Mengenal Apa Itu Faksi?

00.15 0


APA ITU FAKSI?

Faksi adalah fakta yang fiksi, atau karya tulis berdasarkan fakta yang ditulis dengan gaya naratif, agar dapat lebih menarik perhatian pembacanya. Bambang Trim, mengemukakan bahwa memang ada wilayah abu-abu antara fiksi dan nonfiksi dari segi adanya unsur cerita/kisah di dalam suatu karya tulis. Karena itu, pembagian genre tidak resmi ini menghasilkan faksi.

Faksi berdasarkan penelusuran adalah istilah slang  alias tidak baku yang berkembang untuk menyebut karya tulis yang tidak dapat sepenuhnya disebut fiksi (khayalan/imajinasi) dan tidak juga dapat sepenuhnya disebut nonfiksi. Faksi adalah fakta yang dikisahkan layaknya karya fiksi.

APA PERBEDAAN ANTARA NON FIKSI, FIKSI DAN FAKSI?

Dalam dunia tulis-menulis genre itu dapat disebut ranah dan turunannya disebut laras. Saat di bangku SD kita mengenal ranah induk, yaitu argumentasi, deskripsi, eksposisi, dan narasi, bahkan ditambah satu lagi persuasi (hortatory). Lalu, teori pembagian ranah yang dikenal luas adalah fiksi dan nonfiksi.  Dalam istilah penulis kawakan The Liang Gie disebut khayali (fiksi) dan faktawi (nonfiksi).

Ranah fiksi melahirkan laras puisi dan prosa. Prosa melahirkan lagi sublaras bernama cerpen, novel, dan drama. Ranah nonfiksi melahirkan laras akademis, laras jurnalistik, dan laras bisnis. Tiap laras itu melahirkan lagi begitu banyak tulisan. Contohnya, laras akademis melahirkan sublaras handout, modul, diktat, buku teks sebagai kelompok bahan ajar.

Fiksi dan faksi meskipun beda-beda tipis, sama menariknya. Seorang Dahlan Iskan lebih memilih kisah masa kecilnya dinovelkan dengan judul Sepatu Dahlan yang ditulis oleh Khrisna Pabhicara. Itu adalah karya fiksi karena diwujudkan dalam bentuk novel dan kisahnya sudah dibumbui dengan imajinasi penulisnya. Begitupun kisah Laskar Pelangi meskipun berbasis kisah nyata penulisnya dan tokoh-tokoh di dalam novel itu ada dalam kehidupan nyata, Andrea Hirata tetap menempatkannya sebagai novel karena jalan cerita yang sudah tidak lagi mengikuti kisah sebenarnya.

Menurut salah satu teman penulis, Menurutku, sefiksi-fiksinya cerita fiksi, tetap harus by data, by observasi, by riset. Jadi kita menulis ceritanya itu gak bisa asal mengarang saja. Misal, kita tulis kalau candi Borobudur itu terletak di Jogjakarta. Fatal, bukan. Karena faktanya Borobudur ada di Magelang Jateng.

Kalau observasi, misalnya kita menulis tokoh seorang tuna netra, ya kita harus observasi dulu bagaimana keseharian orang tuna netra itu; bagaimana dia berjalan, makan, dll. Misal orang cacat buntung kaki kanan dan pakai tongkat, kita harus paham kalau dia naik turyn tangga pakai kaki mana dulu.

Misal kita pakai setting tempat jalan Malioboro Jogja, kita harus bisa jabarkan jalanan itu sesuai faktanya. Gak boleh asal ngarang. Karena jalan malioboro itu memang ada, nyata, bukan dibuat-buat.

Kenapa semua itu perlu?
Setidaknya ada 2 tujuan:
- Nostalgia: jika si pembaca pernah ada dalam kondisi cerita yang kita tulis.
- Informasi: bagi pembaca yang belum pernah tau apa yang kita tuliskan dalam cerita kita.

Jadi, dengan begitu cerita fiksi kita jadi terasa natural, riil, dan hidup. Maka pada dasarnya fiksi pun berdasarkan fakta. Fiksi itu utamanya memainkan imajinasi kita. Tapi pada poin-poin tertentu, ya kita harus match-kan dengan fakta dan data. Fiksi adalah kisah yang ditulis berdasarkan khayalan dan imajinasi. Sedangkan nonfiksi itu ditulis berdasarkan fakta dan data.

KARYA TULIS APA SAJA YANG TERMASUK FAKSI?

Tulisan-tulisan yang tergolong faksi adalah kisah hidup seseorang (biografi, autobiografi, memoar), kisah nyata sebuah peristiwa, dan karangan khas (feature). Bisa juga kisah inspiratif, mini biografi, novelisasi biografi semisal buku Bidadari untuk Dewa, Sehidup Sesurga Denganmu, Narasi Gurunda dan lain-lain.

Di dalam dunia jurnalistik kita mengenal feature atau karangan khas sebagai faksi. Feature menjadi andalan majalah Tempo untuk menyajikan berita secara mendalamalih-alih kemudian disebut sebagai jurnalisme sastrawi.

Dalam dunia penerbitan buku maka tersebutlah autobiografi, biografi, dan memoar sebagai karya faksi.  Karya-karya itu mengandung data dan fakta yang bukan berasal dari khayalan atau imajinasi penulisnya. Namun, data dan fakta itu harus dikisahkan dengan menghadirkan tokoh, latar/setting, dan alur/plot sehingga menjadi menarik untuk dibaca.

Dalam genre naskah juga kemudian dikenalkan istilah nonfiction novel. Apalagi ini? Genre ini muncul ketika sebuah peristiwa yang nyata dan melibatkan tokoh-tokoh nyata, kemudian dikisahkan kembali dengan gaya penceritaan sastra berdasarkan hasil riset penulis dan rekaan terhadap dialog-dialog tokoh yang sudah tidak ada (sudah meninggal).  Jadi, ketika ada buku biografi dari tokoh masa lampau misalnya, Jenderal Sudirman, diterbitkan dengan gaya pengisahan seperti novel, itu berarti nonfiction novel.

Nonfiction novel menilik cirinya sebenarnya adalah faksi juga. Tokohnya ada atau pernah ada, peristiwanya benar-benar terjadi, dan tempatnya juga ada; hanya dialog-dialog direkonstruksi oleh penulisnya. Berarti itu adalah faksi.

Cerita anak pun bisa jadi faksi selama berasal dari fakta karena memang pasti ada risetnya masing-masing. Untuk bisa dibilang faksi itu memang agak susah untuk kuantifikasi, sulit menakar berapa prosentase antara fiksi dan faktanya. Cernak pun bisa disebut faksi. Hanya biasanya dipakai untuk buku berisi fakta edukasi. Misal tentang ke museum. Ceritakan museum itu apa, atau patung museumnya yang cerita.

Tidak ada ukuran prosentase antara fiksi dan fakta dalam faksi.  Syarat faksi adalah bergabungnya fakta dan fiksi dengan bagus.

BAGAIMANA CARA MENULIS FAKSI?

Permodelan faksi biasanya merujuk pada biografi Merry Riana secara umum, bisa juga menakarnya antara konteks per konteks. Kan kita tahu, jenis paragraf non-fiksi paling umum itu ada 3: eksposisi, deskriptif, dan naratif.

Katakanlah yang akan banyak polesan fiksi itu adalah bagian dialognya. Sedangkan untuk perawakan dan perwatakan tokoh, ini yang betul-betul bersumber dari fakta. Dan paling aman sebenarnya ditaruh di bagian dialog untuk bumbu fiksinya. Katakanlah karena kita tidak betul-betul tahu aksen dan gaya bicara tokoh secara lugas.

Katakanlah unsur suatu cerita itu ada eksternal dan internal.  Tapi, ada seorang guru cerpen, yang telah membagi unsur eksternal dan internal dalam cerita menjadi 7 unsur internal utama dan 3 unsur eksternal utama.

Unsur eksternal cerita ada 3: tafsir pembaca, asosiasi suatu karya dengan karya lainnya serta pesan moral. Nah, kalau unsur internal ada 7: Situasi, Perwatakan Tokoh, Perawakan Tokoh, Tempat dan Property, Alur , Percakapan, Kutipan dan Paragraf Kunci.

Untuk faksi, area yang sebaiknya fakta adalah: situasi, perwatakan, perawakan (kalau bisa sampai atribut tokohnya, baju apa yang biasa digunakan).

Area yang bisa dimainkan di fiksi: percakapan, kutipan, paragraf kunci (ini bergantung banget sama sudut pandang penulis).  Sehingga bisa diambil kesimpulan bahwa titik tumpu fiksi adalah sudut pandang penulis. Sedangkan titik tumpu non-fiksi adalah kelengkapan data.

CONTOH TULISAN FAKSI berupa biografi dan autobiografi ada di blog ini pada postingan terbaru, yang memang saya siapkan khusus untuk menemani penjelasan materi ini.

SUMBER MATERI:
  1. WEB KOMPASIANA
  2. WEB KR JOGJA
  3. WEB DEEP PUBLISH
  4. WAWANCARA DENGAN BEBERAPA TEMAN PENULIS

Siapakah Ibu Jesi?

00.00 1

Sosok Ibu Jesi
Oleh Betty Irwanti

Ibu Jesi. Itulah nama panggilannya. Seorang pegawai negeri sipil di lingkungan pendidikan sekolah dasar di kota Cilacap Bercahaya tercinta. Sudah belasan tahun mengabdi sebagai guru, hal ini membuatnya akrab dengan panggilan bu guru sejak umur 18 tahun. Tepat tiga tahun sebelum dia menerima SK tugas dari negara.

Selain sebagai seorang PNS, Ibu Jesi sudah hampir tiga tahun ini aktif sebagai penulis dan sudah menghasilkan beberapa buku berupa antologi yang terbit secara indie maupun mayor. Seperti targetnya dua tahun yang lalu, di tahun ini ia sudah bisa menerbitkan 4 buku solo, ada yang ber-ISBN ada pula yang tidak. 

Ia berusaha menjaga produktifitasnya dengan mengikuti event-event menulis di berbagai media sosial khususnya FB dan IG. Bahkan beberapa tahun yang lalu ia berhasil menjadi salah satu peserta terbaik dalam sebuah ajang kelas menulis gratis yang diikutinya. Untuk event berbayar yang pernah diikuti, ia pun mempersembahkan sertifikat pertamanya sebagai second winner untuk suami tercinta. 

Saat ini masih menjadi member berbagai komunitas menulis, diantaranya eL Hidaca, Wonderland Family, KMO Indonesia, Basagita, One Day One Post Batch, Estrilook Community, Dandelion Authors, dan berbagai komunitas yang lainnya.

*

Cenderung ekstrovert, energic dan multitasking. Begitulah gambaran karakter seorang Ibu Jesi. Karakter yang mirip dengan ayahnya. Wanita muda kelahiran Cilacap, 29 Januari 1987 ini adalah anak pertama dari dua bersaudara. Ayah ibunya seorang petani. lbunya bernama Dariyem sedangkan ayahnya bernama Muhtolib.

Adiknya seorang laki-laki dan seorang perempuan. Masing-masing sudah mempunyai pasangan. Riyan Rudiyansyah baru saja menikah dengan Sri Rahayu Karim pada tanggal 27 Juni 2018 kemarin dan sudah memiliki seorang puteri cantik bernama Geraldine Almahyra Rudiyansyah yang baru saja genap berusia satu tahun. Sedangkan Erny Nur Aeny insyallah akan menikah dengan Yuli Triyono sekitar akhir tahun 2020.

Walaupun berasal dari keluarga petani, tidak serta merta ia menjadi seorang yang mempunyai keahlian bertani. Namun nasib dan keberuntungan membuatnya berbeda.

Sejak kecil, ia akrab dengan panggilan "Centhil". Itu karena di pojok mata kirinya, ada semacam tanda lahir. Yang menghilangkannya baru bisa dilakukan saat dia kelas 3 SMP, meski sejak baru lahir orang tuanya sudah mengusahakan dengan berbagai cara.

Semasa SMP, ia harus hidup prihatin dan mandiri. Untuk mencapai sekolah pada jarak 10 kilometer dari rumah, ia temluh dengan menggunakan sepedanya dalam waktu kurang dari setengah jam saja. Meski begitu ia tetap berangkat sebelum pukul 06.00 pagi.

Begitu pula dengan masa SMAnya. Kehidupan mandiri senantiasa menyerta. Ia masih tetap bersepeda, menempuh jarak 5 kilometer saja dari rumah saudara ibunya. Dari sinilah dia menemukan sahabat sejatinya yang hingga kini masih menjalin silaturahmi dengannya.

Perjuangan terus berlanjut begitu menamatkan SMA. Sejujurnya ia sangat berkeinginan untuk berkuliah, namun apalah daya. Orang tuanya hanya seorang biasa. Bahkan ketika ia sudah nekat mendaftar UMPTN waktu itu, sama sekali restu tak didapatnya. Ia pun kecewa. Takut kalau diterima mau bayar biaya kuliah pakai apa.

Masih berniat untuk berkuliah lewat lain jalur, ia mencari banyak beasiswa. Ada satu universitas yang menyambut keinginannya, namun tetap saja. Kandaslah harapannya untuk berkuliah. Ayah ibunya hanya bisa menyekolahkan hingga SMA, masih ada dua adik yang harus dibiayai juga.

Bulatlah tekadnya untuk merantau ke Jakarta. Beberapa bulan berlalu sebagai anak perantauan di Jakarta. Namun, sepertinya ibukota tak ramah bagi anak desa sepertinya. Ia pun kembali ke kampung halaman tercinta.

Saat itu kebetulan ada sebuah universitas negeri yang membuka program bimbingan jarak jauh, kelasnya hanya hari Sabtu dan Minggu saja. Ia kembali menyatukan harapan untuk bisa berkuliah, toh ia bisa sambil mencari penghasilan sendiri di luar tugasnya. Selain itu juga ia mendapat honor yang sekedarnya dari sebagai wiyata bakti setiap Senin sampai dengan Jumat di sekolah yang ayahnya menjabat sebagai ketua komitenya. Gayung bersambut. Orang tuanya mendukungnya dengan do'a.

Beberapa bulan berada di kampung halaman kemudian dia terlibat kegiatan alumni almamater sekolahnya di SD Negeri Binangun 04 Kecamatan Bantarsari pada tahun 2006. Rupanya acara ini membuatnya berkenalan dengan seorang pria yang kelak menikahinya.

Sekitar empat bulan menjalin hubungan akhirnya ia harus rela menjalin hubungan jarak jauh dengan lelaki yang dicintainya tersebut. Apalah daya. Ia mengalihkan semua kegundahannya dengan sibuk belajar dan bekerja, mengabdi di sekolah bersama dua rekan lainnya.

Akhir tahun 2008 ia menerima ijazah D-II nya. Kebetulan ada pendaftaran CPNS formasi umum waktu itu. Bismillah, ia niatkan mendaftar. Berkas ia siapkan dan tes ia hadapi meski harus berbasah-basah karena hujan. Ia ingat betul kenangan masa ini. Karena dari sinilah nasibnya berubah.

31 Desember 2008 ada pengumuman di koran. Ia sama sekali tak mencari berita apapun. Lewat seorang tetangga yang juga temannya akhirnya dia tahu, kalau dia lulus tes cpns formasi umum tahun 2008. Sujud syukur tidak terkira. Sampai saat ini koran pengumuman yang bertuliskan namanya ia simpan rapi di dokumen pribadinya.

Sempat terjadi kesalahpahaman dengan lelaki yang dicintainya, hingga sempat break beberapa lama. Ia ingin fokus pada tugas barunya, yang kebetulan jauh berada di luar tempat tinggalnya. Harus ditempuhnya melewati tiga desa, naik turun gunung dan jalan becek yang luar biasa. Dua puluh lima bulan ia sabar menjalani semuanya. Sampai per 1 September 2011 akhirnya ia bisa pindah ke sekolah yang dekat dengan rumahnya.

Pasti ada hikmah dibalik kisah. Tidak lama ia kembali pada rutinitas kerja di sekolah yang dekat dengan rumahnya. Lelaki yang ia cintai kembali hadir mengisi hari, bahkan kali ini jalinannya jauh lebih baik dari apa yang terjadi selama ini. Ia sadar bahwa lelaki yang ini begitu istimewa baginya. Bukan berarti selama ini ia tidak bisa membuka hati untuk lainnya. Namun setiap ia mencoba, selalu ada bayangan lelaki itu di balik semuanya.

Ibu Jesi akhirnya memutuskan untuk menikah. Dia menikah dengan lelaki pujaan hatinya, Joko Septiono (Ayah Jesi). Hingga saat ini, beliau baru dikaruniai satu anak yang bernama Cleverona Bintang Aljazira (Jesi) yang sudah berumur 3 tahun 8 bulan dan satu anak yang masih berada dalam kandungan yang insyallah akan lahir pada akhir tahun 2020 ini. 

Awalnya kehidupan rumah tangganya ia harus melihat suaminya yang belum bekerja. Ia tidak menuntut apapun dari Ayah Jesi. Karena Ayah Jesi harus rela meninggalkan masa kerja yang masih setengah tahun lamanya demi memenuhi permintaan istri tercinta. Ayah dan Ibu Jesi tinggal di rumah mertua yang notabene sangat mengharapkan ia segera bisa bekerja. Beruntung Ibu Jesi sudah mapan sejak lama dan ia pun membantu mencarikan pekerjaan untuk suaminya. Berkah sikap tulus ikhlas tanpa banyak meminta dan semua kesabaran mereka berdua akhirnya Ayah Jesi diterima bekerja di SD Islam Al Azhar 16 Cilacap per tanggal 17 April 2014.

Kini, Ayah Jesi telah menjadi pegawai tetap di sekolahnya. Namun, ia masih tinggal bersama mertuanya demi sebuah niat bersama istrinya tercinta, yaitu "Birrul Walidain" kepada orang tua dan mertua mereka yang masih sati desa. Semoga terus menjadi berkah bagi kehidupannya.

Ibu Jesi setiap hari rela melihat suaminya melaju dari jarak 41 km mengendarai sepeda motornya. Setiap hari ia harus membersamai kegiatan suaminya yang dimulai sejak pukul 03.30 pagi agar bekal sarapan bisa dibawanya. Ia bersyukur hidup bersama suami yang juga tak pernah menuntut apapun darinya. Begitu pula orang tua dan mertua yang begitu menyayangi dan mempedulikannya.

**

Di tahun 2018 Ibu Jesi berhasil menerbitkan buku antologi: My Little Detective (Rising Star), Love in Conflict (Rising Star), 25 Dongeng Dunia Peri (Wonderland), Tahukah Kamu (Wonderland), Ya Rabb Izinkan Kami Memiliki Buah Hati (eL Hidaca).

Buku yang terakhir adalah buku pinky yang ia tulis berdasarkan kisah based on true story. Saat ini sudah tersedia di Gramedia seluruh Indonesia sebab buku itu terbit mayor di bawah naungan Tinta Medina, sebuah Imprint Tiga Serangkai.

Buku antologi yang juga sudah proses terbit adalah Hidden Treasure (Rising Star), My Destiny (Rising Star), Cinta Pertama Pada Menulis (Menyulam Aksara), The Stories (Basagita), Anatomi Tubuh (Wonderland Family) dan masih banyak lagi yang lainnya.

Di tahun 2019 ia berhasil menerbitkan buku solo perdana yaitu novel Isa Bella, Kisah Cinta Dua Kota Dua Negara dan tiga buku solo berikutnya dengan genre yang berbeda. Banyak juga buku-buku antologi yang ia tulis bersama perempuan-perempuan penulis lainnya. 

Di tahun 2020, tahun yang istimewa, sebelum dunia di lockdown karena virus covid-19 yang luar biasa sebenarnya ia telah menerbitkan satu buku solo. Sayangnya sampai saat ini buku itu belum bisa dipeluk karena satu dan lain hal. Fokus kehamilan telah berhasil mengalihkan perhatiannya hanya pada satu titik, karena sempat mengalami ngidam parah selama tiga bulan penuh. Bahkan dalam kurun waktu 45 hari ia diopname sampai tiga kali dengan penurunan berat badan yang sanggup membuat orang lain menggelengkan kepalanya. Ia bersyukur saat ini sudah jauh lebih baik dan sehat dari waktu itu. Ia pun harap semoga keadaan dunia kembali membaik, secepatnya. 

Quotes yang ia ciptakan dan menjadikannya terus bergerak menulis diantaranya:
1. Menulis adalah caraku mengungkapkan semua cerita.
2. Setiap detik yang kurasa adalah debaran cinta padamu karena-Nya.
3. Mencintaimu adalah hal biasa yang luar biasa bagiku.
4. Menulis adalah empirisme dalam menjalin mitra dalam loka fantasi, bersahabat dengan pena dan sajak huruf. Intuisi yang berlangsung di ambang kesadaran. Ia berproses dengan seni hati, samar-samar namun jelas maknanya. Suatu aktualisasi diri dalam meninggalkan jejak diri melalui aksara. (Quotes dari temannya di KMO Indonesia)

Semoga dengan menulis akan membuatnya bisa naik pesawat terbang, karena itulah cita-citanya sekarang. Menjelang 34 tahun umurnya, pengalaman masuk bandara pun belum pernah. Ini benar-benar menguatkan identitasnya sebagai manusia pribumi di daerah "Ora Ngapak Ora Kepenak".

Sejak awal tahun 2018 ia juga mendirikan Rumah Clever, rumah belajar untuk anak-anak sekitar. Dari Rumah Clever kemudian muncullah berbagai lini dengan nama serupa untuk berbagai bidang yang dijalankan berserta seluruh anggota keluarga (The Clever Family) yang ia satukan menjadi satu fokus yaitu Clever World dengan tagline "Dunia Penuh Kecerdasan"

Ibu Jesi memberikan semua nama-nama itu karena terinspirasi dari nama Jesi, Cleverona Bintang Aljazira. Anak cerdas dengan wajah yang bersinar. Nama itu pula yang menginspirasi ilham pemberian nama untuk anak yang kedua kelak. Nama dengan huruf persis sama, suku kata sama, letak spasi yang sama. Hanya susunannya yang berbeda. Siapakah gerangan nama anak kedua penulis muda ini? Tunggu saja momennya akan tiba. 

Ibu Jesi mohon do'a dari semua, semoga selalu sehat dan bahagia. Semoga janin dalam kandungannya yang kini sudah memasuki usia 29 minggu tumbuh menjadi anak yang sehat dan sempurna, tidak kekurangan apapun dan tidak cacat sedikitpun. Kelak lahir menjadi anak yang saleh/ salehah, cerdas, ceria, berkarakter, menyejukkan hati dan mata kedua orangtuanya, berguna bagi nusa bangsa serta agama. Aamiin aamiin ya robbal 'alamiin. 

***

#Autobiografi ini adalah penyempurnaan dari autobigrafi yang ada di bagian lain blog ini. Bisa dibaca di link Autobiografi Ibu Jesi yang pertama. 

#Buku-buku karya Ibu Jesi bisa dibaca di link Tentang Ibu Jesi, atau bisa klik previous postingan ini.


Tentang Ayah Jesi

00.01 2
Joko Septiono. Itulah nama lengkapnya. Seorang pegawai tetap sekolah swasta Islam pilihan pertama di kota Cilacap Bercahaya tercinta. Namanya sering disingkat menjadi Jose. Cikal bakal nama panggilan untuk anaknya, Jesi. Sehingga ia biasa dipanggil dengan sapaan Ayah Jesi.

Selain sebagai seorang karyawan, Ayah Jesi (panggilannya) ini juga merupakan seorang penulis yang baru aktif dan berusaha memulai produktifitasnya dengan mengikuti event-event di media sosial khususnya FB.

Cenderung pendiam, berwawasan luas dan dewasa. Begitulah gambaran karakter seorang Ayah Jesi. Lelaki kelahiran Cilacap, 14 September 1982 ini adalah keturunan kiai. lbunya bernama Hotimah berasal dari Kabupaten Banyumas, begitu pula ayahnya. Ayahnya bernama Nur Sahid yang mempunyai nama kecil, Nur Tulus. 

Ayahnya adalah anak pertama dari seorang imam masjid yang bernama Kiai Ahmad Baedi yang biasa dipanggil dengan sebutan Eyang Baedi. Ia berharap di kehamilan kedua istrinya saat ini, anak yang kelak lahir akan berjenis kelamin laki-laki. Dimaksudkan agar garis keturuan kiai ini tetap berlanjut. Sebab dari yang sudah ada, mayoritas cucu buyut sang kiai adalah perempuan semua. Ia punya harapan yang berbeda. Semoga saja Tuhan mengijabahnya. 

Ayah Jesi adalah bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakaknya perempuan, Masing-masing sudah mempunyai dua anak perempuan dan tiga anak laki-laki. Dari pasangan Rum Fatonah dan Supadi, lahirlah Zifara Najwa Aulya dan Kalena Farzana Ayunindya. Dari pasangan Nur Rohmah dan Turiman, lahirlah Rizki Cahyaditia, Aditya Bayu Pangestu dan Panji Pramudya.

Walaupun berasal dari keluarga kiai, seorang yang banyak disukai anak murid di sekolahnya itu tidak serta merta menjadi seorang yang religius. Waktu remaja, ia lebih memilih hidup merantau dan jauh dari kedua orang tuanya. Senang bergelut dengan kehidupan yang serba mandiri. Bahkan, dirinya pernah tiga tahun tidak mengajukan cuti kerja sama sekali, dan tidak mudik ke kampung halaman.

Seiring dengan hal tersebut, seorang pegawai yang tergolong rajin dalam bekerja ini mengaku tidak luput dari perjuangan sejak remaja. Sejak duduk di bangku SMP, ia harus menempuh perjalanan dengan sepedanya setiap hari agar bisa sampai di sekolah. Bagaimana ia bisa datang lebih awal dibanding temannya yang lain? Bahkan kisah terus berlanjut sampai ia duduk dibangku SMKN2 Cilacap Jurusan Instalasi Listrik.

Sejak awal kelas I SMP, Ayah Jesi berhasil meraih beasiswa penuh untuk pendidikan yang ditempuhnya. Ia aktif mengikuti kegiatan apapun di sekolahnya, mulai kelas I SMK rajin membantu pekerjaan saudara ayahnya yang seorang penjahit. Ini dilakukannya sebagai ungkapan rasa terima kasih karena sudah diizinkan tinggal bersama sebab waktu itu tidak mungkin melaju dari rumah. Saat itu, ia semakin tekun dan hidup secara mandiri.

Perjuangan terus berlanjut begitu menamatkan SMK. Beberapa tahun berlalu sebagai anak perantauan di Jakarta. Kemudian pergi lebih jauh ke Negeri Jiran Malaysia. Beberapa bulan berada di kampung halaman kemudian dia terlibat kegiatan alumni almamater sekolahnya di SD Negeri Binangun 04 Kecamatan Bantarsari pada tahun 2006. Rupanya acara ini membuatnya berkenalan dengan seorang gadis yang kelak dinikahinya.

Beberapa bulan setelah kepulangannya, kakeknya yang seorang kiai meninggal dunia. Rupanya ini sangat berpengaruh terhadap kehidupannya, butuh waktu lama agar ia bisa bangkit kembali lalu meneruskan hidupnya. Bagaimana tidak, kakeknya adalah orang yang sangat ia kagumi dan cintai lebih dari apapun. Kakeknya adalah seorang begitu ia idolakan dalam hidupnya.

Suatu ketika seseorang menghubungkannya kembali dengan bosnya semasa bekerja di Jakarta. Ia dipanggil kembali bekerja. Agar Ayah Jesi bisa meningkatkan kompetensinya, sang bos memasukkannya ke lembaga pendidikan khusus untuk mempelajari dunia COLORIST, dunia yang sangat asing baginya. Di akhir sesi kursus ada penilaian akhir yang kemudian membawanya menjadi pegawai tetap sebuah bengkel mobil terkenal di kota Denpasar dan sekitarnya. Hal ini menjadikannya harus LDR dengan gadis pujaan hatinya. Hubungan mereka pun mengalami jatuh bangun karena jarak yang memisahkan mereka.

Sebab ada yang tidak suka padanya, akhirnya ia harus rela mengundurkan diri daripada harus berkutat dengan hal yang tidak membuatnya nyaman. Hidup adalah pilihan. Pilihan terbaik bagi dirinya adalah resign dan harus segera move on. Proses ini berlalu beberapa lama, sampai kemudian ia memutuskan kembali merantau ke Malaysia demi melupakan semuanya.

Pasti ada hikmah dibalik kisah. Tidak lama ia kembali pada rutinitas kerja di negeri tetangga. Gadis yang ia cintai kembali hadir mengisi hari, bahkan kali ini jalinannya jauh lebih baik dari apa yang terjadi selama ini. Gadisnya sudah jauh lebih dewasa dan ia semakin menyayanginya.

Ayah Jesi akhirnya memutuskan untuk menikah. Dia menikah dengan gadis pujaan hatinya, Betty Irwanti. Hingga saat ini, beliau baru dikaruniai satu anak yang bernama Cleverona Bintang Aljazira (Jesi). Sebentar lagi ia akan menimang anak kedua yang saat ini masih berusia 6 bulan dalam kandungan istri tercintanya. 

Awalnya secara finansial, kehidupannya begitu berat. Ayah Jose harus rela meninggalkan masa kerja yang masih setengah tahun lamanya demi memenuhi permintaan istri tercinta. Mereka tinggal di rumah mertua yang notabene sangat mengharapkan ia segera bisa bekerja. Beruntung istrinya sudah mapan sejak lama dan ia tak menuntut apapun, tulus ikhlas tanpa banyak meminta. Ia berusaha sabar agar bisa melalui semuanya dan menjadi berkah.

Kini, Ayah Jose telah enam tahun bekerja sebagai pegawai tetap di SD Islam Al Azhar 16 Cilacap. Selama itu pula, ia masih tinggal bersama mertuanya demi sebuah niat "Birrul Walidain" yang semoga terus menjadi berkah bagi kehidupannya. Ia setiap hari melaju dari jarak 41 km mengendarai sepeda motornya. Setiap hari harus dimulainya sejak pukul 03.30 pagi agar bekal sarapan bisa dibawanya. Dia bersyukur hidup bersama istri dan mertua yang begitu menyayangi dan mempedulikannya.

Istri yang berhasil menularkan virus menulis padanya sehingga sejauh ini sudah dua buku antologi berhasil diterbitkannya. Target selanjutnya adalah buku solo yang kelak akan semakin mengukuhkannya menjadi penulis yang diakui, bukan penulis yang diremehkan dan dipandang sebelah mata. 


***

#Biografi ini adalah penyempurnaan dari biografi yang ada di bagian lain blog ini. Bisa dibaca di link Biografi Ayah Jesi yang pertama

Tentang Ibu Jesi

23.49 2
Betty Irwanti, Penulis kelahiran Cilacap, 29 Januari 1987 ini menyukai menulis sejak SMA. Ia membuat catatan-catatan dalam buku harian yang sampai kini masih disimpan rapi di lemari kamarnya.

Setelah lama sekali vakum menulis karena satu dan lain hal, takdir mempertemukannya dengan seorang sahabat yang mengajaknya menuliskan cerita tentang kisah menanti buah hati yang lama diidamkan. Jadilah saat hamil besar anak pertama (Cleverona Bintang Aljazira: Jesi) di Bulan Desember 2016 ia kembali menekuni dunia menulis hingga saat ini. Itu juga adalah caranya mengisi kegiatan saat jabang bayi mengajaknya begadang.

Dari keasyikannya itu kemudian ia berkelana dari satu kelas ke kelas menulis lainnya, dari satu komunitas ke komunitas menulis yang ada di dunia maya maupun nyata. Ia adalah member banyak komunitas menulis, termasuk Komunitas One Day One Post (ODOP) yang kini sedang dalam masa Open Recruitment Batch 7. Bahkan ia berhasil menularkan semangat menulis pada suaminya (Joko Septiono: Jose) yang kini telah resmi menjadi member komunitas yang sama.

Di dalam komunitas ini ia tergabung dalam jajaran Dosen Pembimbing Nulis Aja Community Batch 4 dan Batch 6 yang kini sedang berlangsung.

Penulis yang juga Guru SD ini sedang  berfokus pada kehamilan anak keduanya yang sudah memasuki usia 6 bulan dengan perhitungan HPL di Bulan Desember 2020. Fokus pada NAC Batch 6 adalah caranya mengisi kegiatan di masa trimester ketiga yang sudah pasti akan penuh dengan jam malam.

 
Buku Solo yang sudah ia tulis:

1. Isa Bella a Novel by Betty Irwanti (Sanggar Caraka: 2019)

2. STARING – Selesaikan Tantangan Raih Kemenangan (Embrio Publisher: 2019)

Foto: Penulis Isa Bella dan Staring Bersama Ustadz Dalang Ulin Nuha

3. Iam Prana – Komik Berlatar Belakang Sejarah Cilacap (Dirjen Sejarah Kemendikbud – Sangkanparan: Cilacap Heritage Fellowship Program: 2019) 


Foto: Penulis Komik Iam Prana dan Peserta CHFP Saat Peluncuran Karya Bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cilacap


4. TERUJI - Terampil Menulis Ala Ibu Jesi (Guepedia: 2020)


Buku Antologi yang sudah ia tulis:

1. My Little Detective (Unicorn Publisher: 2018)

2. 25 Dongeng Dunia Peri (Wonderland Publisher: 2018)

3. Love in Conflict (Unicorn Publisher: 2018)

4. Tahukah Kamu (Wonderland Publisher: 2018)

5. The Destiny (Unicorn Publisher: 2018)

6. Ya Rabbi Izinkan Kami Memiliki Buah Hati (Tinta Medina: 2018)

7. Hidden Treassure (Unicorn Publisher: 2018)

8. Keajaiban Sedekah (MJ Publishing: 2018)

9. Anatomi Tubuh Manusia (Wonderland Publisher: 2018)

10. Mom Preneur (Pejuang Literasi & Wonderland Publisher: 2018)

11. E-book: 55 Tokoh Dunia yang Terkenal dan Berpengaruh Sepanjang Zaman (Scritto: 2018)

12. Tutti Frutti New Mommies (Pejuang Literasi & Wonderland Publisher: 2019)

13. Chamomile Tea for Awesome Teachers (Wonderland Publisher: 2019)

14. Story of my Wedding (Pejuang Literasi: SIP Publishing 2019)

15. 55 Tokoh Dunia yang Terkenal dan Berpengaruh Sepanjang Zaman (Scritto: 2019)

16. The Stories: Tantangan Menulis Basagita (Elfa Mediatama: 2019)

17. Menyulam Aksara: Cinta Pertama Pada Menulis (Minang Jhovie Publisher 2019)

18. Kepompong Yang Menjadi Kupu (Nubar Area Sumatera: Rumedia: 2019)

19. Terampil Menulis Ala Wonder Mom (Estrilook Community: Bitread: 2019)

20. Klasik (Kumpulan Kisah Kelas Fiksi (Komunitas ODOP: Embrio: 2019)

21. Antologi Ujian Sudah Dekat (Komunitas Pejuang Literasi, SIP Publisher: 2019)

22. Antologi Fikmin Rindu (Dandelion Authors: 2019)

23. Antologi Cerita Rakyat Nusantara (Komunitas Wonderland Family: Checklist : 2019)

24. Antologi Memoar Mengisahkan Perjalanan (KMO Indonesia: 2020)

25. Antologi Komik Religi Mahfudzat (Dandelion Authors: 2020)

26. Antologi DGI (Dari Guru Indonesia: dalam proses)

27. Antologi PSDC (Penulisan Sastra Daerah Cilacap: dalam proses)

Pernikahan Asyik Ala Ibu Jesi

13.49 2


Beberapa hari yang lalu di WA grup alumni SMA, ada teman memberikan ucapan selamat pada salah satu anggota yang baru saja menikah. Asyiknya, yang sudah nikah. Samawa selalu ya.

Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fiil Khairin. Artinya: Mudah-mudahan Allah memberkahi engkau dalam segala hal (yang baik) dan mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan.”

Itu ucapanku. Sang pengantin baru pun ikut menjawab dengan mengucapkan terima kasih atas segala do'a dari semuanya.

Yang mengelitik bagiku, adalah ketika sang pengantin meminta wejangan pada anggota grup yang sudah senior dalam dunia pernikahan, karena ia menganggap diri sebagai junior karena baru saja memulai.

Ah, hatiku terusik. Topik ini sukses membangkitkan semangat untuk mulai kembali  menyapu blog ini setelah sekian lama menjadi  sarang laba-laba. Hehe...

Pernikahan itu asyik. Pernikahan itu menarik. Apalagi untuk dipelajari. Butuh ilmu sebelum dan sesudah menikah. Agar perjalanan mengarungi samudra luas bernama sakinah, mawadah warahmah bisa dengan istiqamah dan penuh barakah.

Tak terasa, aku sendiri sudah menikah hampir 7 tahun. Semoga, pernikahanku bisa dibilang sebagai pernikahan yang asyik. Meski pada masa awal sangat butuh penyesuaian diantara aku dan Ayah Jose. Alhamdulillah, kami berhasil melaluinya. Sehingga kini, kami selalu menyesuaikan diri.

Bolehkah aku, sebagai teman, memberikan tips bagi sang pengantin yang baru saja menikah?

Jangan bilang ini petuah dari senior kepada junior dalam dunia pernikahan ya. Ini hanya sharing saja.

Baiklah.
Mohon Izin.

Bagaimana Cara Mewujudkan Pernikahan Asyik Ala Ibu Jesi? Simak Tipsnya berikut ini:

1. Aku Cinta



Menikah dengan orang yang kita cinta, itu cita-cita. Harta dan tahta bagaikan hal biasa yang harus diperjuangkan, bagaimana pun hasil akhirnya.

Semestinya kita menjaga cinta yang telah ada. Jangan pernah berubah, meski cerita tentang awal menikah begitu berliku. Pasti, akan diketahui semua hal dari a-z yang dipunya seseorang yang sudah syah jadi suami atau istri.

Tetaplah selalu dalam keadaan saling cinta, meski usia tak lagi muda. Meski pernikahan sudah memasuki umur dua angka. Menyesuaikan diri itu cara yang terbaik.

2. Selalu Setia



Setia menjadi kata rahasia kedua setelah cinta. Apa jadinya cinta tanpa setia. Mungkin begitu mudahnya untuk mendua.

Berjanji untuk sehidup semati dengan orang yang kita cinta dalam jalur pernikahan, jelas membutuhkan setia sepanjang hayat. Bukan setia yang mudah dimakan karat.

Jika cinta bisa diungkapkan dengan kata-kata, tapi setia tak cukup hanya diungkap dengan kalimat-kalimat saja. Setia butuh bukti nyata. Demikianlah yang disebut sebenar-benarnya cinta.

3. Yang Rahasia



Setiap manusia pasti punya rahasia. Aku dan suamiku juga punya rahasia. Pernikahan kami juga banyak rahasia. Begitu banyak rahasia dalam hidup, juga dalam hidup berumah tangga.

Setelah menikah, sebagai istri jadilah partner yang bisa amanah dalam menjaga rahasia. Bahkan ketika suami tidak ada di rumah.

Tak perlulah demi menanggapi netizen yang terhormat kita sampai menceritakan rahasia dalam pernikahan. Cukupkan dengan suami dan Allah saja kita curahkan segalanya. Jadilah istri yang bisa menjaga.

4. Indahnya Sentuhan



Ijab Kabul sebagai pertanda syahnya pernikahan. Ianya juga adalah simbol bertemunya dua manusia yang tadinya bukan siapa-siapa menjadi muhrim.

Apakah itu artinya? Sentuhan dalam pernikahan yang syah itu jelas sudah mendapat izin dari Allah SWT. Bahkan percayakah? Istri wajib menawarkan diri setiap malam demi kebahagiaan suaminya.

Jangan ngeres dulu, ya. Sentuhan-sentuhan lain yang lebih ringan juga bisa semakin menambah keharmonisan keluarga lho. Contohnya apa?

Coba, cari contoh sendiri? 😁

5. Komunikasi Terbuka



Ini jelas hal wajib. Apa artinya sebuah pernikahan jika segala hal yang istri lakukan, suami tidak tahu. Apa yang suami lakukan istri tidak tahu. Mau kemana, dengan siapa, ngapain aja tidak peduli.

Ya Allah. Sejak awal semestinya bukalah komunikasi terbaik dengan suami, agar tak ada sak wasangka yang akan mudah membuat kita terjerumus pada jurang kesalahpahaman.

Percayalah, pernikahan itu indah jika antara dua manusia yang menjalin ikatan itu seiring sejalan, seiya sekata sampai selamanya.

Aamiin.

Be #CleverWedding ya semua...