Amplop Uang Kertas

00.19




Ramadhan Writing Challenge
#RCO
#Day27
#OneDayOnePost
#Amplop

Luarnya kertas. Dalamnya kertas. Luarnya tulisan selamat lebaran. Dalamnya gambar pahlawan. Duh, bahagianya.

Ada uang kertas Rp. 1.000 yang memiliki gambar utama tokoh Pahlawan Nasional Kapitan Pattimura dengan bagian belakang Pulau Maitara dan Tidore dengan dominasi warna hijau dan biru. Uang pecahan ini memiliki beberapa unsur pengamanan berupa tanda air bergambar pahlawan nasional, benang pengaman, dan visible ink yang akan memendar dengan bantuan alat. Tahun Emisi 2000 dengan ukuran 141 mm x 65 mm.

Kalau dimasukkan lima lembar saja, lumayanlah bisa buat diberikan anak-anak yang belum begitu paham nominal uang.

Ada uang kertas pecahan Rp. 2.000 Tahun Emisi 2009 ukuran 141 mm x 65 mm memiliki gambar utama tokoh Pahlawan Nasional Pangeran Antasari dengan bagian belakang tarian adat dayak. Dengan dominasi warna abu-abu, uang pecahan ini memiliki beberapa unsur pengamanan berupa tanda air bergambar pahlawan nasional, benang pengaman, dan visible ink yang akan memendar dengan bantuan alat.

Kalau dimasukkan dua lebar kiranya belum patut, dimasukkan tiga lembar masih kurang sreg di hati. Akhirnya lima lembar akan sungguh mantap di hati. Karena jumlah nominal segini saja sudah pas dan menjadi primadona banyak pribadi. Termasuk aku.

Uang kertas dengan Tahun Emisi 2001 berukuran143 mm x 65 Mm adalah uang kertas pecahan Rp. 5.000 yang memiliki dominasi warna hijau dan coklat dengan gambar utama tokoh pahlawan nasional asal Provinsi Aceh Tuanku Imam Bondjol sedangkan pada bagian belakang terdapat gambar pengrajin tenun. Unsur pengamanan yang terdapat pada pecahan ini yaitu: tanda air bergambar Cut Nyak Meuthia yang akan terlihat apabila diterawang, tulisan mikro bertulisakan “Bank Indonesia” yang akan terlihat hanya dengan alat bantu dan benang pengaman yang tertanam di dalam kertas yang akan memendar dibawah sinar UV.

Ini kalau dimasukkan dua lembar saja, sudah cukuplah. Kalau untuk anak-anak yang sekiranya masih saudara empat lembar saja itu sudah bisa jadi pilihan. Atau jika mau, bisa tambahkan satu lembar lagi. Biar dan ambil jika digabungkan bisa untuk beli paket kuota satu bulan penuh. Kalau dua amplop itu dibagi buat aku, bisa buat beli paketan dua bulan, ditambahi sedikit. Hemat pangkal kaya, kan?

Untuk Uang Kertas Pecahan Rp. 10.000, Tahun Emisi 2005 ukuran145 mm x 65 mm memiliki dominasi warna ungu kebiruan dengan desain gambar utama tokoh pahlawan nasional Sultan Mahmud Badaruddin II sedangkan pada bagian belakang rumah adat limas berasal dari daerah Palembang. Unsur pengaman yang terdapat pada uang pecahan ini salah satunya yaitu Rainbow Printing dimana dalam satu bidang tertentu dapat berubah warna apabila dilihat dengan sudut tertentu.

Ini sangat mantap diberikan dalam jumlah berapa saja. Bisa satu, dua, tiga atau empat atau bahkan lima. Mungkin ini khususnya untuk keponakan atau sepupu-sepupu yang masih jomlo ya, eh. Maksudnya untuk mereka yang masih belum punya penghasilan sendiri alias masih sekolah. Begitu. Itu sama dengan jomblo atau bukan? Kalau dalam hari raya imlek kan kayaknya ada ya, acara nyanguni (memberikan angpau pada yang masih sendiri.) Nah, amplop berisi lima lembar uang sepuluh ribuan bisa jadi pilihan yang tepat. Agar si jomlo bisa mengumpulkan amplop sebanyak-banyaknya kemudian bisa buat beli kuota lalu berselancarlah di dunia maya. Siapa tahu di sana kamu akan menemukan jodoh yang selama ini tak pernah kauduga.

Nah, tiga nominal selanjutnya pasti sudah bisa kamu tebak kan? Yap, benar banget.

Uang kertas Pecahan  Rp. 20.000, Rp. 50.000 dan Rp. 100.000 memiliki fitur sekuriti yang lebih tinggi dibandingkan uang kertas pecahan lainnya. Pencetakan dua pecahan ini memerlukan ketelitian khusus dan menggunakan mesin off-set simultan yang mampu mencetak gambar depan dan belakang secara bersamaan dengan tingkat presisi yang tinggi. Dengan teknik ini dapat dihasilkan unsur pengamanan rectoverso, yakni dua gambar yang berbeda di dua sisi berlawanan tetapi apabila diterawang membentuk suatu kesatuan gambar yang utuh. Proses pencetakan dua pecahan ini juga menggunakan teknik cetak intaglio yang akan memberikan hasil cetak timbul pada permukaan kertas uang.

Ada uang Kertas Pecahan Rp. 20.000 dengan tahun Emisi 2004 Ukuran 147 mm x 65 mm memiliki dominasi warna hijau dengan gambar utama tokoh pahlawan nasional Oto Iskandar Muda sedangkan pada bagian belakang bergambar pemetik teh di perkebunan. Uang kertas ini memiliki beberapa fitur pengaman, yaitu : Gambar berupa logo BI yang dapat berubah warna apabila dilihat dari sudut tertentu, latent image tulisan BI dan benang pengaman yang berbentuk seperti anyaman yang akan memendar di bawah sinar ultraviolet

Uang Kertas Pecahan Rp. 50.000 Tahun Emisi 2005 Ukuran 149 mm x 65 mm memiliki dominasi warna biru dengan gambar utama bagian muka adalah tokoh pahlawan Indonesia yang berasal dari Bali I Gusti Ngurah Rai. Pada bagian belakang uang terdapat gambar salah satu destinasi wisata di Pulau Bali yaitu Danau Beratan dengan Pura Ulundanu. Pada uang kertas ini terdapat tanda air/watermark bergambar sama dengan bagian muka dan blind code yang diperuntukkan bagi orang berkebutuhan khusus.

Yang terakhir Uang Kertas Pecahan Rp. 100.000 dengan Tahun Emisi 2004 Ukuran 151 mm x 65 mm memiliki desain gambar utama tokoh proklamasi  Indonesia Ir. Soekarno dan H. Mohammad Hatta di bagian muka dan Gedung DPR/MPR RI di bagian belakang dengan dominasi warna merah. Dalam pencetakan pecahan ini menggunakan teknik cetak intaglio dimana hasil cetakannya akan memunculkan elemen halus sampai tebal yang memberikan kesan kasar apabila diraba. Pecahan ini memiliki unsur pengamanan yang paling tinggi dibanding pecahan lainnya.

Uang kertas berwarna biru bergambar pahlawan dengan nominal Rp. 50.000 bisa jadi jurus andalan. Kadang tanpa perlu dimasukkan ke dalam amplop bisa juga lho buat merayu keponakan yang masih imut kalau susah diajak salaman atau berpelukan. Kasih aja salam tempel dengan syarat, "Salim dulu dong sayang!" pasti anak itu akan mendekatkan tanpa perlu baca-baca terlalu banyak.

Daaannn , taraaa. Yang paling jadi idola adalah uang kertas berwarna merah dengan gambar bapak proklamator Indonesia. Yess, Bapak Soekarno yang super melegenda. Sungguh beliau patut berada di pucuk pimpinan tertinggi dalam segala segi. Termasuk untuk nominal uang kertas tertinggi di negeri ini. Seratus ribu rupiah adalah nominal primadona. Ia selalu tampil dalam setiap gesekan ATM yang diambil oleh customer yang membutuhkan dana untuk apa saja.

Kalau menurutku sih, dua nominal terakhir nggak perlu deh ditaruh di dalam amplop. Sebab sayang kan, kalau hanya aku dan yang diberi amplop yang tahu. Eh, ada Allah juga ya, Yang Maha Tahu. Hehee. Kalau ngasih seratus ribuan gitu langsung cung, tanpa tedeng aling-aling kan waoww, super mantap di hati. Hahaa, pamer dikit boleh kan?

Tapi sungguh, uraian di atas hanya pemanis. Karena seperti tulisan yang pernah digambarkan oleh istriku. Lebaran ini aku tidak nukar uang. Semata-mata ini karena kebingunganku yang tak beralasan.

Waktu itu kulihat istriku sedang tidak ada persediaan. Aku, apalagi. THR belum ada gambaran. Meski pegawai TU di sekolah sudah memberikan banyak kelonggaran tapi ada uang ada barang itu sungguh-sungguh sangat membuat kegalauan.

Tapi namanya rezeki ya, tetap saja aku bisa membagikan uang kertas baru dengan seri yang masih urut. Ah, bahagianya itu hanya ada di dada ini. Dan di dada istriku. Soalnya dia yang pegang kendali urusan sangu menyangu. Meski urusan nominal penukaran dia serahkan sepenuhnya padaku.

"Yah, bilang sama Tante Cantik. Besok kita dibagi tukaran uangnya ya?"
"Lha, itu di grup keluarga Om Rudi juga nawarin..."
"Asyikk, mereka memang terbaik!"
"Emang mau dianggarkan berapa?"
"Ya dua kali separo sama dengan satu dong ya?"
"Ya, satu kali anggaran tahun lalu aja. Gimana?"
"Oke, deh. Besok kita ke Kawunganten ya! Sambil mau cari sesuatu,"
"Apaan?"
"Itu, yang kayak lagi in di statusnya Mbah Cantik?"
"Apaan emang?"
"Lihat aja dulu, lagi pegang gadget kan?"

Aku berselancar kemudian, beberapa saat istriku juga sibuk dengan chattingnya.

"Ah, enggak lah. Aku nggak mau kayak gitu?"
"Lha emang kenapa?"
"Nggak pengen aja!"
"Ya udah, besok hari Minggu kita cari di swalayan Indo aja ya!"

Aku manggut-manggut. Tanda menyetujui usulan istriku tercinta.

Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Pagi-pagi buta sejak Om Rudi nongol di depan rumah dengan Si Merah dan Tante Baik yang sedang hamil, Bebi Jesi terlihat begitu gembira. Tak henti-hentinya dia memandangi si Merah yang lama ia rindukan.

"Hallo, Jesssi."
Yang disapa diam seribu bahasa. Dia tidak melihat orangnya tapi melihat apa yang ada di belakangnya.

Tante Hayyu gemess melihat Bebi Jesi, dia pun mengambur tanpa bisa menahan diri. Memeluk dan menciumi dengan sungguh hati. Mungkin begitu rasanya rindu yang menggunung dan baru bisa pecah saat bertemu.

"Jesssiiii"
Yang disapa masih diam, malah berlari menuju si Merah.
"Ayah, Jesi mau naik!"
"Naik?"
"He eh..."
"Nanti, omnya masih capek. Jesi kan mau jalan-jalan sama Ayah sama Ibu."
"Nggak, Jessi mau naik!"

Om Rudi mendekat, dibukalah pintu Honda Brio berwarna merah yang diklaim oleh Bebi Jesi menjadi miliknya sejak pernah menghuni garasi Rumah Clever.

"Orang mobilnya Jesi malah dipinjam sama Om?"
"Hahaaahaa..."
Semua tertawa tanpa terkecuali, termasuk Mbah Uti dan Mbah Kakung yang sedari tadi juga masih dalam posisi berdiri.

Istriku tersenyum, "Iya ya Jes... Dari kemarin Jesi sudah nanyain. Ibu, mobil Jesi kok belum dikembaliin! Gitu terus tiap hari"

"He eh..." jawab Bebi Jesi spontan sambil anjrutan (lompat-lompat) di dalam mobil mini dengan empat kursi.

"Ihhh, lucu banget si Jesssiii" Tante Hayyu Buru-buru menghampiri meski sebelumnya ia sudah duduk di ruang tamu. Mungkin dia penasaran dengan apa yang terjadi.

Ah, memang begitulah Bebi Jesi. Puteri kecil yang selalu amazing hari demi hari.

"Ayah, ayuk jalan Ayah!"
"Ke mana sayang?"
"Kawunganten Ayah!"
"Ngapain?"
"Beli amplop"
"Amplop?"
"Buat apa sayang?"
"Buat kondangan"

Kami yang mendengar tertawa secara kompak tanpa sengaja

(Sumber informasi tentang deskripsi uang diambil dari laman web yang dimaksud pada pukul 23.09 dan 23.10 WIB)

🔏https://www.peruri.co.id/banknotes-money-coins/47/uang-rupiah-pecahan-1-000---10-000
🔏https://www.peruri.co.id/banknotes-money-coins/48/uang-rupiah-pecahan-20-000---100-000

🌸
@RumahClever, Cilacap, 21 Juni 2019: 23.58.
Betty Irwanti Joko
Ibu Jesi
Nyi Bejo Pribumiluhur

#1558kata

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »