CHSGK6V2: PENGALAMAN TAHUN KEDUA

05.31

CATATAN HARIAN SEORANG GURU KELAS 6 VOLUME 2

#CHSGK6V2
#cleverteacherforcleverstudents
#Prolog
#PengalamanTahunKedua

Guru menjadi orang tua kedua saat anak murid berada di sekolah. Orang tua di rumah sudah mempercayakan anak-anaknya sejak mendaftar dulu, saat penerimaan siswa baru. Saya sebagai guru yang sudah sejak tahun 2006 mengabdikan diri pada tugas mulia ini, melewati banyak sekali liku-liku. Layaknya jalan yang berkelok, naik turun, lurus bahkan menyeberangi jurang tetap harus selalu tegar menghadapi apa pun karena ada anak murid yang tetap harus dibimbing setiap harinya.

Urusan pribadi menjadi tidak penting lagi ketika guru sudah berada di hadapan anak murid ketika pembelajaran. Begitu pula dengan saya. Saya yang mempunyai puteri kecil berusia 20 bulan, pun harus rela membagi perhatian, fokus, kasih sayang dan segalanya. Meski demikian puteri kecil tetap menjadi fokus utama saya.

Tahun ini tetap menjadi tahun sejarah bagi saya. Tahun ini adalah tahun kedua saya menjadi guru kelas 6 SD. Sebelumnya saya pernah mengampu kelas dua, kelas empat dan beberapa tahun menjadi guru kelas lima.

Sejatinya sebagai guru kelas yang punya latar belakang PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar), saya harus siap ditugaskan sekolah untuk membimbing siswa di tingkatan kelas berapa pun. Bahkan tahun ini saya mau tidak mau harus sering melakukan pembelajaran kelas rangkap, sebab guru pengampu kelas dua sudah purna tugas per 1 Mei 2018.

Ada juga guru kelas satu yang sebenarnya sudah menerima SK pensiun per 1 September 2018, tapi beliau tetap ikhlas mengabdikan diri sampai waktu yang belum jelas kapan berakhirnya. Beliau adalah guru saya sewaktu SD dulu. Alhamdulillah Allah karuniakan orang-orang yang luar biasa, yang semua mempunyai semangat pantang menyerah sebagaimana tercantum sebagai motto sekolah. Semoga beliau mendapat balasan terindah dari-Nya. Aamiin.

Di luar jam sekolah, saya belum memulai tambahan pelajaran apapun, karena masih berada di posisi awal tahun pelajaran. Biasanya niat serupa akan dimulai sejak awal tahun di semester genap, untuk persiapan ujian akhir kelas 6. Anak murid tambahan dari sekolah lain juga belum saya aktifkan. Untuk anak di luar tingkatan SD, juga demikian adanya.

Bersyukur, Allah memberikan pendamping hidup yang luar biasa. Suami yang senantiasa pengertian dalam berbagai keadaan, berkenan berbagi tugas tentang apapun meski beliau juga punya tugas dinas sendiri. Beliau adalah sumber energi saya dalam menghadapi hidup, tidak hanya saat di sekolah tapi juga ketika di rumah. Jose is my hero.

Bersyukur, Allah menggariskan saya lahir dari rahim seorang ibu yang luar biasa. Meskipun beliau sekarang sudah menua tapi beliau bersedia mengasuh anak saya sendirian. Demikian dahsyat kekuatan seorang cucu pertama bagi dirinya, sampai-sampai beliau tidak ingin cucu kesayangannya diasuh oleh orang lain. Sebagai anak, saya tidak bisa membalas apapun. Hanya menanggung sebagian kecil keperluan rumah tangga sesuai kemampuan saja, tidak lebih.

Semua yang suami dan ibu saya lakukan semua karena cinta. Cinta beliau berdua yang dilandasi cinta kepada-Nya. Saya juga ingin seperti mereka berdua. Mendampingi anak murid dengan segenap cinta.

Inilah bukti cinta pada anak murid saya. Sebuah buku catatan sederhana keseharian dengan mereka. Sederet pengalaman yang mungkin bisa jadi hikmah bagi semua guru dan orang tua yang anaknya masih bersekolah.

Sebagai guru kelas 6, saya mendampingi anak murid di akhir kelasnya. Mayoritas dari mereka selama ini, baru belajar ketika akan ulangan atau ujian. Parahnya ketika sudah di penghujung kelasnya (kelas 6), sebagian siswa bekalnya tipis untuk menghadapi USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional) maupun USB (Ujian Sekolah Bersama). Lalu, bagaimanakah saya sebagai guru kelas 6 mendampingi anak murid yang sebentar lagi ujian nasional? Ini pengalaman tahun kedua saya mengampu kelas 6.

Pengalaman tahun pertama sudah saya tuliskan beberapa waktu lalu dan alhamdulillah termasuk ke dalam 13 tulisan terbaik dalam event sarapan kata KMO (Kelas Menulis Online) Batch 13.

Yang ingin saya jadikan sebagai pembeda adalah di setiap tulisan kali ini, saya membaginya per episode, untuk memudahkan mengecekan tulisan atau sebagai pembeda bahasan yang ingin saya tuntaskan. Alhasil jika nantinya lancar sesuai dengan keniatan, episode ini akan menjadi judul per bab nya. Semoga saya bisa istiqomah untuk menjadikannya buku solo cetak pertama saya. Bismillah, semoga Allah ada bersama segala niat. Karena dari niatlah kita bisa mewujudkan impian.

Saya mencoba menuliskannya dengan segenap jiwa dan raga. Catatan hari demi hari membersamai anak murid yang sudah beranjak besar. Mereka bukan lagi anak murid kelas lima, bukan anak kelas empat, kelas tiga, apalagi anak kelas dua atau bahkan kelas satu SD. Mereka senang ketika sudah dianggap besar. Menghadapi mereka tentu harus dengan kesabaran yang besar juga. Harus juga dengan rasa cinta yang berlipat besar.

Baiklah.

Saya mencoba menggoreskan cinta dengan sepenuh hati.

*

Jika kau tanya,
kenapa aku menuliskannya?
Itu karena Allah memberiku kekuatan untuk mengabadikan cinta
yang ditujukan pada mereka semua.

**

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#day24

#755kata
#CleverStory
Rumah Clever, Cilacap, 23 September 2018: 19.25.
Ibu Jesi.

***

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

4 komentar

Write komentar
Yeti Nuryeti
AUTHOR
24 September 2018 08.50 delete

Assalamualaikum...,keren banget bu guru semoga sukses, Aamiin

Reply
avatar
amieopee
AUTHOR
24 September 2018 08.57 delete

wah mantap benar bu guru ini, sukses slalu ya mba..salam kenal dariq amieopee

Reply
avatar
Evita FL
AUTHOR
24 September 2018 09.20 delete

Luar biasa mba Betty, semoga Allah SWT selalu memberikan kemudahan buat mba Betty 😊

Reply
avatar
24 September 2018 09.35 delete

Bu guru full semangat akan menghasilkan generasi yg luar biasa.

Reply
avatar