Mengenal Apa Itu Metafora?

01.05 0

 

Dalam sebuah novel, tidak asing rasanya menemukan kalimat kiasan yang indah. Bila belum tahu, kalimat kiasan tersebut disebut majas.

Majas itu sendiri bisa diartikan sebagai gaya bahasa yang digunakan penulis untuk menyampaikan pesan dengan kiasan atau imajinatif.

Majas terdiri dari 4 jenis, salah satunya yaitu majas perbandingan.

Di dalam majas perbandingan dibagi lagi menjadi beberapa majas yang sering kita jumpai, yaitu majas metafora. Nah, kali ini Ibu Jesi menggunakan METAFORA sebagai judul dalam karya terbarunya. Meski Metafora yang dimaksud dalam karya ini adalah akronim dari tokoh-tokoh yang bernama Meta Septiani, Febri Susilo dan Mira Febriani.

Ibu Jesi terinspirasi dari sebuah ungkapan JER BASUKI MAWA BEA. Tak pernah ada yang gratis di dunia ini. Hidup perlu ditebus dengan perjuangan dan kerja keras. Jika bisa diandaikan, hidup itu layaknya perumpamaan-perumpamaan.

Umpama kita pohon, hidup di lahan gembur akan membuat pokok kita tumbuh dengan subur.

Umpama itu sebuah keniscayaan. Umpama kita selalu sehat, niscaya kekuatan akan selalu disertai dengan semangat.

Umpama kita sakit, semoga dengan itu semua tak dengan mudah membuat hati dipenuhi jerit. Disitulah banyak perumpamaan-perumpamaan yang terjadi.

Sebab hidup sudah ada yang mengatur, percaya saja pada Tuhan yang tak pernah menganggur.

Umpama Allah manusia, ia akan menjadi makhluk yang paling sibuk di dunia. Maka, hanya pada Tuhan-lah saja hidup kita sandarkan karena kita adalah makhluk lemah yang senantiasa membutuhkan pertolongan-Nya.

Karya METAFORA ini adalah novel bergenre Slice of Life yang diselesaikan oleh Ibu Jesi hanya dalam waktu satu bulan penuh saat mengikuti Parade Nulis Batch 3 Penerbit Lovrinz Pro. Dengan nomor ISBN 978-623-289-478-5.

METAFORA sendiri terdiri dari 30 part awal yang diposting di grup tertutup dan tambahan 8 part sebagai penyempurna cerita dalam hitungan draft naskah sebanyak kurang lebih ada 46480 kata dalam 177 halaman a4 dan coba dilayout dalam ukuran 14x20 ternyata dapat 271 halaman. Kita akan lihat nanti versi cetaknya seperti apa karena saat ini masih dalam proses antrian di penerbit bersama 139 naskah yang lolos lainnya.

BLURB NOVEL METAFORA sebagai berikut:

Belum lama tinggal di kampung halaman, seorang perempuan penyuka warna merah marun mendapati puteri semata wayangnya sakit dan harus menjalani pengobatan rutin.

Keinginan perempuan itu untuk menyembuhkan puterinya jelas besar, seiring keniatannya untuk berwirausaha demi bisa mengcover biaya pengobatan puteri semata wayang. Itu juga yang membuat suami tercinta mengikuti jejaknya.

Seorang lelaki berperawakan kecil yang memiliki sikap dan sifat mirip dengan bapak mertuanya sedang belajar tentang semua hal.

Dari pekerjaan sebelumnya, satu yang membuat ia sangat terbantu adalah sang mandor baik hati yang sudah menganggapnya anak sendiri karena sesuatu hal.

Kemampuannya dan istri mengembangkan usaha membuat mereka akhirnya berhasil mewujudkan mimpi menjadi manusia mandiri.

Semakin jauh ia menyelami kehidupan bersama istri dan keluarga, semakin membuatnya bersyukur telah menjadi bagian dari keluarga besar dengan kebesaran nama warung "Gaya Baru" yang dimiliki.

Ini bukan hanya kisah tentang Metafora: Meta Septiani, Febri Susilo dan Mira Febriani. Tapi, lebih dari itu ....

Nah, bagi yang tertarik waiting list novel terbaru dari Ibu Jesi ini bisa dimulai dari sekarang yaa. Yuk, kejar grup waiting list-nya dengan menghubungi Wa.me/6282285823300.

Kamu bisa dapatkan harga menarik, bonus resep masakan dan nanti kita akan sharing materi kepenulisan Dibalik Layar Metafora* 👉 17 Januari 2021 waktu menyusul.

Kenapa sharingnya harus tahun depan? Ya karena akhir tahun ini Ibu Jesi mau fokus lahiran. HPL 22 Desember 2020 sudah semakin dekat. Mohon doanya dari semua yaaa...

Berikut Ibu Jesi sedikit cuplikan part 1 sebagai gambaran awal, monggo disimak:

SLAMET SI PENJUAL

...

“Pak Slamet, aku pesen satu. Dimakan disini,”

“Siap Pak, silakan duduk dulu!”

Lelaki yang memesan itu kemudian duduk. Dan laki-laki berperawakan sedang itu segera menuju gerobak jualan miliknya yang berada di paling depan ruangan di warungnya. Dengan sigap ia memasukkan benang-benang kenyal dalam panci besar. Memotong beberapa batang sayuran hijau lalu memasukannya juga ke dalam panci yang sama. Nyala api kompor dibesarkan, ia mengambil satu mangkok bergambar jago, menaruh serbuk putih beraneka ragam, menambahi minyak beraroma lalu mengaduknya dengan sumpit.

Kepulan asap yang membumbung membuat laki-laki itu menengok. Membuka kembali tutup panci besar, mengambil benang-benang kenyal yang sudah bercampur dengan sayuran hijau. Potongan daging yang ia racik sejak pagi buta menjadi bagian tak terpisahkan karena tanpanya menu yang ia jual hanya akan punya satu nama, tiga huruf saja.

“Ini Pak, sudah siap.”

“Suwun, Pak.”

“Pak Sudin minumnya apa?”

“Es teh manis saja.”

“Enteni sedela ya.”

...

Laki-laki itu kembali meracik menu pesanan. Kali ini dia tidak menaruhnya di dalam mangkok, tapi di dalam plastik bening yang kata penjualnya food grade dan ramah lingkungan. Ia juga memisahkan cairan-cairan bumbu ke dalam plastik yang lebih kecil secara terpisah. Dua bungkus telah siap, tapi finishing menunggu konfirmasi dari Pak Sudin.

“Mau langsung dijadikan sekarang apa nanti?”

“Sekarang saja! Ini aku sudah selesai makan mie-nya.”

Laki-laki itu langsung menyelesaikan pesanan dalam plastik, mengikat rapi ujungnya lalu memasukkan dua bungkus tadi ke dalam plastik yang lebih besar. Belum selesai dengan itu semua, datang lagi dua perempuan ke dalam warungnya.

“Aku pesan satu Pak Slamet, dimakan sini!”

“Aku juga satu pak, dimakan sini juga!”

Laki-laki itu mengangguk, “Minumnya apa?”

“Aku jeruk anget Pak.”

“Aku es teh.”

“Oke! Silakan duduk dulu!”

...

⭐⭐⭐

Laki-laki berperawakan sedang turun dari bus kota. Ia terlihat celingukan menatap sekeliling. Hari memang masih pagi, belum banyak orang hilir mudik di tempat orang biasa hilir mudik ini.

“Mau ngojek Mas?” seseorang membawa sepeda motor menghampirinya.

“Ke Desa Binangun, ongkose pira Mas?”

“Lima ngewu baen.”

“Ya wis ayuh Mas.”

Laki-laki itu membonceng tukang ojek yang menawarinya. Ia menikmati perjalanan menuju rumah menuju rumah yang sekian lama ia tinggalkan demi sebuah harapan di ibukota. Area persawahan membentang bak permadani hijau. Butiran-butiran kecil mulai terlihat pada setiap batang padi.

Di pojok kanan sebelah utara, ada pemandangan elok nan menawan. Gunung Slamet berdiri tegak menantang langit. Ia terlihat gagah meski jarak untuk mengunjunginya harus menempuh ratusan kilometer dari tempat ia kini berada. Bersyukur ia sudah sampai di kampung halaman dengan selamat.

Keluarga menyambutnya dengan penuh hangat. Tak sedikitpun tanya tanda penasaran menyapanya meski sekian lama ia merantau ke Jakarta. Itulah yang membuatnya rindu pulang kampung setiap saat.

Ada rasa putus asa menyergap. Sekian lama merantau di Jakarta ia tak juga berhasil memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Bahkan untuk makan sehari-hari ia harus berusaha keras. Dan terpaksa sekali, tumpangan di rumah kakak bisa menjadi solusi. Apakah selamanya akan berjalan stagnan seperti ini?

Alasan kuat ingin merubah kuat untuk merubah nasib sendiri harus terhenti. Ibukota tak cocok untuknya. Pulang kampung dan membuka usaha sendiri akan dicoba. Entah apa dan bagaimana langkah selanjutnya.

Di sudut kamar gelap malam ini laki-laki berperawakan sedang belum juga bisa memejamkan mata. Ia berpikir keras besok akan membuat apa. Ia tak ingin menyusahkan orangtuanya. ia tak ingin terus diam tanpa berbuat apa-apa.

Apa kata orang nanti. Anak seorang Bayan pulang dari kota dan di kampung hanya jadi pengangguran. Sungguh sangat sia-sia ia di mata warga kampung tentunya. Ia ingin seperti bapaknya. Seorang yang ulet dengan segala kesabaran yang menyerta.

⭐⭐⭐⭐

@RumahClever, Cilacap, 10102020

***

Selamat Penasaran dan Ditunggu Segera WAnya untuk waiting list Novel METAFORA, A Novel by Betty Irwanti Joko, penulis 5 buku solo dan 28 antologi. 

Terima kasih....