Mabit di MaYaZa

04.57


Ramadhan Writing Challenge
#RCO
#Day21
#OneDayOnePost
#Mabit
#Malambinaimandantakwa

Hari masih gelap. Jalanan masih sepi. Udara dingin masih menyelimuti pagi. Pagi ini seperti biasa aku sudah menyusuri jalanan agar bisa sampai di tempat kerja tanpa telat absen sidik jari. Perjuangan yang sudah sekian tahun aku jalani, demi sebuah cita-cita menafkahi keluarga dan berbakti kepada kedua orang tua.

Pagi ini istimewa, karena istriku mendampingi segala persiapan sejak pukul tiga dini hari. Dia bangun memasak menu makanan sahur kemudian menyiapkan segala perlengkapanku. Kali ini aku bakal tidak pulang beberapa hari dan tidak bertemu Bebi Jesi. Ah, rasanya kangen itu akan sangat menyesakkan dada. Sebab aku senantiasa berada di samping mereka meski hanya di sore sampai malam harinya.

Kupercepat laju kendaraanku, agar jarak 41 kilometer itu tak terlalu menghabiskan banyak waktu. Dalam kurun waktu yang normal, aku bisa menaklukkan perjalanan selama empat puluh lima menit sampai paling lama satu jam pada kecepatan rata-rata 40-60 km/jam.

Kubelokkan sepeda motorku ke arah kiri, begitu telah kelewat perempatan lampu merah terminal di depan rumah dokter anak yang terkenal itu. Pintu gerbang biru siap menyambut. Senyum salam sapa dari teman satpam menghangatkan suasana pagi yang sebenarnya sangat dingin. Aku sampai memakai masker kekinian serupa potongan baju dalaman tanpa lengan. Ah, entah apalah itu namanya. Aku sendiri kurang begitu paham.

Sampai di tempat parkir kendaraan, aku langsung bersiap dengan Ibu jari kanan yang akan kupakai untuk finger print.

Klik.

Alhamdulillah, seperti biasanya. Aku selalu on time sampai di tempat kerja. Jarang sekali terlambat, bahkan setahun kemarin aku tak pernah telat.

Kuposisikan sepeda motor Suara X 125 berwarna hitam merah itu di pojok. Kuambil tas besar berisi baju-baju dan yang lainnya. Baru saja aku akan melangkahkan kaki, ada yang menyapaku.

"Pak Jok, kita mabit sampai hari apa?"
"Sampai Hari Selasa pak, memangnya bapak belum baca surat di Grup WA sekolah.
"WA apa pak? Aku belum buka gadget. Semalam di setrap sama anak malah. Saya ketiduran."
"Oh, ya ora beda karo aku." (Ya, nggak beda sama saya."

Aku siap-siap bekerja pagi ini, mengerjakan aktivitas apapun seperti biasanya. Sampai pada saat adzan Dhuhur berkumandang ternyata aku pun masih sibuk. Tapi karena sudah ada panggilan Allah dan pihak sekolah selalu mewajibkan bapak-bapak untuk salat berjamaah di Masjid Raya Sekolah aku bergegas. Beberes dan bersih-bersih kemudian mengambil air wudu.

Satu persatu anak tangga kunaiki, seraya memanjatkan do’a kepada Ilahi Rabbi. Semoga istri dan puteri kecil tercinta selalu sehat, demikian juga keluarga. Aamiin...

Begitu sampai di dalam masjid, suasana sudah ramai. Sudah banyak anak-anak SMP dan anak SD yang siap dengan perlengkapan salatnya. Aku pun sudah. Baju kerjaku setiap hari insyaallah selalu siap dan suci sesuai persyaratan ibadah wajib maupun sunah. Tidak perlu ganti sarung, paling hanya menambahkan peci.

Ba'da salat Dhuhur aku kembali menyelesaikan tugasku. Sampai anak-anak pulang, aku masih sibuk. Bahkan lebih sibuk dari yang lainnya. Di sela kesibukan kulihat banyak orang berdatangan untuk menuju Masjid Raya Sekolah, mungkin pada mau ikut mabit dan iktikaf seperti yang sudah diinformasikan oleh ta'mir masjid di group Wa sekolah.

"Pak Jok, ayuk siap-siap registrasi. Yang lain sudah naik ke atas."
"Nggih, Pak. Sebentar lagi."
"Tak tunggu apa pak?"
"Mboten usah pak, saya sendiri saja nanti."
"Oke pak, tak tinggal ya..."
"Nggih..."

Segera kuselesaikan pekerjaanku, aku setengah berlari menuju masjid siang menjelang sore hari itu. Rupanya antrean masih berjubel. Kelihatannya banyak pesertanya ini, begitu kataku dalam hati.

Setelah registrasi aku mengambil air wudu lalu kembali menaiki anak tangga. Karena masjid memang berada di lantai dua. Lantai dasar dipakai untuk auditorium, ruang serbaguna yang bisa dipakai untuk acara apa saja. Bahkan sudah sering juga disewa oleh pihak luar yang ingin menyelenggarakan acara di dalam gedung yang lumayan luas.

Sejauh mata memandang aku menemukan orang-orang dengan perlengkapan salatnya. Banyak juga yang memegang mushaf Al Qur'an di tangannya. Shaf rapat tidak ada sela. Riuh gemuruh suara lantunan ayat-ayat dzikir dan do'a sambil menunggu acara pembukaan dimulai oleh sang imam masjid.

"Pak Jok, sini sini." suara itu terdengar tidak jauh. Aku mencari siapa yang menyapa.
"Ramai ya Pak ternyata."
"Iya, Pak. Malam Minggu juga jadi banyak sekali yang ikut. Kita barengan aja di sini ya."
Aku mengangguk.

Khusyuk sekali suasana masjid begitu imam mulai membuka acara. Salat Asar menjadi awal segala kegiatan malam ini. Kajian menjadi kegiatan setelahnya.

Selesai kajian yaitu saat menjelang buka puasa, semua mengantre untuk sekedar mengambil air teh panas sebagai penghilang dahaga selain kurma dan takjil yang sudah dibagikan tanpa harus mengantre adanya.

Sambil menunggu adzan Maghrib berkumandang aku membaca jadwal kegiatan yang dibagikan tadi saat registrasi. Oh, rupanya setelah salat tarawih nanti ada kajian, ada tadarus, ada sarah sehan kemudian ditutup dengan kajian malam. Dan itu artinya aku harus siap melek sampai tengah malam. Baiklah, aku harus bersiap. Semoga aku tidak mengantuk kemudian.

Aku mengambil gadget dan membuka grup WA keluarga. Tidak ada chat apapun di sana. Mungkin semua sedang sibuk persiapan buka puasa. Terutama istriku yang harus berbuka sambil menjaga Bebi.

Tanda buka puasa terdengar, alhamdulillah puasa hari ini lancar tanpa kendala apapun. Semoga tiga hari ke depan puasa tetap lancar, kerja tetap lancar dan mabit juga lancar. Aamiin

Tiga Hari Kemudian

Aku sudah bersiap untuk kembali pulang. Ada izin pulang lebuh awal khusus untuk pegawai laki-laki yang sudah selesai merampungkan mabit. Tugas akan digantikan sementara oleh para pegawai perempuan yang hanya diwajibkan untuk mengikuti kajian fiqih saat siang.

"Tinggal saja Pak Jok, biar nanti kami yang handle sisa tugas."

Siap deh kalau gitu. Aku siap bertemu dengan istri, puteri kecil dan keluarga lagi. Meski harus menempuh perjalanan satunya baru sampai, semangat itu senantiasa mengiringi.

Aku mengirim chat ke grup keluarga, "Ayah bersiap pulang. Tunggu ya Bebi Jesi"

Beberapa menit kutunggu reaksi, masih juga tidak ada jawaban. Ya sudah, aku langsung otw saja menuju kampung halaman. Eh, kok jadi berasa mudik begini ya. Padahal lebaran masih beberapa hari.

Tepat tengah hari aku sudah sampai di rumah. Istriku menyambut dengan segala keceriaan.

"Assalamu’alaikum, Ayah sudah pulang?"
"Waalaikumsalam, iya Bu? Jadwal pulang dari jam setengah sebelas tadi,"
"Lha, kerjaan gimana?"
"Sudah dihandle sama ibu-ibu. Bapak-bapak sudah pulang semua."
"O..."
"Jesi mana Bu?"
"Jesi, di kamar."

Istriku melepas jaket yang kupakai dan membawa tas ke dalam kamar.

"Jesi... Ayah pulang..."
Yang dipanggil berlari menghamburkan diri ke arahku.
"Ayah sudah pulang?"
Aku hanya menjawab dengan anggukan kecil, sebab sibuk menciumi puteri kecil yang kurindukan.
"Ayah sudah pulang kerja?"
"Sudah sayang, ayah sudah pulang." istriku menjawab pertanyaan Bebi Jesi yang kelihatan antusias kemudian.
"Ayah pulangnya lama. Jesi sama Ibu di rumah"

Aku dan istriku saling berpandangan.
"Jesi manut nggak?" tanyaku.
"He eh"
"Jesi nggak rewel?"
"Nggak, Jesi kan anak manut."

Aku dan istriku tersenyum. Aku menggendong Bebi Jesi, memeluknya dengan segenap kerinduan.

"Ayah, sudah khatam?" pertanyaan itu datang tiba-tiba.
"Sudah. Ibu gimana?"
"Aku lagi ngejar target. Setelah lima hari menstruasi. Tapi kesibukan VCT menyita waktu dan fokus. Aku ingin segera menyelesaikannya."
"Keep Spirit sayang!"
"Selalu dong Ayah. My star is My spirit, kan..."

Bintangku semangatku. Dialah Cleverona Bintang Aljazira. Puteri kecil tercinta.

🌸

@RumahClever, Cilacap, 3 Juni 2019: 04.50
Betty Irwanti Joko
Ibu Jesi
Nyi Bejo Pribumiluhur

#1058kata

Lifestyle Blogger

Artikel Terkait

Previous
Next Post »