Resolusi Menulis 2020

14.52 0

Tantangan Pekan Keempat
Resolusi Menulis 2020
Oleh Ibu Jesi

Bismillah
Alhamdulillah

Sampai juga di penghujung tahun 2019 dan pekan terakhir Kelas Non Fiksi Odop 7. Puji syukur hari demi hari bisa terlewati dengan baik, meski ada beberapa kali harus bayar utang, tapi tantangan itu akhirnya bisa diselesaikan.

Pernahkah, Yahnda Bunda dan teman-teman semua sehari menulis empat postingan sekaligus? Ah, rasanya pengalaman adalah guru yang terbaik. Manfaatkanlah masa longgarmu sebelum datang masa sempitmu. Masa-masa di mana untuk menulis saja, kamu akan benar-benar seperti berburu dengan waktu.

Percayalah, hidup itu ujian. Alhamdulillah, ujian demi ujian sepanjang tahun ini bisa terlewati dengan baik. Ujian demi ujian dalam dunia kerja, rumah tangga, sahabat, teman, kerabat atau siapapun, itu sudah biasa. Kuncinya hanya satu, sabar, sabar dan sabar.

Kan, katanya ada yang bilang, orang sabar itu titik-titiknya lebar. Silakan jawab sendiri ya, titik-titik itu isinya apa.

Percayalah, hidup itu ujian. Ujian demi ujian dalam dunia menulis aku menyebutnya sebagai tantangan demi tantangan.

Apa saja tantangan menulisku tahun ini?


Tiga buku solo berhasil kuselesaikan. Buku perdana berjudul Isa Bella. Sebuah novel berisi kisah dua kota dua negara. Buku kedua berjudul Staring. Sebuah kumcer berisi kumpulan tulisanku di blog pribadi  selama bulan Ramadhan tahun 2019 ini. Buku ketiga berjudul Iam Prana. Sebuah komik berlatar belakang sejarah daerah Cilacap Bercahaya.

Masing-masing buku mempunyai ceritanya sendiri. Isa Bella yang kutulis selama satu bulan setengah terbit di bawah naungan penerbit Sanggar Caraka. Adalah buah kerja kerasku mengikuti kelas Nulis Aja Academy Batch 3. Yang kemudian membawaku menjadi dosen pembimbing di batch 4.



Isa Bella juga membawaku bisa live on air untuk pertama kali di Yes Radio, Kebanggan Cilacap pada bulan Agustus 2019 lalu. Bersama Ayah Jose, aku benar-benar merasa luar biasa. Inilah momen awal terbukanya pintu untuk menjalin hubungan baik dengan sesama pegiat literasi di daerah Cilacap Bercahaya. Setelah sebelumnya sempat menjadi bagian penting dari acara Grand Opening Gramedia Cilacap atas usulan dari Mbak Gita Fetty Utami. (Terimakasih ya Mbak.)



Staring atau akronim dari Selesaikan Tantangan Raih Kemenangan, adalah buku keduaku yang judulnya sendiri terinspirasi dari sebuah truk yang melintas di depanku, saat aku mengendarai sepada motor satu hari. Sebenarnya ide ini murni aku ajukan sebagai judul antologi event RWC (Ramadhan Writing Challenge) Grup Halimah bulan Ramadhan kemarin. (Mbak Renitasari Oktaviastuti mungkin masih ingat semuanya?)

Staring terbit di bawah naungan penerbit Embrio yang dalam hal ini aku mendapat rezeki berupa voucher penerbitan 50% free oleh Cak Heru, ketua Odop Angkatan Pertama. Puji syukur, hubungan baik dengan sebuah penerbit pun mulai terbuka jalannya.

Lalu, bagaimana dengan buku ketiga? Komik Iam Prana adalah hasil karya yang kubuat hanya dalam 10 hari setelah tiga hari sebelumnya aku dan 20 teman-teman Cilacap Heritage Fellowship Program belajar sejarah daerah Cilacap Bercahaya di tiga tempat yang berbeda.



Iam Prana dicetak langsung oleh Sangkanparan yang telah bekerja sama dengan Direktorat Sejarah Kementerian Pendidikan dan dibagikan gratis untuk kalangan umum.

Tiga buku membawa ceritanya sendiri. Bahkan tahun ini akan kututup manis dengan live on air keduaku di Yes Radio untuk Bedah Bukuku yang kedua. Yahnda Bunda masih ingat tidak apa judulnya?

Selain tiga buku solo, tahun ini ada 8 buku antologi yang bisa kuselesaikan juga. Total ada 25 buku antologi yang sudah cetak dengan namaku ada diantara penulis-penulis yang luar biasa. Yang paling membuatku masih tak percaya juga hingga ini, belum lama buku antologi dengan namaku terpampang tunggal di dalam cover, ada nama Ayah Jose mengiringi. 

Iya. Buku antologi keduapuluhlimaku menjadi antologi pertama untuk suamiku tercinta. Selamat sayang, engkau memang selalu indah untuk kubanggakan.

Apa saja tantangan menulisku tahun depan?


PJ kelas non fiksi menyebutnya resolusi menulis 2020. Re itu kembali, sedangkan solusi adalah jalan keluar. Jadi, resolusi adalah jalan keluar terbaik yang akan membawaku terus menulis di tahun 2020 yang tinggal setengah bulan lagi sudah datang.

Jalan keluar terbaik mungkin bisa disederhanakan maksudnya menjadi, tantangan menulisku tahun depan. Oke. Aku akan menantang diriku sendiri untuk terus menulis dan berkarya. Setahun kemarin aku berniat untuk bisa membuat PTK (Penelitian Tindakan Kelas) sebagai salah satu syarat untuk kenaikan pangkat. So, Apakah 2020 menjadi tahun untukku merealisasikannya?

Bismillah saja. Kuniatkan dengan kesungguhan hati yang sebenar-benarnya. Selain itu aku akan tetap menulis dalam proyek antologi dan solo yang sebenarnya sudah ada banyak draft, tapi masih juga terkendala waktu eksekusinya. Percayalah hidup itu ujian. Saat harus membagi konsentrasi dengan tugas negara yang benar-benar menguras tenaga pikiran, aku harus benar-benar memaksimalkan kesempatan.

Apakah masih ada yang bisa kutambahkan? Sebenarnya banyak. Kapan waktu deh boleh disambung kemudian.

Apakah Lingkungan yang Ramah Akan Membuat Anak Cerdas dan Memiliki Mental Sehat?

22.19 1


Masih selamat malam, masih salam semangat. Masih semangat menulis. Masih semangat menyelesaikan tugas. Masih dalam upaya menyelesaikan konsekuensi yang harus dijalani oleh seorang ibu bekerja yang juga seorang ibu rumah tangga. 

Meski banyak tugas dan deadline tapi tetap berusaha menyelesaikan dengan ramah. Lho, kok ramah? Iya, ramah. Ramah pada diri sendiri, supaya hati dan pikiran bisa sinkron. So, tugas segera bisa diselesaikan tanpa harus mengejar mood yang kadang bisa saja pergi. 

Ramah pada suami, si kecil dan keluarga, jelas perlu. Sebab apa jadinya jika aku egois memilih menulis dan tidak ramah pada mereka. Pasang muka serius? Ah, rasanya tidak tega. Mereka tetap prioritas utama.

Masih dengan opening yang sama, aku ingin menjelaskan sedikit tentang lingkungan ramah yang akan membuat anak cerdas dan bermental sehat.

Sri Rumani pernah menulis di laman web kompasiana.com, tentang Anak-anak sebagai generasi milenial menghadapi tantangan yang lebih berat, dibanding generasi sebelumnya. Ruang gerak untuk bermain semakin terbatas seiring dengan berkurangnya fasilitas publik yang ramah anak. Khususnya di kota-kota besar, ruang publik terbuka telah disulap menjadi perumahan, mall, hutan beton yang menjulang tinggi. 

Sekolah pun berdiri diantara gang sempit, gedung tinggi, tanpa halaman sekolah untuk berolah raga, yang sering dikorbankan untuk lahan bisnis. Kondisi lingkungan yang sudah tidak mempunyai daya dukung dapat berakibat pada perkembangan secara fisik, psikologis anak. Apalagi ditambah "banjir"nya informasi yang menyesatkan (hoax), dan tidak sehat dari dunia maya.  

Anak sebagai generasi penerus bangsa, perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental, maupun sosial. Keluarga sebagai pemberi lingkungan yang pertama dan utama, sebelum anak keluar dalam lingkungan yang lebih besar yaitu sekolah dan masyarakat. Oleh karena itu orang tua (ibu dan ayah) menjadi orang yang paling bertanggung jawab untuk membentuk fondasi yang kokoh dalam pemahaman masalah keagaamaan, etika pergaulan, sopan santun, kejujuran, kepekaan sosial, solidaritas. Bibit radikalisme dapat dicegah dimulai dari keluarga. 

Masalahnya masih ada orang tua yang mengabaikan hal-hal kecil ini, akibatnya ketika anak dalam lingkungan sosial terkecil (keluarga) tidak mendapatkan informasi yang benar dari orang tua, anak mencari pemahaman dari orang lain yang justru "menyesatkan".  

Lingkungan yang baik adalah hak asasi anak yang semestinya dapat dinikmati oleh anak-anak agar dapat tumbuh kembang secara sehat fisik dan psikisnya. Anak-anak yang terbiasa dengan lingkungan keluarga yang baik (mempunyai rasa tenggang rasa, saling menyayangi, menghormati, toleransi), akan terbawa dalam pergaulan ketika di sekolah dan masyarakat. Sebaliknya lingkungan keluarga yang biasa tidak jujur, egois, kasar dalam bertindak, keras ketika bersuara dapat berpengaruh pada sikap dan perilaku anak-anaknya. 

Dalam bahasa Jawa ada peribahasa:"Kacang ora ninggal lanjaran (Kacang tidak meninggalkan lanjaran/alat penopang dan tempat menjalarkan tanaman menjalar). Artinya perilaku anak itu menurun dari orang tuanya. Akhlak anak tidak jauh beda dengan akhlak orang tuanya, maka berhati-hatilah orang tua dalam bertindak dan bersikap, karena semua itu masuk dalam memorinya dan akan ditiru oleh anak.

Memberikan lingkungan yang baik untuk anak bukan hanya lingkungan fisik, tetapi juga lingkungan psikis dan sosialnya. Kenapa ada tawuran antar sekolah, gang, kelompok "klitih" yang meresahkan masyarakat karena membacok orang tanpa sebab di jalan raya pada dini hari. Dimana orang tuanya, dan mengapa ketika "ayam" peliharaan tidak pulang ke rumah saat hari sudah senja (menjelang Magrib),  dicari ke tetangga, di kebun belakang rumah, di pepohonan. Namun aneh, ketika anaknya tidak pulang sampai menjelang dini hari tidak pernah dicari, di telepon, di WA, dibiarkan, diabaikan, pergi kemana dengan siapa untuk acara apa.

Ini masalah komunikasi antara orang tua dengan anak-anaknya. Herannya lagi, orang tua piawi memberi nasehat, petuah, membimbing, mendidik anak orang lain, justru anaknya sendiri dilupakan dan diabaikan. Padahal menjadi orang tua itu tidak dapat di"wakilkan" kepada orang lain siapapun dia (guru kelas/guru agama, kakek nenek, saudara).  

Munculnya anak-anak bermasalah karena jiwanya kosong, tidak mendapatkan teladan dari lingkungannya yang positif. Anak-anak merasa "kesepian" disaat membutuhkan pengarahan, bimbingan tetapi orang tua sibuk bekerja di luar rumah dengan alasan "demi memenuhi kebutuhan anak". 

Bahwa asupan gizi seimbang bagi anak sangat penting agar tidak menjadi generasi "stunting", yang berpengaruh dengan tumbuh kembang secara fisik. Selain itu yang tidak kalah penting adalah asupan gizi rohani, sehingga jiwanya pun dapat tumbuh kembang untuk menjadi generasi yang kuat, berkarakter, berbudi pekerti, berkepribadian mulia.

Hak anak untuk mendapatkan lingkungan yang ramah anak itu diberikan sejak dari dalam kandungan, sampai anak berusia 18 tahun (sebutan anak menurut UU No.35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak). Masalahnya tidak semua orang tua memahami kewajibannya sebagai orang tua yang merupakan hak anak-anaknya. 

Aku sendiri di laman blog ini pada postingan hari Senin, tanggal 9 Desember lalu, telah menulis tentang lingkungan yang ramah anak adalah lingkungan yang memungkinkan si kecil nyaman dalam menghadapi proses tumbuh kembang secada optimal. Lingkungan yang nyaman adalah lingkungan yang selalu mendukung anak, seperti apapun dan dalam keadaan bagaimanapun. 

Lingkungan yang nyaman adalah lingkungan yang tidak pernah ada bully-ing sedikitpun, tidak pernah ada sikap membandingkan anak satu dengan anak yang lain. Karena setiap anak tentu diciptakan berbeda, bahkan untuk kembar identik sekalipun. 

Aku dan suami sendiri berusaha untuk bisa memaksimalkan peran menjadi orangtua yang ramah agar puteri kecil tak pernah merasa kekurangan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Karena lingkungan yang penuh akan kasih sayang akan membuat ia nyaman dan aman.


Apa yang kami lakukan agar lingkungan ramah anak itu tercipta?


  • Stop bullying

Tidak membully anak ketika dia melakukan aktivitas yang menurut kita itu aneh, lucu atau pantas untuk ditertawakan. Stop membandingkan anak dengan anak lain. Pahamilah Yahnda Bunda, si kecil juga punya hati dan pikiran yang bisa saja merekam setiap kejadian. Bisa jadi ia akan terus mengingat sepanjang hidupnya sebagai kejadian negatif yang akan berdampak negatif suatu saat.

Apakah kita menginginkan hal yang demikian? Kalau aku jelas tidak menginginkanya. Aku berusaha untuk ramah dan tersenyum setiap saat, apapun yang si kecil lakukan. Meski itu bukanlah hal yang mudah, tapi teladan dari Ayah Jose-lah sumber segala keramahan itu menjadi membahana kemudian.

So, bagaimana dengan Yahnda Bunda sendiri? Sudahkah memberikan sikap ramah pada si kecil hari ini?

Sila jawab sendiri ya, aku mau selonjoran dulu sejenak. Hehehe....

Apakah Lingkungan yang Disiplin Akan Membuat Anak Cerdas Memiliki Karakter yang Baik?

22.06 1


Selamat malam, salam semangat. Semangat menulis. Semangat menyelesaikan tugas. Beginilah konsekuensi yang harus dijalani oleh seorang ibu bekerja yang juga seorang ibu rumah tangga. Meski banyak tugas dan deadline tapi tetap berusaha menyelesaikan dengan disiplin. Lho, kok disiplin? Iya, disiplin. Disiplin pada diri sendiri, supaya tugas segera bisa diselesaikan tanpa harus mengejar mood yang kadang bisa saja pergi. Sesekali diri ini perlu dipaksa, agar mood itu lekas menghampiri.

Disiplin pada diri sendiri jelas perlu. Tapi, apakah bersikap disiplin terhadap suami dan kecil serta keluarga, itu juga perlu?

Apa jadinya jika aku tidak disiplin mengatur wakru. Mungkin aku tidak akan berani mengambil semua konsekuensi menjadi ibu bekerja dengan satu anak dan punya passion besar dalam dunia menulis. Ah, rasanya disiplin memang sebuah arah yang harus dijalankan? 

Meski begitu disiplinku tetap luwes, bukan disiplin yang otoriter. Bagaimana juga aku tetap seorang istri yang harus mendahulukan suami, anak dan keluarga bukan? Ketika aku memutuskan kapan waktu yang untuk menulis, pasti sudah aku komunikasikan sebelumnya pada mereka. 

Pasang disiplin serius? Ah, rasanya tidak tega. Mereka tetap prioritas utama. Alhamdulillah, Allah SWT meridhoi setiap upaya baik dari hamba-Nya yang berusaha melakukan hal yang baik. Malam ini mereka sudah terlelap dalam tidur, bukankah ini atas kuasa-Nya juga?

Kami memang terbiasa persiapan tidur pada jam-jam segini. Jarang sekali kami begadang sampai tengah malam atau tidak tidur sama sekali, kecuali jika ada yang harus diselesaikan. Seperti aku, malam ini, yang mungkin saja baru akan tidur tengah malam.

Kami juga biasa bangun pagi, memulai aktivitas sejak adzan Subuh bahkan belum terdengar sama sekali. Jangan tanya bagaimana Ayah Jose mengatur waktunya. Sebab sebelum pukul lima pagi saja, beliau sudah harus berangkat menuju tempat kerja.

Bagaimana kabar Yahnda Bunda semua? Bagaimana juga kabar si kecil, anak cerdas di seluruh penjuru tanah air dan di seluruh dunia? Apakah biasa melakukan hal yang sama dengan kami, member The Clever Family? Kami menyebutnya sebagai kedisiplinan dalam keluarga. Agar semua berjalan lancar, baik dan sukses tanpa ekses.

Henny Nurhendrayani dalam situs online pkbmdaring.kemdikbud.go.id menulis bahwa, disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan ketertiban.

Ciri-ciri orang disiplin antara lain: selalu mentaati peraturan, selalu tepat waktu, selalu hidup terjadwal dengan teratur, selalu melaksanakan tugas dengan baik dengan membiasakan hidup disiplin.

Perilaku disiplin dapat diterapkan di mana saja?


Perilaku disiplin di rumah, contohnya: membantu orang tua, merangkat sekolah tepat waktu, belajar setiap hari, tidur dan bangun tepat waktu, merapikan tempat tidur dan kamar, makan dengan teratur, merapikan mainan setelah bermain, menjaga kebersihan rumah, menjalankan ibadah tepat waktu, mandi pagi dan sore hari, menjaga keamanan di rumah, penggunaan listrik dan peralatan elektronik.

Disiplin yang diterapkan di sekolah, misalnya: masuk sekolah tepat waktu, berbaris dengan tertib, berseragam sesuai ketentuan sekolah, menaati tata tertib sekolah, mendengarkan pelajaran dengan tekun, beribadah tepat waktu, tidak terlambat masuk sekolah, bila keluar kelas minta izin, melaksanakan tugas piket, membuang sampah pada tembatnya, tidak boleh  berbuat gaduh di kelas, duduk dengan rapi, dan berlaku sopan santun.

Sikap disiplin di masyarakat, antara lain: jangan membunyikan radio atau tv keras keras pada malam hari, membuang sampah pada tempatnya, berjalan di sebelah kiri, mematuhi rambulalu lintas di jalan umum, jangan bermain layang layang di jalan, menjaga kebersihan lingkungan, menjaga keamanan lingkungan, tidak mengganggu tetangga, menjaga kesopanan dalam bertamu, hati-hati dan menggunakan barang milik orang lain. 

Bayangkan jika Yahnda Bunda dan si kecil melakukan sikap disiplin di manapun berada. Bukan suatu hal yang mustahil Yahnda Bunda akan sukses membuat si kecil tumbuh menjadi anak cerdas dan memiliki karakter yang baik.

Dari perilaku mana saja si kecil akan tumbuh menjadi anak yang cerdas? Dari perilaku disiplin yang mana si kecil akan memiliki karakter yang baik kemudian? Silakan Yahnda Bunda sendiri yang mencari jawabannya ya. 

Selamat mencari ya....

Apa Saja yang Harus Diperhatikan Agar Anak Cerdas Bisa Menjadi Anak Sehat?

12.45 1






Selamat siang, salam semangat. Bagaimana kabar Yahnda Bunda semua? Bagaimana juga kabar anak cerdas di seluruh penjuru tanah air dan di seluruh dunia? Semoga Bunda semua selalu sehat ya. Karena sehat itu penting, maka teruslah berupaya menjaga kesehatan. Juga kesehatan si kecil yang selalu harus kita perhatikan. Apa saja yang harus diperhatikan agar anak cerdas bisa menjadi anak sehat? 

Seperti kata pepatah, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula. So, apa saja yang harus diperhatikan oleh Yahnda Bunda agar Ananda bisa menjadi anak sehat kemudian?

Hal yang urgen untuk mendukung anak tumbuh sehat tentu saja lingkungan sehat. Lingkungan sehat identik dengan lingkungan bersih dan kebiasaan menjaga kebersihan.

Lingkungan bersih, bisa diwujudkan dari lingkup yang paling kecil yaitu lingkungan rumah. Ruang tamu yang bersih, ruang keluarga yang bersih, kamar tidur yang bersih, kamar utama, kamar anak, kamar mandi dan dapur juga harus bersih tentunya.

Memisahkan sampah rumah tangga menjadi bagian-bagian sampah yang nantinya bisa diolah kembali atau dimusnahkan kembali juga jangan dianggap sepele. Pisahkan sampah organik dan anorganik menjadi solusinya.

Apa jadinya jika di rumah kita, tumpukan sampah ada di mana-mana. Lingkungan seperti ini tentu tidak akan baik untuk tumbuh kembang si kecil. Bahkan untuk efek yang lebih besar, kesehatan keluarga yang tinggal dalam satu rumah juga akan terganggu. Rugi sekali bukan?

Memperhatikan pengolahan sampah agar lingkungan di dalam rumah bersih itu mutlak diperlukan. Demi tumbuh kembang anak  tercinta, masa iya kita masih juga bermalas-malasan?

Menjaga kebersihan lingkungan juga harus sampai ke luar rumah. Beranda rumah. Pekarangan rumah yang rimbun oleh rumput misalnya, seperti di sebelah timur Rumah Cleverley, seyogyanya harus segera dibersihkan agar ketika musim hujan datang, nyamuk-nyamuk tidak akan betah bersarang.

Apa jadinya jika rumput di pekarangan tumbuh subur bak ilalang di tengah hutan? Apakah lingkungan rumah akan menyehatkan anak cerdas yang sudah kita kawal?

Mari mulai jaga kebersihan dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil dan mulai saat ini. Mari ajarkan si kecil cara menjaga kebersihan diri sejak dini agar ia tumbuh menjadi anak sehat kemudian.

Dilansir dari laman web SehatQ.com, mandi merupakan salah satu cara menjaga kebersihan diri.

Menjaga kebersihan terdengar seperti hal yang sepele karena kerap dilakukan sebagai rutinitas tanpa arti. Padahal, memiliki tubuh yang bersih bukan hanya sedap dipandang mata, namun juga dapat menghindarkan Yahnda Bunda dan si kecil dari berbagai penyakit.

Menjaga kebersihan diri pun tidak sulit. Yahnda Bunda dan si kecil cukup melakukan langkah-langkah sederhana, seperti mandi, mencuci tangan dengan sabun, menggosok gigi, dan lain-lain. Tujuan besarnya adalah menyingkirkan kuman, bakteri, dan virus yang menempel di tubuh setelah beraktivitas. 

Mengapa menjaga kebersihan itu penting? Bagaimana seharusnya kita menjaga kebersihan setiap hari? Berikut penjelasannya untuk Yahnda Bunda dan si Kecil?

Pentingnya menjaga kebersihan

Menjaga kebersihan adalah salah satu cara paling efektif dalam melindungi diri kita dan orang lain dari berbagai kuman yang menyebabkan penyakit.

Pusat Perlindungan dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyatakan ada beberapa penyakit yang mengintai kita ketika tidak menjaga kebersihan. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

Kutu air: penyakit pada kulit, khususnya sela-sela jari kaki yang disebabkan oleh infeksi jamur. Jamur tumbuh ketika kaki Anda lembap dan kotor.

Kutu rambut: parasit yang menghisap darah ini bisa terdapat pada rambut di bagian tubuh manapun, seperti kepala, tubuh, ketiak, bahkan alis dan rambut kemaluan. Untuk menghindari kutu menyerang rambut Anda, sangat penting untuk menjaga kebersihan.

Diare: penyakit buang air ini bisa menjadi kronis sehingga mengancam nyawa, terutama jika kita memiliki sistem imun lemah dan masih anak-anak.

Karies gigi: terjadi saat Anda tidak rutin menggosok gigi sehingga bakteri jahat mengeluarkan zat asam untuk menghancurkan sisa makanan sekaligus dapat merusak enamel gigi yang akhirnya menyebabkan karies atau gigi berlubang.

Scabies: adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi tungau dan biasa ditandai dengan gatal dan biang keringat yang mirip dengan jerawat.

CDC juga mencatat bahwa menjaga kebersihan lewat mencuci tangan dengan sabun dapat mencegah diare hingga 50 persen. Jika Anda tidak dapat menemukan air mengalir untuk mencuci tangan, gunakan hand sanitizer yang mengandung alkohol untuk membunuh kuman di tangan kita.

So, menjaga kebersihan sebetulnya tidak sulit. Berikut beberapa hal yang dapat Yahnda Bunda ajarkan pada si kecil:

1. Mandi setiap hari

Basuh setiap jengkal tubuh si kecil, terutama area lipatan, di bagian ketiak, dan sekitar kemaluan serta anus. Badan yang bersih dapat menghindarkan si kecil dari iritasi serta menghilangkan bakteri yang menyebabkan badan bau.

2. Cuci tangan dengan sabun

Sabun apa pun dapat digunakan untuk mencuci tangan, tidak harus sabun antiseptik. Yang penting, pastikan si kecil membersihkan hingga ke sela-sela jari dan punggung tangan, serta bilas dengan air bersih (lebih baik dengan air mengalir), kemudian keringkan tangan dengan handuk bersih.

Cucilah tangan si kecil ataupun Yahnda Bunda dalam kondisi, sebelum dan setelah makan atau mempersiapkan makanan, setelah mengganti popok bayi, sebelum dan setelah merawat orang sakit atau setelah membersihkan muntahannya, setelah bersin, setelah membuang sampah, sebelum dan setelah merawat luka, setelah menyentuh permukaan yang kotor, dan setelah menyentuh binatang.

3. Gosok gigi

Menjaga kebersihan dengan menggosok gigi minimal dua kali sehari dapat mencegah sakit gigi dan karies. Bila perlu, gunakan juga benang gigi untuk memastikan tidak ada sisa makanan di sela-sela gigi. Jika Yahnda Bunda dan si Kecil memiliki masalah gigi, periksakan kondisi Anda di dokter gigi.

Pepatah mengatakan mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Untuk mencegah berbagai penyakit, lebih baik melakukan pencegahan dengan selalu menjaga kebersihan dimulai dari diri sendiri.

Begitu ya Yahnda Bunda. Mari dampingi anak untuk selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan!

Apakah Anak Cerdas Pasti Sehat? Klik Saja SehatQ.com

10.30 1



Anak yang cerdas berawal dari pernikahan dan kehamilan yang cerdas. 1000 hari pertama kelahiran anak cerdas itu adalah momen golden age yang sangat luar biasa bagi perkembangan jasmani dan rohaninya. Apabila ia tumbuh di lingkungan yang cerdas, bukan suatu hal yang mustahil kelak ia akan tumbuh menjadi anak yang cerdas pula. Lantas apakah ini berarti ketika anak cerdas tumbuh di lingkungan yang sehat ia akan menjadi anak yang sehat? Klik saja SehatQ.com.

Ada banyak kemudahan mencari informasi kesehatan di SehatQ.com, termasuk ketika saya membutuhkan informasi tentang apakah anak cerdas sudah pasti sehat? Saya seluncuran kemudian ke Artikel Kesehatan yang ada di SehatQ.com.  Saya search dengan kata kunci anak sehat. Hanya dalam waktu beberapa detik, muncullah puluhan artikel terkait yang bisa jadi referensi kemudian.

Saya tertarik dengan artikel yang muncul di posisi paling atas. Apakah itu? Apakah Anak gemuk itu pasti sehat? Menurut saya tidak. Kadar sehat atau tidak sehatnya anak tidak tergantung dari gemuk atau kurusnya bentuk badan. Tapi dari saya tahan yang dipunyai si anak, apakah dia mudah sakit atau dia akan baik-baik saja meski cuaca sedang tidak menentu atau orang-orang di sekitarnya banyak yang sakit tapi dia tidak tertular.

Lantas? Kemudian saya menjadi berpikir, sesuai dengan tema tulisan-tulisan saya sebelum ini, yaitu tentang anak cerdas.  Pertanyaan besar ada dalam benak saya, yaitu tentang Apakah Anak Cerdas Pasti Sehat? Simak penjelasannya berikut:

Anak Cerdas Belum Tentu Sehat


Lingkungan menjadi hal yang mendorong anak untuk menjadi cerdas kemudian. Lantas, seperti apa lingkungan cerdas yang dapat mewujudkan terciptanya anak yang cerdas?

Anak yang cerdas berasal dari lingkungan yang cerdas, 5 lingkungan cerdas yang dapat mewujudkan terciptanya anak yang cerdas pula, diantaranya lingkungan sehat, lingkungan yang bersih, lingkungan yang ramah, lingkungan yang disiplin dan lingkungan agamis. Bisa simak informasi lengkapnya di postingan saya sebelum ini.

Pada postingan kali ini saya hanya ingin menggaris bawahi poin penting tentang lingkungan sehat. Karena lingkungan sehat akan membuat anak menjadi sehat pula.  Lingkungan yang paling utama dan pertama adalah lingkungan keluarga. Keluarga yang sehat dan memperhatikan kesehatan itu mutlak penting bagi tumbuh kembang anak agar menjadi cerdas sesuai dengan apa yang jadi harapan Bunda Yahnda sekalian.

Keluarga atau dalam hal ini kusebut, lingkungan, yang sehat bisa dimulai dengan memberikan imunisasi dasar lengkap sesuai dengan usia anak dan tepat waktu. Terlepas dari ada beberapa Yahnda Bunda yang tidak melakukannya, tapi menurutku imunisasi itu perlu. Karena yang  saya tahu, imunisasi dan pemberian vaksin sangat berguna bagi imunitas si kecil.

Anak cerdas yang tidak mendapat imunisasi dasar lengkap  (vaksinasi) kemudian bisa saja tumbuh menjadi anak yang sehat atau anak yang gampang terserang penyakit. Klik saja artikel Vaksin: Cara Melindungi Kesehatan Anak yang Paling Ampuh.

Lalu, Bagaimana Cara Agar Anak Cerdas juga Menjadi Anak Sehat?


1. Lengkapi Imunasi Dasar Lengkapnya
Imunisasi dasar lengkap akan membuat kekebalan anak terhadap suatu penyakit menjadi meningkat. Hal ini akan membuat si kecil, anak cerdas akan tumbuh semakin sehat. Imunisasi sendiri biasa disebut dengan istilah vaksinasi. Vaksinasi disebut juga imunisasi adalah pemberian vaksin ke dalam tubuh seseorang untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit.

2. Makan makanan sehat
Makanan sehat mengandung zat gizi 4 sehat 5 sempurna wajib dikonsumsi oleh anak cerdas dengan pengaturan pola makanan dari Yahnda dan Bundanya. Makan makanan sehat tetap perlu dijaga keseimbangannya agar tidak menjadikan anak gemuk atau bahkan mengalami obesitas kemudian.

3. Perbanyak aktivitas fisik
Apakah si kecil butuh aktivitas fisik agar menjadi anak cerdas yang sehat? Itu jelas sangat perlu. Dampingi anak jalan-jalan ringan atau bersepeda satu jam setiap harinya atau aktivitas apapun untuk melatih jantung, pernafasan, kekuatan otot dan tulangnya. Ajak saja anak bermain-main di rumah atau taman dekat rumah juga bisa kan?

Demikian Yahnda Bunda, semoga bermanfaat ya.


Disclaimer: Postingan ini saya ikutkan dalam SehatQ Blog Competition 2019, 10 Oct 2019 - 31 Dec 2019.