Pernikahan di Usia Matang itu yang Bagaimana Ya?

11.36 8





#Day12
#KelasNonFiksi
#OdopBatch7

Bismillah

Semangat Sabtu
Semangat masih menggebu
November segera berlalu
Desember akan menyapamu

Waktu demi waktu
Menemani setiap mimpiku
Tahun ini aku menderu
Tahun depan semoga begitu

Selamat datang bulan baru
Selamat tinggal semua sendu
Selamat tinggal semua ragu
Selamat datang tahun yang kutunggu

Banyak harap dalam untaian lagu
Banyak langkah dalam deret dan laju
Banyak do’a untuk Yang Maha Tahu
Hanya pada-Nya aku mengadu.

Alhamdulillah, semangat Sabtu. Semangat di penghujung Minggu. Tak seharusnya aku berpuisi begitu, tapi ya sudahlah Yahnda Bunda, Calon Yahnda Bunda dan teman-temanku...

Saatnya mulai untuk menulis postingan hari Sabtu.
Oke Baiklah.

Pada dua postingan sebelum postingan ini, ada salah satu Bunda yang meninggalkan jejak di kolom komentar dengan pernyataan kesukaannya pada kalimat penutupku yang berbunyi, “Remind me of Allah if your love for me is indeed true.” : Ingatkan Aku pada Allah jika memang kamu benar-benar mencintaiku.

Cinta, menjadi dasar atas segala sesuatu yang kita lakukan. Jika tidak ada cinta, tidak akan ada rela dan ikhlas setelahnya. Jika tidak ada cinta, tidak akan ada kasih sayang dan ketulusan yang menyertainya.

Jika tidak ada cinta pada-Nya, mungkin kita semua tidak akan sabar dan tawakal dalam menghadapi ujian. Percayalah, hidup itu ujian. Ujian itu kadang datang tanpa pernah kita duga sebelumnya. Bisa jadi kita sudah tidak lagi berada dalam dunia sekolah maupun perkuliahan. Namun, ujian akan selalu ada selama kita masih hidup di dunia ini.

Bagi seorang perempuan lajang, bisa jadi ujian mereka adalah saat jodoh tak kunjung datang. Percayalah, bahkan Ibu Jesi harus sabar menanti sampai tujuh tahun lamanya baru akhirnya menikah dengan Ayah Jose.

Menikah di usia yang tak lagi muda (usia matang), adalah pilihan. Mungkin saja ada yang di usia muda sudah siap menikah, silakan, selama sudah siap dengan segala konsekuensinya.

Seperti yang sudah pernah kutuliskan dalam buku Staring, ada banyak ulasan tentang #CleverWedding dan #CleverParenting di sana.

“Pernahkah kamu mengira jika Ramadhan tahun ini akan menjadi Ramadhan terakhirmu di masa lajang? Hanya kamu dan Allah yang tahu. Atau bahkan jika kamu sendiri belum tahu, biarkan ini menjadi rahasia Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak usah khawatir jika Ramadhan tahun ini kamu masih sendirian, kan ada kakak atau adik yang bisa diajak jalan. Ada Ayah atau Ibu yang bisa menjadi teman”

“Percayalah, hidup itu ujian. Memangnya kamu pikir menikah itu mudah? Kalau kata Ayah Jose dulu, pas Ibu Jesi baru kenal beliau. Pernah ada suatu percakapan istimewa yang akhirnya beliau jawab dengan pernyataan: Menikah itu mudah. Yang susah itu cari bekalnya. Agar setelah menikah hidup menjadi mudah, tidak malah membuat susah.”

Waktu itu aku melongo mendengar pernyataan itu keluar dari mulut orang yang kusayang. Namun, setelah harus bersabar lebih dari tujuh tahun, kemudian menikah dengannya hampir enam tahun, aku menyadari bahwa semua itu memang benar adanya.

Apanya yang benar? Yang benar adalah kita harus mencari bekal sebelum menikah. Karena menikah itu urusan yang berhubungan dengan dunia akhirat kita.

Duniamu akan indah ketika kamu menikah dengan orang yang tepat menurutmu. Akhiratmu niscaya akan indah juga saat kamu menikah dengan orang yang tepat menurut-Nya.

Sungguh. 

Percayalah, hidup itu ujian.

Sudahkah kamu siap diuji untuk mendapatkan itu semua? Sudahkah kamu siap menyesuaikan diri dengan keadaan selanjutnya?

Berpuaslah melakukan apapun ketika belum menikah, sebab saat menikah ada batasan meskipun pasanganmu memberikan banyak kebebasan dalam banyak hal.

Berpuaslah pergi ke manapun yang kamu mau saat sebelum menikah, karena ketika menikah ada waktu yang kamu harus curahkan sepenuhnya perhatian hanya untuk keluarga kecilmu.

Berpuaslah ngabuburit sesukamu, ke manapun kamu mau. Bersama teman dan keluargamu. Karena bisa jadi Ramadhan tahun ini akan menjadi Ramadhan terakhirmu bersama mereka? Sebab tahun depan, setelah menikah bisa jadi kamu akan ngabuburit dengan pasanganmu. Bukankah itu jauh lebih indah?

Berpuaslah tarawih dan beribadah dengan fokus di masa mudamu, bisa jadi setelah kamu menikah dan dikaruniai momongan kamu harus mengutamakan suami dan anakmu yang masih baby.

Sama sepertiku. Saat menikah dan empat tahun kemudian baru ada Kakak Jesi. Kami telah dipersiapkan oleh Allah swt untuk benar-benar menjadi orang tua yang siap.

Ayah Jose siap mendidik istri dan anaknya. Aku siap patuh pada suami dan siap mendidik anaknya juga. Lha apa kaitannya.

Jelas ada kaitannya. Empat tahun bukan waktu yang sebentar bagiku dan suami untuk banyak belajar kehidupan. Kehidupan untuk sebuah kebaktian pada dunia dan keluarga. Juga kebaktian pada akhirat dan pasangan.

Kini, Kakak Jesi sudah berumur tiga tahun kurang dua bulan.  Dia sudah bisa diajak belajar, bermain dan beribadah maka Ayah Jose dan aku, Ibu Jesi mulai mengumpulkan catatan tentang pengasuhan puteri kecilnya ke dalam sebuah lini #CleverWorld yang diberi nama #CleverParenting.

#CleverParenting menjadi niche blog mulai bulan November ini fokus membahas topik apakah benar anak cerdas berasal dari orang tua yang cerdas dan anak cerdas berawal dari pernikahan yag cerdas pula. Untuk topik bulan depan, sudah kurencanakan, namun masih kurahasiakan ya. Cieee...

Menutup postingan #CleverParenting bulan ini, aku ingin mengulas salah satu poin di postingan Pernikahan Cerdas itu seperti apa. Salah satu poin itu adalah Pernikahan di Usia Matang.

Salah satu ciri pernikahan cerdas yang akan melahirkan anak cerdas adalah pernikahan di usia matang. Pernikahan usia matang adalah pernikahan dalam rentang waktu mulai usia 27 tahun untuk perempuan dan 29 untuk si pria.

Yahnda Bunda, Calon Yahnda Bunda sendiri menikah di usia berapa?
  
Merujuk sumber tulisan dari web hellosehat.com, Di usia pertengahan 20-an, Yahnda Bunda, Calon Yahnda Bunda terhitung sudah cukup dewasa untuk memahami benar mana cinta yang dibutakan nafsu dan cinta berdasarkan ketulusan. Sebab semakin dewasa seseorang, mereka telah menghabiskan cukup banyak waktu untuk berpetualang mencari jati diri dan akhirnya mengetahui pasti apa yang mereka benar-benar inginkan dalam hidup.

Mereka juga mengerti apa saja hak dan tanggung jawab yang dimilikinya demi mencapai tujuan hidup. Semakin dewasa seseorang juga bisa menandakan bahwa ia memilliki kematangan fisik dan stabilitas finansial yang mumpuni untuk menghidupi diri sendiri serta tanggungan lainnya.

Meski tingkat kematangan dan finansial memainkan faktor utama, tingkat pendidikan juga sama pentingnya. Menunda pernikahan sampai setelah menerima gelar sarjana terbukti menurunkan risiko bercerai daripada pasangan yang berpendidikan rendah, menurut sebuah studi Family Relation tahun 2013.

Yang perlu dipahami, menunda menikah setelah rampung kuliah bukan semata untuk mengejar gelar. Mengenyam pendidikan setinggi-tingginya menjadi jalan terbaik buat Anda membuka wawasan terhadap dunia nyata.

Semakin banyak pula orang-orang dengan karakteristik berbeda yang akan Yahnda Bunda, Calon Yahnda Bunda temui untuk berbincang dan bertukar pikiran. Lambat laun, ini semua dapat membentuk kepribadian, prinsip hidup, dan pola pikir Yahnda Bunda, Calon Yahnda Bunda secara keseluruhan.

Walau demikian, tentu saja keputusan untuk kapan menikah tak bisa hanya didasarkan oleh hasil survey semata. Tidak ada patokan usia ideal atau batas jangka waktu pacaran yang mampu menjamin kebahagiaan pernikahan.

Pada akhirnya, diri Yahnda Bunda, Calon Yahnda Bunda sendirilah yang menentukan kapan waktu yang tepat bagi Yahnda Bunda, Calon Yahnda Bunda untuk menikah. Entah itu di usia 20-an, 30-an, 40-an, dan seterusnya. Nyatanya, pernikahan dan perceraian adalah fenomena sosial yang sulit diukur hanya dengan angka.

Tak ada yang melarang untuk cepat-cepat menikah. Jika Yahnda Bunda, Calon Yahnda Bunda dan pasangan sudah sama-sama siap lahir-batin dan juga secara finansial untuk nikah muda, tentu tidak masalah. Tapi bagi yang lainnya, tetap tak ada salahnya untuk mempertimbangkan masak-masak semua manfaat dan risikonya.

Apakah Yahnda Bunda, Calon Yahnda Bunda memang benar siap mengarungi bahtera rumah tangga, atau hanya menikah demi gengsi dan menghindar dari pertanyaan membosankan “Kapan nikah?”

Hanya Yahnda Bunda, Calon Yahnda Bunda yang bisa menjawab dan membuktikannya. Iya, kan?

To love someone deeply gives you strength. Being loved by someone deeply gives you courage. (Lao Tzu). Mencintai seseorang secara mendalam akan memberimu kekuatan. Dicintai seseorang secara mendalam memberimu keberanian.



Pernikahan Penuh Kasih Sayang itu yang Seperti Apa Ya?

13.42 0


#Day11
#KelasNonFiksi 
#OdopBatch7

Bismillah
Selamat pagi
Selamat hari Jumat

Meski hari sudah beranjak, aku masih semangat. Semangat untuk menulis postingan hari ini, di sela rapat Pengurus PGRI dengan Kepala Sekolah satu gugus untuk membahas Agenda Bedah Rumah. Meski ada kabar dari rumah bahwa Mbah Uti masih juga sakit gigi, jujur hati dan pikiran tak lagi sejalan. 

Raga duduk di depan layar, tapi jiwaku sudah di rumah. Teringat puteri kecil yang tadi pagi sempat drama beberapa saat. Tapi, aku harus tetap semangat, sampai rapat ini selesai dan berharap, draft ini akan selesai juga. Aamiin.

Ini tulisanku untuk tugas posting hari ini. So, hari ini aku nulis dua postingan, semangat banget aku kan, hmhmm...

Oke, baiklah. Hari ini kusempatkan, mumpung bisa menyela. Tidak seperti kemarin, yang bahkan untuk beranjak saja, aku sayang. Kenapa?

Karena aku bahagia, bisa ikut event luar biasa yaitu Pekan Literasi dan Lokakarya Kebahasaan dalam rangka HUT ke-74 PGRI dan HUT Komunitas Guru Menulis Cilacap di Aula Dwijaloka Cilacap, dalam jarak 39 kilometer dari Rumah Clever. Bahagia karena bertemu banyak rekan guru yang ternyata menulis juga, dan sudah banyak menerbitkan buku.

Oke, ternyata draft ini harus diselesaikan di rumah kemudian, dan sambil menjaga Kakak Jesi yang sedang tidur siang, aku kembali melanjutkan. 

Back to the topic, 

Urusan gawai dan kartu SIM sedikit kepikiran tapi tidak begitu membayang, karena aku juga bertemu dengan salah satu teman di satu komunitas. Bahkan di sesi siang, aku sangat terkejut dengan hadirnya narasumber yang juga berada di satu komunitas yang sama.

Aku duduk sebelahan dengan Mbak Cheska Nur Rina dan Bu Hartini, di barisan nomor dua dari depan. Ini pilihan, sebab aku tidak ingin begitu saja melewatkan, sesi demi sesi, juga obrolan demi obrolan yang memang sudah kami nantikan bertiga. 

Aku nunut wifi, untuk membuka komunikasi dengan grup The Clever Family lewat gawainya Mbah Kakung. Sementara gawaiku belum juga dibawa ke luar oleh Ayah Jose,  sebab beliau belum ada kesempatan ke luar sekolah. Ya sudah, wifi kumatikan lagi. Lanjut kembali mengikuti sesi.

Sampai pada saat jam istirahat, selesai makan kusambungkan lagi gawaiku ke wifi, kok mati? Akhirnya kuberanikan diri untuk nunut tetringnya Mbak Cheska yang baik hati. Hihiii. Kudapati informasi bahwa, Ayah Jose baru saja dari Grapari, tapi tidak berhasil. Karena harus aku yang ke sana sendiri. Oke baiklah. Akhirnya kubuat janji, selesai acara di sini aku akan langsung demi sebuah kelegaan hati. Semoga nanti sore, semua sudah normal kembali. Aamiin....

Dalam hati aku bersyukur, memiliki suami dan keluarga yang mencintaiku dengan penuh kasih sayang. Suami dan keluarga yang sangat memahami hubungan suami-istri berdasarkan cinta dan kasih sayang. Suami dan keluarga yang betul-betul memahami arti Pernikahan Penuh Kasih Sayang.

The Clever Family yang memahami betul, bahwa hal terpenting yang diperlukan oleh manusia adalah ketenangan. Oleh karena itu sesama memberinya tidak pernah singkat untuk mengisi grup dengan segala curhatan-curhatan, agar tenang itu menjadi sahabat akrab yang senantiasa datang.

Ini sesuai dengan ilmu yang kuperoleh saat membaca lama Web, hajij.com. Di sana tertulis penjelasan yang detail dan amat panjang. Berikut sadarnya kutarik ke sini, ya Yahudi Bunda sekalian. Mohon izin.

Kebahagiaan manusia adalah ketika ia aman dari kegalauan dan kepanikan jiwa serta memiliki ketenangan jiwa. Rumah tanggalah yang bisa memberikan ketenangan ini kepada manusia, baik kepada istri maupun suami. Kalimat berikutnya sangat menarik dan indah. Disebutkan, "Wa Ja'ala Bainakum Mawaddatan Warahmatan". Hubungan yang benar antara suami dan istri adalah cinta dan kasih sayang. Hubungan persahabatan. Hubungan kasih sayang. Saling mencintai dan saling menyayangi. Mencintai dibarengi dengan kekerasan itu tidak bisa diterima. Kasih sayang tanpa cinta juga tidak bisa diterima. Tabiat ilahi suami dan istri di dalam lingkungan rumah tangga adalah tabiat yang mewujudkan sebuah hubungan timbal balik bagi istri dan suami yaitu hubungan cinta dan kasih sayang. "Mawaddah Wa Rahmah" (30/7/76) Faktor yang mengikat rumah tangga adalah cinta. (29/3/81)

Hargailah ikatan ini dan anggaplah sebagai nikmat ilahi dan jagalah. (12/10/81) segala sesuatu yang kalian miliki berasal dari Allah. "Wa Ma Bikum Min Ni'matin Faminallah" (QS. an-Nahl: 53), yang sangat penting adalah memperhatikan nikmat ini atau segala nikmat lainnya. Banyak nikmat yang tidak diperhatikan oleh manusia. (29/3/1381) Sebagian orang ketika menikah tidak paham apa yang terjadi. Seakan-akan ia pergi ke sebuah undangan orang lain. Pesta dan pertamuan. Seperti suasana baru dan kesenangan yang bersifat sementara. Sebagian pengantin menganggap dirinya seperti seorang yang hadir dalam undangan. Padahal sebenarnya tidak demikian. Dengan menikah, maka akan muncul sejumlah komitmen. Tentu saja di samping komitmen ini akan muncul nikmat dan keberkahan bagi kehidupan manusia yang akan membuat indah komitmen ini. (11/7/1381) Sebagian orang menikah dan mendapatkan pasangan hidup yang baik, memiliki kehidupan yang indah dan baik, namun tidak paham betapa besarnya nikmat ini dan betapa menentukan dan penting peristiwa ini dalam kehidupan mereka. Ketika tidak memahaminya maka tidak akan mensyukurinya. Akhirnya jauh dari rahmat ilahi. Karena rahmat ilahi akan mendekati manusia karena rasa syukur. Oleh karena itulah, manusia harus perhatian bahwa betapa besarnya nikmat ini.

Bagaimana caranya mensyukuri nikmat? Terkadang seseorang bersyukur hanya mengucapkan dengan lisan? Ya Allah, terima kasih' tapi di hatinya tidak terlintas sama sekali. Ini hanya goyangan lidah dan tidak bernilai. Bila seseorang berdoa seperti ini, dari mulut dan bibir seseorang tidak akan bergerak lebih jauh dan tidak akan mendapatkan ijabah ilahi. Namun terkadang seseorang bersyukur dari lubuk hatinya yang paling dalam. Yang ini sangat bernilai. Ia mengerti bahwa Allah telah memberikan sebuah nikmat kepadanya dan ia menunjukkan rasa syukurnya secara hakiki. Ini adalah syukur yang baik. Tentunya ketika kita bersyukur kepada Allah, maka perlu dibarengi dengan sebuah pekerjaan, sebuah gerakan dan sebuah tindakan berdasarkan syukur ini.

Baiklah... sekarang Allah telah memberikan nikmat ini kepada Yahnda Bunda sekalian. Apa yang harus kalian lakukan? Tidak berharap banyak kepada kita... yang diharapkan dari kita atas nikmat ini adalah berbuat baik terhadap nikmat ini. Perbuatan baik ini telah ditentukan dalam Islam. Yakni, akhlak rumah tangga dan hikmahnya. Yakni, bagaimana harus berbuat dalam kehidupan rumah tangga sehingga kehidupan ini menjadi baik. ( 29/3/1381)

Memasuki tahap kehidupan berumah tangga merupakan salah satu nikmat yang besar yang diberikan oleh Allah dan syukurilah. Segala yang kita miliki berasal dari Allah.  'Wa Maa Binaa Min Ni'matin Faminallah...' Namun, yang paling penting adalah perhatian kepada nikmat ini. Manusia tidak melihat nikmat-nikmat yang ada. Sebagian orang telah menikah dan mereka banyak mendapatkan kebaikan. Mereka juga menjalani kehidupan yang indah dan baik, tapi tidak mengerti betapa besarnya nikmat ini dan betapa ini merupakan peristiwa yang menentukan dan penting. Ketika mereka tidak mengerti, maka tidak akan mensyukuri dan mereka akan terjauhkan dari rahmat ilahi. Oleh karenanya, seseorang harus perhatian betapa besarnya nikmat ini dan bagaimana caranya mensyukuri nikmat ini.

Baiklah, sekarang Allah telah memberikan nikmat ini kepada kalian. Apa yang harus kalian lakukan? Tidak berharap banyak kepada kita. Mengingat Kami telah memberikan nikmat kepada kalian, maka lakukanlah misalnya operasi militer Shaqqeh. Tidak! Yang diharapkan dari kita atas nikmat ini dan setiap nimat adalah hendaknya kita berbuat baik terhadap nikmat ini. Ini bukan harapan yang tinggi. Mengingat Kami telah memberikan nikmat ini kepada kalian, maka berbuatlah baik terhadap nikmat ini! Perbuatan baik ini telah ditentukan dalam Islam. Yakni, akhlak rumah tangga dan hikmahnya. Yakni, bagaimana harus berbuat dalam kehidupan rumah tangga sehingga kehidupan ini menjadi baik. Tentunya telah disebutkan dalam buku-buku. Sudah pernah diucapkan dan diulang-ulang. Saya juga akan menyampaikannya dalam beberapa kalimat. (29/3/1381)

Pesan pertama kami adalah anggaplah penting dan besar peristiwa pembentukan rumah tangga. (11/7/81) Harus menghargai rumah. Tidak bisa dibayangkan bagaimana manusia seseorang hidup tanpa rumah tempat tinggal. Setiap manusia memerlukan rumah dan lingkungan rumah. Ruh lingkungan rumah adalah keluarga. Hal ini harus diperhatikan dan dipikirkan. (21/2/92) Dalam tahapan ini adalah beberapa syarat, kewajiban dan tata cara┬Γ‘ yang harus ditanggung oleh manusia. Manusia memiliki tanggung jawab. Semua ini ada secara berdampingan. Parameter utama tahapan ini adalah munculnya lembaga sosial baru. Meskipun pernikahan bagi seorang perempuan dan pria memiliki berkah dan faedah yang banyak seperti kelahiran anak, bisa memenuhi kebutuhan biologis dan lain-lain, tapi semua ini berputar mengelilingi lembaga rumah tangga; ini merupakan prinsip utama.
Oleh karena itu, jagalah lembaga rumah tangga ini sekuat tenaga, apapun kondisinya. Ini seperti masuknya sebuah sel baru dalam sel-sel yang senantiasa bergantian dalam tubuh sosial. Sel-sel kita senantiasa bergantian dan harus ada sel-sel yang baru yang harus tumbuh sehingga pertama, badan ini agar tetap hidup. Kedua, agar badan ini bisa tumbuh berkembang. Kalian telah menambahkan sel baru ke dalam tubuh sosial. Oleh karena itu, berusahalah agar sel-sel ini tetap sehat, ceria, aktif dan menjadi sumber kemuliaan, kebanggaan dan kemajuan bagi bagi tubuh sosial ini. (18/6/1362) Setiap rumah tangga merupakan salah satu sel tubuh sosial dan struktur masyarakat. Ketika mereka sehat, ketika mereka berperilaku baik, maka struktur masyarakat yakni tubuh sosial akan sehat. (8/3/1381) Bukan berarti ketika sel-sel ini sehat kemudian kesehatan itu menular pada yang lainnya, atau bila tidak sehat maka ketidaksehatan akan menular pada yang lainnya. Tapi bermakna bila sel-sel ini sehat, maka badan akan sehat. Badan tidak lain adalah kumpulan sel-sel. Setiap organisma adalah kumpulan sel-sel. Bila kita bisa membuat sel-sel itu sehat, maka organisma itu juga akan sehat. Masalahnya sedemikian pentingnya. (14/10/1390)

Bila kalian menginginkan yang demikian, maka kalian harus komitmen pada adab dan hukum agama yang sudah ditentukan untuk rumah tangga. (18/6/1362) Segala sesuatu yang menyebabkan terjaganya ikatan dan lembaga rumah tangga baru ini, maka itu baik dan diridai Allah. Bila sesuatu -jangan sampai terjadi- menyebabkan goncangnya pilar-pilar rumah tangga, maka itu tidak baik dan bertentangan dengan maslahat. Oleh karena itu harus benar-benar menghindari perkara ini. (12/10/1381) Ini tidak seperti kejadian yang lain dalam kehidupan. Ini merupakan satu fase, satu persimpangan jalan. Sebagian orang ketika memasuki sebuah jalan, ia akan melihat persimpangan jalan. Karena kondisi mereka, kondisi pasangan hidup atau kondisi keluarga mereka, tidak bisa menempuh jalan yang lurus. Tapi sebagian orang bisa. Bila kalian ingin menempuh jalan yang lurus, maka jagalah aturan-aturan syariat dan anggaplah penting akhlak rumah tangga yang sudah ditentukan oleh syariat. Awalnya adalah hargailah lembaga rumah tangga yang baru ini. (11/7/1381) Rumah tangga adalah tempat ketenangan manusia. Tidak seorang manusiapun akan mencicipi rasanya kehidupan dan rasanya kehidupan manusia yang hakiki tanpa memiliki sebuah rumah tangga yang tenang dan nyaman. (15/9/1368)

Setiap rumah tangga merupakan sebuah tempat untuk tumbuh kembang bagi beberapa manusia. Himpunan rumah tangga akan menumbuhkan dan mengembangkan kumpulan manusia. Bila kalian mengacaukan rumah tangga dan anak-anak yang seharusnya tumbuh besar dalam rumah tangga, kalian kumpulkan dan besarkan di tengah-tengah teman dan kerabat, kalian tempatkan di sebuah kantor, dalam sebuah yayasan, dalam sebuh panti asuhan, seperti kumpulan anak-anak ayam di peternakan misalnya, dan ada satu orang yang merawat mereka, bila kalian lakukan ini, maka mereka tidak akan menjadi manusia yang tumbuh dengan baik. Nah. Ini adalah tabiat manusia. Allah telah menciptakan makhluk ini sedemikian rupa sehingga berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya. Sebagian makhluk diciptakan oleh Allah sedemikian rupa sehingga tidak melihat anak, ayah dan ibunya. Ayah atau ibu tersebut, istilahnya yang membuahi sel telur anak ini, ketika membuahi telurnya kemudian dirinya mati. Memang beginilah tabiat. Sebagian hewan baik ditunggui ayah dan ibunya atau tidak, ia dibarengi oleh insting dan tabiatnya dan besar seperti ayah dan ibunya. Baik dia melihat ayah dan ibunya atau tidak. Tapi manusia tidak demikian.

Manusia diciptakan sedemikian rupa oleh Allah, pertama, sebagai makhluk yang harus belajar. Kedua, dalam lingkungan hidup ayah dan ibu, dengan kasih sayang dengan keakraban dengan kejelian, dari sisi kejiwaan tidak akan memiliki kekurangan bila tumbuh dengan baik. Bila ia keluar dari lingkungan yang kecil dan jatuh ke dalam lingkungan yang besar sejak awal masa kanak-kanak, maka ia tidak akan tumbuh berkembang sebagaimana seharusnya. Inilah ciri khas manusia. Oleh karena itulah Allah menetapkan kasih sayang di hati ayah dan ibu. Dengan kasih sayanglah anak manusia tumbuh berkembang. Kasih sayang ini merupakan salah satu tabiat manusia. Oleh karena itulah setiap anak memiliki hubungan kasih sayang dengan ayah dan ibunya. Ayah dan ibu kalian juga memiliki kasih sayang kepada kalian, sebagaimana kalian memiliki kasih sayang kepada anak-anak kalian. Anak kalian juga akan memiliki kasih sayang kepada anak-anaknya. Dan pernikahan memiliki ciri khas seperti ini yakni membentuk lingkungan rumah tangga. (5/12/1362)

Demikian ya Yahnda Bunda, semoga bermanfaat. 

Sesederhana itukah, wujud pernikahan penuh cinta?

09.27 3


#Day10
#KelasNonFiksi
#OdopBatch7

Bismillah

Selamat pagi

Selamat hari Jumat

Mulai hari dengan semangat, sesemangat aku yang meski semalam memilih rehat, meski kesempatan membuat draft terlewat, itu semata demi memberikan hak pada tubuh untuk beristirahat.

Ini tulisanku untuk membayar tugas postingan, hari kemarin? Kenapa hari kemarin aku tidak sempat posting?

Jadi begini ceritanya:

Hari Rabu, aku lupa hari dan lupa tanggal. Kukira hari Rabu kemarin itu tanggal 28, padahal tanggal 28 itu Kamis. Ini gagal fokus yang pertama. Hari itu aku masih sempat membuat draft, karena sejak malam sudah sangat bersemangat tidak ingin berutang. Sejauh ini keadaan aman. Aman goleman.

Hari Rabu aku masih sempat membuat status di WA story, sampai pukul 14.30, di sore hari. Selepas itu, gawai aku diamkan karena baterai limit dan rencana akan di charge. Oke. Gawai aku charge kemudian, dari sinilah semua gagal fokus dimulai.

Aku, kalau nge-charge, selalu kumatikan gawainya. Entah kenapa, Rabu sore kemarin, gawaiku tidak kumatikan saat nge-charge. Kupikir, jika sewaktu-waktu puteri kecil bangun, dan meminjam kan jadi mudah. Tidak harus menyalakan lagi.

Niat hati juga, tidak mau membawa gawai saat mengantar adik ipar periksa ke dokter. Posisi puteri kecil waktu itu sudah tidur, seharian dia tidak tidur, karena aku baru pulang sore hari, ada pekerjaan Simda Pengurus Barang dan keperluan mengambil surat tugas dari Ketua PGRI Cabang sebabnya. 

Aku dan adik ipar pergi selepas Maghrib. Puteri kecil tidur, Ayah Jose yang menjaga.  Sampai di tempat periksa, antrean sudah mengular. Fix, pukul 20.00 adik ipar baru ke luar dari ruangan dokter. Setengah jam kemudian, kami sudah sampai Rumah Clever. Ternyata sampai rumah, Mbah Uti sedang kesakitan. Tahu kenapa? Mbah Uti sakit gigi dan baru saja minta pijat refleksi ke salah satu teman satu sekolahku yang rumahnya dekat.

Mbah Kakung menyuruhku untuk menelepon teman satu sekolahku itu, disuruh datang ke Rumah Clever. Tapi, yang terjadi kemudian sungguh di luar jangkaun. Tahu kenapa? Saat kucabut kabel charge dari gawaiku, aku sangat terkejut, tidak ada gambar signal kartu di gawaiku.

Berulangkali kunyalakan ulang gawaiku, hasilnya nihil. Kucopot baki pemasangan kartu berulangkali juga, hasilnya masih zonk. Keringat dingin mengucur deras membasahi wajahku. Ya Allah, apa yang terjadi dengan gawaiku. Kenapa kartu sim-ku tidak terbaca, notifiksi ‘Tidak Ada Kartu SIM’ membuatku membangunkan Ayah Jose kemudian.

Aku tahu, beliau juga sedang tidak enak badan, sedang mengalami sariawan akut. Tapi kuberanikan diri untuk membagikan ceritaku malam itu juga, dan puji syukur beliau memahami. Bahkan saat aku terlihat sangat kebingungan, beliau memelukku dengan penuh cinta.

Ah, inikah yang dinamakan pernikahan penuh cinta? Apakah pernikahan penuh cinta itu adalah ketika  malam-malam istri menemui persoalan, suami yang sedang tidur dibangunkan, dia tidak marah? Atau yang bagaimana?

Sesederhana itukah, wujud pernikahan penuh cinta?

“Real Love Starts After Nikah.”
Cinta yang sejati baru dimulai setelah pernikahan.

Malam Rabu, menjadi malam penuh liku, bagiku dan suamiku. Kami sempurna penasaran dengan apa yang terjadi dengan kartu SIM dan gawaiku. Malam itu kami memutuskan untuk mere-start gawai, sebagai langkah darurat dengan konsekwensi semua data terhapus. Dengan harapan, semoga besok pagi, gawai kembali normal dan kartu SIM kembali muncul dengan signalnya.

Sampai tengah malam aku masih juga belum bisa tidur. Memandangi gawai dan kartu SIM yang sudah kulepas dari baki-nya. Aku kebingungan, apa yang harus kulakukan? Benar-benar buntu. Kupikir semua akan baik-baik saja. Ayah Jose menguatkanku. Beliau kembali memelukku dengan penuh cinta. Kami benar-benar baru tertidur tengah malam.

Pagi-pagi saat adzan Subuh, aku terjaga. Ayah Jose membangunkanku untuk salat sambil bertanya apakah boleh beliau bawa gawai beserta kartu SIM-ku untuk diuruskan ke Grapari di Cilacap Kota? Aku hanya mengangguk, menandakan bahwa aku setuju. Ternyata, Ayah Jose begitu cerdas membaca keadaan. Saat istrinya tidak bisa berpikir untuk menemukan solusi, beliau datang dengan segala ide penyelesaian, tanpa perlu banyak diskusi berkepanjangan.

Apakah pernikahan penuh cinta itu adalah ketika  istri menemui persoalan, suami ikut mengusulkan ide penyelesaian, tanpa banyak pertimbangan? Atau yang bagaimana?

Sesederhana itukah, wujud pernikahan penuh cinta?

“Marry someone who will promise to wake you up for fajr.”
Menikahlah dengan seseorang yang berjanji akan selalu membangunkanmu sebelum fajar menyingsing.

Entahlah, yang jelas aku tidak tahu kalau KTP-ku juga sudah dibawa oleh Ayah Jose untuk keperluan pengurusan ke Grapari. Aku juga tidak tahu, beliau sampai ingat untuk membawa KK (Kartu Keluarga) juga, demi lancarnya penggantian kartu. Aku saja sama sekali tidak kepikiran, karena fokusku sudah kegiatan hari Kamis, tanggal 28.

Apakah pernikahan penuh cinta itu adalah ketika  istri menemui persoalan, suami ikut membantu proses penyelesaian, tanpa banyak bicara namun langkahnya jelas terlihat tertata? Atau yang bagaimana?

Sesederhana itukah, wujud pernikahan penuh cinta?

“A man should be like a child with his wife, but if she needs him, he should act like a man.” – Umar ibn al-Khattab.
Seorang suami seharusnya bisa tampil di hadapan istrinya layaknya seorang bocah. Akan tetapi ketika sang istri membutuhkannya, maka ia harus tampil layaknya seorang lelaki perkasa. – Umar bin Khattab

Ah, aku tidak tahu. Aku dan suamiku menikah baru enam tahun. Belum pantas rasanya menyimpulkan hal sepenting itu. Kami hanya berusaha belajar untuk menjadi pasangan penuh cinta, seperti kedua orangtua kami. Mereka tentu telah menikah lebih dari umurku sekarang, 32 tahun. Bahkan sang mertuaku, yang tentu telah menikah lebih dari umur suamiku, 37 tahun. Merekalah bukti pernikahan penuh cinta yang sebenarnya.

Lihat saja saat Mbah Uti sakit gigi malam ini, Mbah Kakung bertanya ini dan itu. Menanyakan ini dan itu. Kekhawatirannya sempurna terlihat olehku. Bahkan saat tengah malam aku dan suami belum tidur karena urusan gawai dan kartu SIM, aku melihat mereka berdua di depan televisi karena Mbah Uti tidak bisa tidur sebab sakit gigi?

Apakah pernikahan penuh cinta itu adalah ketika  istri sedang sakit, suami ikut membersamai meski harus rela tidak tidur semalaman? Atau yang bagaimana?

Sesederhana itukah, wujud pernikahan penuh cinta?

“Our love is the best love because you make my imaan rise, you help me in the dunya and for that reason I want to meet you again in Jannah.”
Cinta kita adalah yang terbaik. Karena engkau membangkitkan imanku, menolongku di dunia ini. Dan untuk alasan itulah, aku ingin berjumpa kembali denganmu di surga.

Atau saat gawai dan kartu SIM-ku bermasalah, Ayah Jose tetap bersemangat membersamaiku, meski beliau harus tidur tengah malam kemudian?

Sesederhana itukah, wujud pernikahan penuh cinta?

“Don’t just search for the one who will make your dunya beautiful. Search for the one who will make your Akhirah beautiful.”
Jangan hanya mencari seseorang yang akan membuat kehidupan duniamu indah, carilah seseorang yg akan membuat kehidupan akhiratmu indah.

Demi melengkapi postingan ini, aku seluncuran. Artikel tentang ‘Pasangan yang Menikah Lama Lebih Bahagia dan Penuh Cinta’ di laman web liputan6.com. Katanya, ada sebuah studi kembali menunjukkan manfaat menikah. Studi yang dilakukan oleh University of California, Berkeley, menemukan bahwa pasangan yang terikat pernikahan dalam waktu lama memiliki kesempatan lebih besar untuk bahagia. Menurut studi tersebut, pasangan yang sudah menikah lama lebih banyak berbagi tawa dan cinta dibandingkan pasangan yang berpisah karena perbedaan.

Apakah artinya kesempatan untuk berbahagia jadi meningkat bila seseorang tetap mempertahankan pernikahan?

"Lebih kepada penerimaan dan kedewasaan yang muncul seiring bertambahnya usia. Misalnya, pada awal pernikahan, perbedaan antara pasangan seolah begitu besar karena mereka ada dalam fase saling mengenal dan memahami lebih dalam lagi. Namun seiring dengan bertambahnya usia, pasangan akan belajar untuk menyesuaikan diri sehingga pertengkaran akan digantikan dengan penerimaan," konsultan psikolog senior Shweta Singh menjelaskan.

Shweta juga menjelaskan, terkadang perpisahan tak terhindarkan karena perbedaan di antara pasangan tak mungkin diatasi. Namun, pasangan menikah yang berhasil melewati rintangan tersebut akan belajar untuk hidup bersama dan menjaga kesetiaan. Ketika usia bertambah, mereka akan menciptakan kenangan bersama seperti memiliki anak, mengusahakan pencapaian karier, dan lainnya.

"Episode-episode hidup seperti itu akan membuat mereka semakin dekat dan mulai menikmati kehidupan yang bahagia, yang tentunya tak terjadi dalam waktu semalam," cetus Shweta, melansir laman Times of India.

So, apakah pernikahan Yahnda Bunda sudah termasuk pernikahan penuh cinta juga? Hanya Yahnda Bunda sendiri yang mengetahuinya.

Apakah ada hubungan antara pernikahan penuh cinta dengan anak cerdas kemudian?

Salam penuh cinta dari The Clever Family ya...

“Remind me of Allah if your love for me is indeed true.”
Ingatkan Aku pada Allah jika memang kamu benar-benar mencintaiku.

Apa Saja Ciri-ciri Pernikahan yang Cerdas?

08.59 5



#Day9
#KelasNonFiksi 
#OdopBatch7

Selamat Pagi 
Semangat Rabu
Semangat Menggebu

Sepagi ini aku sudah memulai membuat draft, agar tak kemalaman seperti semalam. Mau tidur saja mikirin, postingan. Kayak nggak rela begitu, kalau aku utang.

(Liburnya Minggu saja, jangan minta hari lain. Itu saja, di laporan jadi ada yang bolong ya. Ah, biarka saja. Aku kan juga butuh time. Hehehe)

Apa kabar pagi ini? Alhamdulillah kabarku baik. Apakah kabar Yahnda Bunda juga baik? Semoga sebaliknya juga begitu adanya ya.

Apakah Yahnda Bunda sudah membaca dua postinganku sebelum ini? Jika belum, oke, baiklah. Mungkin ada yang penasaran juga tanggal 28 mau ada acara apa denganku. 

Acara tanggal 28 yang sudah kuagendakan sejak awal bulan ini bahkan. Sebab waprian dari sang ketua juga sang kepala sekolah. Beberapa hari yang lalu, di grup WA yang sudah terbentuk ada surat permohonan dispensasinya.

Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional tahun 2019, HUT PGRI ke-74 dan HUT K’Gum ke-1, dan ikut serta menyukseskan Gerakan Literasi Nasional, PGRI Kabupaten Cilacap bekerja sama dengan Komunitas Guru Menulis (K’Gum) Cilacap, berencana menyelenggarakan kegiatan Pekan Literasi, di mana salah satu kegiatan dalam Pekan Literasi adalah Lokakarya Kebahasaan Dalam Penyusunan KTI yang akan dilaksanakan pada: Hari/Tanggal : Kamis, 28 November 2019. Waktu : 08.00 s/d selesai. Tempat : Aula Dwijaloka PGRI Kabupaten Cilacap.

Acara tanggal 28 masih besok ya ternyata, dan hari ini masih perjuangan untuk mendampingi anak-anak kelas 1-2 untuk Penilaian Akhir Semester, muatan pelajaran Matematika. Alhamdulillah, hari demi hari selalu penuh dengan perjuangan. Bagaimana dengan Yahnda Bunda sendiri? 

Mungkin ada yang masih menunggu jadwal Penilaian Akhir Semester, ada juga yang sudah sepertiku, mendampingi anak-anak tercinta melalui momen wajib setiap setengah tahun sekali ini. 

Momen wajib yang istimewa, kah itu? Tentu saja ya Yahnda Bunda. Yahnda Bunda sendiri pasti ikut berdebar saat anak mengalaminya bukan?

Apakah debaran itu sama seperti saat menikah dulu. What? Apa hubungannya? 

Menikah kok dihubungkan dengan Penilaian Akhir Semester? Hmmhmmm. Dua-duanya sama-sama mendebarkan dan sama-sama momen yang sakral.

Menikah, nikah, pernikahan. Adalah tiga kata yang berhubungan. Nikah itu kata dasar. Menikah adalah nikah yang diberi awalan me-, sedangkan pernikahan adalah nikah yang diberi awalan per- dan akhiran -an.

Pernikahan yang menyatukan dua keluarga. Pernikahan yang penuh cinta, bisa jadi juga adalah salah satu faktor yang menyebabkan generasi keturunan kita menjadi generasi cerdas. Kenapa?

Karena menjadi orangtua yang cerdas berawal dari pernikahan yang cerdas. Oke. 

Kalau begitu pernikahan yang cerdas itu yang seperti apa? 

Pernikahan yang cerdas adalah cikal bakal pertama dalam menciptakan anak yang cerdas. Pernikahan merupakan awal dari segala niat suci untuk mempertahankan kesucian diri dan niat memperoleh keturunan. 

Keturunan seperti apa yang Yahnda Bunda harapkan? Itu tergantung dari mana Yahnda Bunda memulainya, sejak memasuki jenjang pernikahan. 

Pernikahan seperti apa yang bisa disebut akan menghasilkan keturunan (anak) yang cerdas? Jawabannya tentu pernikahan yang cerdas. 

Lantas, apa saja ciri-ciri pernikahan yang cerdas itu?

Ciri-ciri pernikahan cerdas diantaranya:

1. Pernikahan penuh cinta dan kasih sayang 

Apa artinya pernikahan yang tidak didasari oleh rasa cinta. Cinta pada pasangan menjadi dasar, meski itu bukanlah segalanya. Bisa jadi awal kita sama sekali tidak saling mengenal, tapi dalam bingkai pernikahan, semua dimulai. Cinta itu tumbuh dengan dasar cinta kita pada-Nya.

Cinta yang tumbuh perlahan namun pasti akan menghadirkan kasih sayang tanpa henti. Kasih sayang akan memupuk cinta menjadi cinta sejati, yang membuat Yahnda Bunda semakin solid menjalani hari. Apakah Yahnda Bunda masih meragui?

Lihat saja pernikahan yang tidak didasari atas cinta padanya dan pada-Nya. Apakah mereka bisa bahagia? Pernikahan yang bahagia akan membuahkan anak yang bahagia pula. Pernikahan yang bahagia adalah ciri-ciri pernikahan cerdas yang akan menghadirkan anak-anak yang cerdas pula.

2. Pernikahan di usia matang

Aku sering melihat, fenomena pernikahan di usia muda lebih cenderung banyak yang tidak bisa bertahan beberapa lama. Kira-kira kenapa ya, penyebabnya? Ketika terjadi seperti itu dan ada anak yang hadir, apa yang terjadi kemudian? 

Aku sendiri menikah di usia matang, dua puluh enam tahun. Waktu itu suami, berumur tiga puluh satu tahun. Tepat tahun ini kami sudah menjalani hari demi hari bersama selama kurang lebih enam tahun. Pernikahan yang mampu bertahan lama akan semakin menumbuhkan cinta, percayakah Yahnda Bunda? 

Kalau aku sangat percaya. Karena hari demi hari yang dilalui semakin bisa kuketahui sifat dan sikap Ayah Jose yang luar biasa. Dia sempurna menjelma menjadi sosok ayah dan suami cerdas yang selalu siap siaga.

3. Pernikahan yang direstui

Restu Allah ada pada restu kedua orangtua. Ridho Allah juga pasti ada di tangan keduanya. Aku yakin betul akan hal ini, bahkan sampai detik ini.

Restu orangtua menjadi hal wajib jika kita menginginkan pernikahan cerdas yang diridhoi. Kenapa harus ada ridho di sini? Iya, karena seperti apapun langkah dan perjuangan pernikahan kita akan semakin kuat dengan restu, ridho dan do'a-do'a yang dilangitkan oleh kedua orangtua. Apalagi jika ada tambahan mertua di sana. Insyaallah pernikahan kita semakin cerdas, semakin solid dengan iringan ridho-Nya. 

4. Pernikahan yang menyatukan dua keluarga

Sungguh indah jika pernikahan kita adalah pernikahan yang menyatukan dua keluarga. Tidak ada lagi sekat yang memisahkan antara menantu dan saudara iparnya. Tidak ada lagi jarak antara mertua dengan besannya. Sungguh itulah keakraban yang sangat membahagiakan. 

Pernikahanku, pernikahan adikku, dan pernikahan adik bungsu kelak, selalu berdasar pada prinsip: Ketika aku dan kamu jadi kita maka, keluargamu pun akan menjadi keluarga kita. Jika Yahnda Bunda merasa belum bisa menyatu bahkan menyatukan keluarga, silakan terapkan prinsip itu. Insyaallah pernikahan kita semua akan sempurna menjadi pernikahan yang cerdas. 

Pernikahan yang cerdas adalah sebuah pernikahan yang ketika buah hati hadir di tengah keluarga besar, ia diterima dengan tangan terbuka dan akan menjadi anak yang bahagia dengan segala kasih sayang yang tercurah adanya. Tentu ini sangat berbeda dengan anak yang lahir karena keluarga besar yang tercerai berai bukan. Na'udzubillah hi mindzalik. Summa.

5. Pernikahan yang resmi dan syah

Ini syarat mutlak dan wajib. Pernikahan yang resmi dan syah, dicatat oleh negara akan membuat hati Yahnda Bunda tenang bukan? Karena jika anak yang lahir kemudian akan sempurna dan mudah mendapatkan apa yang menjadi haknya.

Aku sering kasihan melihat anak-anak yang tidak jelas nasibnya. Mau memiliki surat kelahiran saja harus di atasnamakan orang lain sebagai orangtuanya. Apakah selaku orangtua jika kita berbuat demikian akan adil untuk mereka?

Apakah anak-anak yang demikian akan menjadi anak yang cerdas kemudian? 

Kita hidup di negara yang serba membutuhkan bukti hitam di atas putih, bahkan untuk anak yang baru lahir di zaman sekarang ini, sudah langsung bisa diuruskan data kependudukannya. Lantas, jika pernikahan itu dilaksanakan secara tidak resmi? Bagaimana nasib anak-anak kelak?

Demikian ulasan ciri-ciri pernikahan cerdas menurutku. Adakah tambahan? Ataukah adakah koreksi, biar aku betulkan kemudian.

Terima kasih.

Tantangan Pekan Kedua: Review Home Paper by Joko

22.36 1


#Day8
#KelasNonFiksi 
#TantanganPekanKedua

#ReviewJasa

Bismillah 
Selamat malam

Alhamdulillah akhirnya bisa me time juga, dengan nulis postingan di sini. Hari ini ternyata sudah mulai Penilaian Akhir Semester, setelah beberapa waktu kemarin sempat miss komunikasi dengan sinkronisasi jadwal.

Entah, kenapa aku juga sedikit tidak sinkron hari ini. Kenapa? Karena kupikir besok itu tanggal 28, ternyata baru tanggal 27. Kira-kira kenapa bisa krodit begitu, sampai lupa hari bahkan lupa tanggal. Hehehe. 

Kenapa aku begitu menunggu tanggal 28? Apakah ada yang tahu? Hayo tebak kenapa? Yang jelas masih ada kaitannya dengan Hari Guru.

Masih dalam suasana Hari Guru, aku mengucapkan selamat untuk semua guru-guru se-Indonesia bahkan juga seantero jagad raya. Ingin rasanya diri ini mempersembahkan sebuah tulisan untuk guru-guru yang berjasa dalam hidupku. 

Wait, sebelum jauh melampaui, terlebih dulu aku akan melanjutkan tulisan hari kemarin tentang anak yang cerdas ya. Bahwa anak yang cerdas berasal dari pernikahan yang cerdas.  Untuk meraih pernikahan yang cerdas diperlukan persiapan pernikahan yang tak kalah cerdas. 

Persiapan menjelang hari pernikahan pasti sangat mendebarkan. Semendebarkan ketika mahar pernikahan itu ditentukan hingga disajikan dalam bingkai keindahan.

Omong-omong tentang mahar pernikahan, dulu ketika aku dan suami menikah, mahar kami sederhana saja. Sejumlah uang tunai yang sesuai tanggal pelaksanaan kami hias sendiri. Bahkan sampai pernik seserahan kami hias sendiri dengan menggunakan box parcel yang kami beli secara mandiri.

Dari situlah kemudian atas inisiatif aku dan suami, muncul sebuah lini Clever World yang bernama Home Paper by Joko. Dari lini tersebut kami kemudian menyiapkan betul-betul pernikahan adik kami yang diberi tajuk Clever Wedding Project Satu.

Yang paling spesial dari pekerjaan menghias kala itu adalah kami sukses menghias lebih dari 30 paket parcel seserahan dan satu mahar pernikahan khusus yang berupa inisial nama kedua pengantin.

Mahar ini benar-benar ungkapan cinta untuk kedua mempelai, sebab ianya sempurna dihadirkan dengan penuh cinta demi adik tercinta di hari istimewanya.

Kedua pengantin yang kebetulan adikku sendiri menyatakan puas dengan jasa hias mahar yang kami berikan, terutama untuk hias mahar. Bentuknya sangat unik, karena kami benar-benar mengerjakan tiap detail secara teliti. Meski kami sama sekali tak meminta bayaran untuk itu semua.

Apakah jasa kami berhenti saja sampai di situ? Tentu tidak, karena kami baru saja memulai usaha ini. Usaha jasa pembuatan mahar pernikahan yang dikerjakan langsung oleh Ayah Jose, Joko Septiono. Jasa menghias mahar ini suatu saat bisa saja menjadi usaha profesional yang menjadi bagian dari lini Clever Wedding Project siapapun.

So, berapapun maharnya dan seperti apapun bentuknya, Home Paper by Joko siap membantu para calon pengantin mempersiapkan pernikahan yang cerdas tentunya.

Urusan mahar itu sakral, sama seperti ikatan pernikahan itu sendiri. Sesakral makna pernikahan, yang jika sejak awal sukses dilaksanakan maka akan membuat generasi yang akan terlahir kemudian menjadi keturunan yang cerdas, saleh dan salehah, seperti yang diharapkan. Insyaallah... 

Benarkah itu? Wallahua'lam Bissawab. 

Menjadi orangtua yang cerdas berawal dari pernikahan yang cerdas.

21.43 5



#Day7
#KelasNonFiksi
#OdopBatch7

Bismillah, selamat Hari Guru.

Guru-guruku yang hebat, ada persembahan puisi untukmu. Puisi kudapatkan dari beberapa grup WA, pagi ini.

Guru-guruku yang hebat.

Bagaimana tidak hebat
Rutinitas pagi harus serba hemat
Bangun tepat
Mandi cepat
Sarapan pun kalau sempat

Guruku Hebat
Jam 04.00 subuh sudah wangi
Menjemput sang pelangi
Mengantarkannya meraih mimpi
Demi Ibu Pertiwi

Guruku Hebat
Bertahun tahun menahan diri
Dari keinginan hati
Dari nafsu duniawi yang menghampiri
Walau kadang makan hati

Guruku Hebat
Bagaimana tidak hebat
Tiap hari menopang martabat
Walau kadang tak bersahabat
Namun tetap harus kuat

Guruku tetap hebat
Dalam kekurangan tetap bertahan
Dalam kesederhanaan tetap diam
Dalam kemakmuran tetap tenang

Guruku memang hebat
Meskipun bukan konglomerat
Namun tak melarat
Meski bukan bangsawan
Namun tetap menawan

Guruku Hebat
Mendidik anak negeri
Sepenuh hati
Mengajarkan budi pekerti
Agar menjadi insan yang bernurani
Tanpa harus menyakiti

Guruku tetap yang Hebat
Gaji kecil tak sakit hati
Gaji cukup tak sombong diri
Meski banyak yang iri hati
Karena guru dapat sertifikasi

Guruku memang hebat
Karena sertifikasi dituntut kompetensi
Kalau tak mau diamputasi
Oleh penguasa negeri yang katanya "baik hati"

Guruku Memang Hebat
Meski mutasi dan gandanya kompetensi
Mengancam diri
Tak menjadikannya patah hati
Mengabdikan diri untuk negeri
Sambil menunggu panggilan surgawi.

πŸ™πŸ™πŸ™πŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒ»πŸŒ»πŸŒ»πŸŒΈπŸŒΈπŸŒΈπŸ’πŸ’πŸ’

#selamathariguru
#HUT PGRI

Pukul 6 pagi ini pula aku sudah di Cilacap kota. Bangun pagi sebelum pukul tiga, adalah sebuah niat yang teramat sangat diniatkan, agar bisa memenuhi undangan acara Hari Guru yang dipusatkan di Lapangan Jati Persada. 

Kenapa aku harus rela dengan sebegitunya? Karena niat hati ingin berangkat, nebeng motornya suami, biar sekalian.

Kenapa nebeng motor suami? Karena sehari-hari memang itu jalur utamanya. Mengendarai sepeda 41 kilometer dari rumah, menuju Cilacap Kota.

Tapi, meski begitu beliau tak pernah mengeluh. Bahkan beliau selalu berusaha menyempatkan diri untuk bermain dengan puteri kecil. Bayangkan seberapa lelah dan letihnya.

Lihat saja sore ini, sekitar pukul lima lebih sedikit, beliau baru saja sampai di rumah. Tebluk. Puteri kecil langsung merajuk, minta main ke PAUD. Untung saja dia sudah mandi. Sebab sejam sebelum pukul lima, aku lebih dahulu sampai di rumah dengan selamat.

Kami berdua menemani puteri kecil kemudian. Pertanyaannya lalu, kenapa kami mau melakukan ini semua padahal tentu saja lelah dan letih sebenarnya menguasai seluruh badan. Apalagi, kepalaku ini sebenarnya teramat berat untuk ditegakkan. Sepanjang perjalanan pulang tadi bahkan, kusempatkan membeli obat, agar nanti malam kubisa meminumnya. Supaya besok kepalaku sudah membaik, tak lagi sakit seperti ini.

Kenapa aku sakit kepala? Karena berangkat ke Cilacap Kota sepagi tadi dan ditemani hujan sepanjang perjalanan itu benar-benar sangat menguji. Bayangkan saja suamiku, yang sudah berteman dan bersahabat dengan cuaca selama lima tahun berjalan. 

Oke, lupakan dulu soal ini. Aku mau mengingatkan soal yang sebelumnya. Mmmm, soal rajukan puteri kecil. Sesaat setelah ayah dan ibunya pulang mengisi hari ini di dalam kota nun jauh.

Aku dan Ayah Jose menyadari betul, bahwa kami bukan orangtua yang setiap hari, sepanjang waktu bisa di rumah. Ada tugas dinas sebagai bagian dari tanggung jawab yang harus ditunaikan.

Menjaga puteri kecil adalah keterbatasan yang membuat kami harus membagi tugas merawat dengan orang lain. Dalam hal ini adalah orangtuaku, mertua suamiku.

Kenapa harus orangtuaku? Karena dari mereka sendirilah alasan itu. Mereka ingin membantu mengasuh cucu pertama, sebagai bagian dari cara mereka bersyukur pada Yang Maha Kuasa.

Kami bersyukur, kami termasuk pasangan yang sepertinya dikasihi oleh orangtua dan mertua, dari pihakku maupun pihak suamiku. Bisa jadi ini karena pernikahan kami adalah pernikahan yang direstui. Pernikahan yang menyatukan dua keluarga. Pernikahan yang penuh cinta.

Dan tahukah Yahnda pernikahan seperti yang kusebut di atas, bisa jadi juga adalah salah satu faktor yang menyebabkan generasi keturunan kita menjadi generasi cerdas.

Kenapa?

Karena menjadi orangtua yang cerdas berawal dari pernikahan yang cerdas. 

Oke. Kalau begitu pernikahan yang cerdas itu yang seperti apa? Simak ulasan sebagai berikut.

Pernikahan yang cerdas adalah cikal bakal pertama dalam menciptakan anak yang cerdas. Pernikahan merupakan awal dari segala niat suci untuk mempertahankan kesucian diri dan niat memperoleh keturunan. 

Keturunan seperti apa yang Yahnda Bunda harapkan? Itu tergantung dari mana Yahnda Bunda memulainya, sejak memasuki jenjang pernikahan. 

Pernikahan seperti apa yang bisa disebut akan menghasilkan keturunan (anak) yang cerdas? Jawabannya tentu pernikahan yang cerdas. Lantas, apa saja ciri-ciri pernikahan yang cerdas itu?

Ciri-ciri pernikahan cerdas diantaranya:
1. Pernikahan penuh cinta dan kasih sayang 
2. Pernikahan di usia matang
3. Pernikahan yang direstui
4. Pernikahan yang menyatukan dua keluarga
5. Pernikahan yang resmi dan syah

Untuk segala keterangan, menyusul di postingan selanjutnya... 

Selamat malam.