Menulis Semudah Tersenyum

08.36



#Day3
#SatuBulanMenulisBuku
#CleverMom
#EstrilookCommunity

#Day33
#OneDayOnePost
#KomunitasODOP
#PjOprecOdop7
#GrupTokyo
#DosbingNAC

MENULIS SEMUDAH TERSENYUM

Banyak orang yang bilang, kalau aku ini orangnya murah senyum. Ah, masa iya sih. Mungkin bisa jadi begitu. Di mana-mana poseku yang tertangkap kamera, bisa dipastikan selalu tersenyum. Coba lihat, gambarku yang mana yang tidak tersenyum. Entahlah. Mungkin karena my smile is my identity ya. Jadi, di manapun dan kapanpun, senyum sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidupku.

Tersenyum itu mudah. Semudah menulis. Lho? Masa iya. Iya. Menulis itu semudah tersenyum. Memangnya ada hubungan antara kedua kata tersebut? Tentu saja ada. Menulis jika dilakukan dengan ketulusan, niscaya akan membawa senyum bagi pembacanya. Meskipun itu tulisan yang menyedihkan tapi pembaca akan bisa mengambil hikmah agar bisa tersenyum kemudian.

Coba pejamkan mata sambil tarik nafas dan berdoa untuk dimudahkan kegiatan menulis, niatkan untuk beribadah yaitu berdakwah lewat pena.

Wikipedia menerangkan bahwa menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara.

Menulis biasa dilakukan pada media kertas dengan menggunakan alat-alat seperti pena atau pensil. Pada awal sejarahnya, menulis dilakukan dengan menggunakan gambar, contohnya tulisan hieroglif (hieroglyph) pada zaman Mesir Kuno.

Tulisan dengan aksara muncul sekitar 5.000 tahun lalu. Banyak orang dari Sumeria (Irak) menciptakan tanda-tanda pada tanah liat. Tanda-tanda tersebut mewakili bunyi, berbeda dengan huruf-huruf hieroglif yang mewakili kata-kata atau benda.

Kegiatan menulis berkembang pesat sejak diciptakannya teknik percetakan, yang menyebabkan orang makin giat menulis karena karya mereka mudah diterbitkan.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan media, kegiatan menulis juga ikut berkembang pesat di dunia. Melalui media elektronik, setiap orang dapat memperoleh bahan penulisan dari internet; sehingga penulis lebih efisien waktu, biaya, dan tenaga. Saat ini penulis juga bisa berbagi semua tulisannya di manapun ia berada dengan menggunakan teknologi berbasis internet. Begitu juga dengan para pembaca, akan lebih mudah untuk melihat tulisan-tulisan penulis yang digemarinya.

Penulis adalah sebutan bagi orang yang melakukan pekerjaan menulis, atau menciptakan suatu karya tulis.

Menulis adalah kegiatan membuat huruf (angka) menggunakan alat tulis di suatu sarana atau media penulisan, mengungkapkan ide, pikiran, perasaan melalui kegiatan menulis, atau menciptakan suatu karangan dalam bentuk tulisan.

Karya tulis bisa berupa karya tulis ilmiah: penelitian, makalah, jurnal; tulisan jurnalistik: artikel, opini, feature; sastra atau fiksi (termasuk prosa, novel, cerpen, puisi). Format tulisan penerbit berupa media cetak: buku, majalah, tabloid, koran; media on-line/internet: (website, blog; media jejaring sosial: facebook, twitter, google plus dan sebagainya.

Orang yang menulis, bisa disebut penulis. Baik masih berstatus penulis pemula maupun penulis profesional.

Padanan istilah penulis adalah pengarang, penggubah, prosais, pujangga, sastrawan.  Berpadan kata pula dengan pencatat, carik (Jawa), dabir (arkais), juru tulis, katib (Arab), kerani, klerek (arkais), panitera, sekretaris, setia usaha.

Beberapa istilah baru sekali ini aku dengar. Beberapa pula sudah akrab di telinga. Pernah dengar panggilan, "Pak Carik"? Di desaku panggilan itu biasa orang tunjukkan untuk bapak sekretaris desa yang memang pekerjaan mencatat segala kegiatan yang terjadi di desa kami.

Pelukis dan penggambar kadangkala juga dimasukkan sebagai padan kata penulis.

Pada umumnya seorang penulis harus memiliki tiga keterampilan dasar:

Keterampilan berbahasa dalam merekam bentuk lisan ke tulisan, termasuk kemampuan menggunakan ejaan, tanda baca, dan pemilihan kata.

Keterampilan penyajian, seperti pengembangan paragraf, merinci pokok bahasa menjadi sub bahasan pokok, dan susunan secara sistematis.

Keterampilan perwajahan, termasuk kemampuan pengaturan tipografi seperti penyusunan format, jenis huruf, kertas, tabel dan lain sebagainya.

Tiga keterampilan tersebut juga harus dimiliki oleh seorang guru yang juga mempunyai passion dalam menulis sepertiku. Menulis yang semula kukira sulit, ternyata menjadi mudah dengan belajar, belajar dan terus belajar. Bergaul, bergaul da  terus bergaul. Tersenyum, tersenyum dan terus tersenyum. Seperti apapun yang terjadi denganku, hingga detik ini. Kuanggap semuanya adalah pembelajaran dalam hidup. Sama seperti ketika aku belajar bersama anak-anak setiap harinya.

Aku mendapatkan ide menuliskan, menulis semudah tersenyum igu spontan. Dan ternyata, setelah kucari referensi contoh tulisannya ada. Buktinya aku jadi ingin menuliskannya kemudian.

Laman web guru jempol milik Rani Chaerani yang ternyata seorang guru juga, sepertiku menggambarkan saat setiap menyambut siswa datang ke sekolah, selain memberikan salam,  pastikan bibir sang guru-guru tersenyum merekah, lebih tepatnya merekah sempurna.

"Senyumnya mana?" setiap ada siswa yang bersalaman dengan wajah cemberut atau sedih untuk membantu siswa terbuka pintu gerbang otak reptilnya.

Menurut teori otak, jika hati senang maka otak terbuka, jadi akan lancar suatu kegiatan jika kita dalam keadaan senang, betul ga yaa?

Kata orang menulis itu susah sekali, tapi cobalah "be postive be positive, ya!"

Kata orang menulis itu mudah, apa iya? Kalau dulu aku jawab iya. Kalau sekarang aku jawab sebaliknya. Sekarang dalam satu jam tanpa jeda, jika dalam keadaan kondusif tanpa halangan dan rintangan, aku bisa menuliskan lebih dari 1000 kata.

Tulis saja dulu. Edit, belakangan. Ungkap saja apa yang ada di otak dan pikiran.

Kenapa kemudian saat senyum dan menulis dihubungkan dengan cara kerja otak, cara informasi masuk ke dalam otak?

Karena dalam kepala kita ada tiga otak yaitu otak reptil, otak limbik dan otak neocortex.

Otak reptil diibaratkan sang penjaga pintu gerbang, informasi akan diiznkan masuk ke otak limbik jika menurut otak reptil sang penjaga, lingkungan fisik disekelilingnya aman dan nyaman dilihat dan dirasakan karena itu cari tempat dan posisi yang aman dan nyaman untuk menulis.

Otak limbik berfungsi sebagai pengatur emosi, jika kita melakukan kegiatan menulis melibatkan emosi yang mendalam, kita akan mudah mengingat hal-hal yang akan ditulis dan lancar melakukannya. pada saat inilah terus menulis dan menulis. jika perlu tutup tulisan sebelumnya agar tulisan kita terus mengalir kata demi kata dengan lancar tanpa mengedit yaa. Pastikan emosi tetap terjaga yaitu senang melakukan, setelah itu barulah si otak limbik akan memberikan sinyal ke otak neocortex untuk terbuka dan mengolah informasi, pada saat itu waktu yang tepat untuk edit tulisan kita dari awal paragraf.

Secara garis besar bisa disimpulkan bahwa menulis dan tersenyum sama-sama sebuah ekspresi untuk mengungkapkan sesuatu.

Menulis adalah cara berekspresi dengan tulisan. Tersenyum adalah cara berekspresi menggunakan raut wajah.

Menulis itu mudah. Tersenyum juga mudah. Keduanya hanya membutuhkan niat dan semangat.

Niat untuk menulis akan membuat kita mengabadikan cerita menjadi kisah yang mungkin suatu saat akan menjadi bagian dari sejarah. Sejarah hidup kita sendiri, ataupun sejarah yang bisa dijadikan referensi.

Niat untuk tersenyum akan membuat kita mengukir keceriaan atas kisah yang terjadi dengan hidup. Entah itu suka, ataupun duka. Percayalah, senyum akan membuat kita kuat apapun yang terjadi.

Semangat untuk menulis akan membuat kita bisa mewujudkan apapun mimpi yang dicitakan. Meskipun butuh banyak konsistensi dan konsekuensi yang harus diperjuangkan. Apalagi jika teman-teman termasuk orang dengan banyak tugas dalam keseharian.

Semangat untuk tersenyum akan membuat hari kita indah, hati kita tenang dan orang di sekitar nyaman. Meskipun butuh banyak perjuangan dan pengorbanan yang harus disertakan. Apalagi jika kamu termasuk orang yang susah untuk tersenyum dalam kebiasaan.

Menulislah dengan penuh semangat untuk menghadirkan senyum bagi diri sendiri dan semua orang. Karena jika itu dilakukan, kebahagiaan itu akan sempurna menjadi milikmu. Karena senyum adalah sedekah paling mudah.

Mulailah tersenyum sejak saat ini, karena ianya akan menghadirkan keridhaan dari semua orang dan keridhaan-Nya. Siapa yang tidak mau?

Maka tersenyumlah teman-teman calon penulis hebat jika kita ingin melakukan kegiatan menulis, kegiatan menginspirasi orang lewat tulisan kita. hati senang otak terbuka, hati sedih otak tertutup, jadi jika mentok inspirasi hendaklah tarik nafas sambIl tersenyum, mudahkan?

Yuk teman-teman menulislah, ternyata benar menulis itu mudah, semudah kita tersenyum. Semangat mencoba yaa!

Khusus untuk Grup Tokyo, ada Sharing Ibu Jesi mengenai hal ini, besok hari Ahad tanggal 6 Oktober 2019 mulai pukul 10.00 WIB. Atau jika mungkin, nanti malam saja apa ya? Sebab di Rumah Clever juga sedang sibuk ternyata. Agenda aqiqah Baby Gema.

Mohon do'anya ya, semoga semua acara lancar dan sukses tanpa ekses. Aamiin...

Keep Writing, Keep Fighting!

Keep Calm and Strong!

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

5 komentar

Write komentar
5 Oktober 2019 20.35 delete

Tersenyum dan menulisnya mudah, yang susah adalah yang membuat kita tersenyum dan menulisnya 😁😁😁😁

Reply
avatar
niozaharani
AUTHOR
5 Oktober 2019 20.44 delete

Uyee, tersenyum saat rampung menulis, tp pas baca ulang ... πŸ˜…

Reply
avatar
6 Oktober 2019 19.27 delete

πŸ˜ŠπŸ‘selalu tersenyum saat selesai nulis. Tetapi untuk mengawali nulis ... πŸ˜‚πŸ˜±πŸ€£

Reply
avatar
6 Oktober 2019 20.23 delete

Aku merasa ini masuk akal. Ksrena akan ada suatu hari kita menikmati dengan serius semua hal yang telah ditulis.

Reply
avatar
Restanti
AUTHOR
6 Oktober 2019 21.41 delete

Semudah membalik telapak tangan, nemukan ide itu yang josh

Reply
avatar