Mengenal Apa Itu Faksi?

00.15 0


APA ITU FAKSI?

Faksi adalah fakta yang fiksi, atau karya tulis berdasarkan fakta yang ditulis dengan gaya naratif, agar dapat lebih menarik perhatian pembacanya. Bambang Trim, mengemukakan bahwa memang ada wilayah abu-abu antara fiksi dan nonfiksi dari segi adanya unsur cerita/kisah di dalam suatu karya tulis. Karena itu, pembagian genre tidak resmi ini menghasilkan faksi.

Faksi berdasarkan penelusuran adalah istilah slang  alias tidak baku yang berkembang untuk menyebut karya tulis yang tidak dapat sepenuhnya disebut fiksi (khayalan/imajinasi) dan tidak juga dapat sepenuhnya disebut nonfiksi. Faksi adalah fakta yang dikisahkan layaknya karya fiksi.

APA PERBEDAAN ANTARA NON FIKSI, FIKSI DAN FAKSI?

Dalam dunia tulis-menulis genre itu dapat disebut ranah dan turunannya disebut laras. Saat di bangku SD kita mengenal ranah induk, yaitu argumentasi, deskripsi, eksposisi, dan narasi, bahkan ditambah satu lagi persuasi (hortatory). Lalu, teori pembagian ranah yang dikenal luas adalah fiksi dan nonfiksi.  Dalam istilah penulis kawakan The Liang Gie disebut khayali (fiksi) dan faktawi (nonfiksi).

Ranah fiksi melahirkan laras puisi dan prosa. Prosa melahirkan lagi sublaras bernama cerpen, novel, dan drama. Ranah nonfiksi melahirkan laras akademis, laras jurnalistik, dan laras bisnis. Tiap laras itu melahirkan lagi begitu banyak tulisan. Contohnya, laras akademis melahirkan sublaras handout, modul, diktat, buku teks sebagai kelompok bahan ajar.

Fiksi dan faksi meskipun beda-beda tipis, sama menariknya. Seorang Dahlan Iskan lebih memilih kisah masa kecilnya dinovelkan dengan judul Sepatu Dahlan yang ditulis oleh Khrisna Pabhicara. Itu adalah karya fiksi karena diwujudkan dalam bentuk novel dan kisahnya sudah dibumbui dengan imajinasi penulisnya. Begitupun kisah Laskar Pelangi meskipun berbasis kisah nyata penulisnya dan tokoh-tokoh di dalam novel itu ada dalam kehidupan nyata, Andrea Hirata tetap menempatkannya sebagai novel karena jalan cerita yang sudah tidak lagi mengikuti kisah sebenarnya.

Menurut salah satu teman penulis, Menurutku, sefiksi-fiksinya cerita fiksi, tetap harus by data, by observasi, by riset. Jadi kita menulis ceritanya itu gak bisa asal mengarang saja. Misal, kita tulis kalau candi Borobudur itu terletak di Jogjakarta. Fatal, bukan. Karena faktanya Borobudur ada di Magelang Jateng.

Kalau observasi, misalnya kita menulis tokoh seorang tuna netra, ya kita harus observasi dulu bagaimana keseharian orang tuna netra itu; bagaimana dia berjalan, makan, dll. Misal orang cacat buntung kaki kanan dan pakai tongkat, kita harus paham kalau dia naik turyn tangga pakai kaki mana dulu.

Misal kita pakai setting tempat jalan Malioboro Jogja, kita harus bisa jabarkan jalanan itu sesuai faktanya. Gak boleh asal ngarang. Karena jalan malioboro itu memang ada, nyata, bukan dibuat-buat.

Kenapa semua itu perlu?
Setidaknya ada 2 tujuan:
- Nostalgia: jika si pembaca pernah ada dalam kondisi cerita yang kita tulis.
- Informasi: bagi pembaca yang belum pernah tau apa yang kita tuliskan dalam cerita kita.

Jadi, dengan begitu cerita fiksi kita jadi terasa natural, riil, dan hidup. Maka pada dasarnya fiksi pun berdasarkan fakta. Fiksi itu utamanya memainkan imajinasi kita. Tapi pada poin-poin tertentu, ya kita harus match-kan dengan fakta dan data. Fiksi adalah kisah yang ditulis berdasarkan khayalan dan imajinasi. Sedangkan nonfiksi itu ditulis berdasarkan fakta dan data.

KARYA TULIS APA SAJA YANG TERMASUK FAKSI?

Tulisan-tulisan yang tergolong faksi adalah kisah hidup seseorang (biografi, autobiografi, memoar), kisah nyata sebuah peristiwa, dan karangan khas (feature). Bisa juga kisah inspiratif, mini biografi, novelisasi biografi semisal buku Bidadari untuk Dewa, Sehidup Sesurga Denganmu, Narasi Gurunda dan lain-lain.

Di dalam dunia jurnalistik kita mengenal feature atau karangan khas sebagai faksi. Feature menjadi andalan majalah Tempo untuk menyajikan berita secara mendalamalih-alih kemudian disebut sebagai jurnalisme sastrawi.

Dalam dunia penerbitan buku maka tersebutlah autobiografi, biografi, dan memoar sebagai karya faksi.  Karya-karya itu mengandung data dan fakta yang bukan berasal dari khayalan atau imajinasi penulisnya. Namun, data dan fakta itu harus dikisahkan dengan menghadirkan tokoh, latar/setting, dan alur/plot sehingga menjadi menarik untuk dibaca.

Dalam genre naskah juga kemudian dikenalkan istilah nonfiction novel. Apalagi ini? Genre ini muncul ketika sebuah peristiwa yang nyata dan melibatkan tokoh-tokoh nyata, kemudian dikisahkan kembali dengan gaya penceritaan sastra berdasarkan hasil riset penulis dan rekaan terhadap dialog-dialog tokoh yang sudah tidak ada (sudah meninggal).  Jadi, ketika ada buku biografi dari tokoh masa lampau misalnya, Jenderal Sudirman, diterbitkan dengan gaya pengisahan seperti novel, itu berarti nonfiction novel.

Nonfiction novel menilik cirinya sebenarnya adalah faksi juga. Tokohnya ada atau pernah ada, peristiwanya benar-benar terjadi, dan tempatnya juga ada; hanya dialog-dialog direkonstruksi oleh penulisnya. Berarti itu adalah faksi.

Cerita anak pun bisa jadi faksi selama berasal dari fakta karena memang pasti ada risetnya masing-masing. Untuk bisa dibilang faksi itu memang agak susah untuk kuantifikasi, sulit menakar berapa prosentase antara fiksi dan faktanya. Cernak pun bisa disebut faksi. Hanya biasanya dipakai untuk buku berisi fakta edukasi. Misal tentang ke museum. Ceritakan museum itu apa, atau patung museumnya yang cerita.

Tidak ada ukuran prosentase antara fiksi dan fakta dalam faksi.  Syarat faksi adalah bergabungnya fakta dan fiksi dengan bagus.

BAGAIMANA CARA MENULIS FAKSI?

Permodelan faksi biasanya merujuk pada biografi Merry Riana secara umum, bisa juga menakarnya antara konteks per konteks. Kan kita tahu, jenis paragraf non-fiksi paling umum itu ada 3: eksposisi, deskriptif, dan naratif.

Katakanlah yang akan banyak polesan fiksi itu adalah bagian dialognya. Sedangkan untuk perawakan dan perwatakan tokoh, ini yang betul-betul bersumber dari fakta. Dan paling aman sebenarnya ditaruh di bagian dialog untuk bumbu fiksinya. Katakanlah karena kita tidak betul-betul tahu aksen dan gaya bicara tokoh secara lugas.

Katakanlah unsur suatu cerita itu ada eksternal dan internal.  Tapi, ada seorang guru cerpen, yang telah membagi unsur eksternal dan internal dalam cerita menjadi 7 unsur internal utama dan 3 unsur eksternal utama.

Unsur eksternal cerita ada 3: tafsir pembaca, asosiasi suatu karya dengan karya lainnya serta pesan moral. Nah, kalau unsur internal ada 7: Situasi, Perwatakan Tokoh, Perawakan Tokoh, Tempat dan Property, Alur , Percakapan, Kutipan dan Paragraf Kunci.

Untuk faksi, area yang sebaiknya fakta adalah: situasi, perwatakan, perawakan (kalau bisa sampai atribut tokohnya, baju apa yang biasa digunakan).

Area yang bisa dimainkan di fiksi: percakapan, kutipan, paragraf kunci (ini bergantung banget sama sudut pandang penulis).  Sehingga bisa diambil kesimpulan bahwa titik tumpu fiksi adalah sudut pandang penulis. Sedangkan titik tumpu non-fiksi adalah kelengkapan data.

CONTOH TULISAN FAKSI berupa biografi dan autobiografi ada di blog ini pada postingan terbaru, yang memang saya siapkan khusus untuk menemani penjelasan materi ini.

SUMBER MATERI:
  1. WEB KOMPASIANA
  2. WEB KR JOGJA
  3. WEB DEEP PUBLISH
  4. WAWANCARA DENGAN BEBERAPA TEMAN PENULIS

Siapakah Ibu Jesi?

00.00 1

Sosok Ibu Jesi
Oleh Betty Irwanti

Ibu Jesi. Itulah nama panggilannya. Seorang pegawai negeri sipil di lingkungan pendidikan sekolah dasar di kota Cilacap Bercahaya tercinta. Sudah belasan tahun mengabdi sebagai guru, hal ini membuatnya akrab dengan panggilan bu guru sejak umur 18 tahun. Tepat tiga tahun sebelum dia menerima SK tugas dari negara.

Selain sebagai seorang PNS, Ibu Jesi sudah hampir tiga tahun ini aktif sebagai penulis dan sudah menghasilkan beberapa buku berupa antologi yang terbit secara indie maupun mayor. Seperti targetnya dua tahun yang lalu, di tahun ini ia sudah bisa menerbitkan 4 buku solo, ada yang ber-ISBN ada pula yang tidak. 

Ia berusaha menjaga produktifitasnya dengan mengikuti event-event menulis di berbagai media sosial khususnya FB dan IG. Bahkan beberapa tahun yang lalu ia berhasil menjadi salah satu peserta terbaik dalam sebuah ajang kelas menulis gratis yang diikutinya. Untuk event berbayar yang pernah diikuti, ia pun mempersembahkan sertifikat pertamanya sebagai second winner untuk suami tercinta. 

Saat ini masih menjadi member berbagai komunitas menulis, diantaranya eL Hidaca, Wonderland Family, KMO Indonesia, Basagita, One Day One Post Batch, Estrilook Community, Dandelion Authors, dan berbagai komunitas yang lainnya.

*

Cenderung ekstrovert, energic dan multitasking. Begitulah gambaran karakter seorang Ibu Jesi. Karakter yang mirip dengan ayahnya. Wanita muda kelahiran Cilacap, 29 Januari 1987 ini adalah anak pertama dari dua bersaudara. Ayah ibunya seorang petani. lbunya bernama Dariyem sedangkan ayahnya bernama Muhtolib.

Adiknya seorang laki-laki dan seorang perempuan. Masing-masing sudah mempunyai pasangan. Riyan Rudiyansyah baru saja menikah dengan Sri Rahayu Karim pada tanggal 27 Juni 2018 kemarin dan sudah memiliki seorang puteri cantik bernama Geraldine Almahyra Rudiyansyah yang baru saja genap berusia satu tahun. Sedangkan Erny Nur Aeny insyallah akan menikah dengan Yuli Triyono sekitar akhir tahun 2020.

Walaupun berasal dari keluarga petani, tidak serta merta ia menjadi seorang yang mempunyai keahlian bertani. Namun nasib dan keberuntungan membuatnya berbeda.

Sejak kecil, ia akrab dengan panggilan "Centhil". Itu karena di pojok mata kirinya, ada semacam tanda lahir. Yang menghilangkannya baru bisa dilakukan saat dia kelas 3 SMP, meski sejak baru lahir orang tuanya sudah mengusahakan dengan berbagai cara.

Semasa SMP, ia harus hidup prihatin dan mandiri. Untuk mencapai sekolah pada jarak 10 kilometer dari rumah, ia temluh dengan menggunakan sepedanya dalam waktu kurang dari setengah jam saja. Meski begitu ia tetap berangkat sebelum pukul 06.00 pagi.

Begitu pula dengan masa SMAnya. Kehidupan mandiri senantiasa menyerta. Ia masih tetap bersepeda, menempuh jarak 5 kilometer saja dari rumah saudara ibunya. Dari sinilah dia menemukan sahabat sejatinya yang hingga kini masih menjalin silaturahmi dengannya.

Perjuangan terus berlanjut begitu menamatkan SMA. Sejujurnya ia sangat berkeinginan untuk berkuliah, namun apalah daya. Orang tuanya hanya seorang biasa. Bahkan ketika ia sudah nekat mendaftar UMPTN waktu itu, sama sekali restu tak didapatnya. Ia pun kecewa. Takut kalau diterima mau bayar biaya kuliah pakai apa.

Masih berniat untuk berkuliah lewat lain jalur, ia mencari banyak beasiswa. Ada satu universitas yang menyambut keinginannya, namun tetap saja. Kandaslah harapannya untuk berkuliah. Ayah ibunya hanya bisa menyekolahkan hingga SMA, masih ada dua adik yang harus dibiayai juga.

Bulatlah tekadnya untuk merantau ke Jakarta. Beberapa bulan berlalu sebagai anak perantauan di Jakarta. Namun, sepertinya ibukota tak ramah bagi anak desa sepertinya. Ia pun kembali ke kampung halaman tercinta.

Saat itu kebetulan ada sebuah universitas negeri yang membuka program bimbingan jarak jauh, kelasnya hanya hari Sabtu dan Minggu saja. Ia kembali menyatukan harapan untuk bisa berkuliah, toh ia bisa sambil mencari penghasilan sendiri di luar tugasnya. Selain itu juga ia mendapat honor yang sekedarnya dari sebagai wiyata bakti setiap Senin sampai dengan Jumat di sekolah yang ayahnya menjabat sebagai ketua komitenya. Gayung bersambut. Orang tuanya mendukungnya dengan do'a.

Beberapa bulan berada di kampung halaman kemudian dia terlibat kegiatan alumni almamater sekolahnya di SD Negeri Binangun 04 Kecamatan Bantarsari pada tahun 2006. Rupanya acara ini membuatnya berkenalan dengan seorang pria yang kelak menikahinya.

Sekitar empat bulan menjalin hubungan akhirnya ia harus rela menjalin hubungan jarak jauh dengan lelaki yang dicintainya tersebut. Apalah daya. Ia mengalihkan semua kegundahannya dengan sibuk belajar dan bekerja, mengabdi di sekolah bersama dua rekan lainnya.

Akhir tahun 2008 ia menerima ijazah D-II nya. Kebetulan ada pendaftaran CPNS formasi umum waktu itu. Bismillah, ia niatkan mendaftar. Berkas ia siapkan dan tes ia hadapi meski harus berbasah-basah karena hujan. Ia ingat betul kenangan masa ini. Karena dari sinilah nasibnya berubah.

31 Desember 2008 ada pengumuman di koran. Ia sama sekali tak mencari berita apapun. Lewat seorang tetangga yang juga temannya akhirnya dia tahu, kalau dia lulus tes cpns formasi umum tahun 2008. Sujud syukur tidak terkira. Sampai saat ini koran pengumuman yang bertuliskan namanya ia simpan rapi di dokumen pribadinya.

Sempat terjadi kesalahpahaman dengan lelaki yang dicintainya, hingga sempat break beberapa lama. Ia ingin fokus pada tugas barunya, yang kebetulan jauh berada di luar tempat tinggalnya. Harus ditempuhnya melewati tiga desa, naik turun gunung dan jalan becek yang luar biasa. Dua puluh lima bulan ia sabar menjalani semuanya. Sampai per 1 September 2011 akhirnya ia bisa pindah ke sekolah yang dekat dengan rumahnya.

Pasti ada hikmah dibalik kisah. Tidak lama ia kembali pada rutinitas kerja di sekolah yang dekat dengan rumahnya. Lelaki yang ia cintai kembali hadir mengisi hari, bahkan kali ini jalinannya jauh lebih baik dari apa yang terjadi selama ini. Ia sadar bahwa lelaki yang ini begitu istimewa baginya. Bukan berarti selama ini ia tidak bisa membuka hati untuk lainnya. Namun setiap ia mencoba, selalu ada bayangan lelaki itu di balik semuanya.

Ibu Jesi akhirnya memutuskan untuk menikah. Dia menikah dengan lelaki pujaan hatinya, Joko Septiono (Ayah Jesi). Hingga saat ini, beliau baru dikaruniai satu anak yang bernama Cleverona Bintang Aljazira (Jesi) yang sudah berumur 3 tahun 8 bulan dan satu anak yang masih berada dalam kandungan yang insyallah akan lahir pada akhir tahun 2020 ini. 

Awalnya kehidupan rumah tangganya ia harus melihat suaminya yang belum bekerja. Ia tidak menuntut apapun dari Ayah Jesi. Karena Ayah Jesi harus rela meninggalkan masa kerja yang masih setengah tahun lamanya demi memenuhi permintaan istri tercinta. Ayah dan Ibu Jesi tinggal di rumah mertua yang notabene sangat mengharapkan ia segera bisa bekerja. Beruntung Ibu Jesi sudah mapan sejak lama dan ia pun membantu mencarikan pekerjaan untuk suaminya. Berkah sikap tulus ikhlas tanpa banyak meminta dan semua kesabaran mereka berdua akhirnya Ayah Jesi diterima bekerja di SD Islam Al Azhar 16 Cilacap per tanggal 17 April 2014.

Kini, Ayah Jesi telah menjadi pegawai tetap di sekolahnya. Namun, ia masih tinggal bersama mertuanya demi sebuah niat bersama istrinya tercinta, yaitu "Birrul Walidain" kepada orang tua dan mertua mereka yang masih sati desa. Semoga terus menjadi berkah bagi kehidupannya.

Ibu Jesi setiap hari rela melihat suaminya melaju dari jarak 41 km mengendarai sepeda motornya. Setiap hari ia harus membersamai kegiatan suaminya yang dimulai sejak pukul 03.30 pagi agar bekal sarapan bisa dibawanya. Ia bersyukur hidup bersama suami yang juga tak pernah menuntut apapun darinya. Begitu pula orang tua dan mertua yang begitu menyayangi dan mempedulikannya.

**

Di tahun 2018 Ibu Jesi berhasil menerbitkan buku antologi: My Little Detective (Rising Star), Love in Conflict (Rising Star), 25 Dongeng Dunia Peri (Wonderland), Tahukah Kamu (Wonderland), Ya Rabb Izinkan Kami Memiliki Buah Hati (eL Hidaca).

Buku yang terakhir adalah buku pinky yang ia tulis berdasarkan kisah based on true story. Saat ini sudah tersedia di Gramedia seluruh Indonesia sebab buku itu terbit mayor di bawah naungan Tinta Medina, sebuah Imprint Tiga Serangkai.

Buku antologi yang juga sudah proses terbit adalah Hidden Treasure (Rising Star), My Destiny (Rising Star), Cinta Pertama Pada Menulis (Menyulam Aksara), The Stories (Basagita), Anatomi Tubuh (Wonderland Family) dan masih banyak lagi yang lainnya.

Di tahun 2019 ia berhasil menerbitkan buku solo perdana yaitu novel Isa Bella, Kisah Cinta Dua Kota Dua Negara dan tiga buku solo berikutnya dengan genre yang berbeda. Banyak juga buku-buku antologi yang ia tulis bersama perempuan-perempuan penulis lainnya. 

Di tahun 2020, tahun yang istimewa, sebelum dunia di lockdown karena virus covid-19 yang luar biasa sebenarnya ia telah menerbitkan satu buku solo. Sayangnya sampai saat ini buku itu belum bisa dipeluk karena satu dan lain hal. Fokus kehamilan telah berhasil mengalihkan perhatiannya hanya pada satu titik, karena sempat mengalami ngidam parah selama tiga bulan penuh. Bahkan dalam kurun waktu 45 hari ia diopname sampai tiga kali dengan penurunan berat badan yang sanggup membuat orang lain menggelengkan kepalanya. Ia bersyukur saat ini sudah jauh lebih baik dan sehat dari waktu itu. Ia pun harap semoga keadaan dunia kembali membaik, secepatnya. 

Quotes yang ia ciptakan dan menjadikannya terus bergerak menulis diantaranya:
1. Menulis adalah caraku mengungkapkan semua cerita.
2. Setiap detik yang kurasa adalah debaran cinta padamu karena-Nya.
3. Mencintaimu adalah hal biasa yang luar biasa bagiku.
4. Menulis adalah empirisme dalam menjalin mitra dalam loka fantasi, bersahabat dengan pena dan sajak huruf. Intuisi yang berlangsung di ambang kesadaran. Ia berproses dengan seni hati, samar-samar namun jelas maknanya. Suatu aktualisasi diri dalam meninggalkan jejak diri melalui aksara. (Quotes dari temannya di KMO Indonesia)

Semoga dengan menulis akan membuatnya bisa naik pesawat terbang, karena itulah cita-citanya sekarang. Menjelang 34 tahun umurnya, pengalaman masuk bandara pun belum pernah. Ini benar-benar menguatkan identitasnya sebagai manusia pribumi di daerah "Ora Ngapak Ora Kepenak".

Sejak awal tahun 2018 ia juga mendirikan Rumah Clever, rumah belajar untuk anak-anak sekitar. Dari Rumah Clever kemudian muncullah berbagai lini dengan nama serupa untuk berbagai bidang yang dijalankan berserta seluruh anggota keluarga (The Clever Family) yang ia satukan menjadi satu fokus yaitu Clever World dengan tagline "Dunia Penuh Kecerdasan"

Ibu Jesi memberikan semua nama-nama itu karena terinspirasi dari nama Jesi, Cleverona Bintang Aljazira. Anak cerdas dengan wajah yang bersinar. Nama itu pula yang menginspirasi ilham pemberian nama untuk anak yang kedua kelak. Nama dengan huruf persis sama, suku kata sama, letak spasi yang sama. Hanya susunannya yang berbeda. Siapakah gerangan nama anak kedua penulis muda ini? Tunggu saja momennya akan tiba. 

Ibu Jesi mohon do'a dari semua, semoga selalu sehat dan bahagia. Semoga janin dalam kandungannya yang kini sudah memasuki usia 29 minggu tumbuh menjadi anak yang sehat dan sempurna, tidak kekurangan apapun dan tidak cacat sedikitpun. Kelak lahir menjadi anak yang saleh/ salehah, cerdas, ceria, berkarakter, menyejukkan hati dan mata kedua orangtuanya, berguna bagi nusa bangsa serta agama. Aamiin aamiin ya robbal 'alamiin. 

***

#Autobiografi ini adalah penyempurnaan dari autobigrafi yang ada di bagian lain blog ini. Bisa dibaca di link Autobiografi Ibu Jesi yang pertama. 

#Buku-buku karya Ibu Jesi bisa dibaca di link Tentang Ibu Jesi, atau bisa klik previous postingan ini.