CUCU SANG KIYAI PART 5

05.04

CUCU SANG KIYAI
Betty Irwanti
#part5

Bukan sekali itu saja ternyata, aku dan Isa dibilang mirip satu sama lain. Setelah Pak Maulana tempo hari, beberapa hari kemudian saat kami berkunjung dari satu rumah tokoh masyarakat satu ke tokoh lainnya, ada juga yang berkomentar demikian.

"Oh, jadi ini cucunya Eyang Baedi ya. Salam takzim untuk beliau ya, Mas Isa."

Isa mengangguk pelan.

"Terus ini putrinya Pak Bondan ya, pedagang padi yang terkenal itu. Saya juga biasa jual panen ke beliau."

Giliran aku yang mengangguk pelan, lalu tersenyum kemudian.

"Saya pikir kalian kakak beradik, tadi. Lah, wong wajah kalian kok mirip ya"

Aku dan Isa berpandangan. Melongo.

Rasanya benar-benar menjadi suatu pertanyaan besar bagiku sendiri. Apa kemiripan itu memang benar?

Entahlah.

***

Dua hari menjelang hari H pelaksanaan temu alumni, panitia mengadakan rapat akhir di rumah Mbak Naya. Sebagai satu-satunya perempuan yang bisa bergerak aktif, aku disuruh Mbak Naya untuk menyiapkan segalanya. Maklum, dia sedang hamil besar, dua bulan lagi akan melahirkan.

Aku datang lebih awal ke rumah Mbak Naya. Mengatur ini dan itu, sungguh di luar dugaan. Gerakanku beberapa hari ini bersama Isa, menjadi motor bagi ketersediaan dana untuk kegiatan yang sebentar lagi terlaksana. Itu kata Mbak Naya.

"Bela, aku kagum sama kamu dan Isa. Kerja kalian hebat. 65% dari dana yang masuk, itu adalah hasil kerja kalian berdua."

Aku sibuk membersihkan piring untuk menyajikan hidangan.

"Bela, aku paham siapa Isa. Dia adalah temanku sejak SD. Aku tahu dia punya potensi yang bagus meski dia sangat pendiam. Selama ini dia tak pernah terlihat bersinar, karena dia belum menemukan patner yang pas."

Kali ini aku mendengarkan sambil menuangkan air teh ke gelas yang sudah kutata.

"Dan prediksiku tidak meleset. Aku berinisiatif untuk memasangkan kalian berdua. Aku tahu, kamu punya gerakan gesit dan vokal. Isa punya segudang ide, ternyata kalian klop. Bisa saling mengisi. Kalian bakal bisa jadi pasangan yang serasi."

Air yang kutuangkan hampir saja meleber ke luar gelas. Kata-kata yang terakhir diucapkan Mbak Naya menarik perhatianku. Dia tersenyum dengan penuh keyakinan. Aku masih juga belum paham. Masoh mencernanya dibalik diam.

Apakah Isa dan aku memang cocok satu sama lain? Apakah Isa dan aku memang telah dipasangkan oleh Tuhan? Sungguh, pertanyaan yang perlu mendapatkan jawaban.

"Aku janji padamu, Bela. Suatu saat jika kamu memang benar-benar berjodoh dengan Isa. Aku yang akan membuatkan gaun pernikahan untuk kalian."

Kali ini aku benar-benar tidak bisa bereaksi apapun selain tersenyum dan menggeleng bersamaan tanda kebingungan.

***

Entah kenapa gayung bersambut. Aku menjadi memikirkannya. Aku menjadi suka mencuri perhatian ketika bersama. Entah dengannya. Aku menjadi sering berdebar ketika melihat parasnya yang kalem. Luar biasa tenang. Selalu terlihat lebih muda dari usianya yang sebenarnya. Memang benar apa kata Mbak Naya. Dia adalah teman seumurannya. Semua teman seusianya sudah menikah.

Seharian penuh sebelum hari H acara temu alumni, panitia berjibaku untuk menyiapkan segalanya. Di sela padatnya kegiatan, ada yang sedang membagikan undangan pernikahan.

"Mas Isa, temenmu nikah. Kapan Mas menyusul?" tanyaku iseng saja. Sedari tadi kami diam, membuat hiasan dari kertas krep.

"Menikah itu mudah, Bela. Yang susah adalah mencari bekalnya. Agar hidup setelah menikah itu menjadi mudah. Tidak malah membuat susah." jawab Isa panjang lebar.

Aku tertarik pada kedewasaanya. Aku memandang wajahnya dalam-dalam. Wajah yang tenang tanpa ekspresi apapun.

Wajah yang pendiam.

***

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#day5

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

1 komentar:

Write komentar