Ibu nggak bilang?"
"Bilang gimana wong gadget dipinjam Bebi Jesi terus,"
"Oh, ya udah. Besok aja ngeceknya."
"Kok tumben cepet THR-nya keluar?"

Aku mengangkat bahuku. Istriku pun berlalu. Dia menaruh tas kerjaku di atas meja kerjanya. Entah ke mana kemudian dia pergi kemudian. Tak lagi kuperhatikan.

Aku menghampiri puteri kecilku yang sedang main gadget. Menyapa dengan kata-kata manja yang menjadi ciri khasnya. Bebi Jesi menengok, mencium lalu memelukku. Bahagia yang tak pernah bisa kutuliskan dengan kata-kata. Jerih seharian dan lelah dalam perjalanan berganti semangat yang tak pernah bisa kudefinisikan.

Dialah bintang kehidupanku. Bintang yang akan terus bersinar seterang mentari. Dia yang akan senantiasa berguna layaknya matahari.

Istriku kembali, entah dari mana dia tadi.
"Yah, kalau besok THR-mu sudah cair kamu mau ngapain?"
"Ya, ambil lah. Buat bayar pacitan dan lain-lain,"
"Emang kenapa?"

Dia menggeleng, "THR-ku kapan turun ya?"
"Katamu waktu itu katanya tanggal 24?" jawabku sambil menggendong Bebi Jesi.
"Semoga saja ya, Yah?"
"Emang kenapa yang dibahas THR terus?"
"Aku kepengen beli sesuatu sih? Tapi belum tahu apaan?"

Aku menertawakan jawaban istriku kemudian meninggalkannya begitu saja. Biarkan dia berhayal dan berencana. Toh kendali ada padaku. Salah sendiri dia tidak mau pegang ATM. Semua aku yang pegang. Sejak hamil Bebi Jesi dia tak lagi mau repot bolak balik ATM. Katanya biar aku saja. Ya wis lah. Aku si seneng-seneng aja. Hehehe. Ini bagian dari kebijaksanaan internal masing-masing keluarga.

Istriku selalu berembug untuk urusan apapun. Terutama yang menyangkut dengan urusan keuangan. Ia tidak akan serta merta mengambil tindakan tanpa persetujuanku. Bahkan untuk urusan wardrobe Bebi Jesi pun dia akan bertanya atau menyerahkan segalanya.

"Yah, nanti kalau THR sudah turun. Jangan lupa beli baju buat Bebi Jesi,"
"Baju? Baju buat lebaran? Kalau itu pasti..."
"Bukan cuma itu, ayah..."
"Lha, apalagi?"
"Liatin tuh, lemarinya Bebi Jesi!  Baju sudah pada cungklang semua. Mungkin sudah waktunya hunting size terbaru."
"Oh, bisa diatur."
"Lha itu kemarin baju yang dibeliin Ayah gimana?"
"Nah, iya. Seukuran itu."

Aku mengangguk-angguk tanda mengerti. Pada dasarnya istriku sangat penurut. Apapun yang sudah kubawa pulang, dia takkan pernah protes. Apalagi kalau bukan soal selera yang selalu pas di hatinya. Eh, bukan lagi pas. Tapi level puas itu selalu melebihi ekspektasinya. Dia bilang aku ini pintar urusan milih-milih. Bahkan lebuh ribet dari dia kalau urusan belanja. Aku lebih detail, jauh lebih detail darinya. Kami mungkin diciptakan sebagai pasangan yang super detail memikirkan segala sesuatunya.

"Ayah, jangan lupa zakat 2,5% untuk THR nya lho. Aku juga biasanya begitu."
"Iya, Bu. Sudah aku hitung dan sebagian aku masukkan ke kotak amal masjid. Sebagian lagi mau aku berikan ke saudara yang membutuhkan. Atau mau aku tukarkan jadi uang receh. Bisa juga. Buat bagi THR ke anak-anak yang kurang mampu."
"Oh, kalau aku di sekolah memang selalu dipotong buat dibagikan ke rekan yang membutuhkan. Sebagai wujud bersyukur karena sudah mendapatkan rezeki yang luar biasa."
"Itu bagus. Seperti apapun mekanisme yang kita pakai, intinya berbagi itu indah. Karena sebagian dari harta yang kita punya itu bukan sepenuhnya milik kita."
"Wah, ayah jos tenan. Udah kayak pak kiyai aja."

Aku meringis, "Iya dong. Aku kan cucu sang kiyai?"
Giliran istriku yang tersenyum lebar.

Aku memang cucu sang kiyai. Kiyai Ahmad Baedi. Imam masjid Baitul Mukmin yang kini sudah kembali ke haribaan Ilahi Rabbi. Kiyai yang adalah Ayah kandung dari Bapakku sendiri. Bapak Nur Syahid yang punya nama muda Nur Tulus.

Bapak yang selalu tampil awet muda meski usianya sudah semakin tua. Bapak yang selalu taat pada agama meski iman kadang naik turun adanya. Beliau yang selalu menjaga bacaan Al Qur'an setiap waktu. Beliau yang selalu mengumandangkan adzan meski kebanyakan orang masih lelap dalam tidur.

Beliau yang selalu aktif meramaikan masjid meski kini sudah hijrah ke rumah anak pertamanya. Dulu, ketika masih mondok di rumah dekat masjid dekat pasar beliau bahkan lebih rajin dari ini.

Betapa ketulusan hadir dalam setiap nadi kehidupan keluarga yang membersarkanku. Meski kami bukan keluarga berada tapi kami bahagia. Bahagia karena kami selalu bersikap apa adanya. Bukan ada apanya.

Betapa ketulusan itu semakin tergenapi dengan hadirnya istriku yang tak kalah tulus mencintai. Ia yang sempat menutup diri sebab sudah terlanjur jatuh cinta padaku. Itu katanya. Kalau kataku, aku yang terlanjur jatuh cinta padanya. Pada dia yang sederhana meski bisa saja ia hidup berlebihan. Pada dia yang bisa saja sombong tapi dia tidak melakukannya. Pada dia yang selalu mengutarakan cinta meski pernikahan hampir menunjuk angka enam pada tahun ini.

Aku belajar pada dia, istriku tercinta. Termasuk belajar untuk merangkai kata-kata. Nyatanya kini, aku bisa menuliskan ceritaku. Cerita cinta penuh ketulusan. Cerita cinta menantu bapak Nur Tulus.

"Yang, THR!"
"Apalagi sih?"
"Tanpamu Hariku Rindu"
"Halah gombal!"
"Asli, beneran,"
"Tanpamu Hidupku Ra due roso,"
"Bohong!"
"Tanpamu Hatiku Riweh,"
"Riweh?"
"Rindu sewayah-wayah..."

Aku tertawa terbahak-bahak. Asli itu bukan rayuan gombal. Itu muncul spontan seketika itu juga.

"Tumben Ayah nge-gombal begitu. Ceria amat. Habis ngapain emang?"
"Coba tebak kenapa?"
Istriku menggeleng.
"THR dong sayang!"
"Halah, THR lagi..."
"Iya, coba lihat ini!"

Aku memberikan kertas putih berlokasi sebuah bank nasional. Istriku tersenyum semringah kemudian memelukku.

"THR sayang,"
"Hehe"
"Tanpanya Hadiah Ra bisa tekan"
"Hahaha, bisa ae..."

๐ŸŒธ

@CleverClass, Cilacap, 18 Juni 2019: 08.03
Betty Irwanti Joko
Ibu Jesi
Nyi Bejo Pribumiluhur

#1010kata

Pengumuman Kelulusan Grup Halimah RWC 2019

06.36 5





Bismillah
Alhamdulillah

Ramadhan Writing Challenge telah sampai di tahap akhir, yaitu pengumuman Kelulusan.

Pj utama semalam mengumumkan hal yang sangat penting di Grup besar 1 dan Grub besar 2 Odop

 [6/6 20.22] Lutfi Yulianto Iyan Odop6:
๐Ÿ2 Syawal 1440 H๐Ÿ
๐Ÿ‚6 Juni 2019๐Ÿ‚

Selamat kepada teman-teman yang sudah dinyatakan lulus di RWC ODOP 2019

Bagi yang mendapat predikat LULUS BERSYARAT, silakan dilengkapi tanggungannya.

Bagi yang TIDAK LULUS, tetap semangat ๐Ÿ’ช

Selamat juga kepada teman-teman yang setelah ini mendapat predikat sebagai peserta terbaik. Yang belum dapat, tetap semangat dan selamat karena sudah berhasil menyelesaikan tantangan Ramadhan Writing Challenge Odop tahun ini meski harus menggos-menggos.

Seperti yang sudah kami sampaikan sebelumnya, bahwa peserta terbaik per kelompok, kita tentukan berdasarkan poin dan keaktifan di grup.

Nanti juga akan disampaikan daftar peserta favorit pilihan Pj.

Sekali lagi, selamat untuk kalian yang sudah berhasil menyelesaikan tantangan RWC ODOP 2019. Sampai jumpa di RWC tahun depan

➕ Kami tunggu teman-teman semua bergabung menjadi bagian dari Keluarga Besar Komunitas One Day One Post. Simak informasi pendaftarannya di fanspage One Day One Post, atau instagram @komunitas.odop

Pengumuman kelulusan di grup masing-masing. Bagi yang belum, silakan tunggu Pj grupnya. Mungkin sedang halal bi halal ke tetangga.

[6/6 20.24] Lutfi Yulianto Iyan Odop6:

๐ŸŽ“Daftar Nama Peserta Terbaik

☀ Grup Abu Bakar: Rindang Yuliani
☀ Grup Umar: Ika Pratidina
☀ Grup Usman: Nurohim
☀ Grup Ali: Nyi Heni
☀ Grup Zaid: Karis Rosida
☀ Grup Halimah: Nigina Auliarachmah
☀ Grup Aisyah: Halima Maysaroh
☀ Grup Fatimah: Briantono M. Raharjo
☀ Grup Hawa: Jihan Mawaddah
☀ Grup Bilal: Siti Fatimah

Saya sendiri bersama Mbak Mega mengumumkan kelulusan untuk grup Halimah. Alhamdulillah, dari 49 peserta awal ada 6 peserta yang lulus dengan nilai sempurna, 3 lulus bersyarat, 12 lulus dengan bayar utang tulisan dan sisanya berukuran sejak pekan pertama.

Selamat untuk kita semua. Selamat telah berhasil menyelesaikan apa yang sudah diniatkan. Selamat menyiapkan tugas selanjutnya ya. Emak Pj juga siap bayar utang tulisan supaya bisa jadi buku kemudian. Aamiin. Mohon do'a dan dukungannya ya. Terima kasih.

Berikut lampirkan rekap kelulusan dari grup Halimah yang saya update pagi ini. Sejak semalam memang saya minta diralat jika saja pengumuman yang saya buat ada kekeliruan. Masih bisa dibetulkan. Sementara ini tinggal nunggu yang bayar utang sama satu anggota yang WA nya sedang ada gangguan. Sejak semalam sudah saya lacak tapi belum ada jawaban. Sambil nunggu, saya mau beberes rumah dulu ya. Masih nuansa lebaran. Siapa tahu ada tamu yang bakal berkunjung salam-salaman.


Selamat untuk semua. Semoga kita selalu sehat dan semangat. Yang sedang sakit semoga segera sembuh dan lekas kembali beraktivitas seperti biasa. Aamiin aamiin. Get  well soon ya Kakak Fatih Sesar Pamungkas.

Sehat, salihah, cerdas ceria selalu ya Bebi Jesi. You are my spirit.



➖➖

*Pengumuman Kelulusan Grup Halimah*
Ramadhan Writing Challenge 2019
One Day One Post

_Pj Listkanisa Rahma Mega_
_Pj Betty Irwanti Joko_

*SELAMAT UNTUK*

Nanda Nurul Safikri ๐Ÿ”๐ŸŒš๐ŸŒš๐ŸŒš๐ŸŒš๐ŸŒš
Nani Nafisah๐ŸŽ“
*Nigina Auliarachmah*๐ŸŽ“
Nisa Bahasyim๐ŸŽ“
*Niswa Ulya Suba*๐ŸŽ“
*Nova Armianti*๐ŸŽ“
*Nova Mulyasari*๐ŸŽ“
NufhaJaa๐ŸŽ“
Nursanie Puspita๐Ÿ”๐ŸŒš๐ŸŒš๐ŸŒš๐ŸŒš๐ŸŒš๐ŸŒš๐ŸŒš
Oky Yuwanti๐ŸŽ“
Parwati๐ŸŽ“
Pebri Ika๐ŸŽ“
Phia Oktaviani๐ŸŽ“
Puji Lestari Ahditia๐ŸŽ“
Rahayu Hestiningsih ๐Ÿ”๐ŸŒš๐ŸŒš๐ŸŒš๐ŸŒš๐ŸŒš๐ŸŒš๐ŸŒš๐ŸŒš
Rahmi R๐ŸŽ“
Rena Angguntia = Raya Averyll๐ŸŽ“
*Reni Asriningrum*๐ŸŽ“
Renitasari Oktaviastuti๐ŸŽ“
*Sarifatul Hasanah*๐ŸŽ“
Sarti Widia๐ŸŽ“

*๐ŸŽ“ Selamat Anda lulus sepenuhnya dan tinggal menunggu sertifikat*

*๐Ÿ” Selamat Anda Lulus Bersyarat sebab Wajib Bayar Utang Tulisan paling lambat tanggal 8 Juni 2018 pukul 23.59 sesuai dengan jumlah ๐ŸŒ‘*

_Jumlah ๐ŸŒ‘ diambil dari rekapan Day 22-30 pekan ke-4_

_Bagi semua anggota yang bertahan hingga akhir pekan ke -4 wajib merekap semua naskah dan siapkan compile naskah untuk dikirim ke Pj dengan alamat email bettyirwanti@gmail.com_

_Siapkan satu atau beberapa naskah terbaik untuk rencana terbit antologi selanjutnya_

Terima Kasih

Selamat Pagi

Semangat Pagi

๐ŸŽ“ Cilacap, 3 Syawal 1440 H๐ŸŽ“
๐ŸŽ“7 Juni 2019 Lebaran Day2๐ŸŽ“

Cuti dari Gadget

13.39 1




Ramadhan Writing Challenge
#RCO
#Day24
#OneDayOnePost
#Cuti

Meninggalkan pekerjaan beberapa waktu secara resmi untuk beristirahat dan sebagainya. Sebagainya itu misal hamil, melahirkan, lebaran, hajatan dan lain-lain. Lha, masih ada lain-lain? Jika ada dan sebagainya apakah dan lain-lain nggak boleh ikut? Mestinya boleh, kan?

"Yah, kamu nggak ambil cuti di lebaran tahun ini?"
"Emangnya mau ngapain?"
"Ya, kali aja mau istirahat. Kamu kan kerja terus, kali aja capek."
"Kayaknya nggak deh, Bu. Kan kita udah mau ngambil habis lebaran aja. Pas rewang hajatan sama pas sekolahmu perpisahan."
"Oh, emang jatah cuti tinggal sedikit?"
"Nggak, tahu. Aku nggak pernah ngitung. Niatnya aku kepengen ngabisin jatah cuti. Sayang kalau nggak diambil. Tahun kemarin malah nggak diambil blass."
"Hmm, kan Ayah emang pegawai teladan yang nggak pernah ambil cuti. Harusnya dapat reward tuh."

Aku tersenyum.
"Kamu juga harusnya dapat reward tuh. Emang kenapa? Kamu juga nggak pernah ambil cuti. Bahkan selepas melahirkan pun. Seterong banget deh."
"Lah, sekolahan dekat ini. Merasa sudah enak ya berangkat saja."
"Nah, kan berarti kamu seterong banget kan?"
"Istri siapa dulu?"
"Lebih-lebih Ramadhan tahun ini. Aku lihat kamu lebih dari sekedar seterong."
"Apalagi itu maksudnya?"
"Kamu jadi Pj RWC, ikut nulis juga, terus self editing Isa Bella, terus ikut VCT juga."

Istriku tersenyum, "Biasa aja deh, nggak ada yang istimewa,"
"Tetap saja lho, bagiku kamu sangat istimewa."
"Ah, gombal."
"Eh, ya nggak lho. Semangatmu itu yang bagiku sangat istimewa. Dini hari kamu suka terbangun kan, terus nulis. Lha emangnya kamu nggak ngantuk?"
"Makanya itu, kalau aku tiap habis Isya tidur ya jangan diprotes. Itu karena aku kelelahan dari dini hari sudah bangun dan siang tak pernah tidur lagi."

Aku memegang tangan istriku. Mengelusnya. Tangan inilah yang selalu memegang wajahku setiap dia merindu.

Rindu? Iya rindu. Kata dia begitu. Rindu itu bisa datang tiba-tiba meski setiap hari aku dan dia bertemu. Rindu itu rasa sesak di dada melihatnya selalu sibuk dengan anak barunya. Yang akhir-akhir ini menjadi akrab dengan keseharian di sela mengurus kerja dan puteri kecilnya.

Anak baru yang menyita sebagian waktu, bahkan ketika aku berada di sampingnya. Ah, aku rindu. Rindu pada perhatian yang sepenuhnya hanya untukku. Rindu pada sentuhan hangat yang setiap aku pulang kerja akan bisa kepastian akan kudapatkan segera.

Aku berusaha untuk menetralkan perasaan setiap kali aku memandangi istriku yang begitu asyik dengan anak barunya. Bahkan ketika aku diserahinya tugas menjaga Bebi Jesi, ia justru mojok dengan dua anak barunya.

"Yah, tolong jaga Bebi Jesi sebentar ya. Aku mau Vicon. Biar VCT-nya cepat selesai!"
Aku menatapnya dengan mata yang belum melek sepenuhnya. Waktu itu posisi malam, Bebi Jesi baru saja terlelap. Aku hanya mengangguk lalu tidur kembali.

Belum lupa dengan kejadian malam itu, siang harinya selepas Bebi Jesi tidur siang, istriku juga minta izin lagi buat Vicon. Kali ini juga aku dalam posisi yang sama. Merem melek, karena tidur dan belum sepenuhnya tersadar.

Empat kejadian selanjutnya sama. Dia meminta izin tapi saat pagi, setelah Bebi Jesi beres makan dan mandi. Aku izinkan saja dia. Sana. Nanti tugas selesai dia harus cuti dari Vicon, harus benar-benar fokus sama anaknya yang sesungguhnya. Dia juga harus mengembalikan satu anak pada sang pemiliknya.

Kasihan sang pemilik anak, dia jadi ngelangut bin ndomblong (bengong dan melamun) karena anaknya dipinjam Ibu Jesi.

Pernah suatu waktu aku melihat istriku itu merayu Kakak Fatih,.
"Kakak, aku pinjam sebentar ya. Nanti kalau aku sudah selesai tak kembalikan."
"Emang mau buat apa?"
"Mau buat tugas diklat online. Nanti tak izinkan kartu baru, biar kakak nggak isi kuota sendiri. Oke"
"Oke deh, tapi jangan lama-lama ya."
"Ya, paling semingguan kamu cuti mainannya."
"Kalau Ibu udah nggak pakai balikin ke aku tapi,"
"Iya, aku pakainya kalau mau Vicon aja."
"Ya udah deh, boleh."
"Oke, terima kasih Kakak!"

Suatu ketika saat anak baru yang dipinjamnya dari kakak low bat , giliran dia merayuku.

"Yah, aku pinjam gadgetmu boleh nggak?"
"Buat apa? Kan kamu sudah pinjam punya Kakak kan?"
"Iya, tapi lagi dimainkan Jesi..."
"Beli kuota dulu sana, kuotaku habis. Belum tak isi."
"Beli di konter depan ada nggak ya?"
"Ya, nggak tahu. Ada kali," jawabku sambil mengangkat kedua bahuku.
"Ini tinggal dua kali sesi aku selesai lho Yah. Nanti kalau aku sudah selesai Vicon aku janji deh mau cuti pegang gadget."
"Yakin?"
"Yakin sih, sedikit," istriku nyengir kuda.
"Ah, paling nggak. Kamu nggak bakal bisa cuti dari anak barumu itu"
"Cie elah, Ayah cemburu. Hehee"
"Ya bukannya cemburu, tapi ya kayak gitu deh," Aku pura-pura memalingkan muka. Istriku memburu.
"Tapi kalau Ibu melanjutkan nulis boleh ya Yah, kan draftnya di gadget. Ngepostnya juga via gadget kan? Paling buka laptop kalau lagi ada perlu..."
"Paling bisanya malam," Aku menyahut sebelum dia melanjutkan kalimatnya."
"Iya, Yah. Makanya. Aku selesaikan dulu tugasku ya."
Aku bergeming. Membiarkan obrolan ini semakin tak tentu arah.

Ya sudahlah, pada dasarnya sih aku mendukung apapun yang istriku lakukan. Yang penting itu masih dalam koridor kebaikan. Selama ini dia selalu menjaga izin yang kuberikan dengan baik. Dengan segala semangat dan usaha biasanya dia akan menunjukkan hasil yang maksimal. Kata dia berani berharap berani kecewa. Kataku usaha tidak akan mengkhianati hasil.

"Yah, aku sudah selesai mengunggahkan kantong tugas VCT ke pusat. Sudah chat sama salah satu teman, katanya baru empat orang yang selesai. Itu termasuk aku."

Tuh, benar kan? Apa kataku.

"Aku sudah kembalikan gadget Kakak Fatih, sisa kuota biar dia yang habiskan."
"Iya, biar dia bisa dikontrol mainya. Yang diisi kartu aja, kartunya kakak biarkan saja."

Istriku terlihat begitu bahagia, begitu juga aku. Cemburu pada anak barunya tidak akan pernah lagi ada. Karena selama ini memang hanya ada aku dan Bebi Jesi yang menjadi fokus utamanya.

"Lihat nih, Yah. Grup besar juga heboh. Ibu bidangnya,"
"Ah, kamu sih iya. Dimana-mana bikin heboh."
Baca aja deh sendiri chatnya!"
"Coba mana?"
Aku pun membaca satu persatu chat dalam sebuah grup berjudul VCT 78.12.

๐ŸŒŸ

[2/6 14.55] Lutfi SMAN 1 Jatilawang VCT 78.12: Maaf utk besok ada vicon ga ya
[2/6 14.56] Lutfi SMAN 1 Jatilawang VCT 78.12: Mohon maaf bpk ibu instruktur utk vicon besok tgl 3 juni ada ga ya
[2/6 14.56] Betty Irwanti Joko: Libur pak
[2/6 14.56] Lutfi SMAN 1 Jatilawang VCT 78.12: Oh ya sdh..
[2/6 14.56] Lutfi SMAN 1 Jatilawang VCT 78.12: Mksih.
[2/6 14.57] Betty Irwanti Joko: Tanggal 3-9 Juni libur kalau tidak salah ๐Ÿ™๐Ÿผ
[3/6 05.31] Betty Irwanti Joko: Sensasi mengikuti diklat daring adalah :
1. berjuang mengalahkan sinyal ndal ndul (pakai istilah pak Kardi)
2. Harap harap cemas gagal atau berhasil upload youtube..
3. Harap harap cemas hasil record video jadi apa tdk..
4. Improfisasi seolah olah berjiwa seni mendesain flyer
5. Uthak athik desain QR code diwarna warni dan di logo
6. Manteng nyimak tutorial youtube video instruktur.
7. Banyak  tanda ❓❓❓dan berusaha mengubah tanda tanya menjadi huruf O... (paham)
8. Merasakan kejar tayang tugas
9. Kerja sama yang bagus antara peserta dan instruktur
10. Kemringet nguthek nguthek flyer dafdir dll akhirnya...รฒoo begitu
11. Berlatih sabar dg kebisingan yg timbul krn ketidaksengajaan bahkan karena ketidak tahuan.
12. Berbagi tugas dengan pasangan agar Vicon berjalan lancar
[3/6 05.31] Didik SMKN 2 Pwt VCT 78.12: Ini bisa jadi catatan diklat dan di jadikan BUKU diklat... terbitkan... Bisa juga jadi angka kredit itu...
Wkwkwjwwkwjww
๐Ÿคฃ๐Ÿ˜‚๐Ÿคฃ๐Ÿ˜‚๐Ÿคฃ๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ
[3/6 05.31] Betty Irwanti Joko: Saya juga berniat begitu pak ๐Ÿ™๐Ÿผ
[3/6 05.32] Dwi Riyani DS Instruktur VCT 78.12: Ide bagus pak didik
[3/6 05.32] Betty Irwanti Joko: Catatan Ibu Jesi: Menyelesaikan VCT Batch 4 Dalam 6 Hari
[3/6 05.32] Nimas Kadarsih Instruktur VCT 78.12: Utk tulis menulis bu @⁨Betty Irwanti Joko⁩ langsung conect๐Ÿ‘๐Ÿ‘
[3/6 05.32] Betty Irwanti Joko: ๐Ÿค—
[3/6 05.33] Betty Irwanti Joko: Mohon bimbingannya bu @⁨Nimas Kadarsih Instruktur VCT 78.12⁩ ๐Ÿ˜
[3/6 05.33] Budiadi VCT 78.12: Sensasi mengikuti diklat daring adalah :
1. berjuang mengalahkan sinyal ndal ndul (pakai istilah pak Kardi)
2. Harap harap cemas gagal atau berhasil upload youtube..
3. Harap harap cemas hasil record video jadi apa tdk..
4. Improfisasi seolah olah berjiwa seni mendesain flyer
5. Uthak athik desain QR code diwarna warni dan di logo
6. Manteng nyimak tutorial youtube video instruktur.
7. Banyak  tanda ❓❓❓dan berusaha mengubah tanda tanya menjadi huruf O... (paham)
8. Merasakan kejar tayang tugas
9. Kerja sama yang bagus antara peserta dan instruktur
10. Kemringet nguthek nguthek flyer dafdir dll akhirnya...รฒoo begitu
11. Berlatih sabar dg kebisingan yg timbul krn ketidaksengajaan bahkan karena ketidak tahuan.
12. Berbagi tugas dengan pasangan agar Vicon berjalan lancar
13. Remidi .... Tdk bs buka room buatan sendiri ๐Ÿคฃ
[3/6 05.33] Didik SMKN 2 Pwt VCT 78.12: Point 12... Bakalan banyak ibu ibu guru hebat yg ngk dapat ijin suami ikut daring ini di Batch 5
๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคญ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคญ๐Ÿคฃ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™
[3/6 05.34] Betty Irwanti Joko: Khususnya bagi ibu yang punya baby
[3/6 05.34] Endah Solichati Prihatin VCT 78.12: Wah ,ada wacana BATCH 5?
[3/6 05.34] Dwi Riyani DS Instruktur VCT 78.12: Pak didik bercanda bu bety....
[3/6 05.34] Nimas Kadarsih Instruktur VCT 78.12: Bu @⁨Betty Irwanti Joko⁩ dah oke pke banget, perjuangan berburu sinyal jg luar biasa
[3/6 05.34] Betty Irwanti Joko: Gak papa bu, santai ๐Ÿ˜†
[3/6 05.34] Didik SMKN 2 Pwt VCT 78.12: Contoh nyatanya bu Betty... ๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ
[3/6 05.34] Betty Irwanti Joko: Iyappp betul pakk
[3/6 05.35] Betty Irwanti Joko: Siap-siap digesek suami karena istrinya pegang hp melulu.
[3/6 05.36] Betty Irwanti Joko: Digesek? Diledek maksudnya ๐Ÿ™๐Ÿผ

Autocorrret hpnya jahad
[3/6 05.36] Nimas Kadarsih Instruktur VCT 78.12: ๐Ÿคญ๐Ÿคญ
[3/6 05.36] Ermy VCT 78.12: ๐Ÿ˜ฎ๐Ÿ˜ฎ๐Ÿ˜ฎ
[3/6 05.36] Betty Irwanti Joko: Percayalah hidup itu ujian ๐Ÿ’
[3/6 05.36] Dwi Riyani DS Instruktur VCT 78.12: Lagi tak baca baca ulang....apaaa itu digesek??ooooo
[3/6 05.36] Betty Irwanti Joko: Bu @⁨Ermy VCT 78.12⁩ lebih hebat ๐Ÿ’
[3/6 05.36] Betty Irwanti Joko: Typo pak ๐Ÿคฃ
[3/6 05.37] Dwi Riyani DS Instruktur VCT 78.12: Iyaa saya juga sering kok...krn jari jempol semua....๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ
[3/6 05.38] Ermy VCT 78.12: sy yg harus belajar dari Bu Bety...soal tulis menulis๐Ÿ‘๐Ÿ‘
[3/6 05.38] Betty Irwanti Joko: Belajar Sama-sama bu
[3/6 05.39] Betty Irwanti Joko: Saya mau belajar matematika sama bu @⁨Ermy VCT 78.12⁩
[3/6 05.39] Nimas Kadarsih Instruktur VCT 78.12: Sy ngikut yaa๐Ÿƒ‍♀
[3/6 05.39] Didik SMKN 2 Pwt VCT 78.12: Bu  @⁨Betty Irwanti Joko⁩ di tambah point 12.b. Putranya nanti jangan di beri "panggilan sayang" dengan istilah vicon.. misal dipanggil Flyer atau Batch, atau Faatstone atau spot Offline dll...
๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ
[3/6 05.39] Betty Irwanti Joko: ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ
[3/6 05.40] Betty Irwanti Joko: Flyerina Ramadhan ๐Ÿ˜†
[3/6 05.40] Budiadi VCT 78.12: ๐Ÿคฃ
[3/6 05.40] Ermy VCT 78.12: Saat kumpul tugas nanti ada link YouTube yg sdh dikirim teman teman... (Termasuk dari wilayah lain) sy sempat lihat lihat.. ternyata bagus bagus dan wilayah kita InsyaAllah tdk kalah. Sipp selamat buat para instruktur... Terimakasih atas bimbingannya...๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿฅณ๐Ÿฅณ
[3/6 05.40] Betty Irwanti Joko: Alhamdulillah bu, semangat ๐Ÿƒ๐Ÿป‍♀๐Ÿƒ๐Ÿป‍♀
[3/6 05.41] Betty Irwanti Joko: Japri link youtube bu. Aku kepengen lihat ๐Ÿ™๐Ÿผ
[3/6 05.41] Didik SMKN 2 Pwt VCT 78.12: Ini bisa viral ....๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿƒ‍♂๐Ÿƒ‍♂๐Ÿƒ‍♂
[3/6 05.41] Betty Irwanti Joko: ๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ
[3/6 05.41] Betty Irwanti Joko: Digoreng dadi gesek ๐Ÿ™๐Ÿผ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†
[3/6 05.42] Betty Irwanti Joko: Saya bagi info ya

VCT Batch 4 Jateng DIY 78.12
*Pengisian Borang Tugas*

_1. Tugas 1 Sebagai Host_
Tanggal
Flyer

_2. Tugas 2 Sebagai Host_
Tanggal
Flyer

_3. Tugas 1 Sebagai Moderator_
Tanggal
Presensi

_4. Tugas 2 Sebagai Moderator_
Tanggal
Presensi

_5. Tugas Sebagai Presenter Pertama_
Tanggal
Judul
Link Rekaman Youtube
Flyer

_6. Tugas Sebagai Presenter Kedua_
Tanggal
Judul
Link Rekaman Youtube
Flyer

_7. Kehadiran Sebagai Partisipan_
Upload Rekap Presensi 6x

_Betty Irwanti Joko_
[3/6 05.42] Didik SMKN 2 Pwt VCT 78.12: Mantaapzzz ๐Ÿคญ @⁨Dwi Riyani DS Instruktur VCT 78.12⁩ pasti lagi cari ide panggilan buat putra @⁨Betty Irwanti Joko⁩
[3/6 05.43] Betty Irwanti Joko: Puteri saya bernama Cleverona Bintang Aljazira pak ๐Ÿ™๐Ÿผ
[3/6 05.44] Didik SMKN 2 Pwt VCT 78.12: ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช
[3/6 05.44] Betty Irwanti Joko: Saya rename semua file untuk memudahkan pengisian Borang tugas
[3/6 05.45] Dwi Riyani DS Instruktur VCT 78.12: Ga...lagi kagum...bagus bgt kalo itu buat nama beneran...langka namun indah๐Ÿ˜๐Ÿ˜
[3/6 05.47] Dwi Riyani DS Instruktur VCT 78.12: Bu Bety hebat....meski punya baby tp tetap semangat...semoga ga jadi gesek lah....๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿ™๐Ÿ™
[3/6 05.49] Budiadi VCT 78.12: Yg no. 7, sy kira cuma 2x, Ibu.
Sy baca di bagian WA, sebelum2nya ๐Ÿ˜
[3/6 05.50] Didik SMKN 2 Pwt VCT 78.12: Bagi peserta yg  punya baby belum punya nama ibu @⁨Dwi Riyani DS Instruktur VCT 78.12⁩ usul  beri  nama baby nya
"Vicon Ramdhani Flyeridanabatch Jayo"
๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜„๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™
[3/6 05.51] Betty Irwanti Joko: ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†
[3/6 05.52] Betty Irwanti Joko: 6 pak
[3/6 05.52] Betty Irwanti Joko: Aamiin
[3/6 05.52] Betty Irwanti Joko: Jadi Tape aja pak. Hari ini jadwal bikin Tape buat lebaran ๐Ÿ˜
[3/6 05.54] Betty Irwanti Joko: Gesek itu typo dan hp ini Autocorrretnya suka jahad. Bahkan saat draft tulisan sering terjadi. Contohnya di tulisan yang tadi saya upload di blog
[3/6 05.55] Didik SMKN 2 Pwt VCT 78.12: Buat catatan di notepad atau di word ringkasan tugas 1, 2, 3, 4 dst siapkan copas 1.link upload, 2. rekap absen 3. flyet dll di situ dan kebutuhan isian utk kantung tugas...
biar saat selesai dan upload tdk bingung cari file per file
๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™
[3/6 05.56] Betty Irwanti Joko: Yess. Saya sudah saya lakukan kemarin pagi ๐Ÿ™๐Ÿผ
[3/6 05.58] Didik SMKN 2 Pwt VCT 78.12: Autocorrect di hape di non aktifkan bu... kadang kalo pakai autocoorect ingin hape dg ingin kita beda... kadang jahad juga hape ngarahin kita ke kata saru hehehheheheheh
๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ’ช
[3/6 05.58] Betty Irwanti Joko: Belum utak adik pak. Kemarin hp tak reset ulang. Biar banyak memori untuk persiapan vct
[3/6 05.59] Betty Irwanti Joko: Adik = atik ๐Ÿ˜†
[3/6 05.59] Betty Irwanti Joko: Typo lagi
[3/6 06.01] +62 815-7526-8191: Di panggilnya "ayo"...๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ
[3/6 06.03] Didik SMKN 2 Pwt VCT 78.12: AYO lembur buat presentasi nggih pak Yul
[3/6 06.04] Dwi Riyani DS Instruktur VCT 78.12: Ga ...fyer ramadhani saja
[3/6 06.05] Seto Instruktur VCT 78.12: Rame yaaaa
[3/6 06.06] Betty Irwanti Joko: Rame pak. ๐Ÿ™๐Ÿผ
[3/6 06.08] Didik SMKN 2 Pwt VCT 78.12: @⁨Seto Instruktur VCT 78.12⁩   salut sama semangat bu @⁨Betty Irwanti Joko⁩  kok om...
maring ngendi bae jalan jalan ya kok ra ajak ajak...
Nyong milu ngapa...???
๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ
[3/6 06.08] Betty Irwanti Joko: Jalan ke mana pak? Jalan sudah padat merayap
[3/6 06.09] Betty Irwanti Joko: Mau jalan ke belakang ini, nyuci dulu ๐Ÿƒ๐Ÿป‍♀๐Ÿƒ๐Ÿป‍♀๐Ÿƒ๐Ÿป‍♀
[3/6 06.09] Betty Irwanti Joko: Bu @⁨Debi Shinta Dewi VCT 78.12⁩ lihat japri. Sudah saya kirim ๐Ÿ™๐Ÿผ
[3/6 06.10] Betty Irwanti Joko: Bu @⁨Yuliyah VCT 78.12⁩ aku menunggumu. Kapan mau on? ๐Ÿ’
[3/6 06.10] Didik SMKN 2 Pwt VCT 78.12: ๐Ÿคฃ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‡๐Ÿคฃ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‡๐Ÿคฃ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜„
๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ
[3/6 06.27] Didik SMKN 2 Pwt VCT 78.12: Trading_word pagi ini...
1. di gesek suami..
2. Adik di otak atik...
3. Tunggu autocorrect menarik  yang lain..
๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿƒ‍♂๐Ÿƒ‍♂๐Ÿƒ‍♂๐Ÿƒ‍♂๐Ÿƒ‍♂๐Ÿƒ‍♂๐Ÿƒ‍♂๐Ÿƒ‍♂
[3/6 06.30] Seto Instruktur VCT 78.12: Suaminya romantis
[3/6 06.32] Didik SMKN 2 Pwt VCT 78.12: ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคฃ๐Ÿคญ๐Ÿคญ
[3/6 06.46] Yuliyah VCT 78.12: Kemringet....๐Ÿ˜Š๐Ÿคฃ

๐ŸŒŸ

Selesai membaca chat di atas, aku ngajak. Istriku juga nggak kalah ngakak. Ora ngakak ora kepenak.

Eh, salah ya. Ora Ngapak ora kepenak. Hidup Ngapak City.

๐ŸŒธ

@RumahClever, Cilacap, 6 Juni 2019: 11.44.
Betty Irwanti Joko
Ibu Jesi
Nyi Bejo Pribumiluhur

#2458kata

Raih Lailatul Qadar Bersama

23.34 0




Ramadhan Writing Challenge
#RCO
#Day23
#OneDayOnePost
#Lailatul Qadar

Satu malam penting yang terjadi selama bulan Ramadhan, yang dalam Al Qur'an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari malam seribu bulan.

Wikipedia menyebutkan bahwa Lailatul Qadar atau Lailat Al-Qadar (bahasa Arab: ู„َูŠْู„َุฉِ ุงู„ْู‚َุฏْุฑِ, malam ketetapan) adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadan, yang dalam Al Qur'an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dan juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al Qur'an.

Deskripsi tentang keistimewaan malam ini dapat dijumpai pada Surat Al-Qadar, surat ke-97 dalam Al Qur'an.

Menurut Quraish Shihab, kata Qadar (ู‚๏บฉ๏บญ) sesuai dengan penggunaannya dalam ayat-ayat Al Qur'an dapat memiliki tiga arti yakni [1]:

Penetapan dan pengaturan sehingga Lailat Al-Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Penggunaan Qadar sebagai ketetapan dapat dijumpai pada surat Ad-Dukhan ayat 3-5 : Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan.

Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami Kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran.

Penggunaan Qadar yang merujuk pada kemuliaan dapat dijumpai pada surat Al-An'am (6): 91 yang berbicara tentang kaum musyrik: Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada masyarakat sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surat Al-Qadr.

Penggunaan Qadar untuk melambangkan kesempitan dapat dijumpai pada surat Ar-Ra'd ayat 26: Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya).

Lailatul Qadar dapat juga kita artikan sebagai malam pelimpahan keutamaan yang dijanjikan oleh Allah kepada umat islam yang berkehendak untuk mendapatkan bagian dari pelimpahan keutamaan itu. Keutamaan ini berdasarkan nilai Lailatul Qadar sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Dalam Al Qur'an, tepatnya Surat Al Qadar malam ini dikatakan memiliki nilai lebih baik dari seribu, bulan (97:1). Pada malam ini juga dikisahkan Al Qur'an diturunkan, seperti dikisahkan pada surat Ad Dukhan ayat 3-6. (44:3).

Terdapat pendapat yang mengatakan bahwa terjadinya malam Lailatul Qadar itu pada 10 malam terakhir bulan Ramadan, hal ini berdasarkan hadits dari Aisyah yang mengatakan :

" Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam beri'tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan dan dia bersabda, yang artinya: "Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Romadhon" " (HR: Bukhari 4/225 dan Muslim 1169).

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Lailatul Qadar kemungkinan akan "diwujudkan" oleh Allah pada malam ganjil, tetapi mengingat umat islam memulai awal puasa pada hari atau tanggal yang berbeda, maka umat islam yang menghendaki untuk mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar dapat "mencarinya" setiap malam.

Agar kita yang menghendaki "mendapatkan" Lailatul Qadar, maka berbuka puasalah "sekadarnya" saja agar badan tidak "menjadi berat" dan malas serta menjadi sebab ngantuk dan mudah tertidur, sehingga yang kita inginkan untuk mendapatkan Lailatul Qadar tidak membuahkan hasil.

Malam ketika saya melaksanakan iktikaf juga berada diantara malam hitungan ganjil di sepertiga malam terakhir. Saya ikut acara yang memang berhukum wajib bagi seluruh pegawai berjenis kelamin laki-laki.

Percayalah, iktikaf itu tidak mudah. Perjuangan mendapatkan Lailatul Qadar pun sangat membutuhkan kekuatan. Baik kekuatan lahir maupun batin. Bagaimana tidak? Kekuatan lahir jelas ada pada kondisi fisik yang harus tetap sehat dan prima meski semalam suntuk beribadah hanya kepada-Nya.

Kekuatan batin itu serupa niat, semangat dan keistiqamahan untuk menyelesaikan apa yang sudah diniatkan yaitu meraih malam yang lebih baik dari seribu bulan seperti yang Allah janjikan.

Saya sendiri berkomitmen untuk menyelesaikan tadarus Al Qur'an yang sejak awal Ramadhan sudah saya mulai. Dan alhamdulillah, di akhir iktikaf kemarin saya berhasil khatam dengan sempurna.

Yang saya khawatirkan justru istri tercinta, sebab sepertinya ia sedang fokus menyelesaikan VCT-nya dan kemarin sudah terpotong menstruasi selama lima hari. Kalau boleh saya menghitung ada 12 hari yang dia tidak bisa maksimalkan untuk bertilawah sebab dia juga harus menjaga Bebi Jesi karena saya tidak di rumah selama iktikaf di selama tiga hari. Itu artinya jika ia bisa mencapai jus ke delapan belas pada akhir Ramadhan nanti itu berarti dia sudah maksimal ikut One Day One Jus versinya sendiri.

Saya tahu, istri juga sibuk menulis. Entah apa itu nama eventnya. Yang jelas dia mengisi malamnya selalu dengan menulis. Saya sendiri suka heran dengan semangatnya. Lah wong dia sendiri jadi Pj kok malah kepengen ngikut Nulis juga. Apa ya nggak mumet begitu ya. Kan ada tugas rekap juga. Memangnya dia bisa teliti dengan semua postingan yang semuanya pasti nge-tag dia.

Ah, sudahlah. Istri saya memang begitu. Dia suka sekali cari kegiatan. Kadang kegiatan itu suka datang berbarengan. Dan asyikknya, selalu ada permohonan izin sebelum dia memulai kesibukannya. Bahkan dia berani meminta izin keluarga di group Wa demi dukungan do'a dan dukungan dari semua. Dia selalu bilang, apalah saya tanpa mereka semua. Keluarga bagiku adalah segalanya. Begitu katanya. Ya wis lah. Saya nurut saja.

Saya nurut apa maunya selama masih dalam koridor kebaikan dan tidak melanggar syariat Islam. Saya nurut bukan berarti saya tidak bisa jadi imam dalam keluarga. Jelas saya ada di posisi tertinggi selaku hakim penentu kebijakan keluarga.

Bahkan untuk sekedar membeli sesuatu dia selalu berdiskusi dengan saya. Untuk urusan remeh membeli camilan juga dia suka heboh kalau sedang japri menjelang gajian tiba.

Entahlah, saya menikmati saat-saat kebersamaan yang tidak semua keluarga bisa merasakannya. Saya memang seharian bekerja, tapi dia selalu hadir menyapa meski hanya dengan tiga kata. Dia juga pekerja profesional, tapi dia tak pernah absen untuk menyapa keluarga meski hanya lewat WA. Ah, rasanya hidup serasa sepi tanpa dia.

Teruntuk istri yang selalu saya cinta, izinkanlah saya mengutarakan apa yang selama ini tersimpan di dada.

Terima kasih untuk semua semangat yang setiap hari kau tularkan padaku. Bahkan jauh sebelum aku sadar bahwa aku mencintaimu, kau sudah buktikan itu. Semangatmu untuk selalu menyapaku agar bersama mencari donatur demi meraih dana maksimal di event itu sungguh sangat luar biasa bagiku.

Terima kasih untuk semangat menulismu yang berhasil kau sulutkan padaku. Bahkan di event RWC ini kau niatkan sepuluh hari terakhir menulis dengan sudut pandang aku sebagai orang yang bercerita tentang apapun. Sedangkan Day 1-20 sudah kau tuntaskan dengan sudut pandang aku sebagai dirimu sendiri.

Katamu, ini cara agar dunia tetap seimbang. Sebab pembaca mungkin saja akan bosan jika terus membaca cerita Ibu Jesi. Bukankah Ayah Jose juga punya kisah dan sejarah juga? Mari kita rangkai Ramadhan tahun ini dengan sukacita. Cita dan cinta diantara kita adalah senjata untuk menaklukkan semua tantangan yang ada.

Percayalah, Lailatul Qadar itu akan kita dapatkan bersama. Aamiin...


๐ŸŒธ

@RumahClever, Cilacap, 3 Juni 2019: 23.27.
Betty Irwanti Joko
Ibu Jesi
Nyi Bejo Pribumiluhur

#1085kata

Kapan Kita Mudik?

15.25 0


Ramadhan Writing Challenge
#RCO
#Day22
#OneDayOnePost
#Pergiataupulangkekampunghalaman

Mudik adalah salah satu kata-kata sakral yang bergema si akhir bulan Ramadhan. Pergerakan massa dari kota ke kota, dari kota ke desa, dari mancanegara ke dalam negara atau ke segala penjuru dunia secara bersamaan dalam kurun waktu seminggu sampai dua mingguan, biasanya akan disiarkan di televisi dalam jangka sepuluh harian.

Mudik yang terjadi di Indonesia ini sangat unik. Apalagi kalau bukan segala aktivitas yang menyertainya. Masyarakat berbondong-bondong ingin berhari raya di kampung halaman oleh karena itu mereka semua mewajibkan diri untuk pulang menemui keluarga yang sudah setahun terakhir ini dirindukan. Atau bahkan ada yang lebih lama lagi tidak pulang. Rindu mereka melebihi istri Bang Toyib yang tiga kali puasa tiga kali lebaran tidak juga pulang, mudik lebaran.

Mudik tahun ini sedikit sepi secara mata saya memandang. Bagaimana tidak, televisi dikuasai sepenuhnya oleh Bebi Jesi yang setiap hari menyetel kaset VCD dengan lagu anak-anak atau kartun kesayangan. Belum lagi jika Kakak Fatih ikut merajuk akhirnya kan harus mengalah. Masa iya harus rebutan.

Rebutan gadget iya, sebab Ibu Jesi sibuk dengan VCT-nya. Gadget saya jadi favorit Bebi Jesi. Setiap saya pulang kerja yang dicari pasti gadget ayahnya. Dia tidak meminta gadget milik ibunya. Sebab jadul, tanpa banyak bisa berselancar game dan aplikasi yang lainnya. Makanya dia meminjam hp Kakak Fatih yang baru dibeli kemarin dengan uang tabungannya.

Saya sibuk dengan kerja. Belum libur juga sampai H-2. Ada jadwal piket yang menyertainya. Pasti lalu lintas jalan raya sudah padat merayap, mirip nyanyian si Komo lewat.

Mudik tahun ini sama sekali tidak saya rasakan. Sama seperti tahun-tahun yang sudah berlalu. Saya hanya bisa tinggal di rumah, duduk manis menunggu adik dan adik ipar yang mudik dari luar kota dan ibukota Jakarta sana.

"Bu, lebaran besok bakal sepi kayaknya di rumah eyang," tanyaku pada suatu kesempatan.
"Emang saudara tidak pada mudik?"
"Menurut info sih tidak."
"O, ya iya bakal sepi mungkin. Ya disibukin silaturrahmi aja. Biar gak berasa sepi."
"Di rumah sini sepi juga gak ya?"
"Kayaknya si rame, seperti biasa. Om Rudi juga bakal mudik sama Tante Ayu."
"Oh, kapan?"
"Katanya Om sudah otw dari Jakarta tanggal 30 Mei. Mampir Kebumen dulu pastinya."
"Wah, Jesi bakal seneng bisa jalan-jalan naik mobil dong."
"Iya, si Merah sudah sering ia tanyakan."

Kemarin sore saat saya sedang menyuapi Bebi Jesi, tiba-tiba istri masuk dengan terburu-buru.

"Ayah, ada anaknya pakde Wangon di rumah eyang."
"Siapa? Mbak Uci?"
"Iya, sama suami dan Gendhis. Jarot nggak ikut."
"Ya nanti lah, ini baru aja mau makan. Dari pagi kan Jesi nggak mau makan."
"Ya udah, aku mandi dulu aja ya. Terus ke sana. Nanti Ayah nyusul sama Jesi ya..."

Ibu Jesi bergegas mandi kemudian salat Asar dan meluncur ke rumah eyang yang jaraknya hanya 200 meter kurang lebih. Lima menit naik sepeda motor pasti sudah sampai. Jalan kaki sepuluh menit juga sudah bisa sampai. Di sanalah rumahku. Rumah bercat warna campuran hijau dan biru. Rumah mewah yang semribit full angin cemilir alias ac karena letaknya mepet sawah.

Saya sendiri tinggal di Rumah Clever sejak menikah dengan Ibu Jesi tahun 2013 lalu. Bahkan sampai ada Bebi Jesi saya dan istri tak berpikir sama sekali untuk pindah rumah maupun pindah domisili. Entah nanti atau suatu saat. Niat untuk terus bersama keluarga sambil menjaga dan merawat kedua orang tua sungguh itu benar-benar sebuah niat yang harus diiringi dengan perjuangan setiap harinya.

Sudah sejak remaja saya selalu merantau ke luar kota bahkan ke luar negara. Rupanya istri tak berkenan lagi jika berada jauh dari suaminya. Itulah syarat yang diajukannya sebelum menikah dulu. Bahwa ia tak ingin suaminya berada jauh dari keluarga, terutama orang tua.

"Orang tuaku sudah tua Mas. Begitu juga orang tuamu. Apakah kau tidak pernah berpikir ingin menjaga mereka meski tidak satu rumah nantinya. Rumahku dan rumahmu masih satu desa, kita bisa sering-sering menyapa atau hanya untuk sekedar bertahap muka."

Saya diam dalam waktu lama sampai akhirnya menerima permintaan istri dengan lapang dada. Itu masa-masa sebelum menikah dulu. Antara tahun 2006-2013. Saat saya dan Ibu Jesi masih terpisah jarak antara Bali Cilacap dan antara Indonesia Malaysia. Dia ingin meretas jarak dan waktu, tak ingin ada lagi keduanya diantara hubungan pernikahan kelak.

Saya dan Ibu Jesi tidak saling mengenal pada awalnya namun sebab suatu acara temu alumni di sekolah dasar kami akhirnya terlibat dalam satu comblangan yang dilakukan oleh Mbak Inaya. Sungguh karena dia dan Dia akhirnya kami bisa menikah pada akhirnya.

Entah jika dulu kami tidak mengalami cinta lokasi, mungkin tahun ini saya akan mudik. Seperti Om Rudi yang dapat jodoh orang luar kota. Atau mudik seperti kebanyakan tetangga yang merantau ke ibukota.

Pernah suatu kali istri bercerita tentang saat lebaran tahun 2010 yang tidak akan pernah bisa ia lupakan tragedinya.

"Jadi, waktu itu aku dan rombongan PGRI ada acara nengok rekan yang sakit di RSUD Banyumas. Nah, pas berangkat tidak ada kejadian apapun.  Waktu pulang itu kejadian aneh terjadi aku kesasar sampai ke Lumbir. 12 kilometer dari perempatan Wangon,"

"What? Kok bisa?"

"Entahlah, aku sendiri tidak paham kenapa itu bisa terjadi. Yang jelas aku empang melihat begitu banyak mobil dan kendaraan lalu lalang, pas mudik waktu itu. Yang jelas aku tidak melihat ada belokan kiri yang seharusnya aku menuju ke arah itu. Aku lurus. Sampai tersadar, lho kok alas ra mandeg-mandeg? Kalau hutan yang arah Wangon itu kan sedikit terus sudah sampai pertigaan Jeruklegi."

"Kok tahu itu nyasar ?"

"Aku kan berdua bareng Mbak Ning. Nah, kami berdua seperti orang keselong yang tak tentu arah. Kemudian tersadar di tengah hutan hampir sampai daerah Karangpucung. Kami pun putar balik. Bertanya pada tukang parkir kalau tidak salah. Lalu memberitahu kalau kami kesasar. Lalu aku dan Mbak Ning kembali ke arah Wangon dan menjadi orang terakhir yang sampai rumah."

Pas istri cerita itu saya sampai bengong melompong, tak bisa menolong dan berbuat apapun. Lah wong saya sendiri posisi masih di Negara Bagian Sabah, dia di Cilacap. Kami terpisah jarak. Dan tidak ada wacana mudik tahun itu. Bahkan untuk tahun-tahun berikutnya.

Saya baru pulang mudik menjelang lebaran tahun 2013 lalu menikahinya. Jadi, pertanyaan setiap tahun masih sama: Kapan kita mudik?

๐ŸŒธ

@RumahClever, Cilacap, 3 Juni 2019: 15.17.
Betty Irwanti Joko
Ibu Jesi
Nyi Bejo Pribumiluhur

#1017kata






Mabit di MaYaZa

04.57 0


Ramadhan Writing Challenge
#RCO
#Day21
#OneDayOnePost
#Mabit
#Malambinaimandantakwa

Hari masih gelap. Jalanan masih sepi. Udara dingin masih menyelimuti pagi. Pagi ini seperti biasa aku sudah menyusuri jalanan agar bisa sampai di tempat kerja tanpa telat absen sidik jari. Perjuangan yang sudah sekian tahun aku jalani, demi sebuah cita-cita menafkahi keluarga dan berbakti kepada kedua orang tua.

Pagi ini istimewa, karena istriku mendampingi segala persiapan sejak pukul tiga dini hari. Dia bangun memasak menu makanan sahur kemudian menyiapkan segala perlengkapanku. Kali ini aku bakal tidak pulang beberapa hari dan tidak bertemu Bebi Jesi. Ah, rasanya kangen itu akan sangat menyesakkan dada. Sebab aku senantiasa berada di samping mereka meski hanya di sore sampai malam harinya.

Kupercepat laju kendaraanku, agar jarak 41 kilometer itu tak terlalu menghabiskan banyak waktu. Dalam kurun waktu yang normal, aku bisa menaklukkan perjalanan selama empat puluh lima menit sampai paling lama satu jam pada kecepatan rata-rata 40-60 km/jam.

Kubelokkan sepeda motorku ke arah kiri, begitu telah kelewat perempatan lampu merah terminal di depan rumah dokter anak yang terkenal itu. Pintu gerbang biru siap menyambut. Senyum salam sapa dari teman satpam menghangatkan suasana pagi yang sebenarnya sangat dingin. Aku sampai memakai masker kekinian serupa potongan baju dalaman tanpa lengan. Ah, entah apalah itu namanya. Aku sendiri kurang begitu paham.

Sampai di tempat parkir kendaraan, aku langsung bersiap dengan Ibu jari kanan yang akan kupakai untuk finger print.

Klik.

Alhamdulillah, seperti biasanya. Aku selalu on time sampai di tempat kerja. Jarang sekali terlambat, bahkan setahun kemarin aku tak pernah telat.

Kuposisikan sepeda motor Suara X 125 berwarna hitam merah itu di pojok. Kuambil tas besar berisi baju-baju dan yang lainnya. Baru saja aku akan melangkahkan kaki, ada yang menyapaku.

"Pak Jok, kita mabit sampai hari apa?"
"Sampai Hari Selasa pak, memangnya bapak belum baca surat di Grup WA sekolah.
"WA apa pak? Aku belum buka gadget. Semalam di setrap sama anak malah. Saya ketiduran."
"Oh, ya ora beda karo aku." (Ya, nggak beda sama saya."

Aku siap-siap bekerja pagi ini, mengerjakan aktivitas apapun seperti biasanya. Sampai pada saat adzan Dhuhur berkumandang ternyata aku pun masih sibuk. Tapi karena sudah ada panggilan Allah dan pihak sekolah selalu mewajibkan bapak-bapak untuk salat berjamaah di Masjid Raya Sekolah aku bergegas. Beberes dan bersih-bersih kemudian mengambil air wudu.

Satu persatu anak tangga kunaiki, seraya memanjatkan do’a kepada Ilahi Rabbi. Semoga istri dan puteri kecil tercinta selalu sehat, demikian juga keluarga. Aamiin...

Begitu sampai di dalam masjid, suasana sudah ramai. Sudah banyak anak-anak SMP dan anak SD yang siap dengan perlengkapan salatnya. Aku pun sudah. Baju kerjaku setiap hari insyaallah selalu siap dan suci sesuai persyaratan ibadah wajib maupun sunah. Tidak perlu ganti sarung, paling hanya menambahkan peci.

Ba'da salat Dhuhur aku kembali menyelesaikan tugasku. Sampai anak-anak pulang, aku masih sibuk. Bahkan lebih sibuk dari yang lainnya. Di sela kesibukan kulihat banyak orang berdatangan untuk menuju Masjid Raya Sekolah, mungkin pada mau ikut mabit dan iktikaf seperti yang sudah diinformasikan oleh ta'mir masjid di group Wa sekolah.

"Pak Jok, ayuk siap-siap registrasi. Yang lain sudah naik ke atas."
"Nggih, Pak. Sebentar lagi."
"Tak tunggu apa pak?"
"Mboten usah pak, saya sendiri saja nanti."
"Oke pak, tak tinggal ya..."
"Nggih..."

Segera kuselesaikan pekerjaanku, aku setengah berlari menuju masjid siang menjelang sore hari itu. Rupanya antrean masih berjubel. Kelihatannya banyak pesertanya ini, begitu kataku dalam hati.

Setelah registrasi aku mengambil air wudu lalu kembali menaiki anak tangga. Karena masjid memang berada di lantai dua. Lantai dasar dipakai untuk auditorium, ruang serbaguna yang bisa dipakai untuk acara apa saja. Bahkan sudah sering juga disewa oleh pihak luar yang ingin menyelenggarakan acara di dalam gedung yang lumayan luas.

Sejauh mata memandang aku menemukan orang-orang dengan perlengkapan salatnya. Banyak juga yang memegang mushaf Al Qur'an di tangannya. Shaf rapat tidak ada sela. Riuh gemuruh suara lantunan ayat-ayat dzikir dan do'a sambil menunggu acara pembukaan dimulai oleh sang imam masjid.

"Pak Jok, sini sini." suara itu terdengar tidak jauh. Aku mencari siapa yang menyapa.
"Ramai ya Pak ternyata."
"Iya, Pak. Malam Minggu juga jadi banyak sekali yang ikut. Kita barengan aja di sini ya."
Aku mengangguk.

Khusyuk sekali suasana masjid begitu imam mulai membuka acara. Salat Asar menjadi awal segala kegiatan malam ini. Kajian menjadi kegiatan setelahnya.

Selesai kajian yaitu saat menjelang buka puasa, semua mengantre untuk sekedar mengambil air teh panas sebagai penghilang dahaga selain kurma dan takjil yang sudah dibagikan tanpa harus mengantre adanya.

Sambil menunggu adzan Maghrib berkumandang aku membaca jadwal kegiatan yang dibagikan tadi saat registrasi. Oh, rupanya setelah salat tarawih nanti ada kajian, ada tadarus, ada sarah sehan kemudian ditutup dengan kajian malam. Dan itu artinya aku harus siap melek sampai tengah malam. Baiklah, aku harus bersiap. Semoga aku tidak mengantuk kemudian.

Aku mengambil gadget dan membuka grup WA keluarga. Tidak ada chat apapun di sana. Mungkin semua sedang sibuk persiapan buka puasa. Terutama istriku yang harus berbuka sambil menjaga Bebi.

Tanda buka puasa terdengar, alhamdulillah puasa hari ini lancar tanpa kendala apapun. Semoga tiga hari ke depan puasa tetap lancar, kerja tetap lancar dan mabit juga lancar. Aamiin

Tiga Hari Kemudian

Aku sudah bersiap untuk kembali pulang. Ada izin pulang lebuh awal khusus untuk pegawai laki-laki yang sudah selesai merampungkan mabit. Tugas akan digantikan sementara oleh para pegawai perempuan yang hanya diwajibkan untuk mengikuti kajian fiqih saat siang.

"Tinggal saja Pak Jok, biar nanti kami yang handle sisa tugas."

Siap deh kalau gitu. Aku siap bertemu dengan istri, puteri kecil dan keluarga lagi. Meski harus menempuh perjalanan satunya baru sampai, semangat itu senantiasa mengiringi.

Aku mengirim chat ke grup keluarga, "Ayah bersiap pulang. Tunggu ya Bebi Jesi"

Beberapa menit kutunggu reaksi, masih juga tidak ada jawaban. Ya sudah, aku langsung otw saja menuju kampung halaman. Eh, kok jadi berasa mudik begini ya. Padahal lebaran masih beberapa hari.

Tepat tengah hari aku sudah sampai di rumah. Istriku menyambut dengan segala keceriaan.

"Assalamu’alaikum, Ayah sudah pulang?"
"Waalaikumsalam, iya Bu? Jadwal pulang dari jam setengah sebelas tadi,"
"Lha, kerjaan gimana?"
"Sudah dihandle sama ibu-ibu. Bapak-bapak sudah pulang semua."
"O..."
"Jesi mana Bu?"
"Jesi, di kamar."

Istriku melepas jaket yang kupakai dan membawa tas ke dalam kamar.

"Jesi... Ayah pulang..."
Yang dipanggil berlari menghamburkan diri ke arahku.
"Ayah sudah pulang?"
Aku hanya menjawab dengan anggukan kecil, sebab sibuk menciumi puteri kecil yang kurindukan.
"Ayah sudah pulang kerja?"
"Sudah sayang, ayah sudah pulang." istriku menjawab pertanyaan Bebi Jesi yang kelihatan antusias kemudian.
"Ayah pulangnya lama. Jesi sama Ibu di rumah"

Aku dan istriku saling berpandangan.
"Jesi manut nggak?" tanyaku.
"He eh"
"Jesi nggak rewel?"
"Nggak, Jesi kan anak manut."

Aku dan istriku tersenyum. Aku menggendong Bebi Jesi, memeluknya dengan segenap kerinduan.

"Ayah, sudah khatam?" pertanyaan itu datang tiba-tiba.
"Sudah. Ibu gimana?"
"Aku lagi ngejar target. Setelah lima hari menstruasi. Tapi kesibukan VCT menyita waktu dan fokus. Aku ingin segera menyelesaikannya."
"Keep Spirit sayang!"
"Selalu dong Ayah. My star is My spirit, kan..."

Bintangku semangatku. Dialah Cleverona Bintang Aljazira. Puteri kecil tercinta.

๐ŸŒธ

@RumahClever, Cilacap, 3 Juni 2019: 04.50
Betty Irwanti Joko
Ibu Jesi
Nyi Bejo Pribumiluhur

#1058kata

Tiga Toilet Masjid

02.21 0





Ramadhan Writing Challenge
#RCO
#Day20
#OneDayOnePost
#ToiletMasjid

Yang masuk satu orang yang jagain satu kampung.
Yang bersihin satu orang yang pakai satu kampung.

Ada dua toilet masjid dekat Rumah Clever, satu khusus untuk jamaah laki-laki dan satu lagi tentu saja khusus bagi jamaah perempuan. Toilet masjid ada di arah sebelah kiri dan sebelah kanan setelah masuk ke pelataran masjid.

Aku sendiri jarang sekali memakai fasilitas toilet masjid, bahkan hampir tidak pernah. Sebab belum pernah juga, tiba-tiba ingin buang air besar saat beribadah di masjid dekat rumah.

Biasanya kalau ingin buang air kecil ya tilalaeh pulang aja, kan dekat tuh, lima menit jalan kaki saja sudah sampai. Terus kalau mau wudu sekalian ya wudu di rumah, kalau mau wudu di masjid lah, cari posisi yang nyaman. Pilihanku jatuh pada kran luar yang tidak harus masuk ruangan toilet masjid. Karena jauh lebih bersih dan suci ya tentunya.

Toilet masjid yang aku suka dan rekomendasi banget karena spesifikasinya adalah toilet Masjid Agung Darussalam, dekat alun-alun kota Cilacap. Kenapa? Karena toilet nyaman dan ruang wudu yang nyaman pula. Terlebih karena batas suci yang jelas antara masjid dengan gedung khusus untuk toiletnya.

Masjid Agung Darussalam menjadi tempat tujuan utama bagiku dan The Clever Family setiap ada agenda di kota jika saja tidak mampir ke Masjid Raya Al Azhar yang ada di kompleks sekolah di mana Ayah Jose bekerja.

Dua masjid ini istimewa, kenapa? Karena Bebi Jesi sudah pernah mengunjungi dan beribadah bersama kedua orang tuanya. Saat ada kesempatan yang memungkinkan, aku dan Ayah ingin mengajak Bebi Jesi bersafari dari satu rumah ibadah ke rumah ibadah yang lainnya.

Waktu itu ada undangan hajatan salah satu rekan kerja Ayah Jose. Kami sepakat untuk mengajak Bebi Jesi ke kota Cilacap Bercahaya. Karena memang lokasinya ada di jarak 41 kilometer dari Rumah Clever bahkan lebih. Kami bersiap bahkan sejak pagi, agar Bebi Jesi bisa nyaman tanpa harus kepanasan.

Setelah satu jam memacu kendaraan melewati banyak desa dan beberapa kecamatan sampailah kami di tempat tujuan. Kami pun menikmati banyak kebersamaan dan perkenalan dengan teman baru. Khususnya bagi aku dan Bebi Jesi. Ini kali pertama dia muncul ke ranah lingkungan kerja ayahnya. Kalau ke sekolah ibunya kan sudah teramat sering ya. Bahkan bisa dibilang setiap hari jika Bebi Jesi minta nyusul ya harus disusulkan.

Selesai dengan agenda kondangan , tujuan berikutnya jelas ke Masjid Agung Darussalam. Tanpa banyak basa basi lagi, kami bergegas. Dan alhamdulillah, sebelum salat Dhuhur kami sudah sampai pelataran masjid yang luas dengan beberapa pos security di depan pintu gerbang. Ada menara tinggi menjulang yang juga di fungsikan untuk tempat siaran radio Darussalam yang mengudara di kota Cilacap Bercahaya sejak masjid ini berdiri.

"Yah, ibu mau ke toilet masjid khusus perempuan ya. Nanti tak sekalian wudu. Biar bisa gantian sama Ayah,"
"Boleh, biar Ayah yang jaga Jesi di sini. Kelihatannya dia senang."
"Iya, Yah. Tuh lihat. Dia lagi turun naik anak tangga. Jangan lupa di jaga ya Yah,"
"Iya, tenang aja..."

Aku pun meninggalkan Ayah dan puteri kecilnya yang masih berada di pelataran parkir dekat anak tangga masuk masjid. Kulangkahkan kaki ke arah sebelah kanan, menyusuri jalan menuju toilet masjid khusus perempuan.

Selesai menuntaskan hajat, bersuci kemudian berwudu. Aku memasuki area dalam masjid. Interior dalam masjid sungguh luar biasa. Dominan kaligrafi yang terbuat dari kayu jati asli sungguh menjadi ciri khas tersendiri. Kaligrafi itu bahkan ada sampai ke lantai dua masjid ini.

Tiang-tiang penyangga yang rupawan pernah menjadi saksi saat aku sering salat tarawih di sini pada masa sekolah SMA tahun 2001-2004 zaman itu. Meski jarak dari rumah Pakde yang kutinggali cukup jauh namun bisa kutempuh hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit mengendarai sepeda mini. Ah, selalu indah mengenang masa SMAku dulu. Mungkin kapan-kapan aku ingin sekali hadir di acara reuni, jika saja ada yang mengadakan nanti.

"Ayah, ibu sudah wudu. Sekarang giliran Ayah,"
"Ayah wudunya nanti aja sekalian, kalau Ibu sudah salat Dhuhur. Sebentar lagi masuk waktunya."
"Oh, ya sudah kalau begitu. Ibu masuk lagi. Nanti begitu terdengar adzan, Ibu akan salat. Biar Ayah nunggunya nggak kelamaan."
"Boleh deh."
"Iya, nanti yang jamaah Ayah saja. Tugas menjaga Bebi Jesi itu yang utama."
"Salat juga penting kan bu,"
"Iya, tapi bagi ibu rumah tangga. Menjaga baby itu harus fokus meski sambil salat kan."
"Iya, juga..."
"Alhamdulillah, Jesi manut."
"Alhamdulillah..."

Beberapa saat kemudian terdengar adzan. Sepuluh menit berselang, aku sudah kembali untuk gantian menjaga Bebi Jesi. Ayah Jose menuju toilet masjid khusus laki-laki lalu masuk masjid untuk salat Dhuhur berjamaah. Aku memperhatikannya dengan fokus utama tetap pada Bebi Jesi.

"Ibu, ayah mana?"
"Ayah, salat sayang."
"Di mana?"
"Di dalam..."
"Jesi, mau Ayah..."
"Yuk, nyusul ke dalam..."

Bebi Jesi berjalan pelan, tengak-tengok ke sana-kemari mencari ayahnya. Waktu itu jalannya sudah lancar tapi masih dalam pengawasan, umurnya masih satu tahun lebih sembilan bulan. Jesi baru bisa jalan lancar di usia lima belas bulan. Termasuk umur dewasa bagi seorang anak untuk belajar jalan. Tapi jangan ditanya seperti apa tutur kata dan susunan kalimat yang bisa dia sampaikan. Sejak satu tahun bahkan dia sudah bisa berbicara tanpa cela. Sungguh ini karunia dari Yang Maha Kuasa.

"Yah, habis ini kita ke mana?"
"Kita cari makan dulu aja apa?"
"Ke mana?"
"Pasar Gede saja. Sekalian baik Jesi jalan-jalan."
"Ke DM sama Rita juga nggak Yah?"
"Tergantung..."
"Cantolan dong..."
"Hehe..."
"Ya sudah yukk... Biar pulangnya nggak kesorean juga."
"Emang kenapa kalau kesorean?"
"Kasihan Bebi dong sayang?"
"Justru pulangnya sore aja biar nggak panas, kan? Adem gitu."
"Itu, kan maumu. Hehehe"

Kami tertawa bersama. Ya sudahlah. Jalani dulu semua kegiatan senang. Asal Bebi Jesi nyaman, kami berdua sebagai orang tuanya pun senang kemudian. Iya, kan?

Kring... Kring... Kring...

"Assalamu’alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
"Joko... Kamu di Cilacap apa?"
"Iya bude. Ada apa?"
"Mampir sini, aku mau titip ikan segar buat Mbah Uyutnya Jesi."
"Oh, banyak apa?"
"Ya lumayan. Nanti jatah buat Jesi juga ada."
"Iya, bude. Nanti aku ke sana."
"Iya, ditunggu."

Bude tahu aku dan Ayah juga Bebi Jesi ada di kota dari siapa ya?

Kring... Kring... Kring...

"Assalamu’alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
"Ayah Jesi masih di Cilacap apa?"
"Iya Mbah Uti. Ada apa?"
"Suruh mampir ke rumah Bude Juri, katanya mau titip ikan segar buat Mbah Uyutnya Jesi."
"Oh, banyak apa?"
"Ya lumayan. Nanti jatah buat Jesi juga ada."
"Iya, Mbah. Nanti aku sama ibu juga Jesi ke sana. Ini juga bude telepon barusan,"
"Iya, barusan telepon ke sini. Katanya mau antar. Tapi aku bilang titipin aja ke Jesi. Jesi lagi di Cilacap."

O
Jadi begitu ya.
Oke...

๐ŸŒธ

@RumahClever, Cilacap, 1 Juni 2019: 02.16
Betty Irwanti Joko
Ibu Jesi
Nyi Bejo Pribumiluhur

#1075kata