Pernikahan Penuh Kasih Sayang itu yang Seperti Apa Ya?

13.42


#Day11
#KelasNonFiksi 
#OdopBatch7

Bismillah
Selamat pagi
Selamat hari Jumat

Meski hari sudah beranjak, aku masih semangat. Semangat untuk menulis postingan hari ini, di sela rapat Pengurus PGRI dengan Kepala Sekolah satu gugus untuk membahas Agenda Bedah Rumah. Meski ada kabar dari rumah bahwa Mbah Uti masih juga sakit gigi, jujur hati dan pikiran tak lagi sejalan. 

Raga duduk di depan layar, tapi jiwaku sudah di rumah. Teringat puteri kecil yang tadi pagi sempat drama beberapa saat. Tapi, aku harus tetap semangat, sampai rapat ini selesai dan berharap, draft ini akan selesai juga. Aamiin.

Ini tulisanku untuk tugas posting hari ini. So, hari ini aku nulis dua postingan, semangat banget aku kan, hmhmm...

Oke, baiklah. Hari ini kusempatkan, mumpung bisa menyela. Tidak seperti kemarin, yang bahkan untuk beranjak saja, aku sayang. Kenapa?

Karena aku bahagia, bisa ikut event luar biasa yaitu Pekan Literasi dan Lokakarya Kebahasaan dalam rangka HUT ke-74 PGRI dan HUT Komunitas Guru Menulis Cilacap di Aula Dwijaloka Cilacap, dalam jarak 39 kilometer dari Rumah Clever. Bahagia karena bertemu banyak rekan guru yang ternyata menulis juga, dan sudah banyak menerbitkan buku.

Oke, ternyata draft ini harus diselesaikan di rumah kemudian, dan sambil menjaga Kakak Jesi yang sedang tidur siang, aku kembali melanjutkan. 

Back to the topic, 

Urusan gawai dan kartu SIM sedikit kepikiran tapi tidak begitu membayang, karena aku juga bertemu dengan salah satu teman di satu komunitas. Bahkan di sesi siang, aku sangat terkejut dengan hadirnya narasumber yang juga berada di satu komunitas yang sama.

Aku duduk sebelahan dengan Mbak Cheska Nur Rina dan Bu Hartini, di barisan nomor dua dari depan. Ini pilihan, sebab aku tidak ingin begitu saja melewatkan, sesi demi sesi, juga obrolan demi obrolan yang memang sudah kami nantikan bertiga. 

Aku nunut wifi, untuk membuka komunikasi dengan grup The Clever Family lewat gawainya Mbah Kakung. Sementara gawaiku belum juga dibawa ke luar oleh Ayah Jose,  sebab beliau belum ada kesempatan ke luar sekolah. Ya sudah, wifi kumatikan lagi. Lanjut kembali mengikuti sesi.

Sampai pada saat jam istirahat, selesai makan kusambungkan lagi gawaiku ke wifi, kok mati? Akhirnya kuberanikan diri untuk nunut tetringnya Mbak Cheska yang baik hati. Hihiii. Kudapati informasi bahwa, Ayah Jose baru saja dari Grapari, tapi tidak berhasil. Karena harus aku yang ke sana sendiri. Oke baiklah. Akhirnya kubuat janji, selesai acara di sini aku akan langsung demi sebuah kelegaan hati. Semoga nanti sore, semua sudah normal kembali. Aamiin....

Dalam hati aku bersyukur, memiliki suami dan keluarga yang mencintaiku dengan penuh kasih sayang. Suami dan keluarga yang sangat memahami hubungan suami-istri berdasarkan cinta dan kasih sayang. Suami dan keluarga yang betul-betul memahami arti Pernikahan Penuh Kasih Sayang.

The Clever Family yang memahami betul, bahwa hal terpenting yang diperlukan oleh manusia adalah ketenangan. Oleh karena itu sesama memberinya tidak pernah singkat untuk mengisi grup dengan segala curhatan-curhatan, agar tenang itu menjadi sahabat akrab yang senantiasa datang.

Ini sesuai dengan ilmu yang kuperoleh saat membaca lama Web, hajij.com. Di sana tertulis penjelasan yang detail dan amat panjang. Berikut sadarnya kutarik ke sini, ya Yahudi Bunda sekalian. Mohon izin.

Kebahagiaan manusia adalah ketika ia aman dari kegalauan dan kepanikan jiwa serta memiliki ketenangan jiwa. Rumah tanggalah yang bisa memberikan ketenangan ini kepada manusia, baik kepada istri maupun suami. Kalimat berikutnya sangat menarik dan indah. Disebutkan, "Wa Ja'ala Bainakum Mawaddatan Warahmatan". Hubungan yang benar antara suami dan istri adalah cinta dan kasih sayang. Hubungan persahabatan. Hubungan kasih sayang. Saling mencintai dan saling menyayangi. Mencintai dibarengi dengan kekerasan itu tidak bisa diterima. Kasih sayang tanpa cinta juga tidak bisa diterima. Tabiat ilahi suami dan istri di dalam lingkungan rumah tangga adalah tabiat yang mewujudkan sebuah hubungan timbal balik bagi istri dan suami yaitu hubungan cinta dan kasih sayang. "Mawaddah Wa Rahmah" (30/7/76) Faktor yang mengikat rumah tangga adalah cinta. (29/3/81)

Hargailah ikatan ini dan anggaplah sebagai nikmat ilahi dan jagalah. (12/10/81) segala sesuatu yang kalian miliki berasal dari Allah. "Wa Ma Bikum Min Ni'matin Faminallah" (QS. an-Nahl: 53), yang sangat penting adalah memperhatikan nikmat ini atau segala nikmat lainnya. Banyak nikmat yang tidak diperhatikan oleh manusia. (29/3/1381) Sebagian orang ketika menikah tidak paham apa yang terjadi. Seakan-akan ia pergi ke sebuah undangan orang lain. Pesta dan pertamuan. Seperti suasana baru dan kesenangan yang bersifat sementara. Sebagian pengantin menganggap dirinya seperti seorang yang hadir dalam undangan. Padahal sebenarnya tidak demikian. Dengan menikah, maka akan muncul sejumlah komitmen. Tentu saja di samping komitmen ini akan muncul nikmat dan keberkahan bagi kehidupan manusia yang akan membuat indah komitmen ini. (11/7/1381) Sebagian orang menikah dan mendapatkan pasangan hidup yang baik, memiliki kehidupan yang indah dan baik, namun tidak paham betapa besarnya nikmat ini dan betapa menentukan dan penting peristiwa ini dalam kehidupan mereka. Ketika tidak memahaminya maka tidak akan mensyukurinya. Akhirnya jauh dari rahmat ilahi. Karena rahmat ilahi akan mendekati manusia karena rasa syukur. Oleh karena itulah, manusia harus perhatian bahwa betapa besarnya nikmat ini.

Bagaimana caranya mensyukuri nikmat? Terkadang seseorang bersyukur hanya mengucapkan dengan lisan? Ya Allah, terima kasih' tapi di hatinya tidak terlintas sama sekali. Ini hanya goyangan lidah dan tidak bernilai. Bila seseorang berdoa seperti ini, dari mulut dan bibir seseorang tidak akan bergerak lebih jauh dan tidak akan mendapatkan ijabah ilahi. Namun terkadang seseorang bersyukur dari lubuk hatinya yang paling dalam. Yang ini sangat bernilai. Ia mengerti bahwa Allah telah memberikan sebuah nikmat kepadanya dan ia menunjukkan rasa syukurnya secara hakiki. Ini adalah syukur yang baik. Tentunya ketika kita bersyukur kepada Allah, maka perlu dibarengi dengan sebuah pekerjaan, sebuah gerakan dan sebuah tindakan berdasarkan syukur ini.

Baiklah... sekarang Allah telah memberikan nikmat ini kepada Yahnda Bunda sekalian. Apa yang harus kalian lakukan? Tidak berharap banyak kepada kita... yang diharapkan dari kita atas nikmat ini adalah berbuat baik terhadap nikmat ini. Perbuatan baik ini telah ditentukan dalam Islam. Yakni, akhlak rumah tangga dan hikmahnya. Yakni, bagaimana harus berbuat dalam kehidupan rumah tangga sehingga kehidupan ini menjadi baik. ( 29/3/1381)

Memasuki tahap kehidupan berumah tangga merupakan salah satu nikmat yang besar yang diberikan oleh Allah dan syukurilah. Segala yang kita miliki berasal dari Allah.  'Wa Maa Binaa Min Ni'matin Faminallah...' Namun, yang paling penting adalah perhatian kepada nikmat ini. Manusia tidak melihat nikmat-nikmat yang ada. Sebagian orang telah menikah dan mereka banyak mendapatkan kebaikan. Mereka juga menjalani kehidupan yang indah dan baik, tapi tidak mengerti betapa besarnya nikmat ini dan betapa ini merupakan peristiwa yang menentukan dan penting. Ketika mereka tidak mengerti, maka tidak akan mensyukuri dan mereka akan terjauhkan dari rahmat ilahi. Oleh karenanya, seseorang harus perhatian betapa besarnya nikmat ini dan bagaimana caranya mensyukuri nikmat ini.

Baiklah, sekarang Allah telah memberikan nikmat ini kepada kalian. Apa yang harus kalian lakukan? Tidak berharap banyak kepada kita. Mengingat Kami telah memberikan nikmat kepada kalian, maka lakukanlah misalnya operasi militer Shaqqeh. Tidak! Yang diharapkan dari kita atas nikmat ini dan setiap nimat adalah hendaknya kita berbuat baik terhadap nikmat ini. Ini bukan harapan yang tinggi. Mengingat Kami telah memberikan nikmat ini kepada kalian, maka berbuatlah baik terhadap nikmat ini! Perbuatan baik ini telah ditentukan dalam Islam. Yakni, akhlak rumah tangga dan hikmahnya. Yakni, bagaimana harus berbuat dalam kehidupan rumah tangga sehingga kehidupan ini menjadi baik. Tentunya telah disebutkan dalam buku-buku. Sudah pernah diucapkan dan diulang-ulang. Saya juga akan menyampaikannya dalam beberapa kalimat. (29/3/1381)

Pesan pertama kami adalah anggaplah penting dan besar peristiwa pembentukan rumah tangga. (11/7/81) Harus menghargai rumah. Tidak bisa dibayangkan bagaimana manusia seseorang hidup tanpa rumah tempat tinggal. Setiap manusia memerlukan rumah dan lingkungan rumah. Ruh lingkungan rumah adalah keluarga. Hal ini harus diperhatikan dan dipikirkan. (21/2/92) Dalam tahapan ini adalah beberapa syarat, kewajiban dan tata cara  yang harus ditanggung oleh manusia. Manusia memiliki tanggung jawab. Semua ini ada secara berdampingan. Parameter utama tahapan ini adalah munculnya lembaga sosial baru. Meskipun pernikahan bagi seorang perempuan dan pria memiliki berkah dan faedah yang banyak seperti kelahiran anak, bisa memenuhi kebutuhan biologis dan lain-lain, tapi semua ini berputar mengelilingi lembaga rumah tangga; ini merupakan prinsip utama.
Oleh karena itu, jagalah lembaga rumah tangga ini sekuat tenaga, apapun kondisinya. Ini seperti masuknya sebuah sel baru dalam sel-sel yang senantiasa bergantian dalam tubuh sosial. Sel-sel kita senantiasa bergantian dan harus ada sel-sel yang baru yang harus tumbuh sehingga pertama, badan ini agar tetap hidup. Kedua, agar badan ini bisa tumbuh berkembang. Kalian telah menambahkan sel baru ke dalam tubuh sosial. Oleh karena itu, berusahalah agar sel-sel ini tetap sehat, ceria, aktif dan menjadi sumber kemuliaan, kebanggaan dan kemajuan bagi bagi tubuh sosial ini. (18/6/1362) Setiap rumah tangga merupakan salah satu sel tubuh sosial dan struktur masyarakat. Ketika mereka sehat, ketika mereka berperilaku baik, maka struktur masyarakat yakni tubuh sosial akan sehat. (8/3/1381) Bukan berarti ketika sel-sel ini sehat kemudian kesehatan itu menular pada yang lainnya, atau bila tidak sehat maka ketidaksehatan akan menular pada yang lainnya. Tapi bermakna bila sel-sel ini sehat, maka badan akan sehat. Badan tidak lain adalah kumpulan sel-sel. Setiap organisma adalah kumpulan sel-sel. Bila kita bisa membuat sel-sel itu sehat, maka organisma itu juga akan sehat. Masalahnya sedemikian pentingnya. (14/10/1390)

Bila kalian menginginkan yang demikian, maka kalian harus komitmen pada adab dan hukum agama yang sudah ditentukan untuk rumah tangga. (18/6/1362) Segala sesuatu yang menyebabkan terjaganya ikatan dan lembaga rumah tangga baru ini, maka itu baik dan diridai Allah. Bila sesuatu -jangan sampai terjadi- menyebabkan goncangnya pilar-pilar rumah tangga, maka itu tidak baik dan bertentangan dengan maslahat. Oleh karena itu harus benar-benar menghindari perkara ini. (12/10/1381) Ini tidak seperti kejadian yang lain dalam kehidupan. Ini merupakan satu fase, satu persimpangan jalan. Sebagian orang ketika memasuki sebuah jalan, ia akan melihat persimpangan jalan. Karena kondisi mereka, kondisi pasangan hidup atau kondisi keluarga mereka, tidak bisa menempuh jalan yang lurus. Tapi sebagian orang bisa. Bila kalian ingin menempuh jalan yang lurus, maka jagalah aturan-aturan syariat dan anggaplah penting akhlak rumah tangga yang sudah ditentukan oleh syariat. Awalnya adalah hargailah lembaga rumah tangga yang baru ini. (11/7/1381) Rumah tangga adalah tempat ketenangan manusia. Tidak seorang manusiapun akan mencicipi rasanya kehidupan dan rasanya kehidupan manusia yang hakiki tanpa memiliki sebuah rumah tangga yang tenang dan nyaman. (15/9/1368)

Setiap rumah tangga merupakan sebuah tempat untuk tumbuh kembang bagi beberapa manusia. Himpunan rumah tangga akan menumbuhkan dan mengembangkan kumpulan manusia. Bila kalian mengacaukan rumah tangga dan anak-anak yang seharusnya tumbuh besar dalam rumah tangga, kalian kumpulkan dan besarkan di tengah-tengah teman dan kerabat, kalian tempatkan di sebuah kantor, dalam sebuah yayasan, dalam sebuh panti asuhan, seperti kumpulan anak-anak ayam di peternakan misalnya, dan ada satu orang yang merawat mereka, bila kalian lakukan ini, maka mereka tidak akan menjadi manusia yang tumbuh dengan baik. Nah. Ini adalah tabiat manusia. Allah telah menciptakan makhluk ini sedemikian rupa sehingga berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya. Sebagian makhluk diciptakan oleh Allah sedemikian rupa sehingga tidak melihat anak, ayah dan ibunya. Ayah atau ibu tersebut, istilahnya yang membuahi sel telur anak ini, ketika membuahi telurnya kemudian dirinya mati. Memang beginilah tabiat. Sebagian hewan baik ditunggui ayah dan ibunya atau tidak, ia dibarengi oleh insting dan tabiatnya dan besar seperti ayah dan ibunya. Baik dia melihat ayah dan ibunya atau tidak. Tapi manusia tidak demikian.

Manusia diciptakan sedemikian rupa oleh Allah, pertama, sebagai makhluk yang harus belajar. Kedua, dalam lingkungan hidup ayah dan ibu, dengan kasih sayang dengan keakraban dengan kejelian, dari sisi kejiwaan tidak akan memiliki kekurangan bila tumbuh dengan baik. Bila ia keluar dari lingkungan yang kecil dan jatuh ke dalam lingkungan yang besar sejak awal masa kanak-kanak, maka ia tidak akan tumbuh berkembang sebagaimana seharusnya. Inilah ciri khas manusia. Oleh karena itulah Allah menetapkan kasih sayang di hati ayah dan ibu. Dengan kasih sayanglah anak manusia tumbuh berkembang. Kasih sayang ini merupakan salah satu tabiat manusia. Oleh karena itulah setiap anak memiliki hubungan kasih sayang dengan ayah dan ibunya. Ayah dan ibu kalian juga memiliki kasih sayang kepada kalian, sebagaimana kalian memiliki kasih sayang kepada anak-anak kalian. Anak kalian juga akan memiliki kasih sayang kepada anak-anaknya. Dan pernikahan memiliki ciri khas seperti ini yakni membentuk lingkungan rumah tangga. (5/12/1362)

Demikian ya Yahnda Bunda, semoga bermanfaat. 

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »