CUCU SANG KIYAI PART 2

04.10

Cucu Sang Kiyai
Betty Irwanti
#part2

Fajar menyingsing, membawa semilir hawa pagi yang menyegarkan. Kusibak pandangan menerobos taman di depan. Pagi ini, Tak lagi kupegang gawaiku. Pujaan hati hanya butuh lima menit berjalan jika ingin bertukar sapaan. Tapi, apakah harus aku yang menyapa duluan?

Rasanya batas itu sudah benar-benar aku rentaskan. Bagaimana tidak? Aku yang seorang perempuan mau saja menjemputnya semalam. Ah, perempuan jaman sekarang, sudah terasuki imaji emansipasi. Siapa yang memulai, sudah tak penting lagi. Apalagi jika dua insan itu saling mencintai.

Waktu merangkak, membuat matahari meninggi. Dia menyapaku lewat sebuah pesan, "Dek, nanti Mas mau berkunjung ke rumahmu ya."

Kubalas setelah aku istirahat dari pekerjaanku, "Iya, Mas. Adek tunggu."
Debaran itu kembali hadir, persis sama seperti semalam. Bahkan hampir mirip dengan getaran waktu itu. Iya, saat aku dipanggil oleh ayahnya, setengah tahun yang lalu.

Semua duduk di ruang tamu rumahnya, termasuk aku. Ada ibunya dan kakaknya. Ayahnya yang memulai.

"Jadi, begini Nak Bela. Maaf sudah mengganggumu dengan menyuruhmu, kesini."
Aku hanya menggeleng, kemudian tersenyum lebar.

"Fatma, bawakan ke sini ponselmu yang ada pesan dari Doel nya."
Mbak Fatma menunjukkan sebuah ponselnya, lalu diberikannya padaku. Ayahnya kembali melanjutkan perkataannya.

"Coba tolong bacakan pesan dari anakku, Nak Bela."
Aku membuka pesan yang dimaksud, dari Isa.

"Mbak Fatma, tolong sampaikan ke Abah. Ini penting. Sekian lama sudah kalian tahu, kan hubunganku dengan Bela. Sudah banyak yang tahu juga. Sudah sering jadi pembicaraan tetangga. Jadi, aku ingin meresmikan hubunganku dengan dia." Deg, sampai di kalimat ini aku terhenti. Inikah kejutan yang dia bilang sejak kemarin? Kulanjutkan kembali beberapa kalimat setelahnya, "Tolong Abah lamarkan Bela untukku, Bah. Segera."

Mukaku memerah, ini benar-benar diluar dugaanku. Aku akan dipinang oleh Isa. Kukembalikan ponsel milik Mbak Fatma. Ayahnya kembali menyambung pembicaraan.

"Jadi sebagai orang tua dari Isa, Nak Bela. Sesuai dengan pesan dari anak. Saya ingin bertanya pada Nak Bela. Apakah kamu setuju dengan isi pesan dari Isa itu?"

Entah mengapa, aku langsung mengangguk mantab. Entah mengapa aku tak mampu berucap apapun, tenggorokanku tercekat, jantungku berdegup puluhan kali lipat. Aku hanya bisa melebarkan senyumku.

"Apakah kamu masih sendiri, Nak Bela?"
Aku mengangguk.

"Apakah kamu siap menerima anakku, Isa dengan segala kekurangannya. Anak orang tak punya, seorang tak berada. Anak pengangguran yang tak punya kerja sedangkan kamu sebaliknya."

Aku menggeleng, eh. Maksudnya harusnya aku mengangguk. Entahlah, aku gugup.

"Baiklah, Nak. Jawabanmu sudah kami terima. Nanti ketika pulang dan ditanya oleh orang tuamu, sampaikan. Akan ada utusan keluarga Isa yang akan datang melamar anak gadisnya besok. Tepat tanggal 12 ya. Sesuai pesan Isa juga."

"Baik, Bah. Akan kusampaikan ke Ayah dan Ibu di rumah."

Di belakang abahnya Isa kulihat, emaknya menangis. Entah apa yang membuatnya begitu. Yang kutangkap hanya, dia terharu, anak bungsunya sudah memiliki calon pendamping hidup, yaitu aku. Eh, aku? Ya, iya aku.

***

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#day2

Rumah Clever, Cilacap,  3 September 2018: 14.19.
Ibu Jesi.

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

4 komentar

Write komentar