Reuni Atau Kondangan

00.13




Ramadhan Writing Challenge
#RCO
#Day26
#OneDayOnePost
#Reuni

Reuni adalah pertemuan kembali setelah sekian lama tidak berjumpa.

Reuni menjadi ajang temu kangen, baik antara teman semasa sekolah maupun teman sejak kapan lalu tapi lama sekali tidak bertemu.

Reuni marak diadakan sejak bulan puasa dengan tajuk bukber (buka bersama) sampai setelah lebaran Idul Fitri, bahkan rencana reuni sudah ramai dibahas sejak setahun terdahulu.

Tidak ada yang istimewa dengan reuni tahun ini. Tidak ada pertemuan pembahasan khusus kecuali diskusi kecil dalam grup WA yang setiap hari selalu ramai. Selalu ada topik untuk dibicarakan.

"Yah, kapan kamu reuni?"
"Besok katanya pas teman nikah, habis lebaran."
"Wah, itu mah bukan reuni tapi kondangan?"
"Lah, ya ngiras ngirus deh begitu..."
"Emang di mana tempatnya?"
"Di Kubangkangkung, aku juga nggak paham daerahnya sebelah mana?"
"Lah, sih?"
"Lah iya, pas sekolah dulu aku gak begitu akrab. Jadi ya sekedar tahu saja."
"O"
"Bunder"

Temanku yang mau nikah itu masih stay di luar negeri. Pulang juga menjelang hari H. Jadi meski dia masih nun jauh di sana tapi kabar sudah ke mana-mana. Begitulah persahabatan zaman sekarang, ikut terefek derasanya globalisasi. Seakan jarak tak lagi berarti.

Sampai suatu saat ada kabar mengejutkan juga datang dari temanku itu. Ibunya mendadak sakit dan harus dilarikan ke rumah sakit terdekat. Dua hari dalam perawatan entah kenapa takdir berkata lain. Di hari ketiga, ibunya berpulang. Innalilahi wainnailaihi roji'un: betapa jodoh, rezeki dan mati itu adalah misteri. Dan temanku mengalaminya. Sungguh.

Andai dia ada di dalam negeri saat ini, mungkin dia akan dinikahkan saat itu juga. Sebab masih ada keyakinan jika akan ada menikah dan keluarga ada yang meninggal maka boleh ijab qabul di depan jasad sebelum dikebumikan. Apalagi calon mempelai laki-laki sudah siap dengan segala syarat dan administrasi resmi. Tapi mereka menentukan nasibnya sendiri.

Rencana menikah tetap berjalan seperti biasa, hanya tempat yang dipindahkan ke tempat tinggal mempelai laki-laki. Qadarullah, semua tetap berjalan sesuai rencana dengan campur tangan-Nya. Sungguh Allah-lah Maha Segalanya. Manusia boleh berencana sedangkan ada Tuhan yang Maha Mengabulkan.

Aku boleh berencana untuk hadir dalam acara reuni angkatan sekolah istri tercinta. Nyatanya tepat di hari itu juga, ada sepupu yang stay worked di Jepang akan dilamar kekasihnya. Apa boleh buat. Dua rencana dalam satu hari, tetap diniatkan sambil terus berdo'a semoga semua bisa terlaksana.

Malam sebelumnya istriku menyempatkan diri untuk rewang (bantu-bantu) masak di tempat sepupu. Bahkan dia izin padaku malam harinya mau fokus di sana. Tapi tidak kuizinkan sepenuhnya, sebab ada Bebi Jesi yang tetap harus jadi prioritas utama. Selepas salat Maghrib ia rajang-rajang (potong-potong) bahan masakan, saat Bebi Jesi mengantuk aku susul dia karena harus menidurkan segera.

Pagi hari selepas salat Subuh istriku juga pamit ke rumah sepupu. Silakan saja. Jika jam segitu Bebi Jesi memang sedang lelap-lelapnya. Biarkan aku yang menjaga sambil memandangi dan memeluk puteri kecil tercinta. Bisa dipastikan Bebi Jesi akan bangun siang jika aku yang menjaga. Seperti ketika hari Minggu saat aku libur dari bekerja.

"Lho, Yang? Kok cepet. Memangnya nggak ada kerjaan?"
"Ya, ada sih. Cuman kata Mbah Uti aku suruh beresin rumah saja."
"Oh, ya sudah."
"Katanya mau tidur bareng Bebi Jesi?"
"Udah nggak ngantuk kok, jadi tadarus aja,"
"Oh, ya sudah. Ibu ke dapur dulu ya Yah!"
"Oke..."

Aku melihat istriku itu beberes di dapur. Sambil terus menjaga Bebi Jesi aku lanjutkan tadarusku. Kuposisikan diri bersandar dekat jendela kamar. Sambil merasakan udara sejuk pagi seperti biasanya.

Kudengar suara gaduh dari dapur, aku pun melangkah ke luar dari kamar. Oh, rupanya ada saudara yang disuruh pinjam peralatan buat acara hari ini. Dia sedang rewang di tempat sepupu. Mungkin atas utusan Mbah Uti juga. Hanya mungkin dia kesulitan cari barangnya, sebab Mbah Uti itu saking primpen (susah dicari) kalau nyimpen barang-barang.

"Ada apa yang?"
"Ini, Mama Tami pinjam piring sama gelas buat acara sepupu."
"Iya, Ayah Jesi. Disuruh Mbah Utinya. Katanya di lemari depan di posisi paling bawah."
"Coba saja cari sendiri!"
"Tolong bukakan lemarinya, saya tidak tahu di mana?"

Istriku berjalan ke arah depan menuju ruang televisi. Dia membuka lemari yang dimaksud.

"Nanti kalau cari peralatan lagi, buka aja lemari ini ya. Kayaknya ada di sini semua. Yang penting jelas berapa jumlahnya biar gampang balikin ke sini!"
"Iya Bu Jesss..."

Istriku itu kalau sudah memberikan instruksi kayak pejabat eselon lho, panjang kali lebar kali tinggi. Benar-benar bakat jadi pengarah gaya kayaknya dia. Hahhaa. Aku jadi teringat akan sesuatu.

Singkat cerita persiapan lamaran sepupu sudah beres. Tinggal seluruh keluarga The Dafam Family beberes diri. Istriku mandi, disusul Bebi Jesi kemudian aku. Tak ketinggalan juga Mbah Kakung juga Mbah Uti. Kami siap dengan seragam keluarga yang dipakai saat adik menikah setahun yang lalu. Masih bagus dan layak dipakai. Seragam akan segera berganti jika adik bungsu menikah tahun depan nanti, insya allah.

Acara demi acara selesai pada waktunya. Seiring dengan niat yang sudah dibulatkan istriku mengajakku menghadiri acara reuni bersama teman-temannya di sebuah cafe kota kecamatan sana. Butuh sekitar lima belas sampai dua puluh menit naik kendaraan roda dua. Ah, aku menurut saja. Toh ini sudah ada dalam kesepakatan kami sebelumnya.

Kami pun menyusuri sepanjang jalan dari rumah menuju Cafe D'sanny dengan gembira. Terutama Bebi Jesi tercinta. Dia terlihat sangat ceria. Sungguh ini sangat membahagiakan bagiku dan bagi istriku sepertinya. Sampai-sampai sambil nyetir sempat-sempatnya dia bolak-balik ikut menjawab obrolanku dan anaknya.

"Ayah, ayah, ayah..."
"Iya, sayang?"
"Jesi mau ke mana?"
"Ke Kawunganten sayang?"
"Kenapa?"
"Oh, Jesi mau naik odong-odong?"
Aku tertawa, "Oh, Jesi mau naik?"
"He eh..."
"Ya, nanti kalau sudah sampai Kawunganten ya," jawab istriku sambil terus melaju Supra X 125 warna hitam dalam perkiraan kecepatan 40 km/jam. (Kenapa aku segitu pahamnya dengan kecepatan? Ada nggak yang bisa jawab?)

"Lihat itu Jesss, ada kereta lewat!"
"Iya, Ayah. Keretanya panjang ya,"
"He eh"
"Kapan kita mau naik kereta lagi ya Yah?" tanya istriku.
"Nggak tahu deh, hehehe..."
"Huhuhu... Lha rencana Kopdar Malang gimana ini?"
"Tiketnya mahal. Belum ada budget je."

Istriku merengut, mulutnya mengerucut. Ah, biarkan saja dia begitu. Toh pemegang kendali tetap aku. Dia sih memang inginnya ke sini ke situ tapi apalah dayaku melihat saldo ATM yang sudah teralokasi untuk ini dan itu. Paringono rezeki ingkang kathah ya Gusti Allah... Aamiin...

🌸

@RumahClever, Cilacap, 21 Juni 2019: 14.32.
Betty Irwanti Joko
Ibu Jesi
Nyi Bejo Pribumiluhur

#1022kata

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »