9 dari 10 Pahlawan Revolusi Ada Perangkonya Lho? Sudah Tahu Belum?

10.26


#Day1
#SatuBulanMenulisBuku
#CleverMom
#EstrilookCommunity

#Day31
#OneDayOnePost
#KomunitasODOP
#PjOprecOdop7
#GrupTokyo
#DosbingNAC

PAHLAWAN NASIONAL YANG MASIH DIINGAT

Selamat pagi, selamat siang, selamat malam, Clever People semuanya!  Khususnya para Clever Moms di seluruh penjuru tanah air. Izinkan saya di sini melanjutkan niat One Day One Post di awal bulan Oktober ini dengan semangat '45.

Oh, ya. Terlebih dahulu saya ingin mengucapkan, selamat datang bulan Oktober ini. Selamat datang bulan baru, semoga semangat senantiasa terbarukan selalu.

Pada beberapa postingan yang lalu, saya memakai sapaan teman-teman, kamu, dan lain-lain, maka mulai saat ini, saya akan menyapa kalian semua dengan Clever People! Kenapa? Karena blog ini bertajuk Clever World, mari sama-sama mengkhususkan diri agar kita semua memiliki jati diri. Cie elah, gaya dikit nggak papa kan ya! Biar mudah mengidentifikasikan kemudian.

Oke baiklah. Saya juga akan mengkhususkan memanggil diri sendiri dengan panggilan, Clever's Mom, kenapa? Karena anak saya bernama Clever. Lengkapnya Cleverona Bintang Aljazira, sudah tahu kan? Dan jika kemudian saya memanggil teman-teman, ibu-ibu semua dengan panggilan Clever Moms, apakah ada yang keberatan?

Oke, baiklah (lagi). Langsung saja saya akan mulai menulis tema pertama untuk hari ini. Day 1 tepatnya. Yaitu tentang pahlawan nasional yang masih diingat. Apakah Clever People semua masih ingat nama-nama pahlawan nasional sampai saat ini? Coba sebutkan siapa saja?

Clever's Mom sendiri banyak sekali ingatan tentang pahlawan nasional, Lha wong di mata pelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) kan ada tuh. Apalagi di kelas 5 ini, materi sejarah nasional juga mengakrabkan diri. Mulai dari pahlawan pergerakan nasional, proklamator kemerdekaan, dan pahlawan revolusi.

Kenapa pahlawan revolusi? 

Karena hari ini tanggal 1 Oktober dan kemarin tanggal 30 September. Tanggal 30 September itu hari istimewa dik iparku. Pada tanggal yang sama juga di tahun 1965 yang lalu kita masih ingat peristiwa sejarah yang benar-benar perlu untuk selalu diingat oleh kita semua.


Apakah Clever People masih ingat semuanya? Jika tidak, berikut 10 tokohnya untuk kita simak bersama, yang pada tahun 1966 ternyata diabadikan dalam bentuk perangko yang terbit dalam skala nasional.

Dari laman Wikipedia.id, berikut Clever’s Mom rangkumkan untuk Clever people semua.

1.      Jenderal (anm.) Ahmad Yani



Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani (juga dieja Achmad Yani; lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 19 Juni 1922 – meninggal di Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 43 tahun) adalah komandan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, dan dibunuh oleh anggota Gerakan 30 September saat mencoba untuk menculik dia dari rumahnya. Beliau meninggalkan satu orang istri yang bernama Yayu Rulia Sutowiryo Ahmad Yani dan 8 anak (termasuk Amelia Achmad Yani).

Pendidikan yang ditempuh yaitu, HIS (setingkat SD) Bogor, tamat tahun 1935. MULO (setingkat SMP) kelas B Afd. Bogor, tamat tahun 1938. AMS (setingkat SMU) bagian B Afd. Jakarta, berhenti tahun 1940. Pendidikan militer pada Dinas Topografi Militer di Malang Pendidikan Heiho di Magelang. PETA (Tentara Pembela Tanah Air) di Bogor. Command and General Staff College di Fort Leaven Worth, Kansas, Amerika Serikat, tahun 1955. Special Warfare Course di Inggris, tahun 1956.

2. Letnan Jenderal (anm.) R. Suprapto



Letnan Jenderal TNI Anumerta R. Suprapto (lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, 20 Juni 1920 – meninggal di Lubangbuaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 45 tahun) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Ia merupakan salah satu korban dalam G30S/PKI dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

3. Letnan Jenderal (anm.) M.T. Haryono



Letnan Jenderal TNI Anumerta Mas Tirtodarmo Haryono (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 20 Januari 1924 – meninggal di Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 41 tahun) adalah salah satu pahlawan revolusi Indonesia yang terbunuh pada persitiwa G30S. Ia dimakamkan di TMP Kalibata - Jakarta.

Jenderal bintang tiga kelahiran Surabaya, 20 Januari 1924, ini sebelumnya memperoleh pendidikan di ELS (setingkat Sekolah Dasar) kemudian diteruskan ke HBS (setingkat Sekolah Menengah Umum). Setamat dari HBS, ia sempat masuk Ika Dai Gakko (Sekolah Kedokteran masa pendudukan Jepang) di Jakarta, namun tidak sampai tamat.

4. Letnan Jenderal (anm.) S. Parman



Letnan Jenderal TNI Anumerta Siswondo Parman (lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, 4 Agustus 1918 – meninggal di Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 47 tahun) atau lebih dikenal dengan nama S. Parman adalah salah satu pahlawan revolusi Indonesia dan tokoh militer Indonesia. Ia meninggal dibunuh pada persitiwa Gerakan 30 September dan mendapatkan gelar Letnan Jenderal Anumerta. Ia dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

5. Mayor Jenderal (anm.) D.I. Pandjaitan



Mayor Jenderal TNI Anumerta Donald Isaac Panjaitan (lahir di Balige, Sumatera Utara, 9 Juni 1925 – meninggal di Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 40 tahun) adalah salah satu pahlawan revolusi Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta

6. Mayor Jenderal (anm.) Sutoyo Siswomiharjo



Mayor Jenderal TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo (lahir di Kebumen, Jawa Tengah, 28 Agustus 1922 – meninggal di Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 43 tahun) adalah seorang perwira tinggi TNI-AD yang diculik dan kemudian dibunuh dalam peristiwa Gerakan 30 September di Indonesia.

7. Kapten (anm.) Pierre Tendean



Kapten Czi. (Anumerta) Pierre Andries Tendean[1] (lahir 21 Februari 1939 – meninggal 1 Oktober 1965 pada umur 26 tahun) adalah seorang perwira militer Indonesia yang menjadi salah satu korban peristiwa Gerakan 30 September pada tahun 1965. Mengawali karier militer dengan menjadi intelijen dan kemudian ditunjuk sebagai Ajudan Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution menggantikan Kapten Kav Adolf Gustaf Manullang ajudan Pak Nas, yang gugur dalam misi perdamaian di Kongo Afrika tahun 1963.[butuh rujukan] dengan pangkat Letnan Satu Czi, ia dipromosikan menjadi Kapten Anumerta setelah kematiannya. Tendean dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dan bersama enam perwira korban Gerakan 30 September lainnya, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi Indonesia pada tanggal 5 Oktober 1965.

8. AIPDA (anm.) Karel Satsuit Tubun

Ajun Inspektur Polisi Dua Anumerta Karel Sadsuitubun (lahir di Maluku Tenggara, 14 Oktober 1928 – meninggal di Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 36 tahun) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang merupakan salah seorang korban Gerakan 30 September pada tahun 1965. Ia adalah pengawal dari J. Leimena. Ia dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Karena merupakan salah satu korban Gerakan 30 September, beliau diangkat menjadi seorang Pahlawan Revolusi.

9. Brigadir Jenderal (anm.) Katamso Darmokusumo



Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) Katamso Darmokusumo (lahir di Sragen, Jawa Tengah, 5 Februari 1923 – meninggal di Yogyakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 42 tahun) adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia, Ia merupakan mantan Komandan Korem 072/Pamungkas. Katamso termasuk tokoh yang terbunuh dalam peristiwa Gerakan 30 September. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara, Yogyakarta.

10. Kolonel (anm.) Sugiono



Kolonel Inf. (Anumerta) R. Sugiyono Mangunwiyoto (lahir di Gedaren, Sumbergiri, Ponjong, Gunung Kidul, 12 Agustus 1926 – meninggal di Kentungan, Yogyakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 39 tahun) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang merupakan salah seorang korban peristiwa Gerakan 30 September. Ia merupakan mantan Kepala Staf Korem 072/Pamungkas.

Kolonel Sugiyono menikah dengan Supriyati. Mereka memiliki anak enam orang laki-laki; R. Erry Guthomo (l. 1954), R. Agung Pramuji (l. 1956), R. Haryo Guritno (l. 1958), R. Danny Nugroho (l. 1960), R. Budi Winoto (l. 1962), dan R. Ganis Priyono (l. 1963); serta seorang anak perempuan, Rr. Sugiarti Takarina (l. 1965), yang lahir setelah ayahnya meninggal. Nama Sugiarti Takarina diberikan oleh Presiden Soekarno.

Ia dimakamkan di TMP Semaki, Yogyakarta. Beliau meninggalkan satu orang istri yang bernama Supriyati dan 7 anak yang bernama: R. Erry Guthomo (l. 1954), R. Agung Pramuji (l. 1956), R. Haryo Guritno (l. 1958), R. Danny Nugroho (l. 1960), R. Budi Winoto (l. 1962), R. Ganis Priyono (l. 1963) dan Rr. Sugiarti Takarina (l. 1965).

Demikian rangkuman ini Clever’s Mom rangkumkan. Dari 10 tokoh pahlawan revolusi ternyata yang tersedia referensi perangkonya ada 9, yang satu Clever's Mom cari, belum berhasil mendapatkan. Mungkin ada Clever People semua yang memiliki? Arsip sejarah yang akan sangat berguna pastinya.

Semoga kita selalu  mengingat dan meneladani jasa-jasa mereka!

Semoga bermanfaat!

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
4 Oktober 2019 13.17 delete

😭😭semoga arwah mereka diterima di sisiNya. Selalu membuncah dada ini setiap membaca nama2 pahlawan kita. Merdeka💪🇮🇩

Reply
avatar
4 Oktober 2019 18.52 delete

Dulu pernah ikutan trend filateli, sekarang satu album kecil itu entah kemana. Tapi juga belum punya yang seri pahlawan ini

Reply
avatar