7 Pembiasan yang Ibu Jesi Lakukan Setiap Pagi

00.46



#Day7
#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity

#Day7
#OneDayOnePost
#KomunitasODOP
#PjOprecOdop7
#GrupTokyo
#DosbingNAC

TIPS MENINGKATKAN HOBI MEMBACA

Menulis, membaca, mendengarkan dan berbicara adalah salah satu komponen penting dalam bahasa Indonesia. Bahkan dalam komponen bahasa Jawa dan bahasa Inggris juga ada keempatnya. Hanya saja dalam bahasa Inggris istilahnya berbeda. Writing, reading, listening dan speaking.

Masing-masing komponen punya peranan penting. Dan betapa pentingnya membaca, karena ia juga wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada rasul pilihannya, Nabi Muhammad SAW. Iqra, bacalah. Dengan menyebut nama Allah yang maha segalanya.

Membaca akan membuka jendela dunia. Bahkan kita bisa berkeliling ke mana saja dengan membaca. Apakah kamu percaya?

Aku percaya. Sebagai seorang guru, membaca itu wajib hukumnya. Kenapa? Karena setiap mengajar minimal aku sudah harus membaca garis besar apa yang akan disampaikan kepada anak murid tercinta.

Lalu?  Apakah anak murid juga membaca materi sebelum masuk kelasnya? Apakah membaca menjadi hal wajib yang mereka kerjakan setiap harinya?

Aku pikir tidak. Mereka hanya membaca ketika disuruh guru atau orang tuanya. Mereka hanya belajar ketika ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikannya. Kecuali anak-anak yang sudah cerdas dan pintar, yang tidak perlu disuruh mereka akan otomatis membaca dan belajar dengan sendirinya. Mereka yang sudah menjadikan membaca lebih dari sekedar hobi tapi kebutuhan. Sungguh, itu sesuatu hal yang sangat istimewa dan langka.

Apakah aku tinggal diam dengan ini semua? Setidaknya aku sudah berusaha memulai. Memulai pembiasan setiap pagi untuk meningkatkan minat baca anak murid di sekolah.

Apa saja yang aku lakukan kira-kira? Inilah 7 pembiasan yang kulakukan setiap pagi untuk meningkatkan minta baca anak murid di sekolah, khususnya di kelasku:

1. Membaca Asmaul Husna

Asmaul Husna dibaca segera setelah berbaris, masuk kelas dan berdo'a. Bacaan yang panjangnya satu halaman full ini, pertama kali saya bagikan hard copynya. Kurang lebih satu bulan membaca ini dengan teks, hasilnya setelah bulan kedua aku sudah bisa melihat ada beberapa anak yang tidak lagi memegang teks yang pernah kubagikan. Puji syukur, semoga Asmaul Husna terus mereka amalkan dalam rutinitas keseharian. Semoga pahala terus mengalir untuk kita sekalian. Aamiin.

2. Membaca teks pembukaan UUD 1945

Teks Undang-Undang Dasar Tahun 1945 ini juga satu halaman. Yang sebenarnya sudah aku set bolak-balik lembarannya dengan Asmaul Husna agar ringkas dan mudah dibawa. Sebab satu dan lain hal, akhirnya hanya ada kopian Asmaul Husna, teks pembukaan UUD 1945 memakai buku saku yang mereka punya. Dan hasilnya cenderung sama. Setelah satu bulan membaca dengan teks, di bulan kedua ada beberapa anak yang sudah hafal di luar kepala.

3. Membaca perkalian 1-10

Kalau yang ini sampai sekarang kulihat masih ada yang suka membuka teks. Tidak apa-apa, namanya juga belajar. Pelan-pelan namun pasti, karena kapasitas anak-anak juga kan berbeda masing-masingnya. Aku berusaha mendampingi, agar mereka mengerti. Mungkin tidak seketika ini, bisa jadi di lain hari. Meski sebenarnya ini hanya soal pemahaman, bahwa perkalian itu adalah penjumlahan berulang. Tapi apakah anak-anak memahami? Bagaimana caranya agar mereka tak hanya bisa tapi juga paham? Itulah tugas guru selanjutnya, dengan kawalan orang tua di rumah tentunya.

4. Membaca 34 Provinsi di Indonesia

Menurutku proses ini asyik. Karena secara tidak langsung anak-anak akan diajak menjelajah wilayah Indonesia. Dari ujung barat sampai ujung timur. Dari provinsi Aceh sampai Papua. Dari Sabang sampai Merauke. Mereka akan diajak membaca keberagaman negara tanpa sengaja. Ini sangat berguna bagi perluasan pengetahuan wawasan nusantara.

5. Membaca bilangan pangkat dua dan bilangan pangkat tiga

Ini alternatif kedua setelah perkalian 1-10 paripurna. Sudah aku terapkan mulai pekan akhir bulan kedua. Sebab bilangan pangkat dua itu ada di mata pelajaran Matematika. Bilangan pangkat tiga itu intermezo saja. Karena itu jelas ada kaitannya dengan bilangan pangkat tiga.

6. Membaca sumpah pemuda atau teks proklamasi

Seperti poin nomor 5, ini juga alternatif kedua setelah membaca teks pembukaan UUD 1945. Untuk memperluas wawasan kebangsaan maka sumpah pemuda atau teks proklamasi bisa jadi alternatif. Karena aku selalu ingat kata-kata Bung Karno yang super fenomenal, yaitu Jas Merah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Maka dua hal penting ini adalah pengantar anak-anak untuk mengenal sejarah negerinya sendiri.

7. Menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya

Pembiasan pagi akan ditutup dengan menyanyikan lagu wajib yang ditulis oleh Wage Rudolf Supratman. Lagu wajib yang pertama kali dibawakan saat momen Kongres Pemuda Kedua di Jakarta. Jelas, ini sejarah yang tak boleh dilupakan begitu saja. Maka, ketika anak-anak zaman sekarang tidak hapal lagu kebangsaan negerinya sendiri? Siapa yang terpanggil untuk membacakan sekedar teksnya? Atau menyanyikan secara langsung dalam tiga stansa? Jawabannya ada pada masing-masing kamu semua.

7 hal tersebut terlihat klasik. Tapi beberapa kali sudah terbukti, pembiasan pagi tersebut benar-benar membuat anak murid mau membaca. Membaca itu semua akan membutuhkan waktu antara 15-30 menit. Karena awal tahun pelajaran dulu, aku memang sudah menyiapkan semua kopiannya.

Jika diam saja, tentu akan sangat membosankan bagi mereka bukan? Membaca bersama teman-teman akan dilakukan, meski awalnya karena terpaksa tapi lama kelamaan akan terbiasa.

Karena membaca secara terus menerus setiap pagi, dengan sendirinya mereka bisa hafal tanpa sengaja. Ini metode klasik juga, tapi akan sangat bermanfaat jika konsekuen mengamalkannya. Minat membaca akan tumbuh dengan sendirinya.

Lalu, apa yang kamu lakukan setiap pagi untuk membangkitkan minat bacamu? Please dong, jangan hanya baca status orang. Pahamilah apa yang kamu baca dan renungkan!

Semoga bermanfaat!


Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »