Apa Saja Ciri-ciri Pernikahan yang Cerdas?

08.59



#Day9
#KelasNonFiksi 
#OdopBatch7

Selamat Pagi 
Semangat Rabu
Semangat Menggebu

Sepagi ini aku sudah memulai membuat draft, agar tak kemalaman seperti semalam. Mau tidur saja mikirin, postingan. Kayak nggak rela begitu, kalau aku utang.

(Liburnya Minggu saja, jangan minta hari lain. Itu saja, di laporan jadi ada yang bolong ya. Ah, biarka saja. Aku kan juga butuh time. Hehehe)

Apa kabar pagi ini? Alhamdulillah kabarku baik. Apakah kabar Yahnda Bunda juga baik? Semoga sebaliknya juga begitu adanya ya.

Apakah Yahnda Bunda sudah membaca dua postinganku sebelum ini? Jika belum, oke, baiklah. Mungkin ada yang penasaran juga tanggal 28 mau ada acara apa denganku. 

Acara tanggal 28 yang sudah kuagendakan sejak awal bulan ini bahkan. Sebab waprian dari sang ketua juga sang kepala sekolah. Beberapa hari yang lalu, di grup WA yang sudah terbentuk ada surat permohonan dispensasinya.

Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional tahun 2019, HUT PGRI ke-74 dan HUT K’Gum ke-1, dan ikut serta menyukseskan Gerakan Literasi Nasional, PGRI Kabupaten Cilacap bekerja sama dengan Komunitas Guru Menulis (K’Gum) Cilacap, berencana menyelenggarakan kegiatan Pekan Literasi, di mana salah satu kegiatan dalam Pekan Literasi adalah Lokakarya Kebahasaan Dalam Penyusunan KTI yang akan dilaksanakan pada: Hari/Tanggal : Kamis, 28 November 2019. Waktu : 08.00 s/d selesai. Tempat : Aula Dwijaloka PGRI Kabupaten Cilacap.

Acara tanggal 28 masih besok ya ternyata, dan hari ini masih perjuangan untuk mendampingi anak-anak kelas 1-2 untuk Penilaian Akhir Semester, muatan pelajaran Matematika. Alhamdulillah, hari demi hari selalu penuh dengan perjuangan. Bagaimana dengan Yahnda Bunda sendiri? 

Mungkin ada yang masih menunggu jadwal Penilaian Akhir Semester, ada juga yang sudah sepertiku, mendampingi anak-anak tercinta melalui momen wajib setiap setengah tahun sekali ini. 

Momen wajib yang istimewa, kah itu? Tentu saja ya Yahnda Bunda. Yahnda Bunda sendiri pasti ikut berdebar saat anak mengalaminya bukan?

Apakah debaran itu sama seperti saat menikah dulu. What? Apa hubungannya? 

Menikah kok dihubungkan dengan Penilaian Akhir Semester? Hmmhmmm. Dua-duanya sama-sama mendebarkan dan sama-sama momen yang sakral.

Menikah, nikah, pernikahan. Adalah tiga kata yang berhubungan. Nikah itu kata dasar. Menikah adalah nikah yang diberi awalan me-, sedangkan pernikahan adalah nikah yang diberi awalan per- dan akhiran -an.

Pernikahan yang menyatukan dua keluarga. Pernikahan yang penuh cinta, bisa jadi juga adalah salah satu faktor yang menyebabkan generasi keturunan kita menjadi generasi cerdas. Kenapa?

Karena menjadi orangtua yang cerdas berawal dari pernikahan yang cerdas. Oke. 

Kalau begitu pernikahan yang cerdas itu yang seperti apa? 

Pernikahan yang cerdas adalah cikal bakal pertama dalam menciptakan anak yang cerdas. Pernikahan merupakan awal dari segala niat suci untuk mempertahankan kesucian diri dan niat memperoleh keturunan. 

Keturunan seperti apa yang Yahnda Bunda harapkan? Itu tergantung dari mana Yahnda Bunda memulainya, sejak memasuki jenjang pernikahan. 

Pernikahan seperti apa yang bisa disebut akan menghasilkan keturunan (anak) yang cerdas? Jawabannya tentu pernikahan yang cerdas. 

Lantas, apa saja ciri-ciri pernikahan yang cerdas itu?

Ciri-ciri pernikahan cerdas diantaranya:

1. Pernikahan penuh cinta dan kasih sayang 

Apa artinya pernikahan yang tidak didasari oleh rasa cinta. Cinta pada pasangan menjadi dasar, meski itu bukanlah segalanya. Bisa jadi awal kita sama sekali tidak saling mengenal, tapi dalam bingkai pernikahan, semua dimulai. Cinta itu tumbuh dengan dasar cinta kita pada-Nya.

Cinta yang tumbuh perlahan namun pasti akan menghadirkan kasih sayang tanpa henti. Kasih sayang akan memupuk cinta menjadi cinta sejati, yang membuat Yahnda Bunda semakin solid menjalani hari. Apakah Yahnda Bunda masih meragui?

Lihat saja pernikahan yang tidak didasari atas cinta padanya dan pada-Nya. Apakah mereka bisa bahagia? Pernikahan yang bahagia akan membuahkan anak yang bahagia pula. Pernikahan yang bahagia adalah ciri-ciri pernikahan cerdas yang akan menghadirkan anak-anak yang cerdas pula.

2. Pernikahan di usia matang

Aku sering melihat, fenomena pernikahan di usia muda lebih cenderung banyak yang tidak bisa bertahan beberapa lama. Kira-kira kenapa ya, penyebabnya? Ketika terjadi seperti itu dan ada anak yang hadir, apa yang terjadi kemudian? 

Aku sendiri menikah di usia matang, dua puluh enam tahun. Waktu itu suami, berumur tiga puluh satu tahun. Tepat tahun ini kami sudah menjalani hari demi hari bersama selama kurang lebih enam tahun. Pernikahan yang mampu bertahan lama akan semakin menumbuhkan cinta, percayakah Yahnda Bunda? 

Kalau aku sangat percaya. Karena hari demi hari yang dilalui semakin bisa kuketahui sifat dan sikap Ayah Jose yang luar biasa. Dia sempurna menjelma menjadi sosok ayah dan suami cerdas yang selalu siap siaga.

3. Pernikahan yang direstui

Restu Allah ada pada restu kedua orangtua. Ridho Allah juga pasti ada di tangan keduanya. Aku yakin betul akan hal ini, bahkan sampai detik ini.

Restu orangtua menjadi hal wajib jika kita menginginkan pernikahan cerdas yang diridhoi. Kenapa harus ada ridho di sini? Iya, karena seperti apapun langkah dan perjuangan pernikahan kita akan semakin kuat dengan restu, ridho dan do'a-do'a yang dilangitkan oleh kedua orangtua. Apalagi jika ada tambahan mertua di sana. Insyaallah pernikahan kita semakin cerdas, semakin solid dengan iringan ridho-Nya. 

4. Pernikahan yang menyatukan dua keluarga

Sungguh indah jika pernikahan kita adalah pernikahan yang menyatukan dua keluarga. Tidak ada lagi sekat yang memisahkan antara menantu dan saudara iparnya. Tidak ada lagi jarak antara mertua dengan besannya. Sungguh itulah keakraban yang sangat membahagiakan. 

Pernikahanku, pernikahan adikku, dan pernikahan adik bungsu kelak, selalu berdasar pada prinsip: Ketika aku dan kamu jadi kita maka, keluargamu pun akan menjadi keluarga kita. Jika Yahnda Bunda merasa belum bisa menyatu bahkan menyatukan keluarga, silakan terapkan prinsip itu. Insyaallah pernikahan kita semua akan sempurna menjadi pernikahan yang cerdas. 

Pernikahan yang cerdas adalah sebuah pernikahan yang ketika buah hati hadir di tengah keluarga besar, ia diterima dengan tangan terbuka dan akan menjadi anak yang bahagia dengan segala kasih sayang yang tercurah adanya. Tentu ini sangat berbeda dengan anak yang lahir karena keluarga besar yang tercerai berai bukan. Na'udzubillah hi mindzalik. Summa.

5. Pernikahan yang resmi dan syah

Ini syarat mutlak dan wajib. Pernikahan yang resmi dan syah, dicatat oleh negara akan membuat hati Yahnda Bunda tenang bukan? Karena jika anak yang lahir kemudian akan sempurna dan mudah mendapatkan apa yang menjadi haknya.

Aku sering kasihan melihat anak-anak yang tidak jelas nasibnya. Mau memiliki surat kelahiran saja harus di atasnamakan orang lain sebagai orangtuanya. Apakah selaku orangtua jika kita berbuat demikian akan adil untuk mereka?

Apakah anak-anak yang demikian akan menjadi anak yang cerdas kemudian? 

Kita hidup di negara yang serba membutuhkan bukti hitam di atas putih, bahkan untuk anak yang baru lahir di zaman sekarang ini, sudah langsung bisa diuruskan data kependudukannya. Lantas, jika pernikahan itu dilaksanakan secara tidak resmi? Bagaimana nasib anak-anak kelak?

Demikian ulasan ciri-ciri pernikahan cerdas menurutku. Adakah tambahan? Ataukah adakah koreksi, biar aku betulkan kemudian.

Terima kasih.

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

5 komentar

Write komentar
Jihan
AUTHOR
28 November 2019 10.37 delete

Terimakasih mba Betty artikelnyaa

Reply
avatar
28 November 2019 14.01 delete

jadi ingat artikel Tirto.Id, pernikahan di umur 20 adalah kematangan pribadi, menikah di umur 30 adalah kematangan sosial.

Reply
avatar
28 November 2019 21.10 delete

wah keren istilahnya pernikahan cerdas �� makasih mbak Betty artikelnya

Reply
avatar
Yoharisna
AUTHOR
29 November 2019 05.49 delete

Wah, suka dengan tulisannya mbak.

Reply
avatar