Sesederhana itukah, wujud pernikahan penuh cinta?

09.27


#Day10
#KelasNonFiksi
#OdopBatch7

Bismillah

Selamat pagi

Selamat hari Jumat

Mulai hari dengan semangat, sesemangat aku yang meski semalam memilih rehat, meski kesempatan membuat draft terlewat, itu semata demi memberikan hak pada tubuh untuk beristirahat.

Ini tulisanku untuk membayar tugas postingan, hari kemarin? Kenapa hari kemarin aku tidak sempat posting?

Jadi begini ceritanya:

Hari Rabu, aku lupa hari dan lupa tanggal. Kukira hari Rabu kemarin itu tanggal 28, padahal tanggal 28 itu Kamis. Ini gagal fokus yang pertama. Hari itu aku masih sempat membuat draft, karena sejak malam sudah sangat bersemangat tidak ingin berutang. Sejauh ini keadaan aman. Aman goleman.

Hari Rabu aku masih sempat membuat status di WA story, sampai pukul 14.30, di sore hari. Selepas itu, gawai aku diamkan karena baterai limit dan rencana akan di charge. Oke. Gawai aku charge kemudian, dari sinilah semua gagal fokus dimulai.

Aku, kalau nge-charge, selalu kumatikan gawainya. Entah kenapa, Rabu sore kemarin, gawaiku tidak kumatikan saat nge-charge. Kupikir, jika sewaktu-waktu puteri kecil bangun, dan meminjam kan jadi mudah. Tidak harus menyalakan lagi.

Niat hati juga, tidak mau membawa gawai saat mengantar adik ipar periksa ke dokter. Posisi puteri kecil waktu itu sudah tidur, seharian dia tidak tidur, karena aku baru pulang sore hari, ada pekerjaan Simda Pengurus Barang dan keperluan mengambil surat tugas dari Ketua PGRI Cabang sebabnya. 

Aku dan adik ipar pergi selepas Maghrib. Puteri kecil tidur, Ayah Jose yang menjaga.  Sampai di tempat periksa, antrean sudah mengular. Fix, pukul 20.00 adik ipar baru ke luar dari ruangan dokter. Setengah jam kemudian, kami sudah sampai Rumah Clever. Ternyata sampai rumah, Mbah Uti sedang kesakitan. Tahu kenapa? Mbah Uti sakit gigi dan baru saja minta pijat refleksi ke salah satu teman satu sekolahku yang rumahnya dekat.

Mbah Kakung menyuruhku untuk menelepon teman satu sekolahku itu, disuruh datang ke Rumah Clever. Tapi, yang terjadi kemudian sungguh di luar jangkaun. Tahu kenapa? Saat kucabut kabel charge dari gawaiku, aku sangat terkejut, tidak ada gambar signal kartu di gawaiku.

Berulangkali kunyalakan ulang gawaiku, hasilnya nihil. Kucopot baki pemasangan kartu berulangkali juga, hasilnya masih zonk. Keringat dingin mengucur deras membasahi wajahku. Ya Allah, apa yang terjadi dengan gawaiku. Kenapa kartu sim-ku tidak terbaca, notifiksi ‘Tidak Ada Kartu SIM’ membuatku membangunkan Ayah Jose kemudian.

Aku tahu, beliau juga sedang tidak enak badan, sedang mengalami sariawan akut. Tapi kuberanikan diri untuk membagikan ceritaku malam itu juga, dan puji syukur beliau memahami. Bahkan saat aku terlihat sangat kebingungan, beliau memelukku dengan penuh cinta.

Ah, inikah yang dinamakan pernikahan penuh cinta? Apakah pernikahan penuh cinta itu adalah ketika  malam-malam istri menemui persoalan, suami yang sedang tidur dibangunkan, dia tidak marah? Atau yang bagaimana?

Sesederhana itukah, wujud pernikahan penuh cinta?

“Real Love Starts After Nikah.”
Cinta yang sejati baru dimulai setelah pernikahan.

Malam Rabu, menjadi malam penuh liku, bagiku dan suamiku. Kami sempurna penasaran dengan apa yang terjadi dengan kartu SIM dan gawaiku. Malam itu kami memutuskan untuk mere-start gawai, sebagai langkah darurat dengan konsekwensi semua data terhapus. Dengan harapan, semoga besok pagi, gawai kembali normal dan kartu SIM kembali muncul dengan signalnya.

Sampai tengah malam aku masih juga belum bisa tidur. Memandangi gawai dan kartu SIM yang sudah kulepas dari baki-nya. Aku kebingungan, apa yang harus kulakukan? Benar-benar buntu. Kupikir semua akan baik-baik saja. Ayah Jose menguatkanku. Beliau kembali memelukku dengan penuh cinta. Kami benar-benar baru tertidur tengah malam.

Pagi-pagi saat adzan Subuh, aku terjaga. Ayah Jose membangunkanku untuk salat sambil bertanya apakah boleh beliau bawa gawai beserta kartu SIM-ku untuk diuruskan ke Grapari di Cilacap Kota? Aku hanya mengangguk, menandakan bahwa aku setuju. Ternyata, Ayah Jose begitu cerdas membaca keadaan. Saat istrinya tidak bisa berpikir untuk menemukan solusi, beliau datang dengan segala ide penyelesaian, tanpa perlu banyak diskusi berkepanjangan.

Apakah pernikahan penuh cinta itu adalah ketika  istri menemui persoalan, suami ikut mengusulkan ide penyelesaian, tanpa banyak pertimbangan? Atau yang bagaimana?

Sesederhana itukah, wujud pernikahan penuh cinta?

“Marry someone who will promise to wake you up for fajr.”
Menikahlah dengan seseorang yang berjanji akan selalu membangunkanmu sebelum fajar menyingsing.

Entahlah, yang jelas aku tidak tahu kalau KTP-ku juga sudah dibawa oleh Ayah Jose untuk keperluan pengurusan ke Grapari. Aku juga tidak tahu, beliau sampai ingat untuk membawa KK (Kartu Keluarga) juga, demi lancarnya penggantian kartu. Aku saja sama sekali tidak kepikiran, karena fokusku sudah kegiatan hari Kamis, tanggal 28.

Apakah pernikahan penuh cinta itu adalah ketika  istri menemui persoalan, suami ikut membantu proses penyelesaian, tanpa banyak bicara namun langkahnya jelas terlihat tertata? Atau yang bagaimana?

Sesederhana itukah, wujud pernikahan penuh cinta?

“A man should be like a child with his wife, but if she needs him, he should act like a man.” – Umar ibn al-Khattab.
Seorang suami seharusnya bisa tampil di hadapan istrinya layaknya seorang bocah. Akan tetapi ketika sang istri membutuhkannya, maka ia harus tampil layaknya seorang lelaki perkasa. – Umar bin Khattab

Ah, aku tidak tahu. Aku dan suamiku menikah baru enam tahun. Belum pantas rasanya menyimpulkan hal sepenting itu. Kami hanya berusaha belajar untuk menjadi pasangan penuh cinta, seperti kedua orangtua kami. Mereka tentu telah menikah lebih dari umurku sekarang, 32 tahun. Bahkan sang mertuaku, yang tentu telah menikah lebih dari umur suamiku, 37 tahun. Merekalah bukti pernikahan penuh cinta yang sebenarnya.

Lihat saja saat Mbah Uti sakit gigi malam ini, Mbah Kakung bertanya ini dan itu. Menanyakan ini dan itu. Kekhawatirannya sempurna terlihat olehku. Bahkan saat tengah malam aku dan suami belum tidur karena urusan gawai dan kartu SIM, aku melihat mereka berdua di depan televisi karena Mbah Uti tidak bisa tidur sebab sakit gigi?

Apakah pernikahan penuh cinta itu adalah ketika  istri sedang sakit, suami ikut membersamai meski harus rela tidak tidur semalaman? Atau yang bagaimana?

Sesederhana itukah, wujud pernikahan penuh cinta?

“Our love is the best love because you make my imaan rise, you help me in the dunya and for that reason I want to meet you again in Jannah.”
Cinta kita adalah yang terbaik. Karena engkau membangkitkan imanku, menolongku di dunia ini. Dan untuk alasan itulah, aku ingin berjumpa kembali denganmu di surga.

Atau saat gawai dan kartu SIM-ku bermasalah, Ayah Jose tetap bersemangat membersamaiku, meski beliau harus tidur tengah malam kemudian?

Sesederhana itukah, wujud pernikahan penuh cinta?

“Don’t just search for the one who will make your dunya beautiful. Search for the one who will make your Akhirah beautiful.”
Jangan hanya mencari seseorang yang akan membuat kehidupan duniamu indah, carilah seseorang yg akan membuat kehidupan akhiratmu indah.

Demi melengkapi postingan ini, aku seluncuran. Artikel tentang ‘Pasangan yang Menikah Lama Lebih Bahagia dan Penuh Cinta’ di laman web liputan6.com. Katanya, ada sebuah studi kembali menunjukkan manfaat menikah. Studi yang dilakukan oleh University of California, Berkeley, menemukan bahwa pasangan yang terikat pernikahan dalam waktu lama memiliki kesempatan lebih besar untuk bahagia. Menurut studi tersebut, pasangan yang sudah menikah lama lebih banyak berbagi tawa dan cinta dibandingkan pasangan yang berpisah karena perbedaan.

Apakah artinya kesempatan untuk berbahagia jadi meningkat bila seseorang tetap mempertahankan pernikahan?

"Lebih kepada penerimaan dan kedewasaan yang muncul seiring bertambahnya usia. Misalnya, pada awal pernikahan, perbedaan antara pasangan seolah begitu besar karena mereka ada dalam fase saling mengenal dan memahami lebih dalam lagi. Namun seiring dengan bertambahnya usia, pasangan akan belajar untuk menyesuaikan diri sehingga pertengkaran akan digantikan dengan penerimaan," konsultan psikolog senior Shweta Singh menjelaskan.

Shweta juga menjelaskan, terkadang perpisahan tak terhindarkan karena perbedaan di antara pasangan tak mungkin diatasi. Namun, pasangan menikah yang berhasil melewati rintangan tersebut akan belajar untuk hidup bersama dan menjaga kesetiaan. Ketika usia bertambah, mereka akan menciptakan kenangan bersama seperti memiliki anak, mengusahakan pencapaian karier, dan lainnya.

"Episode-episode hidup seperti itu akan membuat mereka semakin dekat dan mulai menikmati kehidupan yang bahagia, yang tentunya tak terjadi dalam waktu semalam," cetus Shweta, melansir laman Times of India.

So, apakah pernikahan Yahnda Bunda sudah termasuk pernikahan penuh cinta juga? Hanya Yahnda Bunda sendiri yang mengetahuinya.

Apakah ada hubungan antara pernikahan penuh cinta dengan anak cerdas kemudian?

Salam penuh cinta dari The Clever Family ya...

“Remind me of Allah if your love for me is indeed true.”
Ingatkan Aku pada Allah jika memang kamu benar-benar mencintaiku.

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

3 komentar

Write komentar
Yoharisna
AUTHOR
29 November 2019 18.11 delete

Remind me of Allah if your love for me is indeed true..suka penutupnya. Deep banget..

Reply
avatar
Jihan
AUTHOR
30 November 2019 15.06 delete

MasyaAllah Dalem banget mba tulisannyaaa

Reply
avatar
30 November 2019 20.49 delete

Senyum keluarga cemara, eh samara 😘

Reply
avatar